
Kehidupan terus harus berjalan, sudah sepekan Alan maupun Leon menjalani pemeriksaan, diperiksa selama berjam-jam membuat mereka kelelahan, puluhan pertanyaan diajukan pada mereka selama pemeriksaan.
Setelah selesai dengan pemeriksaannya, seorang petugas mengantarkan mereka ke sebuah ruang tahanan, Alan dan Leon berada di sel yang sama.
"Berakhir disini juga kita Al," ujar Leon saat masuk.
"Humm ... kita nikmati saja Le!"
"Nikmati kau bilang Al!"
Alan kembali menyorotinya, "Kita sudah tidak berkuasa Le!"
"Iya Al ...baik, aku paham! Kita akan menikmati hotel ini!" ucap Leon kembali.
Beberapa orang yang berada didalam pun melihat ke arah mereka dengan tatapan tidak suka. Saling berbisik dengan mata menatap dari atas sampai bawah.
"Kalian anak baru, sungguh tidak sopan! Peraturan disini no satu, jangan menatap! Tundukan kepala kalian!" ujar seorang dari mereka.
"Betul itu, betul!"
"Mau sok jagoan mereka!"
Keduanya terdiam, menatap teman-teman satu selnya satu per satu. "Jangan meladeninya Le!"
"Tidak level Al ... mereka penjahat-penjahat kelas teri." gumam Leon.
"Dilihat dari penampilan mereka, sepertinya mereka bukan dari kalangan biasa!"
"Sepertinya koruptor ... yang makan uang rakyat!"
"Atau pejabat negara yang melakukan kecurangan?"
"Artis yang melakukan penipuan!"
"Ya benar penipuan!"
Gumaman-gumaman yang terjadi diantara mereka dengan sorot mata mengarah pada keduanya.
"Jangan berisik, kalian mengganggu tidur siangku!" ujar seseorang yang terbaring di atas alas.
Kemudian dia bangun dengan posisi terduduk, sempat menguap lalu mengerjapkan kedua matanya.
"Kita kedatangan tamu!"
"Jerry ...?"
"Alan ... Leon?"
"Astaga, sampai juga kau disini!"
Ketiganya saling berpelukan, membuat beberapa yang lainnya heran.
"Bos ... siapa mereka?" tanya seseorang pada Jerry.
"Dialah bos ku!" tunjuknya pada Alan. "Dan yang ini, pembantunya!" ujarnya terkekeh ke arah Leon.
"Sialan kau Jerr...."
Mereka pun harus tinggal di balik jeruji, walau perlakuan petugas tidak ada yang semena-mena tetap saja mereka baru merasakan bagaimana hidup di tempat yang terkenal dengan sebutan hotel prodeo.
Tidur dilantai yang tidak beralaskan apa-apa, berdesakan dengan penghuni sel lainnya dan juga makan seadanya, kehidupan yang jauh 360 derajat dari kehidupan mereka sebelumnya.
Walaupun mereka didampingi kuasa hukum yang mengupayakan segalanya, bahkan tawaran untuk berada di sel yang lebih baik dan terpisah dari yang lain, namun Alan menolaknya.
Dia tidak ingin di istimewakan dalam hal ini, memilih untuk berada di sel yang sama dengan penghuni yang lain.
"Al ... kenapa menolak sel yang nyaman!" Tanya Leon.
Alan hanya diam dengan menyandarkan dirinya didinding. Membuat kedua sahabatnya itu saling menatap lalu mengerdikan bahu.
Aku merindukannya, benar-benar merindukan suaranya yang cerewet.
Setiap hari Ayu datang membawa makanan untuk mereka bertiga, terkadang dia juga datang bersama Arya atau pun Farrel.
Saat Alan keluar, Ayu selalu tidak bisa menahan air matanya, selalu saja begitu setiap datang membesuknya.
"Kau terlihat kurus sekali Al!" kata Ayu dengan mengusap bahu anaknya.
"Masa bun? Aku tidak merasa kurus, malah saat disini, aku sering olah raga."
Sementara Farrel hanya diam menatapnya. Alan menoleh padanya, "El ... kau sedang sakit?"
Farrel tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak Al ... aku sehat!"
Alan mengangguk, "Setelah mendengar suaramu, barulah aku yakin kalau kau benar-benar sehat El!"
Farrel mendengus, "Sialan, tidak lucu sama sekali!"
Alan terkekeh, lalu kembali menatap dengan nanar,
"El ... kau sudah mendengar kabarnya? Apa dia menghubungi istrimu?"
