Assistant Love

Assistant Love
Terbentur pintu



"Tunggu...." seseorang masuk dan membuata Dinda membulatkan mata ke arahnya.


"Leon?"


Leon masuk kedalam lift tepat saat pintu lift tertutup. dia berdiri memghadap Dinda dengan kedua tangan berada di pinggang, nafasnya terengah-engah.


"Hai...." ujarnya dengan senyum yang merekah di bibirnya.


"Kau ini, kenapa berlari begitu. Kau kan bisa tunggu lift berikutnya." ujar Dinda


Dia sebenarnya merasa tidak nyama9n dengan Leon, setelah mengetahui perasaan Leon padanya. Terlebih lagi, perlakuan Leon yang tidak berubah terhadap nya itu malah membuatnya canggung.


"Ka--karena aku pikir aku bisa naik ke atas bersamamu, i--iya tentu saja karena kita bertetangga bukan? Terlebih lagi, kita ada teman mengobrol di lift ini dari pada sendirian." kelakar Leon.


Dinda hanya mengangguk, dia tidak tahu harus bicara apa padanya. Leon aku benar-benar minta maaf, kamu pria yang baik, juga hangat, aku selalu tertawa jika saat bersamamu.


"Kenapa rasanya lift ini dingin sekali yaa, kau kedinginan tidak? Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak." ujar Leon dengan menyandarkan tubuhnya.


"Kau ini... mana ada hantu di sini!"


Leon menolehkan kepalanya, "Aku tidak membicarakan hantu, tapi ada seseorang yang terasa dingin sekarang."


"Apa coba maksudnya!" gumam Dinda pelan.


Tentu saja Leon tidak mendengar gumaman Dinda, dia justru tiba-tiba mencondongkan tubuhnya kesamping, lalu menyandarkan kepalanya pada bahu Dinda.


"Le--"


"Biarkan sebentar saja begini." ujarnya pelan.


Dinda memaku ditempatnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin dengan begini sebentar saja, tidak apa-apa. Fikirnya.


"Kau tahu bagaimana perasaanku saat ini?" tanya Leon dengan suara lemah.


"Aku ingin mati rasa saja! Tapi itu sulit, mungkin aku harus mencari wanita yang sepertimu?" ujarnya dengan mendongkak, wajahnya menatap wajah Dinda sangat dekat.


"Leon, aku min--"


Grep


Leon menarik tubuh Dinda kedalam dekapannya, "Aku sudah merelakanmu dengan sahabatku, tapi aku tidak bisa mengobati hati ku karena mu Dinda."


"Bukankah kita masih bisa berteman?"


Leon memegang kedua bahu Dinda, "Berteman? Aku tidak yakin, aku harus terus menahan diri, sungguh gila kan! Aku tidak baik-baik saja sebenarnya." ujar Leon menyugar rambut nya.


"Leon, aku fikir kita masih bisa berteman! Bukankah kau juga menyetujui nya waktu itu?"


Leon terus menatap Dinda dengan lekat, "Aku tahu, tapi aku ..."


Leon menggantung ucapannya, dia lebih memilih menatap Dinda dalam-dalam.


Dalam sekejap Leon menyusupkan kedua tangannya disela ceruk leher Dinda, dia melu matt bibir Dinda dengan rakus.


Dinda mendorong dadanya dengan keras, membuat Leon terhuyung ke belakang.


"Kau gila Leon!"


"Maafkan aku ... aku hilang kendali! Aaahkkkk...." ujar Leon dengan meninju dinding lift.


Membuat Dinda tersentak kaget, "Leon kendalikan dirimu!"


Kenapa lift ini tiba-tiba menjadi sangat lama.


"Maafkan aku, Dinda!" ujarnya dengan lemah,


Dia membalikkan tubuhnya membelakangi Dinda. Sedangkan Dinda yang masih terkaget hanya berdiam diri ditempatnya dengan mata yang menatap punggung Leon.


"Leon...." gumamnya.


Leon tidak menjawab, namun sudah dipastikan dirinya mendengarnya.


Ting


Lift terbuka, dengan segera Dinda keluar dari lift.


"Tolong lupakan hal yang baru saja kau lakukan! Anggap tidak pernah terjadi." ujarnya dengan langkah yang dipercepat.


Leon meninju udara, Apa yang kau lakukan Leon. tanya nya pada diri sendiri.


Dinda masuk kedalam platnya, mengunci pintu nya dengan cepat. Lalu berlalu kedalam kamar.


"Apa yang dia fikirkan!"


Dinda menyentuh bibirnya, bibir yang terasa bengkak akibat ulah Leon.


Jangan sampai Alan tahu, dia akan marah pada Leon, dan pasti akan merusak persahataban mereka. Astaga.


Dreet


Dreet


Ponsel Dinda berdering, nama kontak My Sweety berada pada layarnya,


Deg


Deg


"Ha--halo,"


"Kau sudah pulang?"


"Iya aku sudah pulang!"


"Kalau begitu istirahatlah."


Tut


Sementara Leon masuk kedalam platnya dengan uring-uringan, dia lantas berjalan berjalan menuju dapur dan mengambil wine dari lemari es, menenggak dari botolnya langsung.


