Assistant Love

Assistant Love
Obrolan ayah dan anak.



"Yah, bagaimana?" ujar Ayu saat baru saja membuka pintu kamarnya.


Dengan mata yang sembab karena terus menangis, Arya memeluknya.


"Aku sudah bilang, kita akan bicara dengan nya dulu, tapi bunda selalu saja sentimental.


Ayu mendorong dada suaminya dengan kedua tangannya.


"Ayah itu tidak akan mengerti, aku ini ibunya yah, aku tidak kuat saat melihatnya, bagaimanapun juga dia anakku, baik dan buruknya tetap anakku. Ayah tidak akan mengerti." ujarnya menghempaskan dirinya ditepi ranjang.


Aku mengerti, bahkan sama denganmu, hanya saja aku tidak bisa memperlihatkan kesedihanku pada kalian, Aku juga hancur, bagaimana pun dia juga anakku. Aku kecewa, sangat kecewa, tapi aku menyayanginya.


Arya menyerahkan semua dokumen pada Ayu, dengan terperangah Ayu menerimanya.


Dan menangis sesegukan saat membuka satu persatu,


Seburuk ini kah anaknya diluar sana?


"Aku tidak percaya dia bisa melakukan hal itu Yah, ini pasti rekayasa saja."


Sejumlah catatan yaang selama ini Alan lakukan dalam bisnis ilegalnya, berapa korban dari mereka, meskipun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang berlaku licik padanya. Namun tetap saja, apa yang dilakukannya salah apapun alasannya.


"Jika ini sampai dibawa ke ranah hukum, hukumannya sangat berat! Bisa hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati, tapi dilihat dari para korbannya, mereka dari dunia yang sama, dan ini mungkin bisa jadi pertimbangan."


"Dia tidak pernah membunuh orang yang salah!" ungkapnya lagi.


Ayu hanya bisa menangis dengan tangan hanya menutup mulutnya.


"Bunda tenang saja, aku tidak akan tinggal diam, ayah akan berusaha melakukan yang terbaik untuknya."


Arya kembali merapihkan dokumen itu dari tangan sang istri, "Bunda istirahatlah, ayah bicara dulu dengannya."


Ayu menggelengkan kepalanya, dengan bangkit dari duduknya. "Bunda ikut,"


"Bunda tidur saja!" Arya kembali bicara dengan penuh penekanan.


.


.


Ceklek


Pintu terbuka, Alan terhenyak saat Arya yang sama sekali tidak marah dengan mengamuk ataupun kata-kata kasar, ataupun bermain tangan. Dia hanya beberapa hari ini mendiamkannya. Namun kemarahannya justru membuat Alan takut.


"Yah...."


"Duduklah, ayah hanya ingin kita bicara!" ujarnya dengan mendudukkan dirinya di sofa dihadapan Alan.


"Ayah sudah menghubungi kuasa hukum keluarga kita, dan beberapa teman ayah di badan hukum, mereka akan membantumu."


"Memperingan hukuman yang akan kamu jalani," ucap Arya dengan suara bergetar.


"Ayah...." lirihnya.


Dia mendongkak, menatap ke arah Arya, yang tengah mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya yang sepertinya tengah menahan air yang mulai menganak.


"Biarkan aku bertanggung jawabkan perbuatanku sendiri yah!" ujar Alan menohok.


"Memang seharusnya begitu, tidak ada orang lain yang bisa bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan." masih dengan suara bergetar.


Alan mengangguk, "Iya yah,"


"Mulai besok, tinggalkan bisnis mu itu! Atau ayah akan bertindak, ayah akan ambil alih kembali ARR. Corps, kalau perlu ayah akan menghancurkannya." tegas Arya.


Membuat Alan tersentak.


Aku pikir ayah tidak marah, tapi tidak bisa diduga ayah bahkan tahu semuanya.


"Kau tidak percaya ayah bisa melakukannya?"


Alan menggelengkannya, "Aku percaya yah!"


"Pergilah ke negara B, disana ada teman ayah yang akan membantumu!"


Alan tidak menjawab, dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau yah, aku akan menanggung semuanya. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya."


Tiba-tiba Arya melemparkan dokumen yang dia bawa ke arah Alan,


Trakk


Dokumen itu berhamburan dipangkuan Alan. Dia membulatkan matanya. Sekilas menatap lembaran demi lembaran.


