Assistant Love

Assistant Love
Apa peduli mu?



Alan menoleh ke belakang,


"Apa yang harus aku lakukan?"


Dinda menggosok pelan kepalanya, "Kenapa kau bertanya padaku?"


"Katakan saja, apa yang harus aku lakukan, agar kau memaafkan ku?"


"Kenapa kau meminta maaf? Memangnya kau melakukan apa? Sampai kau minta maaf...."


"Jangan membuat ini semakin rumit Akira, Dinda terserah lah...." Ujar nya dengan kembali melajukan mobilnya.


Tak lama kemudian mobil berhenti di depan kantor divisi umum, tak menunggu lama. Dinda keluar dengan membanting pintu mobil begitu saja, dia langsung masuk kedalam tanpa mengatakan apapun.


Sementara Alan mencengkeram setir kemudi dengan kuat, "Dia benar-benar mahluk bumi yang paling rumit."


Alan kembali melajukan mobilnya menuju gedung utama. Masuk kedalam gedung dengan wajah yang semakin dingin dan menyeramkan dengan rahang yang mengeras.


Doni yang berada didalam ruangannya sontak kaget, saat pintu terbuka dan kembali tertutup dengan keras.


"Astaga...menyeramkan!" gumam Doni.


Alan menatap Doni yang tengah memeriksa berkas, dengan tatapan tajam padanya.


"Kenapa kau ada disini?"


"Maaf, kan tadi pagi aku disuruh kesini, kita akan menjemput Farrel sebentar lagi."


Bagaimana sih, dia lupa apa bagaimana? Dia yang nyuruh dia juga yang lupa.


Alan membuka jas nya, dia merasa gerah sendiri, lalu melonggarkan dasi nya sedikit. Nafasnya terasa sesak setelah perdebatan yang terjadi dengan Dinda.


Dia lantas duduk di kursi kebesarannya dan membaca berkas di atas meja.


"Biar aku sendiri yang menjemputnya, kau kembali lah bekerja, bukankah kau mengerjakan proyek yang diberikan Farrel? Apa sudah beres?"


Lah itu kan laporan nya sedang dia baca. Bagimana sih, dia aneh hari ini! Menyeramkan.


"Itu yang dipegang adalah laporan proyek yang aku tangani, semua sudah beres dari seminggu yang lalu, dan laporan ini sudah aku simpan dari pagi."


"Ooh...."


Alan hanya beroh ria.


Benar- benar aneh...aku lebih baik pergi dari sini sebelum menjadi sasaran empuk nya.


Tok


Tok


Pintu terbuka, Mac terlihat memasuki ruangan. "Kita pergi sekarang?"


"Kau disini saja, aku akan pergi sendiri!"


Mac menatap Doni, begitupun sebaliknya.


Kenapa dia?


Entahlah


Alan tampak gusar, hati nya semakin tidak tenang setelah pertemuan tidak sengaja nya dengan Dinda yang bersama Leon, ada perasaan panas menyeruak didalam dadanya, Alan bahkan mondar-mandir tidak jelas.


"Kau baik-baik saja?" ujar Mac dengan heran.


Alan mengangguk, "Aku mencari ini!"


Dia mengacungkan bolpint yang sedari tadi dalam genggamannya. Tak lama kemudian Alan keluar dari ruangannya, dia berjalan menuju lift khusus yang mengantarkannya turun. Tidak adanya sekertaris membuat jadwal nya sedikit berantakan.


Dreet


Dreet


Alan langsung menempelkan ponsel ditelinga tanpa melihat siapa yang meneleponnya.


"Al ... Kau sibuk malam ini?"


Alan menarik ponsel itu dan baru melihat nama Leon didalam layar benda pipih miliknya.


"Oh, Leon ada apa?"


"Aku tanya apa kau sibuk malam ini?" ujar Leon mengulangi pertanyaan nya.


Alan melirik jam tangannya, "Memangnya kenapa?"


"Jerry mengajak kita ke klub temannya, dia mengajak kita kesana, kau bisa kan?"


