Assistant Love

Assistant Love
Akhinya bertemu



"Jadi nak? Apa yang sedang terjadi? Apa kau disewa olehnya untuk berpura-pura menjadi calon istrinya? Katakan pada bunda, bunda tidak akan marah."


Sebenarnya Ayu masih belum percaya sepenuhnya dengan apa yang di katakan oleh Alan, semuanya serba mendadak, secara tiba-tiba dia membawa seorang wanita yang diperkenalkan sebagai calon istrinya, dan secara tiba-tiba pula dia mengatakan ingin menikah.


Semuanya sungguh aneh menurutku, berkali-kali aku menyuruhnya mencari pacar, namun tidak sekalipun dia menurutiku, tapi tiba-tiba membawa seorang gadis dan mengatakan ingin menikah? Sungguh aneh.


Dinda mengulum senyum, "Tante pasti merasa aneh ya, sama Tan ... aku juga! Baru tadi sore dia mengatakan hal itu, bahkan tidak ada romantis-romantisnya sedikitpun." ucap Dinda tanpa ingin menutupinya sedikitpun dari Ayu.


"Jadi benar? Kamu kekasihnya selama ini?"


Dinda mengangguk, "Iya Tante...."


"Dan selama ini, anak nakal itu tidak mengenalkanmu pada bunda, dasar nakal."


Dinda menarik bibirnya segaris, dan menoleh pada Alan yang tengah berjalan mendekat di temani Arya, ternyata perlakuan Bunda terhadapnya sangat berbeda dibandingkan saat dia dulu membantu Metta dan juga Farrel. Apa yang di takutkannya pun tidak terjadi, Ayu sangat menerimanya dengan baik.


"Tapi kamu tidak masalah kan dengan masa lalunya, kamu tahu bukan dia siapa?" tanyanya dengan menggenggam tangan Dinda.


"Iya Tante... aku tahu!"


Alan dan juga Arya mendaratkan pantatnya, Arya duduk di sofa single sementara Alan duduk disamping sang bunda.


"Bunda, jangan menanyainya hal yang tidak-tidak, apaagi sampai melakukan sesuatu yang buruk padanya." ujar Alan dengan tangan yang memegang bahunya.


Ayu menolehkan kepalanya, "Heh ... dasar anak nakal, kau keterlaluan, setelah sekian lama berhubungan dengannya, kau baru membawa nya kemari!" ujarnya dengan memukul paha Alan dengan keras.


"Bunda, sakit!" ujar nya menggosok paha nya.


"Katakan nak, apa dia baik dalam memperlakukanmu?"


Kebetulan sekali bunda bertanya seperti itu, aku akan mudah mengadukannya jika dia berani macam-macam dibelakangku. Batin Dinda.


"Dia orang yang kaku yang pernah aku temui di dunia bunda!"


"Dia juga tidak pernah romantis, dia...."


Belum selesai mengatakan semuanya, Bunda Ayu sudah tergelak, bahkan Arya pun ikut terpingkal dengan apa yang dikatakan Dinda,


"Dia memang begitu, dasar anak nakal, kau berbeda sekali dengan adikmu! Tapi kau tenang saja, dia akan melakukan apapun yang terbaik untuk gadis yang dia cintai. Benar begitu kan Al, jadi jangan pernah berfikir untuk kembali ke dunia mu itu lagi."


Dinda terkekeh, sementara Alan menyorotinya dengan tajam, membuatnya mendapatkan kembali pukulan keras dari sang bunda.


"Awas kau kalau berani macam-macam pada calon mantu bunda." ucap Ayu dengan penuh penekanan.


Ayu kembali menatap Dinda, "Maafkan dia yang tidak pernah bisa bersikap manis padamu, dan seolah tidak peduli pada perasaanmu, tapi dia memang begitu, dia akan menunjukannya pada saat-saat tertentu saja,"


"Bunda... jangan mengatakan hal yang tidak-tidak padanya!"


"Tuhkan lihat, dia bisa bersikap manja seperti ini hanya pada ibunya saja, dan mungkin padamu saja, hanya itu jarang terjadi ... entah kalau kalian nanti sudah menikah, mungkin dia hanya akan bermanja padamu sayang." ujarnya mengelus rambut Dinda.


Arya hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Terima kasih bunda sudah menerima ku dengan baik, dia memang persis apa yanh bunda katakan, tapi aku menyukainya, ya walaupun kadang-kadang aku ingin dia bisa menunjukan perasaannya pada ku seperti orang lain." sahut Dinda.


"Ngomong apa sih kamu! Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak." ujar Alan ketus.


Namun Ayu kembali menatapnya tajam, "Jangan membuatnya takut begitu Al, atau bunda pukul lagi kamu."


"Bunda ... kenapa malah membelanya." sahut Alan.


"Sudah, kenapa kalian malah ribut, apa tidak malu sama tamu istimewa kita?" tukas Arya membuat istri dan anaknya terdiam seketika, sementara Dinda hanya kembali tersenyum.


Dengan perasaan yang amat bahagia tentu saja. Hari dimana dia sendiri tidak lernah menyangkanya.


"Rasain kau!" gumamnya ke arah Alan tanpa bersuara.


"Kapan kami bisa bertemu dengan orang tua mu Nak?" tanya Arya tiba-tiba.


Membuat Dinda yang tengah terdiam itu tiba-tiba membelalakkan kedua matanya.


"Hah... emmph...."


"Apa ... jawab yang benar!" timpal Alan datar.


"Aku ... aku harus menanyakan terlebih dahulu pada Daddy dan juga mami,"


Arya mengangguk, "Baiklah, kabari segera ya!"


Dinda mengangguk.


.


.


Setelah pertemuannya dengan kedua orang tua Alan, Ayu dan juga Arya sudah kembali masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sedangkan mereka memilih mengobrol di gazebo di halaman belakang rumah.


"Lain kali jangan mengadu seenaknya, kau membuat calon suamimu ini menanggung malu." ujar Alan datar.


Calon suami.


Dunda terkikik mendengar Alan mengatakan hal tersebut meski dengan suara yang datar dan wajah tanpa ekspresi apapun.


"Biarin ...kau akan terbiasa dengan sendirinya, dan tidak akan berbuat hal yang aneh dibelakangku."


Alan berdecak, "Mana ada ... yang ada bukan aku yang melakukan hal aneh, tapi kamu!"


Dinda terkekeh kembali, "Benar juga ... tapi kau tidak boleh mengadukan apa saja kejelekaan ku."


"Curang kau ini!" ujar Alan.


Dinda kembali ke apartement miliknya sendiri yang tidak jauh dari Flat milik Alan. Mereka pun akhinya berpisah.


"Dasar wanita!"