Assistant Love

Assistant Love
Davis Danuarta



"Al ... pergilah, biar ini jadi urusanku!" gumam Leon saat polisi melangkah mendekat.


"Aku yang seharusnya bertanggung jawab!"ujar Alan sambil mempersilakan beberapa polisi masuk ke dalam ruangan.


Polisi itu meminta keterangan beberapa saksi terkait keributan yang terjadi dijalan, dan menarik kesimpulan dengan beberapa bukti yang mengarah pada mereka selaku pemilik perusahaan.


Alan dan Leon pun menjalani pemeriksaan, beberapa pertanyaan seputar perusahaan ARR. corps dan semua aspek didalamnya, termasuk ada atau tidak nya keterlibatannya di kasus yang sedang marak terjadi, yaitu kasus perjual belian senjata ilegal dengan beberapa keterlibatan negara tetangga.


Namun seluruh bukti tidaklah cukup untuk menjadikan mereka sebagai tersangka, minimnya informasi yang didapat bahkan data-data yang tentu saja sudah diantisipasi oleh Keduanya.


Setelah dirasa cukup, para polisi itu pun akhirnya meninggalkan perusahaan, Alan dan Leon pun bisa bernafas lega.


"Al ... sebaiknya aku membawa markas jauh dari Sini, setelah ini mereka pasti mengawasi kita lebih ketat lagi, aku akan mencari tempat yang jauh dari pantauan mereka." Ujar Leon dengan membakar sebatang rokok saat mereka kembali masuk kedalam ruangan Leon.


"Kau urus saja, tapi setelah kita selesai dengan perusahan Danuarta."


Leon mengangguk, hubungannya dengan Alan memang tidak bisa lagi seperti dulu, namun mereka masih terhubung sebagai seorang sahabat yang sudah lama, bahkan jauh sebelum kehadiran Dinda diantara mereka.


Itu jugalah yang membuat Alan lebih banyak diam, Leon sahabat terbaik nya setelah Jhoni, dia tidak mungkin bisa memutuskan persahabatan mereka, namun juga tidak bisa membenarkan apa yang dilakukan olehnya pada Dinda.


Tidak bisa memilih antara cinta dan persahabatan, dia rela memberikan segalanya untuk sahabat yang sedari dulu menemaninya, meskipun nyawa taruhannya, begitu juga dengan Dinda, gadis yang membuat nya jatuh cinta. Cinta pertamanya.


Hingga Alan tidak bisa memilih antara keduanya.


Begitu juga Leon, akan bersikap sama dengan Alan, hanya saja kebodohan dan rasa penasaran nya mengalahkan rasionalnya, hingga membuatnya berkubang dalam penyesalan.


Dreet


Dreet


Ponsel Alan menggelepar-gelepar diatas meja, dia mengangkatnya saat tahu Jerry yang meneleponnya,


"Ada apa?"


"Kau akan kaget saat mendengarnya!"


"Katakan!"


"Mereka sengaja melakukannya, dan kau tahu siapa yang mendalangi nya?"


"Siapa?


.


.


"Sebentar lagi Davis kemari, kau siap?"


Alan mengangguk, dia sudah menantikan hari ini sejak lama.


"Kau sudah siapkan semua?"


"Tentu ... aku ingin melihat bagaimana reaksinya!" ujar Leon yang akhirnya tahu apa yang terjadi di masa lalu antara Davis dan juga Dinda.


"Kau tenang saja Al, aku sudah menyesal dan benar-benar mundur, aku sudah melupakannya!" ujarnya kemudian.


Walaupun sebenarnya juga Alan tidak menanyakan hal itu, namun dirinya sedikit lega, dia tahu bagaimana sifat Leon.


Tak lama kemudian


"Apakabar Pak Leon? Pak Alan?"


"Silahkan duduk." ujar Alan.


Davis berseringai, dia lantas duduk, sementara beberapa orang yang datang dengannya tampak berdiri, dengan badan yang tak kalah tegap dari orang-orang yang berjaga di luar ruangan.


"Kau seperti hendak menyerang Mr Davis!" ujar Leon dengan menarik sudut bibir nya ke atas.


Davis tergelak, "Kau takut? Tentu tidak bukan, kalianlah yang terbaik."


Tak lama kemudian disusul oleh rekan dan sejawat yang ikut terlibat. Ruangan itu sudah sepenuhnya terisi, beberapa orang berjaga di depan.


"Le ...." ujar Alan.


Leon mengangguk mengerti, dia memulai pertemuan itu dengan satu dua patah kata sambutan hangat, yang di iringi oleh tepuk tangan dan tawa yang memenuhi ruangan kala Leon berkelakar.


Hingga saat presentasi yang dilakukan oleh Leon sendiri, namun saat Leon tengah menjelaskan, Davis tiba-tiba berdiri dan berbicara dengan suara lantang.


"Apa kalian akan percaya begitu saja pada mereka, apa kalian tidak tahu bahwa mereka bermain curang?"


