
"Siapa kau sebenarnya?"
"Harusnya pertanyaan itu yang kau jawab! Diamlah disini, aku akan memeriksa kedepan."ujar Alan
Namun Dinda mencekalnya, "Aku takut ...."
Alan menepis tangan Dinda, "Kalau kau takut, untuk apa kau mengikuti ku kemari! Dasar bodoh,"
Dinda mendengus,"Aku takut setelah tahu kau membawa senjata api, dan kali ini aku setuju dengan sahabatku ... Dasar manekin! Dua tidak peduli perasan ku yang ketakutan ini." gumam Dinda yang melihat Alan benar-benar meninggalkannya., dan tentu saja Alan tidak mendengarnya.
Alan kembali masuk, setelah samar-samar mendengar pembicaraan beberapa orang.
"Bego lu, dengan menghilang seperti ini kau malah membuat mereka semakin curiga! Kau menggagalkan rencana yang sudah ku susun rapi."
"Lo gak tau resiko gue lebih besar dari pada rencana lo itu! sentak sesorang lagi, yang diyakini Alan itu adalah Hendra.
Alan semakin masuk dengan hati-hati, lalu menyelinap diantara deretan lemari berisi bahan-bahan pembuatan obat-obatan terlarang.
Kreek
Alan tak sengaja menginjak sesuatu, yang men-distract pembicaraan antara kedua pria tersebut.
"Sepertinya ada orang!"seloroh pria yang lebih tua.
"Aku akan memeriksanya." Hendra bangkit dan berjalan kearah suara yang dia sendiri tidak yakin berasal dari arah mana suara yang dia dengar tadi.
Hendra berjalan melewati rak-rak dengan mata waspada, namun dia tidak menemukan apapun.
"Tidak ada siapa-siapa," Ujar Hendra saat kembali duduk dihadapan pria tua.
"Kalau gitu gue pulang!" ucap pria yang baru saja bangkit dan keluar diikuti beberapa orang dibelakangnya.
Hendra masih menyesap lintingan tembakau saat Alan tiba-tiba datang dari belakang dengan todongan senjata api tepat pada kepala Hendra. Sontak Hendra melonjak dan kaget dengan gerakan tiba-tiba dari belakang.
"Aku sudah peringati, bahkan aku beri kesempatan. Tapi kau menyia-nyiakan kesempatan itu!"
Hendra terkesiap, dengan cepat dia menyikut dada Alan dengan tangan yang dia dorong kebelakang hingga senjata yang Alan pegang terlepas. Dengan cepat Hendra lari keluar dari jendela.
Hap
Hendra berhasil turun dan terus berlari,
"Sialan,"
Alan mengambiln senjatanga lalu berlari mengejar Hendra, kilatan bayangan hitam tampak berlari dan Alan terus mengejarnya. Hendra terus berlari menjauh dengan terengah-engah, Alan memotong jalan dengan mengikuti lorong kecil.
"Sh itt ...." Alan menemui jalan buntu, namun dia tidak kehilangan akal, saat kedua netra nya melihat keatas, namun saat hendak naik seseorang menarik tangannya.
"Kau...."
"Kau mau kemana? lebih baik kau ikuti aku, aku tahu jalan daerah sini."
Dinda menarik Alan saat dia hendak naik ke atas bangunan, nafasnya terengah-engah dengan tangan dipinggang dan mencondongkan tubuhnya.
Sementara Alan menatapnya tak bergeming. "Kenapa kau terus mengikuti ku? ini tempat berbahaya,"
"Sudah ayo, ikuti aku! Bukan kah kau sedang mengejar seseorang? Aku lihat tadi dia kearah sana. Cepatlah...." Dinda berbalik dan berjalan.
"Dasar bodoh!" umpat Alan yang berjalan mengikutinya.
Hendra berhasil lolos, dia keluar dari blok gudang dan sampai di jalan besar. Dengan sisa nafas yang semakin berat. Hendra mengedarkan pandangannya kearah gang yang baru saja dia tinggalkan.
"Dia pasti akan terus mengejarku," Hingga dia kembali berjalan.
"Mau lari lagi?"
Alan sudah berdiri di hadapan Hendra, dengan senjata yang dia todongkan kearah nya. Berjalan semakin mendekat ke arah Hendra yang semakin mundur.
