
Perlahan Alan merengkuh kepala Dinda kedalam dadanya, tanpa kata...dan tanpa bicara. Hanya diam dan terdiam, menikmati isak yang kian berseru sedan.
Tapi Alan bukanlah Farrel, yang pandai merangkai kata dan tak jarang bersikap konyol, hingga cepat merubah suasana, dia tidaklah pandai menenangkan hati seorang wanita, apalagi merangkai kata-kaya yang melambungkan hati seorang wanita, atau seluwes Doni saat menjerat wanita incarannya, dan dia hanya menepuk-nepuk pelan bahu Dinda, tanpa banyak kata-kata.
"Sudah jangan menangis lagi, kau membuat baju ku basah!"
"Maaf...!!" ucapnya dengan menyusut bulir bening yang menggenangi wajahnya, namun air itu terus turun tanpa bisa dicegah, mengairi seluruh wajahnya, yang kini bercampur dengan keringat.
"Sudah, kenapa kau cengeng sekali! Jelek sekali wajahmu itu." Alan berlalu dari hadapannya, dia menaiki tangga dan menghilang di balik pintu kamar.
Dengan menghembuskan nafas panjangnya Alan membuka kemeja dan masuk kedalam kamar mandi, tak lama kemudian dia memakai T-shirt. Lalu membuka lemari untuk mengambil jaketnya, tatapan matanya beralih pada senjata yang tertutup kain hitam, lalu dengan cepat ditutup kembali lemari itu setelah mendapat apa yang dia cari.
Alan kembali keluar dan melihat Dinda yang tengah tertidur disofa. "Astaga...sembarangan sekali dia tidur."
Alan menatap selembar persegi panjang yang menyembul di tas milik Dinda. Dia menyambarnya dan melihat tiket masuk Meet and Great dengan bonus tanda tangan penulis yang cukup terkenal di salah satu aplikasi baca buku dan novel online gratis. Dengan waktu yang sudah 3 jam terlewat itu. Setelah melihatnya dia kembali menyelipkan kartu itu kedalam tasnya.
Lalu dia berjalan menuju dapur dan membuka lemari es, mengambil wine dan es cube dalam ynag dimasukan dalam satu gelas lalu menenggak nya hingga tandas.
Hingga waktu yang terus berputar, petang telah berganti menjadi malam dengan segala hingar bingar nya, sementara pemilik surai cokelat itu baru saja mengerjapkan kedua matanya.
"Ya ampun aku malah tertidur disini," gumamnya dengan mengucek mata.
"Bagus kalau kau sudah bangun!" ucap Alan dengan ketus.
Semerbak bau wine menyeruak masuk kedalam hidung mancung milik Dinda, yang jelas wine ini jenis berkelas dan jelas import, karena bau menyengat yang berbeda dengan wine biasa.
Dia minum tapi masih bisa mengontrol dirinya sendiri,
Dinda beranjak dan benar saja, dia melihat botol wine yang terletak diatas mini bar. Jelas buka kaleng-kaleng, harga nya mungkin bisa untuk biaya aku makan sehari hari. batinnya menyayangkan.
"Apa yang kau lihat Akira!" seru Alan yang hanya melihat Dinda dengan ekor matanya saja.
"Tidak...aku hanya mau pulang," ucap nya.
"Pulanglah, kau tahu jalannya kan. Secara kau terus menjadi pengungtit selama ini!"
"Dia bahkan tidak memberiku minum." ujarnya dengan menghentakkan kaki.
Dinda berjalan mendekati pintu, namun teringat sesuatu, "Password platku apa?" Serunya.
Alan mendekat, lalu mengambil kertas note dan menuliskan sesuatu disana.
88213
Dan angka itu mengandung arti dalam bahasa china,
angka 88 diambil dari angka greeting (ucapan salam) dimana 8 mirip dengan angka B yang artinya bye bye, *
Sedangkan angka 213 hampir mirip dengan 2 B, dimana huruf B adalah gabungan antara angka 1 dan 3. Orang china membacanya dalam bahasa Inggris jadi two-bee ( stupid)*
Jadi angka tersebut memiliki arti bye bye stupid ( selamat tinggal bodoh).
Merepotkan
Alan menyerahkan note tersebut pada Dinda yang masih mematung menunggunya.
Kenapa dia tidak melakukan hal yang biasa dilakukan orang mabuk. Haisss apa yang aku fikirkan.
Tapi kan di novel yang sering aku baca begitu.
Hah...ternyata realita tak seindah dunia halu. Batin Dinda.
Dinda menyambar note itu dari tangan Alan, lalu dia keluar dari plat milik Alan. Bodoh aku berharap apa?
Meskipun tadi dia memelukku, bukan berarti dia menyukaiku juga, gumam Dinda dengan menatap note kecil berisi password apartemen miliknya. Dan terus berjalan hingga menuju lift.
Dan dia juga bukan pria yang akan mengejar Dinda, walaupun dia sudah berulang kali menengok kearah belakang, masih berharap Alan akan mengejarnya dan mengucapkan kata cinta seperti di film-film romantis.
Lagi-lagi Dinda meraup wajahnya saat dia masuk kedalam lift. Bodoh
Dinda berjalan sekitar 2 blok, melewati taman bermain dan juga tempat olahraga yang merupakan fasilitas dari apartemen, namun juga bisa dipakai untuk umum meski bukan.
Lalu dia masuk ke gedung Apartemen, dan masuk kedalam Lift yang saat itu kebetulan tengah terbuka. Dengan masih tersungut- sungut.
Lalu menekan password baru yang diberikan oleh Alan. Saat hendak masuk, dia menghentikan langkahnya, dengan tangan yang masihmengingat sesuatu.
"Kalau password ini dia yang membuatnya, berarti dia bisa kapan saja masuk dong ya." gumamnya dengan terkekeh.
Lalu masuk dengan riang, perasaan nya dengan mudah berubah, Dinda tak lagi merengut seperti tadi. Dan dengan cepat melupakan tangisan sedu sedannya, bahkan kepedihan yang dirasakannya selama ini.
Bahkan tersenyum pada selembar kertas tiket Meet and Great yang dia rencanakan sejak jauh hari, bahkan meminta ijin pulang cepat dari kantor karena tiket ini.
"Kapan-kapan saja aku bertemu dengan mu penulis kesayangan, kau bisa menunggu bukan? Dan juga mengerti, meskipun aku harus kehilangan uang ku, tak apa-apa yaa."ucap nya mengelus selembar tiket itu.
Lalu menyelipkan nya pada bingkai foto polaroid miliknya yang menempel di dinding kamarnya m,
Tok Tok
Sesaat kemudian Dia samar- samar mendengar suara ketukan dari arah pintunya. Itu pasti dia.
Lalu melangkah kan kakinya dengan lebar dia berjalan menuju pintu, dan membuka nya.
"Hai....Akira Dinda."
"Kau ...ada perlu apa lagi?
.
.
Namaku Akira Dinda Pramudya. author salah nih, maaf yaa kirani itu Tasya kirani Feremundo.. aku sudah revisi bab-bab yang hari kemarin, tapi belum revisi yang sebelum-sebelumnya.. Maaf guys wkwkwk..tapi gak ada yang ngeh artinya author aman wkwkwk..