Assistant Love

Assistant Love
Bertemu Kemal



Keesokan pagi


Dinda bersenandung riang saat menyiapkan sarapan yang diberikan petugas hotel untuk nya dan juga Alan, dia juga menuangkan susu stobery kedalam gelas, Alan keluar dari kamar mandi, memakai setelan jas walau Dinda sudah menyiapkan pakaiannya yang diletakan diatas kasur.


Wanita bermanik coklat itu buru buru menarik lengan Alan, saat suaminya akan mengancingkan kemeja yang dikenakannya.


"Sayang ... ingat! Kau disini bukan untuk kerja, dan pakaian ini kan sudah aku pisahkan, pakaian mu juga sudah aku siapkan! Kenapa malah memakai pakaian ini." tunjuknya pada pakaian yang masih teronggok diatas ranjang, bahkan Alan tidak memperhatikannya sedari tadi. Dia memaku ditempatnya sampai Dinda berdecak.


"Memangnya kenapa? Aku terbiasa memakai setelan jas seperti ini."


"Iya tapi kan kita sedang berlibur!" sungut Dinda memberikan pakaian yang telah dia siapkan pada Alan dengan sedikit menghentak. "Pakai ini saja! Kita kan hanya akan ke rumah sakit! Kau bisa sedikit santai kan!" ujarnya lagi lalu mengambil jas yang akan dikenakan oleh Alan dan memasukkannya lagi kedalam lemari.


Dengan pasrah Alan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri, T-shirt berwarna hitam yang sangat pas ditubuhnya, hingga otot otot perut dan juga lengannya tercetak sempurna, dipadukan dengan celana denim serta sepatu kets.


"Nah ... sekarang kan keren! Santai dan juga terlihat lebih nyaman, karena kita sedang libur!" Dinda merentangkan tangan dan juga berputar putar di ruangan kamar.


Alan berdecak sembari menggelengkan kepalanya, dia benar benar menikahi wanita super ekspresif, hanya ada keriangan dan juga banyak bicara.


"Sekarang kita sarapan! Aku tidak sabar ingin membuat kejutan untuk mommy juga ayah." katanya dengan menarik tangan Alan hingga keluar kamar, membawanya duduk dibalkon dimana terdapat kursi juga meja penuh makanan.


"Minumlah ... aku sengaja menyiapkan ini untukmu! Dinda menyodorkan susu stobery itu pada Alan.


"Kau saja yang minum! Aku tidak suka susu!"


"Heh ... mana bisa begitu! Aku mau kau minum susu ini! Aku sudah capek capek menyiapkannya."


"Kau membuatnya sendiri?"


Dinda mengangguk, "Hm menyiapkannya sendiri, makanya kau harus minum!" menempelkan dimulut Alan hingga dia benar benar harus meminumnya.


Gelas itu dia kembalikan lagi, Alan benar benar tidak suka minum susu, dia hanya meminumnya sedikit, namun Dinda kembali mendorongnya hingga Alan meminumnya hingga setengahnya.


"Ini karena kau yang menyiapkannya bukan!" ucapnya dengan meletakkan gelas susu diatas meja. Namun Dinda justru terkekeh,


"Hm ... aku hanya menyiapkan penyajiannya, yang membuatnya kan mereka yang di toko!"


Alan membelalakan kedua matanya seraya berdecak, sementara Dinda tertawa hingga terbahak. Entah kenapa Alan benar benar heran pada Dinda yang menurutnya terlalu unik sebagai wanita, sikapnya dan juga apa yang keluar dari mulutnya selalu membuat Alan kesal namun dia tidak bisa kesal lama lama apalagi marah.


Alan mencubit hidungnya pelan, "Kau ini!!"


Dinda kembali tertawa dan menjulurkan lidahnya pada sang suami.


Setelah selesai sarapan, keduanya pergi ke rumah sakit, jarak hotel ke rumah sakit itu hanya sekitar satu kilo meter, dan mereka memilih untuk berjalan dari pada menggunakan mobil.


Dibawah langit cerah di musim gugur siang itu, keduanya saling menggenggam tangan dan saling tertawa, membicarakan hal yang sama sekali tidak penting dan tentu saja hanya Dinda yang terus menyerocos bicara tanpa jeda sedangkan Alan hanya mendengarkannya saja.