"Oke...."


Alan memutus sambungan teleponnya sepihak, lalu menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.


Dia masuk kedalam mobil dan melajukan nya mengarah ke bandara untuk menjemput Farrel yang baru saja pulang dari negara P.


Tak lama kemudian Alan tiba di bandara, begitupula Farrel yang sudah menunggunya.


"Kau lama sekali, aku baru saja akan memesan taxi online jika kau tidak juga datang!"


"Tidak sabaran, kenapa juga kau pulang lebih cepat, bukannya sekitar 2 minggu lagi baru pulang."


"Tugasku sudah selesai, mereka menawarkan harga tinggi untuk desain gedung pencakar langit milikku!"


"Lalu...? Kau lepas?"


Farrel menoleh, "Kau gila, mana mungkin aku melepasnya begitu saja. Desain ini akan aku bangun sendiri. Ini akan menjadi gedung utama perusahanku sendiri."


"Wow...."


"Hanya wow.... payah, kau memang tidak peka!"


Alan mengerdikkan bahu, "Lalu aku harus bagaimana? Joged-joged?"


Farrel tergelak, "Langit mungkin akan runtuh, kalau kau sampai melakukan hal itu."


"Bagaimana dengan perasaan cintamu? Apa kau sudah mengatakan padanya?"


"Perasaan cinta apa? Sembarangan kau...." ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya pada ruas jalan.


"Terserahlah...." ucap Farrel kemudian.


"Kau akan pulang kerumah atau ikut ke kantor."


"Ke kantor saja, aku sudah rindu sekali dengan kakak."


"Menjijikan!!"


.


.


Leon lalu mengerdikkan bahunya, "Yang penting dia sudah bilang oke!"


Leon kembali berkutat dengan pekerjaan nya di ARR. corps, pekerjaan nya harus segera selesai. Suasana hatinya sedang senang kali ini, perlakuan Dinda padanya saat di kafe membuatnya bahagia. Bahkan dia masih merasakan tepukan tangan Dinda di kedua pipinya.


Mengingatnya saja membuat Leon tersenyum-senyum sendiri.


"Dinda...Dinda." gumamnya dengan gelengan kepala.


Hingga semilir angin sudah semakin terasa dingin, bertanda hari sudah menjelang malam. Leon akhirnya keluar dari gedung ARR. Corps. Masuk kedalam mobil dan melesat dengan cepat.


Sementara Dinda mengernyit membaca pesan masuk dari Leon.


"Siap-siap ya nanti malam aku ke platmu, aku mendapat undangan dari sahabatku pergi ke klub, dan kau harus ikut. Titik tanpa penolakan apapun! "


Dinda menghela nafas panjang, "Tanpa penolakan


katanya!"


"Ini sudah gila, jangan sampai aku memberikan harapan


terlalu tinggi padanya," gumamnya gusar.


Malam hari


Ting


Tong


Leon menekan bel plat milik Dinda, Dinda terseok-seok membukanya.


"Astaga, kau belum siap-siap?" ujar Leon yang melihat Dinda masih mengenakan baju santai dengan rambut yang dia cepol keatas kepala.


"Maaf Leon, aa--aku...."


"Aku tidak mau ada penolakan, cepat ganti baju! Aku tunggu, Alan juga sudah berangkat kesana duluan."


"Hah...Dia juga ikut?"


"Hhmm... undangan ini untuk semua teman-temanku! Dan berarti dia juga ikut, ayo cepat ganti baju, aku akan menunggumu disini!" ujar nya dengan mendorong bahu Dinda kearah kamar.


Dinda terdiam dan masuk dengan rencana hebat di kepalanya.


.


.


Mereka tiba di klub, Jerry dan Alan sudah berada di dalam. Sementara Leon dan Dinda baru saja datang dan langsung masuk.


Leon mengedarkan pandangannya dan langsung tertuju pada sebuah meja di sudut ruangan, ada Alan dan Jerry yang sudah berada disana.


"Kita kesana!"ujar nya pada Dinda yang hanya mengangguk.


