Assistant Love

Assistant Love
Masalah Perusahaan



Sudah seminggu lebih mama berada dirumah sakit, begitu juga Dinda yang bulak balik mengunjunginya, sementara Alan yang hanya tidak sibuk saja, dia bisa menemani Dinda, selebihnya tentu tidak bisa, tapi semua paham, Dinda pun harus menyetir seorang diri.


Meski berkali -kali Alan mengingatkan untuk memakai supir namun Dinda keras kepala, bahkan sering mengancam dan selalu tidak peduli sama sekali dengan kemarahan Alan.


Bagi nya kemarahan Alan justru sangat menyenangkan, hingga tidak jarang Alan yang kelimpungan sendiri,


"Hanya kamu yang berani padaku! Kau bahkan tidak takut aku marah, dasar bodoh."


Dinda tergelak, "Karena kamu tidak mungkin bisa marah padaku, terlebih apa yang aku lakukan ini bukan hal membuat kau harus semarah itu. Kau pasti akan mengerti, iya kan sayang."


Itulah sebabnya, dia adalah kelemahanku, dia yang mulai menggoyahkan, namun dia juga yang membuatnya sempurna. Menyebalkan.


Hingga Alan hanya bisa mengirim sesorang untuk menjaga Dinda dari jauh, seseorang yang mengikuti perjalanan Dinda kemanapun dia pergi. Seperti yang dilakukannya dulu pada Farrel, hingga saat dia mampu menempatkan diri dan juga menjaga dirinya sendiri.


Jauh sebelum Mac yang secara terang-terangan dia tempatkan disisi Farrel untuk menjaganya, namun seseorang yang diam-diam mengawasinya tanpa diketahui adiknya itu.


Dan sekarang diapun melakukannya pada Dinda, bukan karena ada rasa tidak percaya, tapi dia ingin memastikan bahwa wanita ceroboh itu baik-baik saja.


Begitupun dengan Leon, dia sudah kembali bekerja di ARR. corps, meski pun hubungan nya dengan Alan semakin jauh, Leon sendiri berjaga jarak dengannya. Membuat batasan sendiri dan memilih pindah apartemen yang lebih dekat dengan kantornya.


Hanya Jerry yang sering menjadi penyampai pesan, meskipun mereka berteman dan saling terhubung di beberapa aplikasi pesan pendek, namun urusan kantor Alan akan menghubungi kantor nya langsung, yang nanti akan disambungkan pada Leon. Rumit sekali memang, namun ada hal yang harus dijaga. Perasaan.


Jerry hanya menghembuskan nafasnya panjang, hubungan antara kedua sahabatnya yang merenggang itulah penyebabnya,


"Leon, meminta maaflah padanya."


"Aku sudah melakukannya, bahkan berkali-kali!"


"Kau sudah bicara lagi padanya?"


"Hm..."


Begitupun dengan Alan, dia hanya ber-oh ria dengan kata 'hm' yang jadi jawaban saat ditanya.


Sementara Rapat dengan perusahaan Danuarta semakin dekat. Mereka berdua menjadi bingung sendiri, bagaimana cara mereka komunikasi, sementara hubungan mereka saja memburuk.


"Ayolah berbaikan, bagaimana kalian akan menghadapi dunia jika didalam kubu sendiri saja seperti ini!"


"Dia saja mau berhenti dari bisnis!" gumam Leon dengan menghembuskan nafas.


Alan hanya mendengus kasar.


"Al ...maafkan lah orang bodoh yang sudah lancang ini,"


"Aku sudah memaafkan!" Gumam Alan, dengan mengepulkan asap rokok ke udara.


Dan kali ini, Leon yang mendengus kasar.


"Kalian ini sama saja! Tidak ada yang mau mengalah," Jerry menggelengkan kepalanya.


Dreet


Dreet


Ponsel Leon berbunyi, dia merogoh ponsel yang nya di dalam saku, lalu menerimanya dengan menempelkannya di telinga.


"Ada apa?"


"Baik, aku segera ke kantor!"


"Al ... kita harus ke kantor sekarang!" ujarnya lalu beranjak pergi,


Alan dan Jerry sekilas saling memandang, lalu mereka menyusul Leon dengan menggunakan mobil.


"Jerr, kau ikut mobilku!" ujarnya datar.


Lalu dia masuk ke dalam mobil dan Jerry masuk disampingnya.


"Al, kita bertukar posisi, lebih baik aku yang menyetir."


"Sudahlah, tidak usah banyak bicara!"


