Assistant Love

Assistant Love
waktunya telah tiba



Flashback on


Arya menemui kuasa hukum yang menangani kasus Jerry, untuk mendapatkan surat pengajuan penangguhan penahanan karena kasus Jerry yang masih bergulir di pengadilan, walaupun sudah ditetapkan menjadi tersangka. Ternyata polisi tidak menyerah begitu saja, dari sejak lama mereka memang mencurigai 3 sekawan dan gerak geriknya itu, penangkapan Jerry merupakan titik awal untuk langkah besar kepolisian dalam menangkap Alan, karena selama ini tidak pernah mendapatkan bukti apapun.


Kasus Jerry tidak yang hanya sebatas kepemilikan senjata api, mereka tidak serta merta percaya begitu saja, tim penyidik terus mendalami penyidikan hingga kecurigaan mereka terbukti.


Dan akhirnya tim penyidik yang diprakarsai oleh petinggi polisi, ilham Danuaji, dan juga melibatkan kesatuan polisi tertinggi di negara ini menemukan bukti terbaru yang semakin menguatkan mereka tentang keterlibatan ketiga sahabat dalam perdagangan senjata api ilegal yang terselubung dengan salah satu perusahaan dibidang pengamanan dan jasa bodyguard. ARR. corps.


Bukti yang kemudian semakin dikembangkan itu, menjadi kunci dalam temuan senjata api milik Jerry pada saat tertangkap tangan. Hal itu juga lah yang semakin menguatkan untuk menangkap Alan dan juga Leon, meski kenyataan nya mereka sudah tidak berkecimpung di dunia itu.


Hingga pada akhirnya, mereka mengeluarkan surat penangkapan atas keduanya, namun kuasa hukum yang menangani kasus Jerry yang sudah mengetahuinya lebih awal dari rekan polisinya memberi tahu kannya pada Arya.


"Arya, cepat atau lambat pihak kepolisian akan menjemput anakmu! Jadi persiapkan saja dia, karena aku tidak bisa membantu banyak karena bukti sudah mereka kantongi, tapi aku akan terus mengupayakan yang terbaik, apalagi anakmu akan menikah dalam waktu dekat!" ujar kuasa hukum Jerry sekaligus alan menjadi kuasa hukum yang menangani kasus Alan dan juga Leon.


Arya hanya menghela nafas berat, jarinya mengepal dengan kedua mata yang menajam, "Lakukan sesegera mungkin, biarkan anakku menikah terlebih dahulu, kalau perlu aku akan menjaminkan seluruh kekayaan yang aku punya agar bisa membebaskannya dari jeratan hukum!"


"Aku akan mengupayakannya sebaik mungkin! Tapi untuk kebebasan, sepertinya itu sulit. Selalu ada konsekwensi dalam semua perbuatan." ujarnya terus terang.


"Tapi aku akan terus mendampingi kasus ini, minimal penangguhan penahanan, dan kau harus tenangkan dirimu, kau punya riwayat jatung Ar!"


Arya menaris nafas panjang, "Tidak boleh mati dulu, sebelum melihatnya bahagia! Tolong lakukan secepat mungkin!"


Kuasa hukum itu mengangguk, "Pulanglah, aku akan terus memberimu informasi terbaru nanti."


Arya yang pulang kembali ke rumah langsung mencari Alan, dan kebetulan mereka berpapasan di ruang tamu, lalu dia menariknya masuk ke dalam ruang kerja.


"Al ... Ayah harap semua yang terbaik untukmu! Tapi ternyata ayah gagal, polisi sudah mengembangkan kasus Jerry hingga mengarah padamu dan juga Leon." ucapnya seraya menutup pintu.


Deg


Leon terduduk dengan kedua tangan membasuh wajahnya. "Biarkan saja! Mungkin sudah seharusnya aku mempertanggung jawabkan perbuatanku Ayah."


Arya pun memeluk Anak dari sahabat baiknya itu dengan erat, mereka saling menguatkan.


.


.


Ditengah persiapan pernikahannya, Alan yang sudah mengetahui jika dirinya sudah menjadi target polisi dan sewaktu-waktu akan dijemput, semakin tidak karuan, namun dia bersikeras menyelesaikan pekerjaannya agar bisa tenang saat waktunya tiba, meski kenyataannya kekhawatiran terbesarnya hanya pada Dinda, perlahan dirinya mulai berfikir apa yang akan dia lakukan, membiarkan Dinda kecewa pada saat ini atau kecewa pada saat nanti setelah menikah.


"Dinda sudah pulang ke rumah orang tuanya, dan akan menunggu di sana sampai hari pernikahan! Dia terlihat kecewa karena kau tidak mengantarnya pulang Al,"


"Walaupun dia tidak menunjukannya, kau ini bagaimana!" seloroh Ayu.


"Aku akan membawanya pulang kembali!" ujarnya dengan memeluk sang bunda.


"Aku pergi bun!"


"Kenapa anak itu, tidak seperti biasanya dia memeluk ku terlebih dahulu, selalu harus aku yang memulai, itupun dengan memaksa!" gumam Ayu saat melihat anaknya keluar dari rumah, padahal dirinya baru saja pulang.


Keraguan-demi keraguan mulai muncul dalam fikirannya, sampai akhirnya Alan memutuskan untuk menikahi Dinda tepat pada saat dia menjemputnya untuk kembali ke kota, namun lagi-lagi kelemahannya mengungkapkan isi hati menjadi boomerang untuknya sendiri, belum juga mengatakan niatnya, Dinda terlanjur kecewa dan memutuskan pembatalan pernikahan tanpa tahu alasan apapun apalagi penjelasan yang belum sempat dia ungkapkan.