Bodoh, kau hanya memperburuk keadaan, Dinda akan semakin menjauh darimu Leon. Brengsekk,


Leon kemudian merogoh ponsel dari saku celananya, dia mencari nama kontak Dinda lalu mulai mengetikkan pesan padanya.


'Maafkan aku! Tidak seharusnya aku berbuat seperti itu padamu! Aku benar-benar minta maaf!'


Leon menekan tanda kirim, dan pesan itu sukses terkirim.


Brak


Leon lantas melemparkan ponselnya begitu saja, tanpa melihat serpihan ponsel nya yang kini hancur berantakan.


Dia kembali menenggak minuman beralkohol itu.


Dinda membaca pesan masuk dari Leon, namun suara ketukan di pintu mengurungkannya, Dinda memilih berjalan menuju pintu dan membukanya.


Alan berdiri dihadapannya, "Kau? Aku kura kau tidak akan kemari. Masuklah!"


Alan melangkah masuk, dia membawa paper bag ditangannya dan langung meletakkannya di atas meja.


"Aku kesini membawa makan malam, aku fikir kau belum makan makan."


Dinda mengangguk, "Aku memang belum makan, tiba-tiba saja aku tidak berselera makan."


Alan menatap wajah Dinda yang selalu menunduk, atau pun membuang wajahnya.


"Bibirmu kenapa?"


Dinda gelagapan, "Tidak apa-apa, ini karena tadi aku terbentur pintu saat masuk!" ucapnya dengan terkekeh.


"Dasar ceroboh!" ujarnya dengan memperhatikan bibir Dinda.


Dinda segera membuang wajahnya kearah sebaliknya, "Ayo kita makan, aku lapar."


Alan menggelengkan kepalanya, "Bukankah baru saja kau bilang tidak berselera? Kau memang aneh."


Dinda terkekeh, "Aku mendadak lapar setelah kau datang."


Dinda berjalan ke dapur, mengambil beberpa piring, sendok dan juga garpu lalu kembali keruang tamu.


Semoga saja dia tidak terus bertanya tentang bibir ku yang bengkak, maaf, biarlah ini menjadi rahasia ku dengan Leon. Maafkan aku Al.


Mereka makan dalam diam, Alan dengan fikiran nya sendiri tentang ucapan bunda, tentang bisnisnya, sementara Dinda dengan fikirannya yang tidak karuan.


.


.


"Bagaimana dengan berkas yang aku berikan untukmu, kau yakin bisa mengatasinya?"


Dinda mengangguk, "Memangnya kapan?"


"Besok lusa, siapkan dirimu, aku ingin melihatmu berhasil, tunjukan dirimu."


Bak oase dipasang pasir, kata-kata Alan membuatnya bersemangat. Dinda bahkan dengan sengaja membawa berkas itu ke rumah untuk dipelajarinya.


"Celaka...!" serunya dengan menggebrak meja


Alan terheran, "Ada apa?"


"Berkas itu aku tinggalkan di dalam mobil." ujarnya lagi dengan bangkit dan berlalu pergi.


"Heh... Dasar bodoh dan ceroboh!!"


Alan mengikuti Dinda keluar menuju pelataran parkir, mengikutinya sampai masuk kedalam mobilnya.


"Ini dia...." ujar Dinda saat menemukan berkas-berkas itu.


"Kau ini ceroboh sekali."


"Maaf... aku benar-benar lupa!"


Mereka lalu kembali masuk kedalam lobby apartemen, namun saat hendak naik lift, Leon yang keluar dari lift.


"Al...?"


"Leon? Kau mau kemana?"


Leon menatap Dinda yang tengah menunduk, sekilas dia menatap bibir Dinda yang terlihat sedikit bengkak.


"Aku mau keluar Al, kau seperti tidak tahu saja, aku akan mencari gadis yang akan aku jadikan pacar! ujarnya terkekeh.


Sikap Dinda yang lebih banyak diam pun mencuri perhatian Alan, dia lantas merengkuh bahu Dinda, menariknya hingga mereka tak berjarak.


Leon terkekeh melihatnya, "Kalau begitu, aku pergi, oh iya kompres bibirnya dengan air hangat Al, sepertinya digigit serangga atau terbentur sesuatu." kilahnya dengan menatap Dinda yang menunduk.


"Sayang, lebih baik kita pergi dari sini," ujar Dinda dengan membalikkan tubuhnya menuju lift dan masuk ke dalam nya.


Maafkan aku Alan, melupakannya jauh lebih sulit dari pada yang aku bayangkan. Tapi aku tidak berniat untuk merusak hubunganmu dengannya. Biarlah hanya aku saja. batin Leon saat melihat Alan dan Dinda tang berjalan masuk kedalam lift.


"Apa dia mengganggumu?" tanya Alan saat lift terbuka, dan mereka berjalan menuju plat.


"Tidak, kenapa kau berfikiran begitu? Dia kan sahabat mu, mana mungkin dia berani menganggu kekasih sahabatnya sendiri." ujarnya terkekeh untuk menutupi perasaan bersalahnya.


Tidak mungkin aku ceritakan masalah ini padanya kan?


"Hm...." gumam Alan kemudian.


.


.