
"Aku merindukanmu, dan jangan pernah berfikir hal seperti itu! Karena itu sama sekali tidak benar!"
"Benarkah? Tapi kenapa kau selalu mengabaikanku?"
Alan membasuh wajahnya, "Aku sudah katakan, banyak hal yang aku urus!"
Dinda terkekeh, "Aku bercanda, ayo kita berangkat! Bukankah kau harus ke rumah sakit juga?"
Dinda mencari sesuatu dengan membuka laci lemari yang berada di samping meja sofa, lalu kembali lagi membuka lemari es.
"Kau mencari apa?"
"Hah ...?"
"Aku bertanya, Kau sedang mencari apa?"
"Ooh ... itu, aku sedang mencari perhatianmu!" ucapnya terkekeh.
Alan mengulum senyum, dia bangun dari duduknya, membuat Dinda gelagapan sendiri karena ternyata candaannya membuat pria kaku itu tersenyum.
."Kau sedang merayu ku?"
"Tidak ... ayo pergi!" mendorong punggung Alan, namun dia tidak bergerak sedikitpun.
"Ayo, kita akan terlambat!"
"Kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Nanti saja!" ujarnya.
Alan mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Dinda.
Cup
"Terima kasih sudah mengerti!" ucapnya dengan kembali berjalan ke ruang tamu. Meninggalkan Dinda yang mematung ditempatnya, dia menyentuh pipinya yang sudah berubah menjadi kepiting rebus.
"Dia gak salah makan?"
Mereka pun akhirnya keluar dari apartement milik Alan, masuk ke dalam lift yang akan membawa meraka turun ke lobby apartement.
"Gimana kabar nya ibu mu?"
"Hm ... semakin baik, walaupun masih sering bulak-balik ke rumah sakit."
Alan menganggukkan kepalanya. "Perusahaan ayahmu bagaimana?"
"Juga baik ...."
"Kalau kabarmu?"
Dinda menoleh dengan senyuman dibibirnya.
"Aku sakit, lebih tepatnya sakit rindu."
Tidak disangka Alan tergelak, sampai-sampai dia memukul stir kemudi berkali-kali, membuat Dinda heran namun juga ikut tertawa.
"Kenapa kau semakin lucu? Hem ... kau membuatku gemas," ujarnya dengan mencubit lembut pipinya.
"Eeh..."
Dinda menatap pria yang masih tertawa itu, jarang sekali bisa melihatnya seperti sekarang, dia merogoh ponsel dan diam-diam mengambil fotonya.
Dinda tergelak, "Lihat lah wajah ini!"
"Astaga, apa yang kau lakukan? Hapus foto ku, memalukan."
Wajahnya seketika kembali berubah datar, tidak ada ekspresi yang ditunjukan seperti tadi.
"Hapus Dinda!"
Dinda menggeleng, "Enak saja, aku sudah bersusah payah mendapatkan nya, masa mau di hapus begitu saja, lagi pula wajah ini jarang sekali bisa aku temui!"
"Aku bilang hapus, untuk apa kau menyimpan foto jelek begitu! Berikan ponselmu...." titahnya.
Dinda mendekap tas miliknya, "Tidak mau, enak saja."
"Berikan! Jangan membuatku mengucapkannya dua kali."
Dinda merengut, dengan menyerahkan ponselnya pada Alan "Tapi jangan di hapus, Please ya!"
Alan mengambilnya dan membukanya, namun ponsel itu terkunci, dia kembali menyerahkan ponsel pada Dinda.
"Buka passwordnya!"
"Tapi Al...."
Alan menatap tajam padanya, "Kau benar-benar menguji kesabaran ku?"
Dengan mencebikkan bibirnya, Dinda membuka password ponselnya, lalu kembali memberikannya pada Alan.
Alan menepikan kendaraannya, kemudian dia memundurkan tubuhnya, dan mengangkat ponsel ke hadapan mereka.
"Katakan cheese...." ujarnya pada Dinda.
Dinda terperangah melihatnya, "Kau tidak salah minum?"
"Ayo berikan senyum terbaikmu, kapan lagi berfoto denganku?"
Dinda yang masih kaget itu pun tersenyum, bibirnya melebar melihat Alan yang tidak biasanya. Alan menoleh ke arah nya,
"Kau tidak senang?"
