
"Apa?"
"Kau bahkan tidak bisa merayuku! Sudah sana, urus pekerjaan mu yang lebih penting dibandingkan aku ini!"
"Sayang...."
Dinda kembali membalikkan tubuhnya, membelakangi Alan hingga dia biss menyembunyikan dirinya yang tengah mengulum senyum.
"Kau tidak cocok mengatakan hal itu, sudahlah aku tidak akan berharap kau seperti orang lain, lagi pula, kau terdengar seperti sedang berkumur-kumur saat mengatakannya."
"Sayang....look at me!"
"Sudah aku bilang Al, tid--...." seketika Dinda menutuo mulutnya tidak percaya, "Al ... apa yang kau...." ujarnya terbata-bata.
Dia menatap Alan yang tengah bersujud dengan bertopang pada satu lututnya. Dengan kedua tangan yang memegang kotak kecil berwarna merah, dengan senyum kaku yang terukir dari wajah datarnya.
"Will you marry me? Akira Dinda Pramudya?"
Dinda merasa dadanya semakin bergemuruh hebat, berkali-kali dia mengerjapkan matanya, seolah sedang memastikan penglihatannya, nyata atau hanya khayalan semata.
"Hei... kenapa kau tidak menjawabku?"
"Eh...apa? Kau tidak sedang bermain-main kan?" ujar gadis berrambut coklat itu memastikan sekali lagi.
Alan bangkit dan mendengus kasar, "Kau tahu seberapa pegal kaki ku hanya untuk menunggu jawabanmu yang lambat itu?"
Dinda memicingkan kedua manik coklatnya, "Kau tidak serius dengan ucapanmu, aku hanya sedang berfikir ini nyata atau hanya khayalan semata, ternyata kau menyebalkan." ucapnya dengan kesal.
"Aku hanya butuh jawaban ya atau tidak!"
"Tidak romantis!" sungut Dinda.
"Lalu kau mau seperti apa? Sudah tahu aku tidak pandai dalam hal ini, kenapa kau masih selalu berharap aku jadi seperti orang lain!"
Dinda merebut kotak merah dari tangan Alan, membuka dengan kesal lalu memakaikannya sendiri pada jari manisnya.
"Sudah begini saja, yang penting kau menikahiku, aku jadi istrimu, dan kau jadi suamiku, aku sudah tidak peduli dengan caranya. Kau menyebalkan!" ucap Dinda dengan satu tarikan nafas.
Alan menarik tubuhnya dan memeluknya erat, dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher wanita yang baru saja dia lamar dengan tiba-tiba, dan juga entah bagaimana caranya, yang jelas tujuannya menikah.
"Terima kasih!"
Dinda yang terkaget dan masih belum menyangka itu tersungut-sungut namun juga merasa bahagia, dan membalas pelukan pria kaku se dunia itu dengan melingkarkan tangan di pinggangnya.
"Aku seperti sedang melamar diriku sendiri untuk menikah dengan mu! Kau bahkan belum membawaku pada keluargamu untuk perkenalan, atau sekedar untuk mereka tahu hubungan kita."
"Kau melamarku begitu saja, tidak ada bunga, kue atau kejutan yang membuatku mengharu biru, tidak ada keromatisan dalam hidupmu! Menyebalkan."
"Apa semua itu sangat penting untukmu? Aku akan membuatnya setelah ini."
"Tidak usah, sudah tidak penting lagi sekarang!" Dinda memukul bahu Alan dengan keras.
.
.
Malam harinya Alan membawa Dinda ke rumah utama Adhinata, dan membuat kedua orang tua nya kaget karena kedatangannya yang tiba-tiba.
"Kenapa tidak besok saja? Ini sudah malam Al." ujar Dinda dengan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Sudah hampir jam 9 malam, orang tua mu pasti sudah bersiap-siap untuk istirahat." ucapnya lagi.
"Lebih cepat lebih baik, aku ingin segera tenang, kau tidak tahu! Dada ku ini tiba-tiba seperti mau meledak." ujarnya datar tanpa mengalihkan pandangannya pada ruas jalan yang tengah dia telusuri malam itu.
