
Cintya datang kekantor dengan tersungut, tak hanya datang terlambat dia juga mengalami hari yang berat, bahkan sangat berat. Menghentakkan kakinya dengan kesal, dia masuk kedalam kantor. Wajahnya yang cantik namun terlihat angkuh.
Cintya menghempaskan tubuhnya di meja kerjanya, pekerjaannya sebagai sekretaris dari presiden utama yaitu Arya Adhinata, namun karena Arya sudsh jarang datang kekantor, Cintya merangkap sebagai sekretaris Alan. Kedudukannya pun terbilang luar biasa, bekerja dengan cekatan meski selalu terlambat. Karena masih sering bergelut dengan dunia malam.
Cintya mengetuk pintu ruangan Alan, lalu masuk membawa beberapa berkas yang diantarkan beberapa perwakilan divisi dengan tersungut.
Dia jahat sekali, sudah kubilang untuk menungguku barang sejenak, namun dia malah pergi begitu saja. Tidak punya perasaan, apa dia tidak tertarik pada wanita?
Cintya berjalan kearah meja kerja, tidak sedikitpun Alan melihatnya, bahkan melirik pun tidak. Cintya dengan sengaja mendongkak, membungkukkan badannya kearah meja, sengaja memperlihatkan bagian dadanya yang mengembang sempurna. Mencoba melihat reaksi Alan saat melihatnya.
"Pak, ini berkas yang harus diperiksa, telah makan siang kita akan meeting dengan klien diluar." ucapnya lembut.
Namun Alan sama sekali tidak beraksi, dia hanya diam saja tanpa melirik sedikitpun.
"Pergilah, kau akan kupanggil jika aku membutuhkanmu!" ucapnya menohok.
Lagi-lagi Cintya kehilangan kesempatan, dia membalikkan tubuhnya lalu keluar dengan kesal.
Sialan, susah sekali mencuri perhatiannya.
Cintya kembali duduk dimeja kerjanya, saat itu Dinda melenggang dan berhenti didepan meja Cintya.
"Maaf bu, saya dari divisi umum, ingin menyerahkan berkas laporan ini pada pak Alan," ucapnya memperlihatkan berkas namun matanya beralih pada pintu ruangan Alan yang tertutup.
"Simpan saja," Cintya sedang malas menanggapi.
"Tapi ini sangat penting, aku harus menyerahkan langsung pada pak Alan," Dinda mencari cara agar bisa masuk.
"Memangnya sepenting apa?sudah simpan saja .... Dan silahkan pergi,"
"Tidak bisa bu, ini harus saya sampaikan langsung padanya, sesuai amanat!"
Cintya mendongkak dan menatap Dinda, sedangkan dia mengangguk, "Benar harus sesuai amanat, kalau perlu disertai foto sebagai bukti kalau aku mengantarkannya langsung."
Cintya mendelik, dia bangkit dan membuka pintu ruangan Alan.
"Pak, ada yang ingin bertemu dengan Anda," Cintya menoleh pada Dinda, "Masuklah, dan segera pergi kalau sudah selesai!"
Dinda tersenyum penuh kemenangan, " Terima kasih."
Dinda masuk dengan hati yang berdebar kencang, melihat Alan tengah menunduk memeriksa ipadnya.
"Aku rela berubah jadi ipad agar dia terus memandangiku, hanya aku." Dinda terkikik dalam hati.
Setelah masuk kedalam Dinda mendekati meja dan berdiri mematung, memandang lekat pada Alan, meski Alan tak pernah mempedulikannya, bahkan tidak pernah melihatnya sedikitpun.
"Maaf Pak .... saya menga--"
"Simpan saja disitu," sela Alan saat Dinda belum selesai mengatakannya.
"Ta--Tapi pak ... "
Ayolah, lihat sedikit saja, aku ingin melihat wajahmu. Aku sudah jauh-jauh dan mencari- cari alasan untuk bisa disini, bahkan aku mengarang tentang amanat.... untung tidak ditanya amanat siapa.
Dinda tetap tak bergerak dari tempatnya berdiri, masih menatap Alan.
"Tunggu apa lagi?" Alan menoleh pada Dinda.
Sekilas Mereka saling menatap, jantung Dinda berdetak lebih kencang dari sebelumnya, tatapan dari Alan seolah menghujam tepat dijantungnya.
"Astaga, tatapannya!"
"Kenapa masih disini? Kau menunggu ku usir ...?"
