Assistant Love

Assistant Love
Sandwich double cheese



Keesokan hari


Dinda berangkat lebih pagi lagi dari biasanya, dengan riang dia keluar dari apartemen menuju stand sandwich yang terletak di blok depan. Berharap dia bisa beruntung bertemu Alan disana.


Namun saat berada di sana dia tidak bertemu dengan Alan sama sekali. Tidak ada tanda-tandanya sedikitpun, hanya tercium parfum yang biasa di pakai Alan di saluran hidungnya.


Hanya perasaanku saja yang ingin bertemu, sampai-sampai wangi parfum nya berkumpul di lubang hidungku. Batin Dinda.


Setelah menerima sandwich doble cheese pesanan nya, dia kembali berjalan melewati 1 blok untuk untuk mengambil mobilnya


Rambut coklat nya mengibar diterpa angin saat dia berjalan, melewati taman bermain yang dipenuhi oleh orang-orang lanjut usia ataupun anak-anak kecil yang berlarian.


Sesekali Dinda melambaikan tangan pada orang yang mengenal dirinya, dengan senyum yang terbit sempurna dibibirnya. Sebuah bola menggelinding ke arahnya, dan berhasil dia menahan dengan kaki yang terbalut oleh high hill yang tidak terlalu tinggi.


Seorang anak laki-laki terlihat berlari kearahnya,


"Tante boleh aku ambil bola itu?" tunjuknya pada bola yang masih berada dibawah kaki Dinda, dia menahannya dengan bertumpu pada kaki yang satu nya.


"Ooh jadi ini bola mu yaa?" Anak itu menangguk.


"Baiklah ... tante tendang dan kamu tangkap ya." ujarnya dengan menendang.


Dug


Bola itu terlempar jauh dan mengenai punggung seorang pria yang terlihat tengah berlari kecil.


"Tante bolanya mengenai orang,"


"Iya ... ayo kita ambil." ucap Dinda


Dia langsung meraih tangan anak kecil itu, berjalan mendekati seseorang yang terlihat berjongkok mengambil bola yang baru saja mengenai punggung nya.


"Om, kembalikan bolanya ... itu punyaku." ujar anak kecil itu pada seseorang yang memegang bolanya.


"Maaf Pak ... saya yang menendangnya tidak sengaja mengenai anda." ucap Dinda.


Orang itu berbalik, dan Dinda sontak terperangah. Sementara orang itu hanya membuang muka lalu mengarah pada si empunya bola.


"Ini ambil ... lain kali jangan biarkan orang lain menendang bola mu sembarangan." tukasnya lalu mengacak rambut anak kecil itu.


Anak itu hanya mengangguk lalu berlari dari sana dan bergabung kembali bersama teman-teman sebayanya.


"Ma--maaf tadi aku tidak sengaja." ujar Dinda dengan perasaan yang tidak karuan.


Deg


Deg


"Hm...." ucap Alan hanya ber-hm ria.


Lalu dia kembali berbalik, meninggalkan Dinda begitu saja, "Kebiasaan deh."


Dengan setengah berlari, dia mengejar Alan, "Tunggu ...."


"Apa lagi? Cepat katakan waktu ku tidak banyak," jawab Alan ketus.


Dinda menyodorkan paper bag itu pada Alan, namun Alan tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya melihat paper bag itu sekilas, "Apa...?"


"Untuk mu ...." ujarnya Dinda dengan menggoyang-goyangkan paper bag itu.


Alan tetap tak bergeming, "Dalam rangka apa kau memberiku?"


Dinda berdecak, "Memang nya harus ada rangkanya kalau mau memberikan sesuatu padamu,"


"Cepat ambil, aku sudah pegal menahannya." imbuhnya lagi.


Alan yang mengernyit akhirnya mengambil paper bag itu dari tangannya. "Terima kasih...."


Lalu Alan kembali berbalik meninggalkan Dinda, dia kembali masuk ke apartemen nya, sudah cukup dirinya berolah raga, kini saatnya kembali pada rutinitas pekerjaannya di kantor.


Setelah melakukan ritual bersih-bersihnya, Alan mendudukkan dirinya di meja makan. Masih paper bag yang diberikan Dinda.


Perlahan dia membuka nya, kotak makan berwarna pink, Alan mengernyit lalu membuka kotak makan itu.


"Apa ini sandwich doble cheese?" gumamnya.


