
"Loen...hahaha lucu sekali! Apa dia salah memanggilku?" gumam Leon dengan berjalan, melewati pintu kamar Dinda dan menatap nya sekilas lalu kembali berjalan.
Dinda buru- buru masuk kedalam kamarnya, setelah itu dia berganti baju, dan kembali keluar. Dengan tergesa-gesa di keluar dari gedung Apartementnya, menekan tombol lift dengan cepat.
"Ayolah cepat... aku buru-buru! Kenapa saat genting begini, rasanya semuanya begitu lambat!" gumam Dinda dengan terus menekan tombol turun.
Ting
"Akhirnya kebuka juga."
Dinda masuk kedalam lift, lalu merogoh ponselnya didalam tas, Dengan sesekali melirik jam tangan yang melingkar ditangan nya.
"Astaga, sudah didalam lift pun rasanya lama begini!"
Ting
Dinda berhambur keluar dari kotak besi itu lalu menuju mobilnya, "Aku seperti dikejar hantu."
Dinda melajukan mobil nya ke sebuah cafe, sesekali dia menatap spion untuk melihat arah belakang, kalau kembali keruas jalanan yang sudah menggelap.
Bunyi klakson mengiringi laju kendaraan Dinda, sebab dia melajukan mobilnya dengan cepat, tak peduli apa-apa yang penting sampai tujuan tepat waktu.
Tak lama kemudian, Dia sampai di tempat yang telah dikirimkan oleh pemilik pesan.
Dinda melepaskan seat belt, lalu keluar dari mobilnya, dengan membenarkan coat nya sejenak dia masuk kedalam cafe itu.
kedua manik coklatnya menyapu ruangan mencari seseorang. Namun yang dicari tak juga terlihat. Hingga seorang waiter menghampirinya,
"Nona Dinda?" ucap waiters itu padanya.
Dinda mengangguk, "Betul..."
"Masuklah, beliau sudah menunggu," ucap waiter itu lagi.
Dengan diantar waiter, Dinda memasuki ruangan Vip cafe itu, tidak lama kemudian mereka sampai, Dinda masuk setelah pintu terbuka.
"Selamat malam Tante," ucap Dinda dengan berdiri.
"Duduk lah, kita langsung saja pada inti nya." Dinda mengangguk lalu menarik kursi dihadapannya.
"Kau sudah mengatakan akan membantu bukan?" Dinda kembali mengangguk.
"Apapun itu Tante"
"Aku hanya akan menemui nya besok!Pastikan kau mengatur semuanya dengan baik, agar aku bisa melihat apa yang sempat kamu katakan tempo hari," ucap nya dengan menghirup secangkir teh yang masih mengepul.
Aku memang akan memastikan tante dapat melihat semua nya dengan baik, dan tante akan menyesali nya nanti. Batin Dinda.
"Aku juga butuh bantuanmu, anakku sudah tidak pulang kerumah, dan kami kehilangan jejaknya. Hanya dengan memancingnya dia akan segera menghubungi tante,"
"Dan kita akan mempergunakan kesempatan ini untuk dapat melihat semuanya, seperti yang pernah kamu katakan." ucap nya lagi.
Dinda tampak berfikir, "Ayo otak bekerja lah dengan baik! Saat ini aku membutuhkan mu."
"Bagaimana?"
"Oke, besok aku persiapkan semuanya! Kalau begitu aku pulang, Terima kasih." ucap Dinda,
Dia kemudian beranjak dari duduknya, dengan sedikit menunduk dia berpamitan pada wanita yang tidak lain dari Ayu, ibunya Farrel.
Dinda meraih handle pintu ruangan Vip itu, namun Ayu memanggilnya, " Jangan sampai dia tahu! kamu mengerti...?" Dinda mengangguk.
.
.
Dinda keluar dari cafe itu, kemudian kembali melajukan mobilnya menuju Apartement nya, dengan alis yang mengkerut dan juga sedikit terangkat.
"Bagaimana aku membuat mereka bertemu yaa! kalau sengaja bertemu kan dia bisa marah, apalagi Farrel katanya pergi dari rumah, ngapain coba kabur segala dasar bocah." ucap Dinda.
Dia berhenti tepat didepan apartement milik Alan, "Apa aku minta bantuan nya saja? Tidak... tidak, bagaimana minta bantuan dengan tiba-tiba, Ayolah Din, berfikir ayo...."Dinda bermonolog sendiri.
Keesokan Hari
Dinda menyiapkan gaun yang dia beli semalam, dengan gaun ini akan membantu penampilan sahabatnya, lalu dia mengutak ngatik ponsel nya sejenak. Lalu keluar dari Apartemennya.
"Maafin aku Sha, Aku tidak bermaksud membohongimu, aku hanya ingin membantumu, semoga kamu mengerti Sha." gumamnya saat tiba di kantor nya.