"Hah... aku, aku senang, tentu saja aku senang."
Alan memberikan ponsel yang masih menyala itu pada Dinda, memberikan kesempatan padanya untuk mengambil foto mereka,
Cup
Cekrek
Dinda kembali terkesiap, pasal nya Alan mencium pipinya tepat saat bidikan kamera, membuatnya tersenyum dan juga senang.
"Wah ini lucu sekali, wajahmu imut sekali disini," ujar Dinda melihat hasil jepretannya.
"Aku memang imut, kau saja yang baru mengetahuinya." ujarnya dengan kembali melajukan mobil.
Dinda mengulum bibir, dia masih tidak menyangka jika Alan ternyata bisa bersikap seperti itu. Dengan terus menggulir foto-foto hasil jepretannya, Dinda pun mengedit-nya sedikit.
"Dulu aku selalu mengambil fotomu diam-diam, bahkan aku harus sembunyi-sembunyi, untuk mendapatkannya."
"Aku tahu...."
Dinda menoleh, "Kau tahu?"
"Ah... tentu saja, anak buah mu banyak, pasti mereka tertawa melihat kokonyolanku."
"Tidak!"
Dinda menoleh, "Tidak, mereka tidak tertawa?"
Alan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang akan berani menertawakan mu!"
Dinda hanya mengulum senyum.
"Hanya aku yang boleh menertawakan mu."
"Ih kau ini...."
.
.
Mereka berjalan berdampingan menuju ruangan, dengan wajah tanpa ekspresi Alan melangkah dengan cepat.
"Bunda?"
"Hah ... mana bunda?"
Dinda mengedarkan pandangannya, namun dia tidak menemukan wanita anggun yang selama ini Alan panggil bunda.
"Sepertinya bunda langsung menuju ke atas!"
"Hm... baiklah, mungkin beliau sudah berada di ruanganmu."
"Hm... seperti nya iya! Lebih baik kita segera ke sana."
"Kita?"
Ting
Lift khusus telah terbuka, Alan menarik tangannya hingga mereka masuk kedalamnya.
"Tentu saja kita, memangnya kau tidak mau bertemu bunda?" tanya Alan dengan serius.
Membuat Dinda menggaruk cuping telinganya, senang, ragu, malu berkumpul jadi satu.
"Ak--aku...."
Ting
Mereka keluar dari lift,
"Aku bercanda, lagi pula Bunda ke sini pasti menemui ayah,"
"Hah...?"
"Cara bercandamu tidak lucu." gumam Dinda dengan melangkah lebih cepat, meninggalkan Alan terlebih dahulu.
Dia pikir lucu, mengajak menemui bunda, itu artinya ada keseriusan dalam hubungan ini, dan aku selalu berharap dia akan segera mengajakku menikah, tapi ternyata tidak, memangnya dia tidak ingin menikahi ku?
"Aku terlalu berharap banyak pada manusia kaku itu." Gumam Dinda dengan mendengus.
Dia melemparkan tas nya bedgitu saja di atas meja, dan mendudukkan bokongnya di kursi.
"Kenapa muka mu?" ujar Metta yang baru saja keluar dari ruangan Alan.
"Gak kenapa-kenapa! Tapi aku sebel saja, tuh sama tuh orang!" menunjuk Alan yang baru saja masuk ke ruangannya.
Metta mengikuti gerakan dagu sahabatnya, "Memangnya kenapa?"
Dia mengerdikkan bahu, "Tahu deh, pokoknya aku lagi sebel sama dia."
Metta memicingkan matanya, menangkap hal yang tidak beres pada sahabatnya,
"Sudahlah, jangan membahas masalah ku, bagaimana dengan keponakanku ini?" tanyanya dengan mengelus perut buncit Metta.
"Heh ... kau ini! Aku sedang bertanya, kenapa kau suka sekali mengalihkan pembicaran."
"Apa di dalam ada tante Ayu?" bisiknya kemudian.
"Ada kok, ada ayah juga! Kenapa, kau mau bertemu mereka?"
Dinda mengibas-ngibaskan kedua tangannya, "Tidak kok! Aku tidak ingin bertemu mereka."