Flashback Off


Alan dan Leon duduk di kursi panjang, berharap Dinda muncul dari arah mana saja seperti yang terjadi di film-film, adegan yang paling dramatisir selalu terjadi di bandara, kepergian dan kehilangan atau terpisahkan dalam waktu tertentu.


Namun harapan tidak seindah khayalan, tidak ada yang berlari menghampirinya, pelukan atau bahkan sosok yang akan dia bawa pulang.


Alan beranjak dari duduknya, diikuti oleh sahabatnya, "Al sudah ku bilang, lebih baik kau susul dia, walaupun negara A luas, kita pasti menemukannya. Aku akan mengerahkan anak buahku!"


"Jangan gila Le ... kita sudah tidak di dunia itu, jangan terlibat lagi! Sebentar lagi mereka akan menjemput kita!"


"Apa kita akan pasrah begitu saja Al ... kita terlihat payah sekali!" rungutnya.


"Memangnya kau mau melakukan apa? Melawan ... menyerang mereka? Tidak ada gunanya.


Mereka pun kembali masuk ke dalam mobil, kali ini Leon yang mengemudi, sementara Alan memejamkan kedua mata disamping nya.


Leon melirik sebentar lalu kembali fokus mengemudi.


"Apa yang akan kita lakukan sekarang Al ... kita berdua sama-sama gagal menikah!"


"Belum tahu, Tasya belum tahu apa-apa, dan setelah melihat keadaanmu, aku semakin takut jika Tasya mengetahuinya!"


Alan mendengus, "Kau kan jago berbohong, seperti katamu berbohonglah agar dia senang!"


Leon menghela nafas,


"Kau baru saja mengajariku Leon, bicara omong kosong tapi kau juga takut! Payah."


"Itu kan ... ah sudah lah, otakku tidak mampu berfikir saat ini!"


Mereka kembali ke rumah Adhinata, dan benar saja mobil polisi sudah berada di sana, beberapa anggota polisi yang memakai seragam hitam dengan penutup wajah dan senjata AK-4 ditangannya sudah menghalau mobil mereka.


"Ini waktunya Le...."


Bunda terlihat menangis dipelukan suaminya, mereka berdiri disamping Ilham, seseorang yang membawa surat penangkapan untuknya dan juga Leon. Sementara Farrel berada di sampingnya, dengan tatapannya yang tidak pernah Alan lihat sebelumnya.


"Al ... apa kau siap? Kita masih punya bela diri jika kau kau!" gumam Leon saat Alan menghentikan laju mobilnya.


"Atau kita kabur saja, tabrak mereka saja Al, kita pergi...."


Leon kemudian mendengus, "Aku belum sempat pamit pada Tasya dan juga baby Zi...."


"Al...." Leon menoleh pada Alan yang hanya diam.


"Kau memang bajingann banyak bicara Le ... kau takut?"


"Tentu saja aku takut, aku sudah berjanji padanya untuk menikahinya dan menjaga baby Zi, tidak seperti kau!!"


Deg


Ucapan Leon menusuk dadanya, Alan kembali teringat wanitanya.


Maafkan aku sayang, aku yang tidak pernah bisa meyakinkanmu, sampai kamu lelah dan memilih pergi dari ku. Batin Alan.


Beberapa menit berada didalam mobil, akhinya mereka berdua turun, dan anggota polisi yang bersenjata lengkap itu menggiringnya masuk, Ayu berhambur memeluknya, dengan tersedu sedan dia menangis.


Setidaknya masih ada yang memeluk dan menangisi mu Al. Tidak seperti ku.


Arya berjalan, menghampiri keduanya, dia pun memeluk Leon. Membuat pria itu merekatkan pelukannya pada ayah angkat sahabatnya.


"Jangan merasa sendirian, kami juga ada untukmu, juga Jerry... kalian semua sudah seperti anak bagi kami Leonard."


"Om ... maafkan aku!" ujarnya dengan suara yang tersendat ditenggorokan.


Begitupun Farrel yang berjalan dengan saku berada ditangannya, menyembunyikan kesedihan yang hanya dirinya yang tahu, hatinya terasa berat, hanya dengan melihat wajah Alan yang datar.


"Aku pastikan kau tidak akan lama berada di dalam, aku janji Al akan mengeluarkanmu dengan cepat!"


Tidak ada pelukan diantara mereka, namun Alan menarik bahu adiknya dengan satu tangan, sementara Ayu juga. masih dalam pelukannya.


Alan mengangguk, "Jaga Ayah dan Bunda untukku El."


.


.


Sementara Dinda sudah berada di pesawat, dengan linangan air mata menatap ke luar jendela pesawat, memutuskan untuk pergi sejenak dengan membawa kekecewaan, memilih meninggalkan cintanya yang begitu besar hanya karena ketidak pastian Alan.


Cukup sudah dirinya selama ini mengejar seorang yang dingin dan kaku, namun tetap saja perasaan nya sebagai perempuan yang merasa Alan tidak mencintai dirinya sebesar dia mencintainya selama ini.


Aku lelah menunggunya bicara, merasa semuanya sulit, dan hanya untuk berbagi saja, dia tidak mau, bagaimana kedepannya. Apa hanya aku yang berusaha membuat dia bahagia, sementara dia tidak.


Al maafkan aku, seperti janjiku padamu, aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apapun, kecuali kau yang meninggalkanku. Dan sekarang kau meninggalkanku tanpa menjelaskan apa-apa. Jadi jangan salahkan aku kalau aku pergi. Selamat tinggal sayang.


Pramudya menggenggam tangan anaknya, menatap wajahnya yang semakin sembab.


"Tenangkan dirimu, jika kalian berjodoh ... kalian pasti akan kembali bersama."


Dinda mengangguk dan menangis tersedu di bahu ayahnya.