
"Orang aneh, siapa yang menyebarkan nomor ponselku sembarangan seperti ini."
Drett
Drett
Ponsel yang dia letakkan diatas meja kembali menggelepar, Alan melihat layar yang menyala itu, nomor kontak tanpa nama, dan nomor yang masih sama dengan yang baru saja meneleponnya.
Alan duduk dikursi kebesarannya, dia kembali memeriksa berkas yang menjadi makanan sehari-harinya. Membosankan, aku butuh sedikit hiburan.
Dia tidak peduli dengan ponsel yang terus berbunyi-senyap-berbunyi- senyap lagi itu. Meskipun gendang telinganya serasa mau pecah, Alan hanya mengubah mode ponselnya menjadi senyap. Namun tetap saja benda pipih itu menyala-mati-menyala-mati kembali. Biarkan saja, aku tidak peduli orang aneh.
Sampai akhirnya raga yang lelah itu semakin melemah, seiring jam kerja yang telah habis, dengan langkah gontai Alan keluar dari ruangannya, dan melihat meja yang biasa di tempati Cintya telah kosong, benda-benda miliknya pun tidak ada lagi.
Dan sudah pasti Cintya dipindahkan pada hari itu juga, Alan menghembuskan nafas, dia lebih baik menghadapi penjahat dan harus beradu fisik dari pada harus 'berperang' dengan seorang wanita.
Alan terus berjalan hingga melewati beberapa karyawan yang bekerja, hingga melewati Doni yang tengah berbincang dengan seorang perempuan. Entahlah, Alan tidak melihatnya dengan jelas, dan tentu tidak akan peduli.
Lalu dia memasuki lift khusus, ponsel yang dia senyap kan nya itu tiba-tiba membuatnya penasaran, tak lama kemudian dia rogoh, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka, yang membuatnya urung dan menyimpan kembali ponselnya.
Dia berjalan melewati basement, menuju tempat dimana dia memarkirkan mobilnya, saat mendaratkan tubuhnya dibalik kemudilah dia kembali merogoh ponselnya, membuka satu persatu notifikasi yang masuk.
You have 116 miss call
0005455xxx
Alan berdecak melihat notifikasi panggilan tidak terjawab yang masuk begitu banyaknya. Kemudian membuka kembali notifikasi pesan masuk, yang tak kalah banyaknya seperti,
Hei...angkat teleponku!
Astaga....
Angkat ini sangat penting!
Ayolah aku mohon...
Ini aku!!!
Kau menyebalkan!
Kau apakan pintu ku!
Heh....Manekin, kau apakan apartemen ku.
****Brengsekk****...!!!
Alan membaca satu persatu pesan masuk dari nomor yang sama itu, dan Alan sudah menduganya nomor kontak yang tidak terdaftar itu dipastikan milik dia, Akira Dinda Kirani, and well she is stupid girls (Dan ya, dia gadis bodoh).
Berani sekali dia mengumpat padaku,
Alih-alih memacu kendaraannya dengan cepat, Alan begitu santai, dan dengan sengaja dia memperlambat agar Dinda semakin kesal. Ya ini akan menjadi hiburan yang sangat menyenangkan, dasar bodoh.
Tak lama kemudian dia memarkirkan mobilnya di pelataran apartemen, dia masuk kedalam gedung Apartemen itu,
Ting
Alan masuk dengan santai, berjalan dengan langkah yang juga santai, bibirnya melebar tipis-tipis, ada yang menggelitik dalam hatinya, what the hell.
Ayolah AL, gadis ceroboh itu hanya mencari perhatianmu, dan kamu sekarang terjebak dalam permainannya bodoh.
Tidak mungkin, gadis bodoh itu mencuri perhatianku, ayolah AL. Batin Alan berperang.
Ting
Alan pun keluar dari kotak besi yang membawanya naik, dengan berjalan santai menuju plat milik Dinda,
samar-samar dia mendengar pembicaraan orang yang melintas,
Kau tahu gadis tadi menggedor pintu plat dengan membabi buta, tidak waras.
Ya, entah dia ada masalah mungkin.
Dan dia berlari ke rooftop kan, sampai membuat semua orang panik,
Hei kalian melihat gadis yang mengamuk tadi? Ucap salah satu petugas managemen dari Apartemen.
