
"Aku akan menemui pak Ilham."
"El itu tidak akan membuat masalah selesai, kita fikirkan cara lain!" cegah Arya.
Farrel terdiam, apa yang dikatakan ayahnya memang benar, dengan bicara pada Ilham pun tidak akan menyelesaikan apa yang telah Alan mulai.
"Lalu kita harus bagaimana Yah?"
"Kita fikirkan bersama."
Farrel dan Arya berbalik hendak masuk ke dalam rumah, mereka akan sama-sama memikirkan jalan keluarnya.
Tepat pada saat orang yang dia sebut memanggilnya dari arah belakang. Pria berperawakan tinggi tegap dengan rambut cepak itu tersenyum saat melihat Farrel dan juga Arya.
"Ar...." sapanya pada Arya.
Kedua terperangah melihat ke arah,
"Ilham ... kebetulan kau datang! Aku ingin bicara denganmu!"
Sementara Farrel mengangguk ke arahnya, "Kita bicara didalam pak Ilham?"
"Farrel?!" sapanya dengan menepuk bahu Farrel.
"Kalian tahu apa tujuan ku kemari?"
Keduanya mengangguk. Lalu masuk kedalam ruang kerja Arya.
Sementara Alan yang masih berusaha menenangkan sang bunda yang masih terus menangis, Ayu terus membasahi kemeja Alan dengan air bening yang turun dengan deras.
"Bagaimana nasib bunda kalau tidak ada kamu Al."
"Bunda ... aku pasti kembali, ada ayah dan juga Farrel, menantu bunda dan juga bunda bisa bermain dengan baby Shena bukan?" ujar Alan mengelus punggungnya.
"Tetap saja tidak ada kamu Al."
Alan memegang kedua bahunya, "Aku minta maaf, karena aku ... bunda jadi sedih! Aku membuat malu keluarga Adhinata, maafkan aku bun!"
Ayu menggelengkan kepalanya, "Kamu tetap kebanggan bunda, anak bunda Al,"
"Keluarga ayah tidak pernah merasa malu dengan semua ini." ujarnya dengan terisak.
"Tapi bunda merasa kasihan pada Dinda, dia benar-benar baik, bisa menerima semua hal yang ada dalam dirimu, bunda menyayangkan keputusan kalian!"
"Itu keinginannya, dan aku tidak ingin memaksanya!"
"Lalu bagaimana dengan keinginanmu? Apa keinginanmu?" ucap Ayu dengan mengusap air matanya perlahan.
Alan tertegun dengan pertanyaan bunda, semua orang menanyakan hal yang sama padanya, keinginannya tidaklah muluk, hanya ingin bersama dengan wanita yang bisa menerima kekurangannya.
"Bun apa boleh aku kembali ke sana?"
Ayu mengangguk "Pergilah! Sebelum terlambat!"
Tepat pada saat mobil berwarna hitam berhenti didepan rumahnya, Leon turun dari mobil dengan tergesa, bertepatan dengan Alan yang keluar dari rumah.
"Al...."
"Le ... kau mau kemana?"
"Menemuimu!" ujarnya serius.
"Kau ikut aku, aku harus melakukan sesuatu!"
.
.
Mereka berdua masuk kembali ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Alan sendiri, dia bersikeras untuk mengemudikan mobil, walaupun Leon sudah menawarkan diri. Leon Tahu bagaimana cara Alan mengemudikan kendaraan jika dengan fikiran kacau.
"Kita mau kemana Al ... kemudikan yang benar! Kau mau celaka?" seru Leon saat Alan mengebut dan hampir menabrak pengendara motor.
"Diamlah Le ... kau akan tahu nanti!"
Leon mendengus kasar, dia tidak pernah mengerti apa yang ada di fikiran Alan.
Alan terus melaju, dengan kecepatan diatas rata-rata.
.
.
Leon menatap tempat dimana mobil menepi, dan ikut turun mengikuti Alan.
"Al ... rumah siapa?"
"Aku akan membawanya hari ini juga!"
"Siapa?" ujar Leon mengedarkan pandangannya.
Namun Alan tidak menggubris perkataan Leon, dia membuka gerbang dan masuk begitu saja, lalu mengetuk pintu rumah yamg selalu tampak sepi itu.
