Assistant Love

Assistant Love
Semakin bodoh!



Dinda masuk kedalam Apartement lamanya, melangkah dengan riang, namun saat masuk kedalam lift dia mengingat sesuatu.


"Astaga, kenapa aku melupakan mobil ku? Terus ngapain aku kesini, aku kan sudah pindah Apartemen." Dia meraup wajahnya sendiri.


"Akira Dinda Pramudya, kau ini bodoh sekali! Kenapa cinta membuatmu yang bodoh semakin bodoh saja!"


Dinda merutuki dirinya sendiri, mengapa dia bisa lupa semuanya begitu saja, sekali lagi dia harus kembali ketempat tadi untuk mengambil mobilnya, namun untung saja tempat itu tidak jauh dari sana.


"Bodoh sekali astaga!" umpatnya pada dirinya sendiri.


"Tapi ah...."


Dinda berjingkrak-jingkrak, memeluk dirinya sendiri saat mengingat kejadian tadi, bahkan dapat merasakan berciuman dengan Alan.


Dinda menampar pipinya sendiri, "Awss sakit... Aku sedang tidak mimpi kan, halusinasiku sedang tidak kambuh kan? Aaaaaaaaaaa...."


Dia berteriak kegirangan, bagaimana tidak kenekatannya kali ini membuahkan hasil, pria yang tidak pernah memandangnya lebih dari 3 detik dikantor itu mendekapnya dengan kehangatan, bahkan terlihat menikmati ciuman yang dia berikan, juga berbicara panjang lebar, bukan halusinasi maupun mimpi belaka.


Sebuah Taxi lewat didepannya, dia pun menghentikannya.


"Pak, kejalan Pandan wangi ya...."


"Lah Mba, ini kan jalan Pandan wangi!" jawab supir Taxy yang menoleh dengan heran.


"Emmphh...., maksudku satu blok dari sini, itu dibelokkan situ," Dinda yang masih tidak melepaskan senyuman menunjuk jalan yang tak jauh dari sana.


"Ooooh...." Supir kembali melajukan kendaraannya, merasa heran karena jarak yang dekat dan masih bisa sebenarnya jika berjalan kaki.


Supir itu memperhatikan Dinda yang masih terkikik dari kaca spion, mulai dari wajah dan juga penampilannya.


"Mba kelihatannya bahagia sekali, sepertinya malam ini Mba mendapat ikan besar ya," tukas supir dengan berani.


Dinda mengangguk, "Benar Pak, malam ini aku mendapat ikan besar, bahkan besar sekali. Sampai aku tidak ingin ada hari esok!" kemudian kembali terkikik.


Sementara supir bergeleng kepala, "Amit-amit, jangan sampai anakku seperti ini, sayang sekali dia masih muda, cantik, tapi menjadi wanita penjaja sek-s yang bergelut dengan dunia malam dan pria hidung belang.


"Hati-hati Mba, lama-lama bisa kena penyakit! Maaf ucapan saya tidak seharusnya, tapi saya teringat anak saya pas lihat Mba,"


"Ooh ya Pak, tidak apa! Aku memang sudah terkena penyakit." Dinda tergelak, sementara sang supir tercengang dengan jawabannya.


Penyakit cinta yang membuatku terbang, hingga lupa caranya mendarat.


Astaga, kasihan sekali! Tapi itu akibat dia sering dia pakai pria berbeda setiap hari. Miris sekali hidupmu Nak, aku akan lebih giat bekerja, aku tidak ingin anak-anakku sampai terjerumus seperti dia.


Supir itu menghentikan mobil, kemudian dia menoleh kebelakang, Dinda yang heran pun melihat kearah supir.


"Kenapa Pak? Kok berhenti ...."


"Ini sudah sampai Mba,"


Dinda mengedarkan pandangannya, dan melihat mobilnya yang terparkir di depannya. Dia pun kembali terkekeh, "Oh iya ternyata sudah sampai."


Dinda memberikan satu lembar uang pada supir di depannya, "Ini pak ongkosnya,"


Supir pria itu buru-buru menepisnya, " Tidak apa Mba, gratis!"


"Benarkah? Kalau begitu terima kasih." Dinda keluar dari mobil, lalu dia membungkukkan tubuhnya kearah supir sebagai bentuk terima kasihnya.


