Assistant Love

Assistant Love
Diam-diam menunggu( Bos gila)



Selepas Leon keluar, Alan menghela nafas, menyandarkan. tubuhnya disofa dan melihat langit-langit ruangan.


Mengingat pertemuannya semalam dengan gadis yang unik, Alan menarik tipis bibirnya, mengingat betapa konyolnya gadis yang dia gendong semalam, dengan berpura-pura mende'sah, dan tingkahnya yang berpura-pura bak ja'lang, Sesaat itu juga dia mengingat Apartemen dimana dia menurunkan gadis itu.


"Apartemen itu..." Alan beranjak dari sofa, dengan cepat dia berlalu keluar dari ruangan Leon yang sebenarnya adalah ruangan nya.


Alan masuk kedalam lift, melirik jam tangan berwarna hitam di pergelangan tangannya.


Ting


Pintu lift terbuka, dengan langkah cepat dia keluar menuju mobilnya. Seolah ingin mencari tahu dia melajukan mobilnya ke Apartement tempat dia menurunkan gadis bertopi itu.


Pria dingin itu melajukan mobil dengan kecepatan cepat, mengabaikan keselamatan dan juga teriakan dari klakson kendaran lain, dia tetap melajukan mobilnya.


Setelah beberapa saat, Alan menghentikan mobilnya di seberang jalan, dia tidak ingin mencolok jika memarkir mobilnya terlalu dekat dengan Apartement itu. Dan diam-diam menunggu.


Berharap gadis yang bersamanya semalam keluar dari Apartement itu. Alan merogoh rokok dari sakunya, yang dia bakar untuk menemaninya, lalu membuka setengah kaca mobilnya, membiarkan kepulan asap putih yang dihasilkan itu keluar dengan bebas.


Entah habis berapa banyak lintingan tembakau itu dia bakar. Dan berapa botol air mineral yang tersedia didalam mobilnya. Menunggu gadis yang belum juga keluar dari Apartemen itu.


"Apa dia gadis yang sama yang keluar dari club? Akira... namanya juga sama." Alan bergumam dengan pandangan yang tak lepas dari bangunan yang sebenarnya layak disebut bangunan tua di depannya.


Ingatannya kembali pada gadis pemabuk yang memuntahkan sesuatu ke tubuhnya. Saat itu dia tidak peduli, bahkan tidak memperhatikan wajahnya dengan seksama. Hingga terlupakan begitu saja.


Bodohnya hal itu juga dia lakukan semalam, dia tak begitu menelisik wajah gadis bertopi itu dengan seksama, namun dia mengingat iris coklat yang indah dan meneduhkan dari gadis itu.


Alan bisa saja menyuruh orang untuk mencari tahunya dan dengan tenang dia tinggal menunggu hasilnya. Namun enggan dilakukannya, dia malah menunggu berjam-jam disana.


Alan melirik jam tangannya, "Sial, aku menunggu nya disini berjam-jam seperti orang bodoh."


Sesaat kemudian dia menyalakan kembali mobilnya dan berlalu dari sana dengan umpatannya pada dirinya sendiri.


.


.


Disebuah Mall


Dinda berjalan riang ditemani Metta, sehabis pulang bekerja mereka mampir ke sebuah Mall ternama, tepatnya Dinda memaksa Metta menemaninya walaupun dia tahu sahabatnya itu paling tidak suka pergi ke Mall apapun alasannya.


"Sudahlah ayo kita pulang, aku sudah lelah muter-muter, sebenarnya kamu sedang mencari apa sih?" Ujar Metta dengan kesal.


"Aku sedang mencari sesuatu yang sebelumnya aku punya tapi aku menghilangkannya Sha," Dinda tak berhenti mengedarkan pandangan nya pada outlet-outlet didalam Mall itu.


"Cx, kenapa malah kau hilangkan kalau begitu! Membuat repot saja, kau yang hilangkan aku ikut menanggungnya." cebik Metta.


"Yah gimana sih, kamu itu udah sibuk pacaran. Sampai udah gak punya waktu hang out denganku!"


