
"Kau tahu? Leon masih belum bisa melupakanmu! Bagaimana menurutmu?"
"Hah... kenapa bertanya padaku? Aku tidak tahu!" ujar Dinda menggaruk kepalanya.
"Dia bahkan sangat peduli dengan bibirmu yang bengkak itu!"
"Mungkin karena kebetulan saja, dia melihatnya!" jawab Dinda gelagapan.
Mereka masuk ke dalam plat, "Jika pacarmu ada yang menciumnya tanpa kau tahu, apa yang akan kau lakukan? "
Deg
Apa dia tahu Leon menciumku? apa yang harus aku lakukan?!
"Katakan padaku? apa yang akan kau lakukan?"
"Eeughhh...aa--aku Tidak tahu!"
Dinda berjalan ke dapur, namun Alan mencekal lengannya, "Aku belum selesai bicara!"
"Aku tidak tahu Al, dia tidak sengaja menciumku, tapi tidak lebih dari itu, aku mendorongnya begitu saja, bibirku bengkak karena aku menariknya, bukan karena dia melu matku seperti kita yang sedang berciuman! Dia-- dia...."
Celaka, aku malah keceplosan! Seharusnya kan ini menjadi rahasia. Mati aku! batin Dinda.
"Sudah aku duga!"
Alan berhambur keluar dari plat milik Dinda, dia berjalan menuju plat milik Leon yang hanya berjarak tiga plat saja.
Dugh
Dugh
Dugh.
Alan menggedor pintu plat milik Leon, sementara Dinda berlari menyusul nya.
"Al ... ayo, lebih baik kita kembali saja!"
Alan menepis tangan Dinda yang berada dilengannya,
Ceklek
Tiba-tiba Leon membuka pintunya, Alam berhambur mendorongnya masuk dan mendaratkan pukulan keras pada rahangnya.
Bugh
"Kau fikir kau siapa Le?"
Bugh
"Berani kau menyentuh wanitaku?"
Bugh bugh bugh
Alan mendaratkan pukulan telak pada Leon yang tidak melawan sedikit pun. Pukulan yang diberikan Alan membuatnya tersungkur,
Dugh
Alan menendang perut Leon, "KAU CARI MATI LEONARD? Ayo berdiri, lawan aku!"
Leon tak sedikitpun bergerak, tidak juga melawan Alan.
"Aku memang bersalah Al, kau berhak melakukan ini. Aku minta maaf,"
Bugh
Dinda menghalangi Alan, "Alan, hentikan! sudah hentikan!"
"Minggir! Aku bilang minggir!" teriaknya pada Dinda.
Bugh
Alan terus memukulnya, menendang bahkan menerjangnya, wajah Leon yang tampan pun kini berlumuran darah, tapi Leon tidak membalasnya sedkit.
Dinda menarik tubuh Alan, walaupun sebenarnya tubuhnya sendiri yang justru terpelanting.
"Al... hentikan!"
Alan maju dan kembali menendang Leon yang sudah tidak berdaya,
"Aku memang bersalah, maafkan aku!"
Dengan menangis Dinda memeluk tubuh Alan yang tengah diliputi amarah! Tubuhnya menegang dengan otot-otot yang ikut meregang.
"Al ... hentikan, sudah cukup! kita pergi dari sini yaa? Aku mohon."
Tubuh Alan akhirnya mematung, saat Dinda memohon padanya,
"LEONARD, aku belum memaafkan mu!" tunjuknya pada Leon yang sudah terkapar.
Alan kemudian berjalan keluar meninggalkan Dinda yang menatap sekilas ke arah Leon lalu menyusul Alan keluar.
Alan merogoh ponsel dari saku celananya, menghubungi Mac.
"Mac, ke apartemen Leon sekarang juga!"
Lalu mematikan ponselnya kembali.
Alan kembali keluar, namun dia tidak masuk kembali ke plat milik Dinda, dia keluar dari gedung menuju apartemennya sendiri. Dinda menyusul nya dengan berlari.
"Al ... tunggu!"
Dinda masuk ke dalam lift, namun Alan tidak mengatakan apapun, rahang nya saja yang terlihat semakin bergemelatuk, bertanda dia tengah menahan amarahnya.
Dinda melingkarkan tangannya pada lengan Alan, "Lepas..." ujarnya datar.
"Al...aku!"
"Lepaskan Akira, Apa kau tidak dengar aku?" sentaknya.
Dinda terhenyak, namun tak juga melepaskan tangannya, dia malah semakin memeluk Alan.
Mengelus-ngelus punggung Alan dengan lembut.
"Dasar bodoh! Kenapa kau diam saja saat dia menciummu, bodoh! Kau menyukainya?"