Kasian hidupnya mungkin tidak akan lama lagi, kasihan kamu nak.


Supir itu ikut mengangguk dengan wajah yang terlihat sendu, lalu kembali melajukan mobilnya. Sementara Dinda merasa heran dengan supir Taxi yang tidak mau menerima upahnya.


"Malam ini memang malam keberuntunganku." gumamnya, kemudian dia segera berjalan kearah mobil dan masuk kedalamnya.


Dia takut pada pria-pria didalam dapat mengenalinya, terlebih lagi hari sudah semakin larut. Para wanita penghibur sudah mulai berdatangan, membuat bulu kuduknya meremang, membayangkan melakukan seperti itu dengan orang yang tidak kenal sedikitpun.


"Aku ingin cepat sampai." gumamnya.


Setelah sampai ke platnya, dia segera meloncat diatas ranjang, memeluk guling dengan erat dan berguling ke kanan juga ke kiri.


"Rasanya ingin tiap hari begitu,"


Dinda tak berhenti berceloteh, rasa kantuk seakan hilang begitu saja, tubuh yang lelah pun seakan tidak berarti apa-apa. Dia merasa sedang berada diatas awan dan terbang bebas.


Hingga perutnya merasa melilit, "Astaga, aku sampai melupakan makan malam ku! Tadi sore kan aku hendak membeli bahan memasak, gara-gara menolong gadis yang hampir tertabrak itu membuatku lupa segalanya. Tapi kan gara-gara itu juga aku jadi bertemu dengan My Sweety ice." Gumamnya dengan melingkarkan kakinya diantara guling.


"Aku harusnya berterima kasih dengan gadis itu, gadis yang aku lupa pernah melihatnya dimana, Ah kau memang bodoh Din."


Dinda turun dari ranjang lalu berjalan ke dapur, membuka lemari es dan mencari sesuatu yang bisa dimakannya.


"Mie lagi, mie lagi ...."


Ucapnya dengan mengambil mie instan, menyalakan kompor dan mengisi wajan dengan air dari wastafel, lalu dia menunggunya hingga mendidih.


"Masa nanti My Sweety ice mau ku bikinkan mie juga setiap hari." Dinda terkikik, tangannya memasukkan mie kedalam air yang sudah mendidih.


"Oke Dinda, semangat! Kamu harus semakin semangat mengejar cinta, walaupun dia tidak pernah melihatku, huh! Dia juga pasti tidak menyadari aku siapa barusan." melempar bungkus mie beserta bumbu kuah yang belum diambilnya kedalam tong sampah.


Dinda menuangkan mie yang sudah jadi itu kedalam mangkok, lalu menghirup kepulan asapnya.


"Eeemmpp ...."Mengambil sendok juga garpu.


"Kok gak ada rasanya? Apa mie ini sudah kadaluarsa?"


.


.


Sementara Alan yang sudah tiba diapartemennya segera masuk ke kamar mandi, melemparkan baju kotornya dikeranjang lalu menyalakan shower. Mengguyur tubuhnya yang lengket dengan air segar.


Setelah beberapa waktu pintu kamar mandi terbuka, Alan keluar dengan lilitan handuk dipinggangnya. Tubuh tegap dan perut kotak-kotak terpangpang nyata, serta wajah segar dengan rambut yang basah.


Dia masuk kedalam walk in closet, mengambil piyama dan memakainya. lalu menggantungkan handuk ditempatnya. Setelah itu dia keluar dari kamar, menuju ke bawah dan mengambil minuman kesukaannya di lemari es.


Alan mendudukkan tubuhnya di sofa, menuangkan wine digelar yang sudah di isi dengan es cube lalu memutar-mutarkannya sebentar sebelum kemudian ditenggaknya.


Meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Dugaanmu benar, kita akan segera mengurusnya."


"....."


"Hem...."


"....."


Setelah mengakhiri telponnya Alan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Fikirannya melayang kembali pada gadis yang membantunya, bukan, bukan membantunya, melainkan membuatnya semakin sulit dalam melakukan investigasi.


Namun bibirnya tertarik keatas tanpa dia sadari, mengingat gadis yang unik yang pernah ditemuinya.


"Akira... Sepertinya aku mengenal nama itu." gumamnya kemudian kembali menenggak isi gelasnya hingga tandas.


.


.


Jangan lupa like dan komen


Terima kasih