"Tidak ... bahkan kakak mengatakan kalau nomornya sudah tidak aktif, berkali-kali dia berusaha menghubunginya, namun tidak berhasil, yang menjawab hanya pelayan rumah, mereka tidak memberikan informasi apa-apa. Kata kakak, baru kali ini dia begitu, sebelum-sebelumnya dia tidak pernah seperti ini."
"Dia pasti sangat kecewa padaku!"
"Tidak apa! Thanks El." tukasnya lagi.
Ayu mengusap tangan yang menggenggam tangannya, "Kalian pasti akan kembali bersama suatu hari nanti! Walaupun kalian berada di tempat yang berbeda, bunda yakin, hati kalian akan saling tertaut." Alan mengangguk.
Sementara di negara A
Hampir seminggu Dinda mengurung dirinya dikamar, keputusannya untuk ikut bersama orang tuanya adalah yang paling tepat. Dia bisa menenangkan diri sekaligus menata hatinya kembali, namun ternyata itu tidak mudah.
"Bagaimana aku bisa melupakannya jika semua hal tentang dia selalu berputar dikepala." gumamnya dengan menatap ponsel miliknya yang dia biarkan mati.
Rasanya belum siap memberitahu orang lain tentang pernikahan nya yang batal, terutama pada Metta yang pasti sudah tahu dan akan menghubunginya.
Walau nyatanya, ingin sekali dia bercerita semua pada sahabatnya itu.
"Sayang, ayo keluar! Jangan mengurung diri terus seperti ini!" ujar Pramudya mengetuk pintu.
Dinda bangkit dari ranjang dan membuka pintu, "Ayah, aku hanya perlu waktu sendiri,"
Pramudya menghela nafas, "Lebih baik kau keluar mencari angin, jalan-jalan kemana gitu!"
Dinda menutup pintu kamar dan mengikuti ayahnya, "Males yah, aku tidak kenal siapapun disini!"
"Lagi pula kalau aku pergi...." Dinda menghentikan ucapannya, setelah dia sadar, Alan tidak akan mungkin menyusulnya, tidak akan pernah menyusulnya.
Kedua nya kini duduk di kursi yang berada di balkon apartemen. Menghirup udara yang sejuk khas negara tersebut, daun-daun kering jatuh mencium tanah, dan aroma musim gugur sangat kental masuk ke dalam hidung.
"Orang rumah memberi tahu Ayah, temanmu berkali-kali mencarimu, sepertinya dia sangat cemas padamu, apa baiknya kamu hubungi dia?" kata Pramudya penuh kehati-hatian.
Dinda mengelengkan kepalanya, "Metta pasti sudah mengetahui semuanya! Dan aku belum siap yah."
"Ayah mengerti!"
Sisilia yang tengah beristirahat pun keluar dengan susah payah, membuat keduanya bergegas menghampirinya.
"Mam, kenapa tidak panggil Ayah?"
"Aku sudah lebih baik kok yah! Aku harus semangat untuk sembuh."
"Itu baru Mami ... aku senang mendengarnya!"Ujar Dinda.
Mereka memapahnya ke sofa, begitupun dengan keduanya yang ikut duduk disamping kiri dan kanannya.
"Bagaimana perasaan mu nak?" tanyanya pads Dinda.
Dinda mengangguk, "Sudah lebih baik Mam, jangan khawatirkan aku!" ujarnya bohong, hanya tidak ingin orang yang melahirkannya itu semakin cemas.
"Mami jangan khawatir, aku kan anak kuat dan ceria!"
Sisil mengangguk, "Kamu memang anak Mami yang paling kuat!"
"Iya dong, Akira Dinda Pramudya." ucapnya terkekeh.
"Mami senang kita bertiga bisa pergi bersama seperti ini, ini akan menjadi kenangan manis untuk kita, sebelum Mami pergi!" ujar Sisilia.
"Mami kok ngomong gitu! Operasi Mami pasti akan berhasil!" sentak Pramudya.
Dinda menyandarkan kepalanya pada bahu ibunya, "Mami akan sembuh, Mami akan berumur panjang sampai cucu Mami punya cucu lagi!"
Sisilia terkekeh, "Itu lama sayang, cucu Mami sampai punya cucu itu bagaimana ceritanya! Kamu ini." ujarnya menjumput hidung Dinda.
Padahal aku berharap mempunyai anak bersamamu, kita menua bersama sampai melihat cucu-cucu kita ... haisshh, kapan aku bisa berhenti memikirkannya.
Sisilia memeluk anak perempuannya,
"Kamu sedang memikirkannya bukan?"
Aku bahkan tidak bisa berhenti memikirkannya.