Dinda yang memeluk erat tubuh Alan menggelengkan kepalanya, "Aku hanya mencintaimu, kau tahu itu!"
"Lalu kenapa kau diam saja? Kau menikmatinya?"
"Tidak, bagaimana kau bisa mengatakan hal itu!"
Alan memejamkan matanya, "Aku tidak segan membunuh orang Akira, kau ingat itu."
Deg
"Aku tahu itu Al, kalau kau fikir aku tidak tahu, aku tidak akan terus mengejarmu, begitu tahu kau memiliki senjata!"
"Dan kau tahu Leon sudah minta maaf padaku, kau fikir Leon dengan sengaja melakukannya? Padahal dia tahu bagaimana dirimu?"
Alan melepaskan pelukan Dinda dengan cepat, "Cih, kau bahkan membelanya!"
"Aku tidak membelanya, ahk ... sudahlah! terserah apa katamu saja! Aku sudah menjelaskannya padamu semuanya, Leon juga sudah meminta maaf, dia-- dia ...."
Ting
Lift terbuka, Dinda menghentakkan kakinya keluar lebih dulu, "Terserahlah ..."
Alan menyusul dan mencekal pergelangan tangannya,
"Masih berani pergi dariku?"
Dinda menepiskan tangan Alan, "Lantas kau maunya Apa? Aku sudah menjelaskannya berkali-kali, juga sudah meminta maaf berkali-kali padamu! Kau tetap saja tidak mendengar penjelasanku!"
Alan menarik tangan Dinda, dengan sedikit menyeretnya dan berjalan masuk kedalam platnya.
"Katakan kalau kau mencintai Leon? Aku akan melepaskanmu!"
"Aku mencintaimu! Bukan Leon!" bentak Dinda.
Alan terdiam, Dinda pun hanya menatap nya, "Kau memang tidak pernah mendengarkan orang lain, sudah berapa kali aku bilang padamu? Aku hanya mencintaimu, bukan Leon atau siapapun."
Dinda menyeka air bening yang hendak turun, dia tidak ingin menangis. tapi Bagaimana caranya membuat Alan luluh, mendengar kan penjelasan saja tidak.
"Kau memang tidak pernah percaya padaku! kalau begitu kita lebih naik berpisah saja."ujarnya kemudian.
Dinda beranjak, dia mendekati pintu namun Alan lagi-lagi mencekal tangannya.
"Jangan pergi!" ujarnya dengan suara lemah.
"Kau ingin aku bagaimana? agar kamu mengerti kalau aku hanya mencintaimu saja." ujarnya tanpa menoleh.
"Leon juga sudah minta maaf padaku, padamu juga, tidak kah kau lihat dia, bahkan tidak sedikitpun membalasmu."
"Kalau dia tidak memikirkanmu, dia tidak asal memberitahuku semuanya, mungkinkah alan menyimpannya rapat-rapat, dan mengambil kesempatan. Bukankah dia mencintaiku?"
"Tapi dia tidak memikirkan dirinya sendiri, dia hanya memikirkan mu saja! Aku harap kau mengerti! dia hanya terbawa suasana,"
"Kenapa kau selalu membelanya?"
"Karena aku pernah berada diposisinya, mencintai seseorang yang tidak mencintaiku! Hingga selalu bersikap konyol dan juga bodoh, sampai saat kesempatan itu datang, aku memanfaatkan kesempatan yang berujung penyesalan. Kau tidak akan pernah paham itu!"
Dinda keluar dari plat Alan dan berjalan pulang.
Alan memeluknya dari belakang, "Aku minta maaf. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri!"
"Leon juga bilang seperti itu! Dia tidak bisa mengontrol dirinya saat di lift hanya berdua denganku."
"Mulai besok, tidak usah pulang ke platmu lagi. Aku akan mencarikanmu plat di dekat sini."
Dinda mengangguk, "Iya... itu lebih baik!"
.
.
Sementara Mac sudah berada di plat milik leon, dan bersiap membawa Leon kerumah sakit.
"Kau memang sudah gila, kau melakukan hal seperti itu ... sungguh bodoh!" ujar Mac.
"Anggap saja aku sudah gila, tapi aku bisa melepaskannya dengan ringan, hanya dengan begitu rasa penasaran ku hilang Mac!" " ujarnya meringis, memegangi ujung bibir nya yang robek.
"Kau memang gila!! untung dia tidak membunuhmu," ujar Mac dengan melakukan kendaraan nya dengan cepat.
"Tidak akan pernah, dia tidak akan melakukannya, buktinya dia mengirimmu untuk membawaku ke rumah sakit bukan?"