"Hei, Jerr, Al... kalian sudah datang?"


"Hai...." ucap Dinda yang ikut menyapa.


Pandangannya mengarah pada Alan yang dibalas dengan tajam,


"Woah... siapa tuh, gandengan baru yaa? Yang kemaren kemana?" ujar Jerry menyenggol Leon.


Dinda tersipu, sementara Alan semakin menatap nyalang padanya, lalu beralih pada Leon, "Kau tidak mengatakan akan membawa teman kencan!"


Leon berdecak, "Kau menutup teleponku begitu saja, saat aku akan mengatakan akan mengajak Dinda juga.


"Kenapa kau juga tidak membawanya kesini?"


"Gadis yang kau beri apa itu? Novel gak jelas itu!" ujar Jerry.


uhuk.


uhuk


Alan tersedak, sementara Dinda terperangah, "Apa yang mereka bicarakan adalah aku? Atau Tasya?"


"Wah bener tuh! Harusnya kau mengajak nya juga!"Timpal Leon dengan terkekeh.


"Tidak penting, kenapa aku harus mengajaknya?"


"Huuhh...."


"Kau memang selalu tidak peduli sama sekali pada wanita, apa kau normal?"


Dinda terperangah mendengarnya, lalu menarik bibir nya tipis. Sementara Alan membelalak dan menepuk keras bahu Jerry. Leon tergelak, disusul oleh Jerry dengan terbahak.


Lalu mereka kini duduk, Leon berada disamping Jerry sementara Dinda berada disamping Alan.


Hingar bingar klub terasa sangat bodoh untuk Alan yang suka kesendirian, namun Jerry dan Leon menikmati suasana semacam itu, mereka bahkan ikut turun untuk bergerak mengikuti musik yang tengah dimainkan oleh seorang Disc jockey (DJ).


"Kau seharusnya tidak ikut ketempat ini!" gumam Alan.


Dinda mengernyit, "Bukan urusanmu! Terserah aku mau kemana pun juga, kenapa kau yang keberatan?"


"Berhentilah bersikap seperti itu, kau tinggal mengatakan padaku apa yang mesti aku lakukan! Kenapa dibuat rumit begini!" ucap Alan dengan ketus.


"Kau harusnya belajar dari teman-temanmu! menyebalkan, merusak suasana!"


Dinda bangkit dari duduknya dan menuju kursi didepan bartender, dia memesan minuman padanya, lalu menenggak nya dengan sekali tenggakan.


Alan menatap punggung Dinda tanpa ingin menjelaskan semua padanya, hanya memperumit keadaan yang sebenarnya saja.


Dasar bodoh,


Dinda kemudian menghampiri Leon dan bergabung dengan puluhan manusia yang tengah menikmati musik yang menggelegar, dengan kerlap-kerlip lampu warna warni,. Sementara Alan mengunci pandangannya hanya pada Dinda yang kini berada rengkuhan Leon yang sudah mulai mabuk,


Dia tidak melepaskan tatapan padanya sedikitpun. Tangannya mengepal dibawah meja, lalu beranjak dengan cepat mengarah pada puluhan orang- orang.


Dia menarik tangan Dinda dan langsung membawanya keluar dari klub itu, Dinda meronta berteriak, memukul-mukul tangan Alan yang mencengkram kuat pergelangan tangan nya. Namun juga tidak terlepas, malah semakin mengeras.


"Lepas, bodoh! Kenapa kau kasar sekali!"


Alan tak peduli, dia terus menarik tangannya menuju tempat parkir, Hingga Dinda menggigit lengannya.


Tangan Alan terlepas, dia berteriak karena gigitan Dinda sangat keras.


"Kau gila, kenapa menggigitku?" sentak Alan.


"Kau yang gila, kenapa menarik tanganku!"


"Jadi kau lebih senang didalam dan membiarkan mereka menyentuhmu begitu saja, hem?"


Dinda berbalik, dia menatap tajam pada Alan, sedangkan Alan kembali gusar.


"Apa peduli mu?"