Assistant Love

Assistant Love
Akhirnya kau pulang juga



"Pergilah, jalani hidupmu sendiri jika kamu sudah tidak memerlukan kami lagi." ujar Arya menohok.


"Om...."


"Ayaah...." lirih Alan.


"Tolong kasih aku waktu untuk memperbaiki semuanya, aku janji ayah!" ujarnya lagi.


Arya tidak mengatakan apa-apa lagi, dia keluar begitu saja meninggalkan Alan dan Jerry.


"Celaka, kau dalam masalah besar Al!" gumam Jerry, setelah kepergian Arya.


"Aku tahu, dan aku akan bertanggung jawab!"


"Apa maksudmu Al? Kau akan menyerahkan dirimu ke polisi? Jangan gila Al, itu sama saja kau bunuh diri." seru Jerry tidak setuju.


Alan tidak menjawab, saat ini dia memang belum mengetahui harus bagaimana, namun dia juga tidak berdiam diri begitu saja.


Alan mulai mencari musuh- musuhnya yang dahulu, bersinggungan dengannya, yang masih hidup, yang bersembunyi dan yang jelas yang berpotensi menunggunya lengah. Sementara Ayu sama sekali belum mengetahui apa yang terjadi.


"Lagi pula ayahmu tahu dari mana semua itu? Apa ayahmu memiliki mata-mata juga?"


Alan berdecak, "Ayah ku tahu dari mana, sudah tidak penting lagi. Yang jelas sekarang adalah jangan sampai bunda mengetahui nya, Alan yang akan menceritakannya nanti. Soal waktunya, dia belum tahu kapan. Dan Arya diam bukan berarti dia tidak peduli begitu saja, dia mengunjungi seseorang teman lamanya saat kuliah dulu.


Bertanya perihal hukum, bagaimana jika menjadi kasus dan bagaimana menanganinya, sahabatnya itu seorang hakim, dia juga serring terlibat dalam kasus-kasus ilegal semacam itu. Arya berharap temannya itu bisa membantu Alan, jika keluarga korbanya ada yang membawa kasus ini sampai ke ranah hukum


Semua melakukan upayanya sendiri, Alan ingin memperbaiki semuanya, meski dia belum bisa meninggalkan bisnis itu sepenuhnya.


Begitu juga Leon, hanya jerry yang masih berbeda pendapat.


"Sebaiknya memang markas dipindahkan saja, aku yang akan bertanggung jawab." ujar jerry saat dia menjemput Leon yang baru pulang dari rumah sakit.


"Lebih baik kita berhenti semua Jerry!" sentak Alan.


"No ... Al lebih baik kau dan Leon yang berhenti, aku akan tetap melanjutkan bisnis kita yang kita mulai dari Nol ini."


Leon mendengus, "Alan benar, suatu hari kita memang harus berhenti, entah kita akan mati ditangan musuh seperti Jhoni atau kita berhenti dari sekarang dengan resiko masuk penjara."


"Mari kita mulai hidup dengan baik." ujar Alan.


"Hiduplah dengan baik, aku akan melindungi kalian." ungkap Jerry tidak mau kalah.


"Jerr...ayolah!"


"Aku sudah terbiasa hidup dengan keras dari kecil, bersama Jhoni, sekarang aku belum bisa hidup dengan baik, tidak ada alasan ku untuk itu."


"Tapi Jerr...." sela Leon.


Tangan Jerry terangkat ke arahnya, "Stop Leon, ini sudah menjadi keputusanku. Tapi aku tidak akan memaksa anak buah kita boleh memilih, ikut aku atau berhenti dengan kalian."


"Aku sudah fikirkan ini baik-baik, siapa yang akan melindungi kalian jika terjadi sesuatu di kemudian hari."


Pembicaraan mereka berhenti begitu saja, semua terdiam kembali. Ketiganya berada dalam kegamangan.


.


.


Hubungan Alan dan Ayahnya belum ada perubahan, Arya masih enggan berbicara padanya. Setelah pertemuan dan perdebatan yang masih belum menemukan titik temu bersama para sahabatnya, untuk pertama kalinya Alan kembali pulang ke rumah utama.


Dia membuka pintu rumah yang tidak terkunci itu perlahan-lahan.


Hening


Rumah sebesar itu hanya di huni oleh Arya dan Ayu saja, apalagi semenjak Farrel menikah dsn memutuskan untuk tinggal terpisah dari mereka.


"Bunda... Ayah...!" panggil Alan pada keduanya.