Hingga mobil berhenti tepat di depan gerbang rumah utama, Mang ujang berlari tergopoh-gopoh membuka gerbang, walaupun Alan belum membunyikan klakson seperti biasanya jika dia datang.
Alan memasukkan mobilnya, begitu pula mang ujang yang kembali menutup gerbang berwarna hitam itu.
"Mas ... baru pulang?" sapanya saat Alan baru saja turun.
Dinda keluar bertepatan dengan Alan yang hendak membuka pintu untuknya, membuat mang ujang kaget karena baru kali ini dia melihat Alan membawa seorang wanita pulang ke rumah utama.
"Non...." ucapnya.
Dinda mengangguk, lalu mengikuti langkah Alannyang terlebih dahulu berjalan menuju pintu utama.
"Sebentar Mas, saya hubungi Mimah dulu, sepertinya semua orang sudah beristirahat," ujarnya dengan merogoh ponsel dan menghubungi Mimah, asisten rumah tangga.
"Bunda ... Ayah, aku datang membawa calon istriku! Aku akan menikah sesuai keinginan bunda selama ini, tolong restui kami." ujar Alan dengan menggenggam tangan Dinda.
Bunda Ayu melongo, begitupun Arya, mereka bahkan sudah mengenakan baju tidur dan bersiap-siap untuk istirahat.
"Yah, apa kita sedang bermimpi, tolong cubit bunda? Ada apa dengan anak nakal kita yang satu ini. Apa dia tidak punya jam." gumam Ayu.
"Astaga, nak! Apa yang terjadi? Apa gadis ini sudah hamil duluan? Kenapa tiba-tiba sekali? Kau membuat kami kaget." ujar Arya.
Alan mendengus, "Kalian ini bagaimana? Setiap hari menyuruhku membawa pacar ke hadapan kalian, dan sekarang aku membawanya ke sini! Kenapa masih salah juga!"
Dinda hanya mengulum senyum, dia bahkan menundukkan kepalanya semenjak datang, dan tidak berani melihat wajah kaget dari kedua orang tua angkat Alan, yang sudah dipastikan sama kagetnya seperti dia sore tadi.
Bunda Ayu dan Arya silih menatap, dan akhirnya tersadar bahwa anaknya itu sangat serius, bahkan terlihat tegang, ketegangannya melebihi ketika dia sedang melawan musuh-musuhnya seorang diri, bahkan lebih tegang dari pada pada saat Arya mengetahui semuanya dan marah padanya.
"Kau serius Nak?" Tanya Ayu.
Alan mengangguk, dia menoleh pada Dinda yang masih menunduk.
"Dan kau? Kau yakin ingin menikah dengan Alan , anak kami ini, kau sudah tahu sifatnya begitu bukan?" tanyanya pada Dinda.
"Bunda ... apaan sih!"
Arya menyenggol lengannya, "Bun...." gumamnya.
"Kalian bahkan belum duduk, ayo kita duduk dan membicarakannya dengan santai, lutut bunda tiba-tiba bergetar seperti ini." ujar Ayu menarik tangan Dinda.
Alan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat sang bunda membawa Dinda menjauh dari nya, sementara Arya menepuk bahunya, "Kau tidak usah khawatir, keadaan ini pasti bisa diselesaikan dengan cepat, dan kamu bisa hidup dengan tenang ke depannya."
"Terima kasih yah, ayah sudah mengerti!"
"Ayah mengerti keresahanmu nak, kau takut meninggalkannya bukan, sementara nasibmu sendiri di ujung tanduk dengan penangkapan Jerry saat ini."
Alan mengangguk, "Tapi sekarang tidak, aku akan tenang karena ada ayah dan bunda yang akan selalu mendukungku."
Arya menepuk bahunya kembali, "Ayah akan selalu mendukungmu, lakukan apa yang seharusnya kau lakukan Nak, bertanggung jawablah dengan semua tindakanmu, soal dia, kau juga tidak perlu khawatir." Ucapnya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
"Ayo, kita bergabung dengan bunda dan calon istrimu," ajaknya kemudian.
"Jadi nak? Apa yang sedang terjadi? Apa kau disewa olehnya untuk berpura-pura menjadi calon istrinya? Katakan pada bunda, bunda tidak akan marah."
.
.
Mampir di karya terbaru author,