Ya, dia naik ke roof top.
Deg
Deg
Tidak ada siapa-siapa didepan pintu plat miliknya, Dinda tidak terlihat dimana-mana, apa dia lari ke Roof top seperti dikatakan oleh orang tadi. Mengamuk
Dengan berlari Alan menuju lift yang akan membawanya ke gedung paling atas, menekan tombol naik berulang kali, rasanya terlalu lama lift itu terbuka, Alan mengedarkan pandangan, suasana apartemen itu tampak seperti biasanya, tidak ada kegaduhan atau semacamnya. Apa yang aku lakukan.
Antara naik dan tidak, hatinya mulai bimbang. Dia memutuskan kembali namun pintu lift terbuka, membawa rombongan orang yang samar-samar dia dengar pembicaraannya.
Gila sih parah, masa iya mau melompat dari gedung.
Hm...aku gak berani liat, biar mereka menghubungi managemen gedung.
Ayo ah kita keluar, keburu dia menjatuhkan diri kan ngeri.
Percakapan mereka yang sempat ditangkap indera pendengaran milik Alan sukses membuatnya khawatir. Tak berfikir lagi dia langung menerobos pintu lift yang hendak kembali menutup. Sial
Alan didalam dengan beberapa orang, membuatnya harus terus mundur hingga sampai menempel dinding lift, dengan berpangku tangan Alan berdiri, mengeraskan rahangnya karena rasanya lift berjalan sangat-sangat lambat. Astaga cepatlah sedikit
Ting
Akhirnya pintu lift terbuka, Alan kembali menerobos orang-orang yang keluar, apa mereka mau keatas hanya untuk melihat aksi melompat indah? Dari gadis bodoh itu,
Alan meraup wajahnya, hatinya juga kini bergemuruh karena rasa khawatir, bagaimana tidak. Dialah yang mengganti password pintu platnya.
Alan terus berjalan hingga menemukan orang yang lumayan banyak. Apa mereka yang kesini hanya untuk menonton. Orang-orang bodoh.
Alan terus berjalan hingga menemukan petugas managemen.
"Orangnya sudah diamankan, udah dibawa turun baru saja, lagi pula buat apa menonton orang gila yang hendak melompat, sudah bubar-bubar." Hardik pertugas itu,
Alan menghela nafas, sedikit lega.
"Kemana mereka membawanya Pak?" tanyanya tiba-tiba.
Bodoh, kenapa pula bertanya. Batinnya merutuki.
"Ke ruang pengawas sambil menunggu petugas rumah sakit." ujar petugas itu dengan berlalu pergi.
Membuat Alan yang terpaku itu kembali turun dan mencari ruangan pengawas gedung.
"Apa kalian melihat perempuan yang hendak melompat?" tanyanya pada petugas yang melintas.
"Disana...." tunjuk petugas itu.
What the hell, membuatnya harus berlari-lari hanya untuk melihat gadis bodoh dan ceroboh yang akan melompat indah. Come on Al don't be stupid too.
Lagi-lagi batinnya merutuki.
Hingga dia sampai pada ruangan bertuliskan.
Ruang pengawas gedung
Staff only
Alan masuk begitu saja masa bodoh dengan tulisan yang terpangpang nyata didepan. Dia harus segera melihat Dinda, terdengar amukan dan sentakan-sentakan dari dalam. Yang berubah menjadi tawa. Apa dia benar-benar gila. Bipolar may be.
hatinya bertanya, dan hatinya pula ynag menjawabnya sendiri.
"Maaf pak anda siapa?" salah satu petugas menghampirinya.
"Saya ingin melihat orang yang kalian baru saja bawa dari Roof top,"
"Apa anda keluarganya?"
"Dia teman saya."
"Bagus lah, kau bisa mengurusnya. Ini kali kedua dia melakukan hal itu. Pastikan temanmu mendapat perawatan." ucapnya pada Alan dan entah kenapa Alan mengangguk.
"°Hei...sudah lepaskan dia! Teman nya sudah menjemput." seru petugas itu pada rekannya.
"Masuklah...." ucapnya lagi pada Alan.
Alan berjalan masuk dan mendorong pintu yang ditunjuk petugas tadi.
Astaga....