Dor
Alan menembak kaki Hendra hingga dia tersungkur berlumur darah yang keluar dari betisnya.
"Kau sudah menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan!" sentak Alan.
Sementara Dinda yang bersembunyi di balik pohon besar melonjak kaget saat melihat Alan tanpa belas kasihan menembakkan pelurunya.
"Aku tidak menyangka dia semenyeramkan ini, astaga" gumam Dinda yang menutup mulut dngan tangan nya.
"Maaf-maa-fkan saya!"
"Minta maaf?" Hendra mengangguk berulang kali dengan menahan sakit yang mulai menyambanginga.
"Cih...."
Sementara dari kejauhan 2 orang pria bertubuh tegap dengan setelan hitam-hitam dengan logo ARR. Corps datang menghampiri nya,
"Biar kami yang urus bos, kau kembali lah pulang."
Alan mendesis, "Leon menyuruh kalian kesini?"
"Kurang ajar!!" umpatnya lagi lalu berjalan menjauh,
"Bawa dia, dan katakan pada Leon, jangan campur urusan ku lagi."
Alan kembali ke tempat dimana dia menyuruh Dinda menunggunya disana, namun nihil Dinda sudah tidak ada sana."
Lan mengernyit dan mengedarkan pandangan mencari sosok gadis unik yang mengusik hatinya.
"Ahk shi it" Alan mere mas kasar rambutnya. Lagi-lagi rasa penasaran nya berbuah pahit.
Dinda kembali ke Apartement, dengan berbagai macam fikiran yang tak menentu. Perasaan suka yang selama ini menari-nari kini terombang-ambing dengan rasa takut atas apa yang dilihatnya kini.
"Kenapa?" tanya Metta dengan mata sembab.
"Eng--engga gak apa-apa," menggaruk telinga.
Metta mengerdikkan bahu, lalu kembali dengan fikiran nya yang tak kalah kacaunya karena ucapan ibunya Farrel.
"Jika kamu menginginkan uang, katakan sekarang!"
"Kami sedang berbaik hati, kami tawarkan kamu sejumlah uang atau apapun yang kamu mau."
"Apapun yang kau inginkan, asal tinggalkan anak kami!"
"Siapa kau sebenarnya? kau mengikuti ku?"
"Kau gadis bodoh dan juga ceroboh."
"Apa kau sekarang takut padaku?"
"Kalau kau takut, untuk apa kau mengikuti ku kemari! Dasar bodoh."
"Tunggulah disini aku akan segera kembali."
Dor
Dua raga yang saling duduk berdampingan disofa dengan fikiran yang menerawang dikepala masing-masing.
Tak ada kata, hanya batin yang terus bergu mul dengan sejuta pertanyaan, apa, kenapa, siapa.
Dan hanya hembusan nafas yang ditarik lalu dikeluarkan, helaan nafas berat yang membuat dada mereka sesak.
"Minum!" Dinda menyodorkan gelas berisi teh pada sahabatnya.
Metta mengambilnya lalu meneguknya hingga tandas dan gelas itu berpindah tangan lagi. Dan semua dilakukan dengan kesadaran diri nya yang hanya setengah melamun. Kaki seolah berpijak dibumi namun ternyata mengawang di udara.
Suara tembakan itu.
Suara ayah kekasihnya itu
Suara kebencian dari mereka
Suara penolakan
Aaagghhkk
keduanya tanpa sadar berteriak bersamaan. Lalu melonjak kaget saling bertatapan.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kau?"
"Gak ada,"
"Ngomong sama kamu gak ada yang beres, lantas masalahku bagaimana?" ucap Metta dengan menyandarkan punggungnya disofa.
"Kau fikir aku tak punya masalah?" Dinda bangkit dari sofa dengan menghentakkan kakinya. dan berlalu keluar.
Dreet
Dreet
Dreet
Metta menatap layar pipih itu menampilkan nama yang dia rindukan, namun dirinya masih marah pada keadaaan dan enggan mengangkatnya.
"Woi... angkat! berisik tau gak!?" teriak Dinda yang berdiri diambang pintu.
Namun Metta tak peduli, dia menutup ponsel nya dengan bantal sofa Lalu dia memejamkan matanya.
Sementara Dinda, yang kini terduduk ditepi ranjang menghela nafas berkali-kali.
"My Sweety ice, siapa kau sebenarnya ?"