Glek
Dinda menelan salivanya, Sialan lama-lama dia bisa membunuhku dengan matanya, aku harus segera pergi dari sini.
Dengan cepat Dinda berbalik, berhambur kearah pintu dan keluar dari sana. "Akhirnya ...." Dinda mengisi pasokan udara untuk dalam paru-parunya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cintya yang melihat Dinda terengah-engah.
"Ah, tidak ...tidak ada." lalu dengan cepat dia berlalu dari sana.
Cintya mengerdikkan bahunya heran. "Bukankah dia yang tempo hari tersesat saat hendak keruang rapat?"
Alanpun tak kalah heran dengan kelakuan Dinda, namun dia tak ambil pusing, tatapannya kembali pada ipad dan juga berkas-berkas yang menumpuk.
"Aku sangat lelah!" Alan menyandarkan punggungnya.
Alan membereskan berkasnya, beranjak dari duduknya, lalu keluar dari ruangannya,
"Ta-...."
"Iih... selalu saja begitu!"
Alan keluar dari kantor, berjalan lalu masuk kedalam mobilnya, melakukannya dengan kecepatan sedang. Mengarah pulang ke Apartemennya.
.
.
Dinda kembali keruangannya, dia berjalan dengan bersenandung, berbelok bahkan memutarkan tubuhnya dengan ceria, membuat rekan-rekannya yang lain menatapnya heran. Namun Dinda tidak peduli, hari ini dia bisa melihat Alan yang juga kali pertama Alan menatapnya,walau hanya 3 detik.
Masih dengan senandungan kecil di bibirnya dia melewati meja kerja sahabatnya.
"Thanks ya Sha..." ucapnya mengecup pipi Metta.
Metta menyapu pipi yang dikecup Dinda, "Apaan nih ...gak jelas banget!"
"Itu tanda terima kasih," Dinda terkikik
Metta menyipitkan Mata, "Buat apaan?"
Dinda gelagapan, "Euhm...pokoknya Terima kasih saja, karena kamu baik, perhatian, suka menolong, minjemin aku uang, ee--eum apa lagi yaa?"
Metta semakin memicingkan matanya dengan curiga kalau sahabatnya menyembunyikan sesuatu, lebih tidak percaya lagi ucapannya yang sangat berlebihan itu.
"Apa yang kau sembunyikan dariku?"
"Ti-tidak, aku tidak menyembunyikan apa-apa, aku hanya sedang senang karena baru saja melihat My Sweety ice dan aku bisa masuk keruangannya," Dinda terkikik.
Metta bersidekap tangan, "Katakan atau aku marah!"
Dinda mendecak, "Iya iya ... akan aku katakan, a-aku masuk keruangannya dengan menjual nama pacarmu, ta-ta-tapi sumpah," Jarinya dia angkat membentuk huruf V "Aku tidak mengatakan hal yang aneh aneh."
Gigi putihnya dia perlihatkan, dengan sengaja mengerjap-ngerjapkan kedua manik coklatnya, "Aku hanya memakai namanya untuk bisa masuk, dan kau tahu itu berhasil,"
Tak disangka Metta malah tertawa terbahak, "Bego banget," menoyor kepala Dinda.
Dinda mengusap kepalanya, " Aiish...."
"Gak takut ketahuan?hem...Peak dasar!" Metta menggelengkan kepalanya dan kembali duduk.
"Gimana nanti, yang penting aku dia bisa melihat wajahku yang jelita ini, siapa tahu nanti malam dia mimpiin aku,"
"Ngarep, palingan dia liatin kamu dengan begini," Metta membulatkan seluruh matanya dengan tajam, sesuai dengan Alan ketika melihatnya.
"Sialan, emang bener begitu ...hahaha!"
Mereka tertawa terbahak-bahak.
"Udah sana kerja, jangan makan gaji buta mulu maunya!"
"Iya deh iya, Bu Bos."
Dengan cepat Metta membekap mulut Dinda,
"Sialan, kamu mau semua orang tahu?" Dinda menggelengkan kepala.
"Enggak, Sha! sorry keceplosan, lagian masih saja jadi rahasia sih. Bukannya bangga!"
Metta mengerdikkan bahu, "Belum waktunya!
"Nanti ke Apartemenku ya! kita udah lama gak curhat, bergadang bareng sambil ketawa-ketawa kayak dulu, pas kamu masih jomblo."
"Sialan, udah sana kerja!ngomong mulu."
.
.
Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.
Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..
Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini.
Terima kasih