Metta menjambak sedikit rambut Dinda, "Nona Akira, terus aku ngapain ini kesini kalau bukan menemanimu yang ceroboh itu,"


Dinda terkekeh, "Kamu tahu Sha topi itu keberuntunganku, benda itu membuatku melakukan hal gila yang tidak aku bayangkan sebelumnya,"


Metta kini duduk dikursi panjang yang berada ditengah mall tersebut, "Duduk dulu Aku cape... memangnya hal gila apa? banyak hal gila yang kamu lakukan dalam hidupmu Sardin,"


Dinda ikut mengempaskan bokongnya disamping Metta, lalu dengan terkikik dia menyeruput Es Boba yang beli saat masuk.


"Apa sih, gak jelas banget. Ngapain hah cengengesan begitu!" Metta mendelik sahabatnya itu.


Dinda menghadap ke arah Metta, "Semalam aku bertemu dengannya!" lalu terkikik lagi.


Dinda bangkit dengan sedotan yang masih menempel di bibirnya, "Nanti saja aku cerita nya, ayo kita harus mencari dulu benda itu. Nanti aku traktir setelah mendapatkannya.


Metta merengut, dia mengikuti sahabatnya, "Kelamaan, aku lapar."


Pandangannya mengarah pada outlet aksesoris yang berada di depannya, dengan menarik lengan Metta dia berjalan tergesa, "Sha buruan,"


Lalu dia masuk dengan Metta yang mengekor lemas dibelakangnya. Dia mengedarkan pandangannya pada isi Outlet aksesoris itu, dan Dinda sudah lenyap entah kemana.


Kedua manik coklat itu menyapu ruangan mencari barang yang dia inginkan, hingga tepat pada satu rak penuh topi, matanya berbinar saat melihat topi yang dia cari ada disana.


"Wah ini dia." Dinda menyambar topi yang terpasang pada display, tepat dengan seseorang yang menyambarnga dengan cepat dari arah belakang.


Dinda berbalik kearah belakang, tampak pria jangkung memegang topi itu, "Hei, aku duluan yang menemukannya,"


"Maaf Nona, cari saja topi lain, aku yang mengambilnya pertama, jadi topi ini milikku,"


"Tidak bisa, aku yang menemukannya," sentak Dinda.


Terlihat pria jangkung itu menghembuskan nafasnya, "Nona, cari topi yang lain saja. Tolonglah ini perintah dari bos ku, aku bisa mati jika tidak menemukannya dalam satu jam."


Pria itu berbalik, Dinda menghampirinya dan merebut topi itu dengan paksa, "Enak saja, kau saja yang cari topi yang lain, dan jangan mengada-ngada dengan bos yang akan membunuhmu hanya karena topi, lucu sekali!"


Pria itu merebutnya kembali, "Percayalah padaku, bos ku sangat galak, dia bisa membunuh orang hanya dengan tatapannya saja."


Pria jangkung yang memakai baju serba hitam itu segera berlalu dan mengarah kearah kasir untuk membayar. Lalu keluar tanpa menoleh lagi.


"Memangnya ada orang yang membunuh hanya dengan tatapan begitu! kurang ajar, dia telah menggagalkan semua rencana ku." ucap nya lalu menghampiri pegawai yang tengah merapikan rak.


"Mbak, aku mau topi yang dibawa pria itu dong! aku tadi melihatnya di display sana," tunjuknya pada rak display topi.


Pegawai itu mengikuti arah tunjuk Dinda, " Maaf Mbak sepertinya itu topi terakhir, kami sudah tidak mempunyai stoknya lagi. Mbak bisa cari topi yang lain disebelah sana," ucapnya dengan sopan.


"Tidak ada Mba, aku ingin topi yang sama persis!"


"Maaf Mba, suplier memang tidak lagi memproduksi topi itu, permisi." ujarnya lagi sambil berlalu.


Sialan, gara-gara bos gila itu aku kehilangan kesempatan. Ah topi ku aku menginginkannya.


"Gimana Din, kamu sudah menemukannya?" Ucap Metta yang akhirnya menemukan sahabatnya.


"Tadi sudah ada, tapi gara- gara bos yang gila aku jadi kehilangannya!" Dinda mencebikkan bibirnya.


Metta mengedarkan pandangannya, "Bos gila?"


Dinda berlalu keluar dengan kesal. Metta segera menyusulnya, "Kau kan bis memilih yang lain, didalam kan banyak,"


"Gak bisa, harus sama dengan yang aku hilangkan."


Metta menggelengkan kepalanya. "Kita cari ditempat lain,"


"Dasar bos gila, aku akan mengutukmu!"


.


Bersambung


Jangan lupa tinggalkan jejak ya. terima kasih