Namun tetap rumah itu hening.


Mang ujang yang tergopoh berlari ke arahnya dengan takut-takut, terakhir kali Alan pulang ke rumah dalam keadaan yang marah, dan nyaris tidak pernah merubah ekspresi wajahnya.


"Maaf mas, tuan besar dan nyonya besar sedang pergi, mungkin sebentar lagi mereka pulang! Mas mau saya siapkan sesuatu?"


"Hm... tidak perlu, istirahatlah, aku juga akan ke kamar saja, beritahu aku jika nanti ayah dan bunda kembali," ujar Alan sambil berlalu begitu saja.


Mang ujang melongo menatap punggung Alan yang tengah menaiki tangga menuju rumahnya.


"Ya tuhan, apa aku tidak salah dengar? apa dia sedang kerasukan. Oh Mimah, kau harus tahu hal ini, aku harus menelefonnya." ujarnya berlari ke rumah belakang.


Alan masuk ke dalam kamarnya, kamar yang selama ini dia tempati, semenjak keluarga Adhinata mengasuhnya dari dia kecil. Dia bahkan melupakan wajah kedua orang tuanya, dan hanya Ayah dan bunda yang mampu menggantikan mereka dihatinya.


Alan menghempaskan tubuhnya diranjang, menatap langit-langit kamar itu. Kilatan masa kecil yang dilewatinya bersama mereka, dan kasih sayang yang tercurah padanya tiak pernah berkurang sedikit pun meski mereka mempunyai anak kandung sendiri.


Masih dengan menatap langit-langit kamarnya. kini sekelebat aksi tembak-menembak yang dilakukannya pada semua musuh dimasa lalu, membuatnya menghela nafas.


Sudah banyak dosa yang telah dia perbuat dalam hidupnya. Alan memejamkan kedua matanya, hingga beberapa lama kemudian.


Satu sentuhan hangat menjalar dikepalanya, mengusap rambutnya dengan suara isakan lemah.


Perlahan Alan mengerjapkan kedua matanya, dan terkesiap saat melihat bunda berada di sampingnya.


"Bunda...."


Alan melingkarkan tangan pada tubuh Ayu yang tidak seberapa, sementara isaknya semakin terdengar lirih.


"Hei... bunda kenapa menangis?"


Ayu tidak mengatakan sepatah katapun, dia hanya memeluk erat Alan. Hingga Alan bangkit dan merubah posisi menjadi duduk diranjang.


Ayu tetap terisak tanpa kata.


"Bunda ... bunda tahu sendiri aku paling tidak bisa melihat bunda menangis, katakan padaku ada apa?"


"Bunda sudah tahu semua, bunda tahu segalanya, sekarang bunda mau tanya sama kamu?"


"Apa kamu tidak bahagia hidup dengan kami?"


Deg


Ucapan bunda bak sembilu yang menyayat hatinya, sangat perih, bahkan tangisan nya kini semakin luruh dan membuatnya ikut menangis.


"Maafkan aku bunda, maafkan aku!" ujarnya dengan wajah tertunduk.


"Apapun yang kau lakukan, kesalahan apapun yang kau lakukan, kau tetap putra bunda, kebanggaan bunda, tetap menjadi pahlawan bunda. Kau tahu itu Al."


"Tapi kenapa kau menyembunyikan ini semua, kenapa kau melakukannya? Kenapa....?"


"Bunda... maafkan aku. Aku tahu aku salah, aku akan memperbaiki semua nya, maafkan aku!"


Tak lama Arya masuk kedalam kamarnya, dsn melihat adegan dramatis antara ibu dan anak.


Dia duduk disofa menunggu mereka yang masih belum menyadari kehadirannya.


Hingga Arya berdehem ke arah mereka.


"Ayah...?" lirih Alan.


"Akhirnya kau pulang juga anak nakal!"


"Ayah, jangan memarahinya lagi!" sela Ayu dalam isakannya.


Alan hanya tersenyum tipis pada keduanya.


"Ayah mau bicara, setelah ini pergilah ke ruang kerja ayah, ayah mau bicara terlebih dahulu dengan bunda."


Alan mengangguk, tak lama Arya kembali keluar dan menuju kamarnya sendiri.


"Bunda bicara dulu dengan ayahmu, jangan pernah keluar dari rumah ini lagi! Kau paham? atau bunda akan marah sekali!"


Alan mengangguk,


"Aku sudah pulang bunda!"


.


.