Tak berapa lama, keduanya sampai di rumah sakit, Dinda dan Alan masuk tanpa harus ke tempat informasi karena kamar Sisilia yang tidak pernah pindah sejak terakhir Dinda tinggal di negara S, saat pelariannya akibat kesalah fahaman dengan Alan.


Dengan membawa parcel berisi buah-buahan Dinda masuk kedalam kamar VIP di rumah sakit itu, dan membuat kedua orang tuannya sontak kaget.


"Astaga sayang!!" Pramudya bangkit dari duduknya saat melihat putri semata wayangnya masuk.


"Ayah ... aku merindukanmu!" Ujarnya dengan memeluk sang Ayah, Pramudya tampak berkaca kaca, belum sepekan anaknya menikah, rasa rindu pun dia turut rasakan.


Alan menyalami Pramudya, namun pria paruh baya itu menariknya lalu memeluknya.


"Nak Alan terima kasih!" ujarnya dengan menepuk pundak Alan beberapa kali.


"Kenapa kalian malah kemari? Bukannya berbulan madu." tanya Sisilia. Sebenarnya dia juga senang karena bisa melihat anak dan menantunya datang berkunjung, pelupuk matanya pun berkaca kaca menatap sang putri.


"Kami berencana bulan madu di negara ini Tante, agar bisa mengunjungi kalian juga." Jawab Alan dengan menyalami ibu mertuanya.


Dinda terkekeh dengan menyenggol lengan suaminya itu sembari menaik turunkan kedua alisnya.


"Kenapa memanggil Tante! Panggil Mommy seperti istrimu Al!" ujar Pramudya disertai anggukan pelan. Sisilia hanya terdiam, dia memang merestuinya, namun hatinya masih sangat ragu, dan dia lebih condong pada Kemal, dokter yang selama ini merawatnya, yang juga sepertinya menyukai putrinya.


"Iya sayang ... panggil Mommy dan ayah, mereka orang tuamu juga kan sekarang!" sambung Dinda dengan tangan melingkari lengan prianya.


Tak lama pintu terbuka, sosok tampan dengan wajah indo mengenakan jubah putih dengan senyuman hangat dan juga teduh.


"Selamat siang nyonya Sisilia!" ujarnya tanpa sadar didepannya ada wanita yang masih mengisi relung hatinya.


"Akira? Kau disini??"


"Kemal? Iya nih baru saja datang semalam." Dinda tersenyum, saat Kemal mengulurkan tangan ke arahnya, namun sebelum Dinda menyambutnya, tangan Alan lebih dulu menggenggamnya dengan kuat.


Keduanya beradu pandang, walaupun sebenarnya Alan tidak menyadari jika dokter Kemal adalah pria baik hati yang pernah Dinda katakan.


"Aaah ... iya, Kemal perkenalkan, dia Alan menantuku!" sahut Pramudya yang melihat keduanya tidak saling bereaksi walau tangan mereka berdua saling menjabat.


"Iya ... dia suamiku!" tambah Dinda dengan mengeratkan pergelangan tangannya pada lengan Alan.


"Kekasihmu yang jahat itu? Yang punya senjata dan mahir menembak orang??"


Tentu saja ucapan Kemal menohok Alan, bagaimana bisa dia mengetahui soal itu, dia menatap Dinda lalu kembali menatap Kemal.


"Bukan urusanmu!"


Kemal terkekeh, "Maaf ... tapi aku kemari untuk memeriksa nyonya Sisilia,"


Kemal berjalan mendekati ranjang Sisilia, dengan senyuman yang tidak lepas dari bibirnya, menyapa Sisilia dengan hangat dan juga memeriksanya.


"Bagus ... kondisinya juga sudah sangat bagus! Tinggal menunggu beberapa hari sampai benar benar pulih." Katanya pada Pramudya, sementara Alan menatap tajam pria keturunan Jerman itu.


"Dinda ... have a nice day, aku tidak tahu kau kemari, jika aku tahu, aku akan membawakanmu hadiah!"


"Hadiah? Wah tidak usah Kemal!" Dinda terkekeh saat mengatakannya,


"Kalau begitu datanglah untuk makan siang bersama ku!"


"Hah?? Hm ... tidak usah juga!"


Kemal akhirnya mengangguk, namun dia menatap Alan dengan tajam. "Nice to meet you!" ucapnya lalu keluar dari ruangan VIP itu.