Assistant Love

Assistant Love
Aku akan menemanimu



Mereka jelas bukan pasangan muda yang tengah coba-coba, mereka pasangan kekasih yang sama-sama dewasa, meskipun Alan tidak pernah berurusan dengan seorang wanita sekalipun, namun dia tahu jika dirinya menginginkannya, rasa sakit yang menjalar benar-benar membutuhkan penuntasan, sementara dia tidak mau merusak seorang yang dia cintai.


Alan masuk kedalam kamar mandi, menuntaskan sesuatu yang harus segera dituntaskannya. Sementara Dinda masih menanti di depan pintu kamarnya.


Ceklek.


"Eh ... dia tidak menguncinya, tahu gitu aku masuk dari tadi." gumam Dinda.


Dengan ragu dia menyentuh handle pintu yang terbuka itu, antara masuk atau tidak, dia takut Alan marah, namun rasa penasaran nya begitu besar. Hingga dia memutuskan untuk masuk.


Kamar yang berisi seluruh barang- barang semasa kecil Alan. Foto Alan yang di apit oleh kedua orang tuanya, foto Alan yang tengah sendiri dan masih banyak lagi. Bahkan baju- baju Alan semasa kecil masih tertata rapi, juga mainan nya, masih tersimpan rapi.


"Sepertinya memang kamar ini di bersihkan setiap saat, masih sangat rapi bahkan dibandingkan dengan kamar ku sendiri.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Alan sontak kaget melihat Dinda, begitu pun sebaliknya.


"Kenapa kau ada disini?"


"Ya karena pintunya tidak terkunci."


Alan memicingkan kedua manik sipitnya,


"Sungguh, memang benar tidak di kunci kok, mana bisa aku masuk kalau terkunci."


Alan menghela nafas, dia lantas mengambil bingkai foto yang berisi kedua orang tua dan dirinya yang berdiri ditengah.


"Kau pasti heran, kenapa barang-barang ini masih tersimpan baik disini?"


Dinda mengangguk, "Bahkan baju-baju saat kau kecil masih ada. Apa untuk anakmu kelak?"


"Kau sungguh perhitungan ternyata, alias tidak mau rugi."


Alan tergelak, "Bodoh ... mana ada yang begitu!"


"Lantas...?"


"Kau tahu, usiaku baru tujuh tahun saat mereka pergi, aku tidak punya banyak kenangan dengan mereka, hanya dengan melihat barang-barang ini aku masih mengingat Mereka, kadang-kadang aku lupa bagaimana wajah mereka, dan barang ini yang mengingatkanku pada mereka, aku tidak mau melupakan, tidak bisa!"


Dinda berjalan maju dan melingkarkan tangannya dipinggang Alan yang tengah membelakanginya. Jika dilihat dari arah depan, tubuh Dinda benar-benar tidak terlihat sama sekali. Bersembunyi di balik tubuh Alan yang kekar dan tinggi.


"Kenangan kamu mungkin tidak banyak dengan mereka, tapi percayalah bagi mereka kau adalah kenangan itu sendiri. Tidak apa-apa jika kamu masih menyimpan barang-barang ini, karena kenangan yang sebenarnya ada didalam dirimu, dalam ingatanmu dan dalam hati mu."


Dinda memeluk Alan dari belakang. Dengan kedua tangan Alan yang menggenggam kembali tangan Dinda, seolah tidak rela jika Dinda melepaskan pelukannya.


"Mungkin suatu hari ini, aku bisa merelakan meraka!"


Dinda mengangguk, "Aku akan menemanimu."


"Terima kasih!"


"Oh ya, tadi apa mu yang sakit?"


Glek


Alan menelan saliva, dia berbalik menghadap wanitanya, "Apa perlu aku jelaskan dengan detail agar kau faham dan tidak lagi memancingku? Hem?"


Dinda mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, seiring dengan otaknya yang berfikir.


"Ooh ... itu!" ujarnya terkikik.


"Ooh ... itu!" Alan mengulangi perkataan Dinda dengan intonasi tinggi.


Membuat gadis berambut coklat itu tergelak, "Coba kau ulangi?"


"Terserah!! Ayo pergi, sebelum aku berubah fikiran dan menyerangmu sampai habis."


Ah mau banget ... eeh


Dinda masih terkekeh mengikuti Alan dari belakang, mereka akhirnya keluar dari kamar itu dan kembali ke bawah.