Jerry mendengus kesal, dia tahu persis seperti apa Alan saat panik, dia tidak akan peduli apapun, bahkan semua hal yang berada di samping kiri dan kanannya seolah tidak dilihatnya. Karena jelas suasana seperti ini tentu saja bisa dibilang darurat.


"Al...tenanglah!"


Jerry lantas merogoh ponsel, dia mendial kantor ARR. Corps, namun tidak ada yang menjawabnya.


"Bagaimana?"


Jerry menggeleng, "Mereka tidak ada yang menjawab."


"Apa yang terjadi?" gumam Jerry.


Alan melajukan kendaraan nya dengan kecepatan tinggi, dia menekan beberapa kali klakson lalu melesat dengan cepat. Sementara Jerry sesekali memejamkan matanya, merasa was-was setiap Alan mengendarai kendaraan nya seperti itu.


.


.


"Mereka menyerang kita Al, ada dua orang kita yang tertembak," jawab Leon yang baru saja menutup sambungan telepon dari seseorang.


"Siapa mereka?"


"Hanya penjual jalanan, aku sudah memeriksanya,"


"Tidak mungkin, mereka pasti suruhan, bawa mereka ke markas Le, sekarang!" Alan melonggarkan ikatan dasinya, dengan menghembuskan nafasnya kasar.


Leon mengangguk, lalu keluar dari ruangan dan menemui seseorang.


Brakk


Leon mendorong pintu dengan keras, membuat para bawahannya yang tengah berada di sana sontak kaget,


"Kalian mendapatkannya?"


Orang itu sedikit menunduk, dengan wajah takut-takut terhadap Leon yang dikenal sangat keras,


"Kami sedang mencarinya."


Leon menggebrak meja, "Kenapa masih mencarinya! Dapatkan mereka, dan bawa ke markas."


Semuanya tertunduk dan terdiam, Leon meraup wajahnya sendiri, Alan menyusul nya dari belakang,


"Bagaimana?"


"Mereka masih mencarinya!"


Beberapa orang masuk ke dalam, salah satu dari mereka mendekati Leon,


"Mereka sudah ada dibasement!"


"Kita pergi...."


Orang itu mengangguk, lalu mereka berlalu dari sana.


"Al, mereka dibasement, lebih baik kita bawa ke markas, disini terlalu berbahaya."


"Leon benar Al, kita ke markas!"


Alan terdiam, "Seberapa parah orang kita terkena tembakan?"


"Satu diantaranya mengenai bahu kanan, sedangkan satu lagi tepat di punggungnya." jawab Leon saat mereka berjalan keluar dan menuju basement.


Mereka bertiga masuk ke area basement, sebuah mobil van putih sudah berada disana, dengan penjagaan ketat.


"Buka pintunya!" Seru Alan.


Salah satu anak buahnya membuka pintu mobil itu, hingga terlihat dua orang pria yang terikat, mulut mereka tersumpal.


Mereka kaget saat pintu mobil terbuka, terlihat marah dengan tangan yang mengepal,


"Al... lebih baik kita bawa mereka ke markas!" ujar Jerry mengingatkan,


"Benar Al, lebih baik kita pergi sekarang."


Namun Alan yang kepalang murka itu tidak mendengarkan mereka, dia menarik salah satu dari mereka keluar dari mobil.


"Siapa yang menyuruhmu?" ujarnya dengan tangan merangsek kerahnya.


Jerry menahan Alan, "Al ... kita akan menjadi pusat perhatian, tahan emosimu!"


Bugh


Bugh


"Bawa mereka dari sini!" Seru Alan, setelah mendaratkan pukulan telak pada orang itu.


Jerry mendorong orang itu masuk kembali kedalam mobil dan menyuruh mereka membawanya ke markas,


"Aku akan mengurus ke markas, kau dan Leon urus polisi yang akan datang, aku yakin mereka akan datang sebentar lagi." ujar Jerry menohok.


Leon dan Alan saling bertatapan. Mereka berdua lalu membuang muka, sementara Jerry berdecak ke arah mereka,


"Al ... itu mereka," tunjuk Jerry pada beberapa orang yang berpakaian seragam polisi yang terlihat berkumpul saat mereka memasuki lobby perusahaan.


"Aku, pergi dulu!" ujar Jerry sambil berlalu.


Alan dan Leon kini berhadapan dengan beberapa polisi yang menanyai meraka terkait keributan di jalan, salah satunya karena mereka yang terlibat memakai seragam ARR.corps.


"Pak Leon,"