Assistant Love

Assistant Love
My Sweety ice



Dinda terbangun keesokan harinya, dengan kepala yang masih sangat berat seperti kemarin, berjalan gontai masuk kedalam kamar mandi. Lalu mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Kepalanya masih berdenyut sampai saat ini.


Setelah selesai dengan ritual bersih-bersihnya Dinda keluar kamar mandi, berjalan menuju lemari dan memakai pakaian, ingatannya kembali sesaat pada kejadian malam, halusinasi yang dia alami semakin parah.


"Sepertinya aku harus periksa kesehatan mentalku, kenapa aku berhalusinasi seperti semalam, bahkan aku tidak bisa membedakan mimpi dan kenyataan gara-gara orang itu," gumamnya sendiri.


Dinda kemudian bersiap-siap, memakai sedikit make up dan juga memoles bibirnya tipis. Yang kemudian dia masukkan make up yang dapat digunakan kapan saja kedalam tas kerjanya.


Dinda menggerai rambut coklatnya, tubuh ramping yang dia balut dengan setelan kemeja dibalut crop blazer dan rok sepan, serta high hills yang hanya beberapa senti yang menambah keanggunan dirinya.


Dinda keluar dari apartemennya, mengunci pintu dan memasukkan nya kedalam tas. Lalu berjalan kearah lift.


"Sialan, rusak lagi, astaga! Dasar apartemen gak guna ...!" umpat Dinda.


"Aku sudah berdandan cantik begini, masa harus turun melalui tangga," Dinda merengut.


Dinda memijit keningnya pelan, "Aku sepertinya harus mencari tempat yang lain,"


Dinda benar-benar harus turun lewat tangga darurat, berkali-kali memprotes pada managemen Apartemen namun tidak pernah ditanggapi.


"Begini saja lebih baik," ucapnya melepas high hillsnya dan berjalan tanpa alas kaki.


"Make up ku jadi luntur kan," ucapnya mengelap keringat didahinya.


Dinda masuk kedalam mobil, lalu dia melajukan mobilnya, menyusuri jalanan yang sudah dipastikan macet, Dinda bukan Mettasha yang memiliki predikat karyawan teladan, dia adalah kebalikannya.


Dinda sampai dikantor pada saat waktu masuk tinggal beberapa menit lagi, namun dia masih berjalan santai menuju kantornya.


"Heh, kebiasaan kamu datang jam segini, noh udah di tungguin," ucap Metta menunjuk berkas yang harus dikerjakan Dinda.


"Astaga, Ibu Mettasha yang terhormat! Anda tenang saja ya, semua pasti beres ditangan Dinda." Dinda mengeratkan jari-jarinya.


Dinda kemudian merangkul sahabatnya itu, " Udah yuk duduk daripada kamu marah-marah terus."


Metta melepaskan tangan Dinda dari bahunya, "Aku mau nganterin berkas ini keruang meeting dulu."


"Oh iya, bagaimana jika aku yang mengantarkan nya lagi!"


"Astaga, mulai lagi, apa kamu gak bosan terus ngeliatin tuh manekin hidup! heran aku..." Metta mendengus.


Dinda mengambil berkas dari tangan Metta, " Udah deh kamu tinggal duduk aja, biar aku selesaikan Pekerjaan mu itu, bereskan,"


Metta menggeleng, "Benar- benar sudah gila aku punya temen kayak kamu!"


Dinda terus melenggang dengan percaya diri menuju ruang meeting yang tempatnya tepat di gedung utama, berharap bertemu dengan Alan yang setiap hari datang datang dalam mimpinya. Bahkan membuat dirinya asing berhalusinasi.


Benar saja mata elangnya sangat tajam, meskipun target masih jauh berada didepan. Namun Dinda sudah dapat melihat Alan yang baru saja masuk, berjalan menuju ruangannya dengan tubuh tegap dan gagah.


"Ah, akhirnya aku bisa melihatnya, sayang ku My Sweety ice," ucapnya.


Dinda berjalan mengendap-ngendap mengikuti Alan yang tengah berjalan.


Hingga seorang perempuan yang membawa ipad ditanganya menghampirinya, "Pak, hari ini kita akan rapat dengan PT CEMERLANG, saya sudah reservasi tempatnya, kita hanya tinggal datang saja."


"Hem..." ucap Alan kemudian masuk kedalam ruangannya.


Bagi Dinda jawaban Alan yang singkat itu bagai alunan lagu yang merdu, hanya dengan mendengar suaranya saja membuat dia mabuk kepayang.


"Ah, bagaimana bisa mendengar dia memanggilku sayang!"


Fikiran Dinda sibuk menerawang, tanpa sadar perempuan yang tadi kini sudah ada di hadapannya.


"Hey, sedang apa kamu disini? apa kamu punya kepentingan disini?" ucapnya dengan mendelik.


Perempuan itu semakin menyorot tajam, "Kau tahu ruang rapat ada dimana? apa kau sedang membodohiku?"


Dinda gelagapan, "Hm, maaf ini kali pertama aku kesini, jadi aku tidak tahu arah ruang rapat." Dinda sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Cih belaga pilon..."


"Sialan memangnya kenapa?


"Cintya..." suara bariton mengagetkan Dinda maupun perempuan yang tengah mendelik tajam pada Dinda.


"Ooh namanya cintya," gumam Dinda.


Perempuan bernama cintya itu berlalu dari hadapan Dinda, dia melangkah dengan sangat indah, tubuh sintalnya meliuk-liuk.


Mereka terlihat pergi keluar kantor, dengan beberapa berkas yang dibawa di tangan perempuan yang bernama Cintya itu.


Jiwa penasaran Dinda menyeruak seketika, dia bergegas mengikuti mereka, mengikuti Alan dan juga cintya yang tengah meeting disebuah cafe,


"Astaga, dia tampan sekali." ucap Dinda yang bersembunyi dibalik pot bunga besar di luar cafe.


Dinda nekat masuk kedalam cafe dan duduk di kursi pojok yang memudahkannya melihat Alan dengan leluasa. Memesan kopi yang sama dengan yang dipesan Alan.


"Aku sekarang hanya bisa memandangnya dari jauh My Sweety ice, tapi suatu hari nanti aku akan terus berada disamping kamu, bukan perempuan berambut jagung itu." Dinda terkekeh sendiri.


Hingga Alan selesai meeting, dia berjalan dibelakangnya, berpura-pura sibuk jika Alan maupun Cintya berhenti. Lalu berjalan lagi sampai akhirnya mereka kembali ke kantor.


Alan sempat menoleh kearah Dinda, namun dia kembali berjalan tanpa peduli,


"Ah dilihatin begitu juga aku serasa terbang ke awan," kelakar Dinda.


Dinda pun kembali ke kantor, dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya, dengan fikiran yang entah menerawang kemana.


"Heh, bego baru datang lagi dari tadi!"


"Ah, Sha diamlah, suaramu merusak alunan indah di telingaku,"


Metta menoyor kepalanya, "Sadar woy, halu mulu ...!"


Namun toyoran di kepalanya tidak berasa apa-apa, Dinda masih tersenyum bahagia bak mendapat lotere.


"Benar-benar sudah gila!" Metta berlalu meninggalkan Dinda begitu saja.


Khem


Suara deheman mengagetkan Dinda.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi🤣 karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Hayo siapa yang belum like🤭 sana ulangi lagi.🤣


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..


Semoga kita saling bersinergi ā¤ dalam kehaluan ini.


Terima kasih😘