Mereka memanipulasi data perusahaan ku, bahkan mengacak-ngacak sistem keamanan perusahaanku! Dengan tujuan agar aku mengemis pada mereka." ucapnya membuat semua yang hadir tercengang dan menatap Alan dan Leon bergantian.


"Benarkah itu?"


"Tidak mungkin."


"Kalian curang?"


"Tidak dapat dipercaya!"


Terdengar dari mereka yang berbisik-bisik dan membuat ruangan itu riuh oleh sorakan dan cibiran.


Benar-benar licik.


"Kalian tidak bisa mengelak lagi, saya ingin minta ganti rugi." ujar Davis dengan masih berdiri.


"Betul itu, betul!"


"Dasar curang!"


Beberapa diantara mereka yang sudah termakan oleh perkataan Davis ikut memprovokasi yang lain.


Alan berdiri, dengan telapak tangan bertumpu pada meja. Dia berseringai,


"Aksi sosialmu belum seberapa hebat dengan apa yang aku punya Mr Davis."


"Leon, putar sekarang!"


Leon mengangguk, menoleh pada bawahannya untuk memulai.


Video tentang dirinya lima tahun silam, memprovokasi perusahan keluarganya untuk menghancurkan perusahaan Pramudya, percakapan seorang anak muda yang tak lain adalah davis, membuat perusahaan Pramudya guling tikar dengan berita bohong yang dibuatnya.


Bahkan rekaman suara yang tidak lain suara Davis saat mengancam Sisilia dan Pramudya juga di perdengarkannya.


"Bagaimana Mr Davis? Kinerja mu dibidang kelicikanmu sungguh luar biasa."


"Haruskah aku bertepuk tangan!" ujar Alan datar.


Sedangkan Davis sendiri tercengang, kenapa bukti itu bisa mereka dapatkan, padahal dia sendiri yang memastikan bahwa bukti itu sudah dia lenyapkan.


Orang-orang yang berada disana menoleh ke arahnya, menatapnya dengan tajam, tidak dapat dipercaya. Jika Davis selicik itu, tapi masih bisa menuduh orang lain yang berlaku licik padanya.


"Tidak tahu malu!"


"Menjijikan!"


Davis tampak geram, dia menggebrak meja. Dan mengeluarkan senjata api dari balik jasnya.


"Kalian semua memang bede bah!!" ujarnya dengan menodongkan senjata api itu ke arah Alan.


Leon maju dan hendak mengeluarkan senjata apinya, begitu juga dengan anak buahnya yang berjaga. Namun Alan mencegahnya.


'Kau tahu siapa yang mendalangi semuanya?'


'Siapa?'


'Davis Danuarta'


Alan teringat percakapannya dengan Jerry, dia berseringai. Semua orang tampak berteriak gaduh, mereka pun ketakutan.


"Biarkan mereka pergi, mereka tidak ada sangkut pautnya dengan ini semua!"


Davis tergelak, "Jangan mengajariku! Tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini, sebelum aku yang mengatakannya atau...."


"Atau apa?"


Dinda muncul dari balik sebuah pintu, berjalan mendekat dan berhenti di depan Davis.


"Atau kau akan membunuh mereka semua Davis?" ujarnya dengan lantang.


Sial...


"Le... kenapa membiarkan dia masuk ke Sini!"


"Aku tidak tahu Al...sungguh!" jawab Leon.


Davis tercengang saat melihat Dinda berdiri dihadapannya, "Hai Sayang, kau melihat semua nya? itu bagus, dan saat ini mungkin kau menyesal karena dulu menolakku."


"Kau hanya gadis bodoh yang mudah diperdaya."


Dinda mengepalkan tangannya, "Kita lihat, siapa yang mudah diperdaya, kau atau aku?"


Tidak disangka Davis menarik tangan Dinda, dan membalikkan tubuhnya menghadap Alan yang dengan cepat maju, namun kembali terhenti saat Davis menodongkan senjatanya tepat di kepala Dinda.


"Kau akan ikut aku keluar dari sini setelah aku menghabisi mereka semua!" bisik Davis di telinga Dinda.


Dinda terkesiap, namun tidak ada ketakutan dari wajahnya, justru dia tersenyum dan nyaris terkekeh,


"Kau salah orang Davis,"


"Benarkan sayang?" Ucapnya kemudjan seraya menatap pada Alan.


Gadis bodoh....


"Benarkah? Apa kehebatan yang mereka miliki, hingga kau terlalu percaya diri, kalau aku tidak akan menarik pelatuk ini, dan membuatmu mati Sayang?" Ujarnya dengan menyusupkan kepalanya di ceruk leher Dinda.


Membuat Alan geram, "Lepaskan dia! Kau berurusan dengan ku jika membuatnya terluka seujung kuku pun."


Davis kembali tergelak,


"Benarkah? Apa yang bisa kau lakukan?"