
"Tunggu... kita kembali besok?"
"Al ... kenapa kita harus kembali besok pagi?"
Dinda mengetuk beberapa kali pintu kamarnya, namun Alan tidak juga membuka nya. Dia mencoba menggerak-gerakan handle pintu, namun terkunci dari dalam.
"Kenapa dikunci segala? Apa dia takut aku tiba- tiba masuk kedalam!" gumamnya mengulum senyum, pasalnya hal itu sering dilakukannya saat tinggal berdua dengannya di apartemen milik Alan, walaupun nyatanya Alan tidak pernah melakukan hal yang berlebihan, seperti harapannya.
Lupakan Dinda, dia tidak akan pernah bisa peka, jangan berharap ... jangan berharap.
Ceklek
Pintu terbuka, terlihat Alan sudah membuka kemeja nya dan hanya memakai kaos oblong yang menjadi
"Maaf, aku tadi dari kamar mandi! Ada apa? Hem ... mau tidur denganku?" ujarnya datar dengan menggosok rambutnya yang mSoh setengah basah.
"Tidak lucu, kau hanya pintar bicara, tapi tidak pernah melakukannya!" sungut Dinda dengan masuk ke dalam kamar.
"Otakmu masih saja berfikir mesum!"
"Heh ... mana ada yang begitu! Kau yang mulai kan? Enak saja, tuh aku jadi lupa mengatakan apa!" ujarnya dengan menjentikkan jarinya berulang- ulang.
Alan menghentikan jentikan jari jemari itu dengan menggenggamnya, "Kita akan kembali besok pagi! Jadi bersiaplah, sudah sana tidur! Agar kita tidak terlambat!"
"Iya tapi apa alasannya? Kenapakita harus kembali? Apa ada sesuatu yang terjadi? Kau akan menunda pernikahan kita?" kata Dinda tanpa berhenti bicara.
"Cepat katakan, jangan membuat aku penasaran!"
"Besok saja aku sudah mengantuk!" ucap Alan dengan membaringkan tubuhnya di ranjang. Sementara gadis yang semakin penasaran karena mereka harus kembali ke kota menepuk lengannya berkali- kali.
"Al ... katakan dulu, kau ingin membuatku mati penasaran ya?"
Alan berdecak, dia menarik tangan Dinda hingga terjerembab mengenai tubuhnya.
"Kau berisik sekali sayang!"
Dinda mengerjapkan matanya, dadanya tiba tiba bergemuruh hebat, saat tubuhnya berada di atas dada Alan yang bidang juga berotot.
"Jangan berfikir kotor Akira Dinda Pramudya!"
Alan menarik bahu Dinda hingga dia kembali semakin terjerembab dan berguling di ranjang sebelahnya.
"Ih kau ini, kau fikir di otakku hanya ada yang kotor- kotor dan juga mesum! Kau kan tidak pernah tahu kepintaranku!"
Alan menyampingkan tubuhnya, menatap wajah penasaran calon istrinya itu dengan lekat, membuat Dinda salah tingkah.
"Al ... apa kau ingin menunda pernikahan? Jawab aku ih!"
"Tidak!"
"Ada urusan yang lebih mendesak?"
"Tidak juga, hanya urusan perusahaan dan juga kasus Jerry."
"Lantas apa dong? Cepat katakan?"
"Sudah aku katakan besok saja! Kau akan tahu sendiri!"
"Boleh aku tanya sesuatu padamu?" tanya Alan yang kini sudah terduduk ditepi ranjang.
"Tanya saja!"
Dinda lebih memilih menatap kedua kakinya yang menggantung. Sementara Alan mengambil nafas panjang sebelum bicara.
"Apa kamu akan selalu percaya padaku?"
Dinda menolehkan kepalanya, "Maksudmu?"
"Jika ada sesuatu yang terjadi ke depannya? Apa kamu percaya padaku?"
Dinda sudah merasa tidak enak hati dengan apa yang di katakan calon suaminya, namun dia pun berusaha menyanggah dugaannya sendiri.
"Katakan saja ada apa? Kau kan tahu aku lambat dalam berfikir, dan dugaan ku selalu salah!" ucapnya dengan mendengus.
Alan mengelus rambut cokelat miliknya, "Lupakan, lebih baik kau istirahat saja, besok pagi ikut pulang bersamaku!"
"Al ..."
"Hem...."
Kedua netra mereka bertemu, namun tidak berlangsung lama, karena Alan dengan cepat menundukan kepalanya.
"Apa yang terjadi?" lirih Dinda yang terus menatapnya lekat.
"Tidak ada apa-apa! Sudahlah, lebih baik kau fikirkan tentang pernikahan kita saja ya! Yang lain nya tidaklah penting untukmu!"
Dinda berdiri, "Baiklah, aku tidak masalah dengan sikapmu yang begitu, tapi ku mohon belajarlah untuk berbagi! Kau bisa berbagi apapun denganku! Apa karena aku tidak bisa membantu apa-apa, jadi kau tidak mau berbagi denganku?"
Alan menggelengkan kepalanya, "Bukan seperti itu!"
"Apa karena kau bisa menghandle semua hal sendirian? Jadi kau merasa tidak membutuhkan orang lain?"
Alan memijit keningnya, "Bukan Dinda! Tidak seperti itu!"
"Tapi aku merasa kau seperti itu! Oke kau selalu dingin, sikapmu juga cuek, tidak pernah peka! Aku bisa menerimanya!"
"Tapi jika kau tidak berniat mengatakan apapun, seharusnya kau jangan katakan apa-apa yang membuatku penasaran dengan apa yang terjadi!"
Alan menghela nafas, "Bukan begitu maksudku!"
Dinda menatapnya dengan nanar, "Aku ingin menunda pernikahan sampai urusanmu benar-benar selesai! Atau kalau kau masih belum yakin, lebih baik kita membatalkan pernikahan ini! Kau fikirkan hal itu baik-baik Al."
Alan melonjak kaget, sementara Dinda keluar dari kamar begitu saja! Amarahnya tidak bisa di bendung lagi, gadis itu masuk ke dalam kamar dan menenggelamkan kepalanya diatas bantal, dia tergugu menangis.
Sementara Alan membasuh wajahnya dengan kasar, Dinda benar, selama ini dia berusaha menerimanya dengan semua yang ada dalam dirinya, kesibukannya, ke tidak pekaannya, semua hal yang berkaitan dengan Alan. Namun Dinda selalu merasa Alan tidak benar-benar serius dengannya.
Alan ingin sekali menyusulnya tapi urung di lakukannya, dia hanya terdiam di dalam kamar, dengan asap yang mengepul dari sebatang rokok yang dia hisap.
"Aku ingin menunda pernikahan sampai urusanmu benar-benar selesai! Atau kalau kau masih belum yakin, lebih baik kita membatalkan pernikahan ini!"
Kalimat yang di kemukakan oleh Dinda bak sembilu yang menghunus tepat pada jantung hatinya.