Assistant Love

Assistant Love
Tidak akan pergi darimu



Davis kembali tergelak,


"Benarkah? Apa yang bisa kau lakukan?"


Alan berseringai, "Aku bisa berbuat apa saja, bahkan apa yang tidak pernah bisa kau bayangkan sebelumnya."


"Uh... aku takut!"


Semua orang yang ada disana mundur seketika, berkumpul disudut ruangan dengan ketakutan, tidak bisa keluar karena beberapa orang anak buah Davis ikut berjaga diluar.


"Kau memang licik Davis!" ujar Dinda.


"Benarkah? Bukankah kau dulu begitu mencintaiku?" ujar Davis dengan berseringai.


Alan perlahan maju, "Lepaskan dia Davis, jangan jadi pengecut dengan menyandera seorang wanita! Kau menjijikan," Ujarnya dengan membakar sebatang rokok.


Davis terus menodongkan senjata apinya di kepala Dinda, namun Alan tahu, Davis tengah gemetar, dia mungkin hanya pemain baru di dunia hitam ini.


Alan melihat dari gerakan tangan Davis yang tidak konsisten dalam memegang senjata,


Masih amatiran.


Namun juga tidak bisa di sepelekan,


"Ayo Davis, lawan saja aku! Dan lepaskan dia." ujar Alan dengan sorot mata mengarah pada Dinda, lalu pada tangan Davis. Berharap Dinda paham dengan kode yang dia berikan.


Namun Dinda sama sekali tidak mengerti, dia hanya mengerjap-ngerjapkan matanya.


Astaga, bodoh


"Sudahlah, tidak usah banyak bicara, aku mau kau lenyapkan barang bukti itu! Baru aku akan melepaskan wanita bodohmu ini,"


Alan kembali melangkah, "Kau ingin bukti itu, mudah saja, tapi apa keuntungan yang aku peroleh? hm?"


Melangkah maju beberapa langkah, hingga Davis merasa panik,


"Tidak ada keuntungan?" Alan menghembuskan asap putih dari hidungnya,


"Sudah ku duga, aku tidak akan mendapat keuntungan apa-apa dari mu," sambungnya lagi.


Dor


Suara tembakan terdengar dari luar, Dinda memejamkan kedua matanya, dan hal itu digunakan oleh Alan dengan menarik Dinda dan melayangkan tendangan balik dengan menendang tembok terlebih dahulu, hingga tubuhnya memutar, lalu menendang senjata dari tangan Davis.


Trakk


Senjata terlepas dari tangannya, dan terjatuh. Dinda berlari ke belakang punggung Alan.


"Kau tidak apa-apa?"


Gadis itu mengangguk,


Davis bertambah geram, dia merogoh senjata lain yang lebih kecil dari balik jasnya,


"Kurang ajar...."


cklek


Bunyi pelatuk senjata telah siap ditarik,


Leon dengan sigap mendorong Alan dan Dinda hingga membentur tembok,


Dor


Dalam hitungan detik saja, peluru itu menembus tulang bahu, Dinda memekik seraya menutup wajah nya,


"Leon...." gumam Alan.


Davis melangkah maju dengan menodongkan senjata ke arah Leon yang sudah terbaring, darah mengocor merembes pakaiannya, dia menahan memakai tangannya,


"Kau yang pertama Leon!"


Alan merangsek tubuh Davis dengan melintir tangan yang memegang senjata, hingga senjata milik Davis berada di tangannya sekarang, lalu menendang dada Davis hingga dia tersungkur.


Dia melangkah mendekat, melemparkan potongan rokok, dengan tangan yang masih menodongkan senjata api ke arah Davis,


"Kau belum ada apa-apanya brengsek!" ujar Alan menarik pelatuk,


Davis masih bisa berseringai, dengan menyeka darah di sudut bibirnya.


"Aku salah menduga, harusnya aku tidak meremehkanmu!"gumam Davis.


Dor


Dor


Suara tembakan mulai terdengar dari luar, terjadi antara anak buah Davis dan Anak buah Alan yang baru saja datang, dengan Jerry yang memimpin.


Sementara itu, Dinda menghampiri Leon,


"Leon bertahanlah, kau pasti kuat!" ujarnya dengan merobek kain taplak meja, dan digunakan nya menekan luka tembak agar darahnya berhenti keluar. Lalu melilitkan nya diarea bahu.


"Sekarang kita tidak usah khawatir, jika tertembak, karena ada perawat khusus yang cekatan seperti mu." ujar Leon dengan keringat yang mulai bercucuran.


"Al...Alan, tolong, siapapun! Selamatkan dulu Leon."