Tok
Tok
Tidak ada jawaban dari dalam, membuat Alan semakin mengetuk pintu dengan kencang. Pramudya dan Sisilia memang tidak ada di rumah, begitupun dengan gadis yang hendak dia bawa hari ini.
Sebuah mobil hitam berhenti di deoan gerbang, kemudian seseorang turun dan membuka gerbang rumah dan memasukkan mobil ke dalam garasi.
Dia melihat keduanya dengan heran, "Cari siapa ya? Bapa dan ibu juga non Akira baru saja pergi!"
Alan terperangah, begitupun Leon yang mulai mengerti, keduanya saling menatap.
"Pergi kemana?" tanya Alan.
"Mereka ke negara A, baru saja saya mengantarkannya ke bandara." jawabnya.
Alan berlari keluar dan masuk kedalam mobil, disusul oleh Leon yang juga masuk dan memasang seat belt nya dengan cepat, tak lupa berpegang erat pada handle pintu mobil yang menggantung.
"Al ... sebenarnya apa yang terjadi, bukankah kalian akan menikah dalam waktu dekat?"
"Aku melakukan kesalahan, membuatnya ragu dan tidak pernah sekalipun aku meyakinkannya. Mungkin baginya apa yang aku lakukan tidak cukup meyakinkan."
Leon tergelak, namun Alan menyorotinya dengan tajam, membuatnya terhenti dan kembali memasang wajahnya datar.
"Sudah ku bilang, wanita itu tidak hanya butuh tindakan, mereka kadang hanya membutuhkan ucapan. Meyakinkan tidak hanya dengan tindakan nyata namun juga dengan untaian kata, memujinya, merayunya, semua hal itu yang tidak bisa kau lakukan bukan?"
"Apa tidak cukup hanya dengan tindakan nyata? Wanita sungguh rumit, itu sebabnya dari duku aku tidak suka terlibat dengan namanya cinta, dan wanita!"
"Tapi alam tidak semudah itu, bagaimanapun juga kita membutuhkannya Al, tanpa kau sadari atau tidak, buktinya kau bisa jatuh cinta dengan wanita itu, yang ya kau tahu lah!"
Alan tetap mengarahkan pandangannya pada ruas jalan, "Maksudmu pacarku bodoh?"
"Kau yang mengatakannya, aku tidak ya!" ujar Leon mengangkat kedua tangannya.
"Dia unik Le, hanya dia yang berani mendekatiku walau aku terus menolaknya!"
Leon berdecak, " Tapi kau mengecewakannya sekarang?"
Alan mengangguk, "Begitulah, aku fikir dengan menyetujui keputusannya, itu akan membuat di lebih bahagia."
Leon mendecih, "Sementara kau menderita, kau harus tahu satu hal tentang wanita, jika mereka mengatakan tidak apa-apa ... jangan langsung percaya begitu saja, begitupun jika mereka marah, meraka selalu ingin di tanya, kalau perlu kita berbohong untyk merayu nya, mereka akan senang!"
"Rumit!!" jawabnya dengan datar.
"Hal begini saja kau tidak faham! Memalukan!"
Perbincangan mereka berakhir tepat pada saat mobil berhenti di bandara, Alan keluar tanpa memarkirkan mobil, bahkan menutup pintu mobilpun tidak, membuat Leon berdecak dan berpindah posisi melajukan kembali mobilnya mencari tempat parkir.
Alan berlari masuk, namun tidak menemukan wanitanya, dia berlari menghampiri meja informasi dan menanyakan jadwal pesawat yang berangkat ke negera A hari itu.
"Pesawat yang anda tanyakan baru saja take off, anda terlambat 5 menit tuan!" ujar perempuan yang bekerja dimeja informasi itu.
Jawaban perempuan itu membuat lututnya lunglai seketika, Alan merasa dadanya berhenti berdetak saat itu juga.
Dengan langkah gontai dis kembali keluar, Leon yang baru akan masuk pun menghampirinya.
"Bagaimana Al?"
"Dia sudah pergi!"
Alan merogoh ponsel dan berusaha menghubungi Dinda, namun nomornya tidak aktif.
"Kau susul mereka Al! Waktu kita tidak banyak! Pergilah." ujar Leon.
Alan menggelengkan kepalanya, "Itu hanya akan membuat masalah semakin rumit! Aku akan menjadi buronan polisi."
Sayang, maafkan aku