"Aku akan pulang ke apartemen," ujar Dinda.


"Hm ... aku akan mengantarmu!"


.


.


"Iya pasti dia kesini, Apartemen dan perusahaan ARR. corps sudah ayah ambil alih."


"Benarkah?"


"Ayah tidak mau kecolongan lagi seperti kemarin, ayah tidak mau dia kembali ke dunia nya itu."


"Ayu mencebikkan bibirnya, memangnya cuma Ayah saja yang takut, bunda juga takut yah!"


Arya mengangguk, "Kita berdua takut, begitu juga dengan Farrel pastinya."


Ayu mengangguk tanda setuju.


"Bagaimana dengan rencana perjodohannya? Bagaimana yah?"


Arya menghela nafas, "Dia sedang dekat dengan seorang wanita, bunda juga pasti mengenalnya, tapi Alan sepertinya masih belum mau mengambil keputusan karena masalah ini,"


Ayu mengernyit, " Siapa?"


"Sahabatnya menantu kita, Yang tempo hari membantu bunda? Ingat?"


"Gadis berambut coklat itu?"


Arya mengangguk, "Iya itu ... sepertinya mereka sudah lumayan dekat!"


"Kita tunggu sampai masalah ini benar-benar selesai, Ayah takut tiba-tiba terjadi sesuatu, pasalnya, pihak polisi sudah lama mengawasi gerak- geriknya, ditambah kejadian kemarin yang terjadi Di ARR. Corps."


"Yah ... bagaimana kalau Alan ditangkap?"


Arya menghela nafas berat, "Itu yang ayah khawatirkan, tapi kita harus siap kapan pun itu terjadi."


Ada yang menitik di ujung mata Ayu, mengingat hal itu bisa terjadi kapan saja, cepat atau lambat, Alan sudah tahu itu dan itu sebab lnya dia masih tampak ragu saat di tanya tentang kekasihnya.


"Apa sebaiknya kita percepat saja Yah?"


Ayah jangan coba-coba memancing kemarahan Alan, ayah tidak tahu apa yang bisa dia lakukan jika marah.


Kata-kata peringatan dari Farrel yang memang sudah tahu siapa itu Alan, dan Arya tidak biasa mengambil resiko jika mereka melakukan suatu hal yang akan membuat Alan marah.


Tok.


Tok.


Pintu ruangan kerja terbuka, Alan masuk begitu saja, membuat Ayu buru-buru memalingkan wajahnya agar dia tidak melihat dirinya tengah menangis.


"Hei... Kenapa bunda? Bunda nangis?" Alan berjongjok dihadapan sang bunda, dengan bertumpu pada satu lututnya.


Ayu yang buru-buru menyusut air yang menganak itu menggelengkan kepalanya."Tidak sayang, bunda tidak nangis, bunda hanya kelilipan,"


Alan menggenggam tangan Ayu, "Bunda jangan berbohong padaku?"


Ayu malah semakin terisak, dia memeluk Alan.


"Bunda hanya takut kamu...."


"Masuk penjara maksud bunda? Hem...." ujar Alan.


Ayi memukul punggungnya, "Kau ini bicara masuk penjara enteng sekali! Bunda sudah takut."


"Bunda ... Tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja, untuk sementara ini, aku akan baik-baik saja." ujarnya terkekeh.


Selama ini kita selalu menutupi dan menghilangkan data-data dan bukti yang ada, ditambah baru-baru ini dengan bantuan Omar yang melenyapkan semua bukti yang masih tersisa, namun tak dapat dipungkiri jika suatu hari nanti kepolisian yang selama ini mencurigai gerak-gerikku mendapatkan bukti yang akan membuat aku dipenjara, disamping itu juga memang itulah resiko yang harus aku ambil. Mau tidak mau, dan siap tidak siap. Aku pasti harus siap.


"Bunda doakan saja hukumannya hanya sebentar, agar aku bisa hidup dengan tenang dengan kalian!"


Ayu semakin terisak, "Membayangkannya saja aku tidak sanggup."


"Jangan dibayangkan kalau begitu bun, nanti aku sedih juga," kelakarnya.


Arya menatap sendu ke arahnya, anak dan ibu yang tengah berpelukan, membuat hatinya teriris,


Aku akan berusaha sekuat tenaga, demi kalian,