Alan bergeleng kepalanya, setelah itu dia menemukan note kecil dari dalam paper bag lalu mengambilnya.


Aku tahu ini kesukaanmu bukan? Makanlah, dan jangan khawatir, ini gratis. Aku tidak akan menagihnya.


Lain kali aku pasti akan membawakan masakanku sendiri. Selamat bekerja.


Note panjang lebar itu membuat Alan tergelak, Dasar bodoh.


Namun Alan juga memakan sandwich itu, dengan tingkat kelahapan yang lebih dari biasanya. Sesekali menggelengkan kepalanya, sikap Dinda menggelitik relung hatinya.


Dreet


Dreet


Alan meraih ponselnya, lalu dengan cepat dia mengangkatnya.


"Ada apa?"


Alan memejamkan matanya, "Lalu...."


"Kau lebih baik bicara padanya! Jika dibiarkan takutnya dia turun sendiri atau menyewa seorang hack."


"Hm, aku akan bicara padanya."


"Secepatnya Al!"


"Hm...."


"Al...? Kau masih disana?


"Apa lagi?"


"Kenapa kau tidak menutup ponselnya, kau masih ingin bicara?"


Tut


Mac tergelak saat Alan menutup ponselnya, sementara Alan yang tengah berfikir itu baru menyadari jika ponsel masih menempel di telinganya.


Lalu dia beranjak dari meja makan nya setelah menghabiskan 2 potong sandwich yang diberikan oleh Dinda. Lalu menyeruput segelas kopi.


Setelah itu pun dia keluar dari platnya dan bergegas masuk kedalam lift.


.


.


Alan sampai di kantor, dia masuk langsung kedalam ruangan nya dan membenamkan diri nya dengan sejumlah berkas yang harus dia pelajari sebelum dia serahkan pada Farrel.


Farrel masuk begitu saja kedalam ruangannya, Lalu mendudukkan dirinya di sofa. "Al, aku seperti melihat Leon keluar dari kantor divisi, ada urusan apa dia disana?"


Alan mendongkak, "Kapan?"


"Sekitar setengah jam yang lalu," Ucap Farrel dengan tangan mengotak- ngatik ponsel.


"Aku tidak tahu ada urusan apa dia disana!"


"Apa mungkin menemui wanita incaranmu?"


Alan berdecak, "Jangan sembarangan bicara. Aku tidak mengincar wanita manapun."


Farrel merentangkan tangan, " Kau yakin?"


"Tentu saja aku yakin, aku tidak sebodoh dirimu!" tukas Alan kesal.


Farrel terkekeh, " Tidak usah marah juga kan?"


"Sialan, siapa yang marah?"


Kali ini Farrel merubah posisi duduknya, dengan tubuh yang mencondong, dab kedua tangan bertumpu pada kedua kakinya.


"Kau Al ... kau bisa membohongi orang lain dengan sifat kerasmu! Tapi tidak berlaku untukku,"


"Kau menyukainya bukan?" timpalnya lagi.


Alan menghela nafas, dengan kepala yang dia sandarkan di kursi kebesarannya.


"Dia melihatku tengah menembak si bajingan Hendra! Dia akan jadi kelemahanku El, kau tahu itu!"


Farrel terdiam, dia saja kaget dan tidak percaya saat mengetahui Alan yang sebenarnya, apalagi dengan orang itu.


"Jadi apa yang akan kau lakukan?"


Alan memejamkan matanya, "Dan Leon saat ini tengah mencarinya,"


Farrel terperanjat, " Maksudnya mencarinya?"


"Leon menganggap Akira adalah ancaman besar karena suatu saat bisa melaporkanku pada polisi."


"Tunggu sebentar, kenapa kau terus saja memanggilnya Akira?"


"Bodoh, memang itu namanya kan?"


Farrel menggelengkan kepalanya, " Kau yang bodoh, kau masih ingat namanya panjangnya siapa?" Alan mengangguk


"Kalau gitu aku sudah tahu sekarang?"


"Kau bilang saja langsung siapa? Otakku tidak dapat mencerna hal-hal sepele seperti ini." tukasnya sambil kembali memejamkan matanya.


"Akira Dinda Pramudya?"


Akira Dinda Pramudya


Dia mengulang dngan bergumam. Farrel yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya."


"Kau urus saja pekerjaan mu?! jangan ikut campur dengan masalahku,"


"Baiklah ... kalau begitu aku pergi! padahal aku kesini hanya ingin memberikan info penting padamu."