Jerry dan anak buahnya yang berhasil melumpuhkan anak buah Davis, lalu dia masuk kedalam ruangan dan melihat Leon dengan pandangan nanar.


"Leon, Al... biarkan dia! Kita harus ke rumah sakit sekarang!"


"Pergilah, selamatkan Leon, aku akan mengurus bede bah ini!"


Jerry berlari ke arah Leon, memeriksa lukanya sesaat, "Kita harus membawanya ke rumah sakit!"


Dinda mengangguk, "Aku akan menyusulmu! pergilah."


Sementara itu


Davis berseringai saat dirinya kehilangan senjatanya kembali, "Kau hebat juga Alan, sayang sekali, kita tidak pernah bertemu dari dulu."


"Aku dengan senang hati merekrutmu sebagai seorang kacung! Cih...." ujarnya dengan meludah.


"Kau hanya kacung keluarga Adhinata, dan akan selamanya menjadi kacung, kau bodoh!"


Alan menarik satu sudut bibirnya ke atas, mendengar Davis terus mengoceh,


"Akan kupecahkan kepalamu, jika kau tak berhenti mengoceh!"


Davis tersentak, ancaman Alan begitu menakutkan, suara bariton yang tengah menahan amarah itu mengenai ulu hatinya.


"Al... lebih baik kita serahkan dia pada polisi, jangan mengotori tanganmu sendiri," sergah Dinda menarik lengan baju Alan.


"Pergilah dari sini!" sentak Alan.


"Al...."


"Aku bilang pergi dari sini, pergilah ke rumah sakit!"


"Aku tidak akan meninggalkanmu!"ujar Dinda.


Perdebatan sepasang kekasih itu berhasil membuat Davis meraih senjata api yang tadi terlempar, dengan secepat kilat dia menodongkan senjatanya ke arah Alan.


Dor


Alan menarik kepala Dinda ke dalam delapan nya, sementara peluru sudah menembus kepala Davis.


Davis terkulai begitu saja, dengan kedua mata yang masih terbuka.


"Maaf kau harus melihat ini!" bisiknya saat kedua tangan Dinda melingkar sempurna di pinggangnga.


Dinda menenggelamkan kepalanya di dada Alan, dada nya bergemuruh dengan bulir bening yang lolos begitu saja.


"Kita pergi dari sini."


Alan masih mendekap Dinda, tidak sedikitpun boleh melihat apa yang terjadi pada Davis, dengan peluru yang menembus kepalanya.


Dinda terus menangis, dia tahu jika Alan memang bisa melakukan hal tersebut, namun tidak menyangka dia akan melihatnya lagi, dan kali ini membuat Davis terbunuh.


.


.


Mereka masuk ke dalam mobil, sementara anak buah nya membereskan kekacauan ini, melenyapkan seluruh bukti dan juga mayat Davis dan Anak buah nya yang tewas.


"Al ... bagaimana jika polisi menangkapmu? Bagaimana jika keluarga nya marah dan membalas dendam pada keluargamu? tidak kah kau sadari itu? Bagaimana jika mereka melakukan hal yang sama pada Farrel, bunda, Ayah, dan ... Aku?" ujar Dinda dengan menangis.


"Diamlah, jangan menangis." ujar Alan dengan kedua tangan yang menyetir.


Dinda terisak dalam diam, Alan hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada jalanan.


"Kita ke rumah sakit, untuk melihat Leon!" ujarnya dengan datar.


"Al, aku takut! Bagaimana jika disana ada polisi, bagaimana jika mereka membawamu!"


"Berhentilah menangis, jika kamu ingin pergi dari ku, pergilah! berada disisiku hanya akan membuatmu terluka." gumamnya.


Dinda menggelengkan kepala nya, dia tidak menyangka Alan akan mengatakan hal itu padanya.


"Jadi kau tidak akan berhenti, walau aku menyuruhmu?"


"Aku akan berhenti saat hatiku menginginkannya!"


"Lalu bagaimana saat ini? Apa hatimu belum ingin berhenti?"


Alan tidak menjawab, dia hanya menghembuskan nafas, dia bukan tidak ingin berhenti, namun jika dia berhenti saat ini, maka semua musuhnya yang bersembunyi akan muncul dan menyerangnya.


Dan justru akan membahayakan semua orang yang berada dekat dengannya.


"Kalau begitu, aku juga tidak akan pergi dari mu!"


CKITT


Alan menginjak pedal rem tiba-tiba, dia menoleh pada Dinda, namun tanpa kata yang keluar dari mulutnya.


"Aku serius, aku tidak akan pergi meninggalkanmu! Kecuali kau yang pergi meninggalkanku."