"Seumur hidup?"


"Atau bahkan hukuman mati!" ujar Arya dengan kedua mata yang menatap nanar padanya.


Alan tertunduk lesu,


"Apa kau berfikir sebelum melakukannya? Tidak bukan? Untuk apa? Hanya untuk menjadi sok pahlawan?"


Alan semakin tertunduk, "Orang menganggapku lemah, karena aku tidak bisa melawan sedikitpun, bahkan aku tidak bisa menolong temanku sendiri yang terjun dari lantai dua belas, aku hanya bisa diam dengan tubuh bergemetaran dan bersembunyi."


"Sampai mereka membully ku habis-habisan disekolah, karena tubuhku ini. Sampai aku bertemu seorang anak pemberani yang menolongku saat pulang sekolah! Dia mengajariku banyak hal, bahkan dia yang membelaku saat aku mengalami perundungan. Dan terkena imbasnya karena temanku itu juga harus mengalami perundunga karena ku."


"Hingga aku selalu berfikir, aku harus menjadi kuat, aku tidak boleh lemah, aku harus menjadi yang terkuat. Hingga temanku itu mengajari memegang senjata api, dan entah kenapa, aku merasa mendapat kekuatan dari sana."


"Bertahun-tahun lama nya Ayah!" ujarnya dengan suara berat.


"Maafkan aku."


Arya terhenyak, "Astaga, kenapa kau tidak pernah cerita jika kau mengalami perundungan saat itu, kau tidak percaya pada kami, ayah dan bunda?"


Alan menggelengkan kepalanya, "Aku hanya tidak ingin melihat kalian sedih, aku tidak ingin kalian merasa kasihan padaku."


"Dan kebanyakan mereka yang aku habisi adalah mereka yang melakukan perundungan padaku. Sementara sebagaiannya lagi mereka yang berbuat curang."


Arya berkali-kali menggelengkan kepalanya, "Apa sekarang kau akan menurut padaku?"


"Don salendro! Kau mengenalnya?"


Alan mengangguk, "Iya ayah,"


"Siapa dia?"


"Pemasok senjata terbesar dari negara timur, yang melakukan transaksi terbesar karena menjual senjata pada satu negara,dan ternyata senjata itu dipakai untuk membelot negaranya sendiri."


Arya mengangguk, "Dia akan melindungi dari musuh-musuhmu yang menunggumu lemah, jadi ayah mohon berhentilah."


Alan terperangah, "Ayah mengenalnya?"


Arya mengangguk pelan, "Jika kamu tidak mau pergi ke negara dimana dia tinggal, dia yang akan bergerak, bicaralah padanya nanti."


"Lakukan sebelum keluarga Danuarta bertindak."


Alan mengangguk lagi, dengan menatap nanar.


"Ini yang bisa ayah lakukan untuk membantumu. Kamu anakku, aku tidak bisa diam begitu saja."


"Ayah...."


Alan berhambur memeluknya. "Terima kasih, ayah yang terhebat."


"Tapi aku akan tetap bertanggung jawab!"


"Apapun kamu, ayah tetap bangga padamu. Bertanggung jawablah nak." ujar Arya dengan menepuk-nepuk punggung Alan.


.


.


Alan kembali masuk kedalam kamar. Perasaan lega kini dirasakannya, kedua orang tuanya tidak peduli sejahat apa dia di luar, tidak peduli sekejam apa dia, mereka tetap merangkulnya.


Bukankah keluarga tempat kita pulang? Sejauh apa kita akan pergi, satu hari nanti, kita pasti akan kembali pulang.


Namun saat dirinya membuka pintu kamar, sebuah pukulan mendarat tepat padanya.


Bugh


Belum sempat mengedip pukulan kedua kembali mendarat.


Bugh


"Sialan kau!!"


"Hei ... awwwss!" Alan meringis, dia mengelap sudut bibirnya yang berdarah.


"Apa yang lakukan? Hem? Kau kurang ajar." ujar Alan.


"Kau yang kurang ajar bodoh!" timpal Farrel yang terus merangsek ke arah Alan, dengan cepat Alan memintir tangannya ke belakang, dengan cepat juga Farrel memutarkan tubuhnya mengikuti arah tangannya hingga dia yang kini memutarkan tangan Alan ke belakang. Lalu.


"Astaga... apa yang kalian lakukan?"