Seolah tidak mengetahui apa-apa, Dinda bekerja seperti biasanya, sesekali dia menggoda Metta dengan sengaja mondar - mandir di depannya, memperhatikan wajahnya dan bersiap dengan rencananya.
Hingga saat waktunya pulang, "Sha ayo cepat katanya mau aku antar kan, keburu hujan semakin besar ini!" ucap nya setelah membereskan mejanya.
Metta yang masih mengotak-ngatik ponsel pun bangkit dari duduknya. lalu berjalan beriringan keluar.
"Sha, tunggu bentar ya. Aku ke toilet dulu! " Ucap Dinda dengan berlalu.
Dreet
Dreet
Terlihat Metta membuka pesan yang masuk diponselnya, terlihat juga wajahnya berubah.
"Sha, kenapa?" Dinda memasukkan ponselnya kedalam saku dan menghampirinya.
"Ada apa?
Datanglah ke Cafe de' rosell 1jam dari sekarang.
"Kenapa?" Metta menyerahkan ponsel pada Dinda.
"Maksudnya apa ini, siapa yang mengirimkannya?"
"Kalau aku tahu aku juga gak akan bingung kayak gini Din." menungkup kepala diatas Meja.
"Terus kamu mau nemuin mereka?" Metta mengangguk, seluruh wajahnya dipenuhi rambut yang acak-acakan.
"Dugaan aku hanya satu, ini ada kaitannya dengan masalah restu yang mengganjal dihubungan gue sama Farrel," Metta melirik jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Terus kamu kesana dengan penampilan kayak gini? Oh My God, please dong Sha,!"
"Kalau bener ini yang ngirim pesan ada hubungannya dengan keluarga dia ... " Dinda menunjuk ke arah ruangan Farrel yang tertutup.
"Kamu harus terlihat WOW, biar keluarganya gak memandang rendah Sha, lihat asta...ga..," Dinda menarik rambut Metta yang berantakan.
"Seenggaknya benerin tuh rambut, muka touch up, jangan polosan kayak bayi."
Bagaimana ini, dia sudah sekali di pengaruhi. Batin Dinda.
"Tapi dia ..." mengerling kearah pintu ruangan Farrel, "Gak masalah tuh sama penampilan gue."
"Ya... terserah Kamu aja, kali aja nanti pas mereka lihat kamu kayak gini mereka langsung illfeel." Dinda terus meyakinkan Metta tanpa dicurigai.
"Terus mereka bayar mafia buat nyulik kamu, di seret terus dibuang ke jurang, organ tubuhmu diambil buat dijual,"
Metta berdiri dan menjambak rambut sahabatnya, "Sardin, tuh halu kira-kira dong,!"
Dinda mengaduh, namun dia juga terkikik, "Udah ayo, aku bantu!" Dinda menarik tangan sahabatnya itu ke toilet.
Dinda mulai mengeluarkan alat-alat make up nya, dan menyimpannya diatas wastafel, sementara Metta tengah merapihkan rambutnya.
"Nih, kamu pake dress ini, baru sampai nih paket tadi pagi," Ucap Dinda membuka bag paper.
Metta mengernyit, "Aku sengaja pake alamat kantor, tau sendiri kan di Apartemen ku gak ada orang." ucap Dinda setelah menangkap gelagat Metta yang tengah mencurigainya.
Maaf Sha, Aku memang sengaja mengaturnya, sekali lagi maaf! semoga kamu mengerti. Batin Dinda saat menunggu sahabatnya itu berganti pakaian.
"Aku duluan yaa," Dinda mengangguk,
"Kamu yakin gak mau aku anterin?" Metta menggelengkan kepalanya.
"Aku bisa sendiri, thanks ya Din! nanti mungkin aku pulang ke Apartemen mu!"
"Aku pasti nunggu kamu kok, dah sana nanti tambah besar hujannya."
Selepas Metta meninggalkannya, Dinda segera menghubungi Doni, teman nya Farrel untuk memberitahukan perihal Metta pada Farrel melalui nya.
"Kau hubungi saja Alan, Farrel tidak sedang bareng aku! lagian aku sedang dikampus" Ucap Doni di ujung sambungan telepon.
"Ayolah, masa aku yang kasih tahu! ribet nanti yang ada, "
"No ... aku harus pergi, ada urusan mendadak! aku kirim nomor Alan saja.
Sambungan telepon pun berakhir, dan Dinda tidak berhasil membujuk Doni, sesaat kemudian pesan masuk di ponselnya,
"Bocah ini malah mengirimkan kontak nya My Sweety ice," senyumpun terbit di bibirnya.
Bersambung
.
.
Jangan lupa like dan komen.. Vote nya juga yaa ❤ boleh kirim ke Novel yang Berondong juga🤭 makasih.