Assistant Love

Assistant Love
Bertemu bayi bapau



Leon keluar dari plat milik Alan, wajahnya tifak bisa ditebak, di satu sisi dia bahagia karena Alan akan menikah, meskipun tidak bisa dipungkiri, dia masih tidak percaya itu skan terjadi, dan disisi lain, Leon sedih karena sahabatnya Jerry masih mendekam di penjara.


Dan sepertinya Jerry masih bungkam, buktinya sampai saat ini dia maupun Alan masih belum dipanggil polisi, mereka masih aman-aman saja. Dan yakin, Jerry tidak akan membocorkan rahasia apapun termasuk keterlibatannya dan juga ketua dari kelompok yang bermain di dalam bisnis ini. Alan Alfiansyah.


Leon keluar dari gedung apartement, namun tidak juga pergi dari sana, dia memilih berjalan-jalan disekitar area bermain dan juga taman. menikmati udara pagi walaupun kepalanya sedikit berdenyut karena wine yang baru saja dia minum.


Leon memilih untuk duduk di kursi sebelah taman, kursi yang terbuat dari kayu, dengan memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang yang hanya berjalan, maupun berlari pagi, anak-anak kecil yang berlarian di sekitar taman bermain dan juga para lansia yang tengah mengikuti senam kebugaran.


Seutas senyum terbit dari bibirnya, tatkala melihat anak laki-laki kecil berlari mengejar bola, namun tak lama kemudian dia terjatuh dan menangis.


Leon mulai membayangkan, kapan hal itu akan terjadi padanya, mempunyai keluarga kecil, istri dan juga anak yang lucu yang berwajah persis dengan nya.


"Sepertinya aku sudah mulai gila, karena Alan akan menikah, sementara aku?" gumamnya dengan meraup wajahnya.


"Huh...." Leon menghembuskan nafasnya perlahan.


Sahabat yang akan menikah memperngaruhi dirinya, ditambah saat ini dia tidak sedang dekat dengan siapapun, Miris sekali


Leon akhinya bangkit dari duduknya dan berbalik hendak ke area parkir, namun tiba-tiba.


Brukk


Leon tersandung, dia menabrak stroller baby berwarna biru, dan seseorang yang tengah mendorongnya pun ikut mundur beberapa langkah.


"Uh ... sorry, aku tidak sengaja, apa anda baik-baik saja?" tanyanya pada seseorang wanita yang tengah menunduk melihat seorang bayi laki-laki yang tengah tertidur.


"Kami tidak apa-apa," ujarnya dengan mendongkak pada Leon.


"Tasya?"


"Leon? Kau kah ini?" ujar Tasya dengan tersenyum.


Leon menatap Tasya begitu pun sebaliknya, hampir sebulan sejak kejadian di rumah sakit, mereka tidak pernah lagi bertemu hingga saat ini.


"Kau sudah melahirkan ya, maaf aku tidak sempat melihatmu lagi saat itu." ucap Leon dengan mencondongkan tubuhnya melihat bayi laki-laki yamg masih terlelap itu.


"Bayi mu sangat lucu, pipinya seperti bapau rasa stobery, merah begitu, atau jangan-jangan dia kaget karena aku menabraknya kencang?" tanyanya dengan mengelus pipi bayi itu.


"Tidak, dia memang berpipi gembil, karena minum susunya benar-benar kuat sekali." ujar Tasya terkekeh.


Leon berjongkok dengan terus memperhatikan bayi yang mulai menggeliat karean sentuham dari nya.


"Pantas saja, anakmu lucu sekali!"


"Terima kasih! Kau dari mana Le? Apa kau dari plat Alan?"


"Benar, aku dari sana! Kau sendiri?"Tanya nya tanpa merubah posisinya, tangannya terus mengelus pipi dan tangan mungil yang mengepal.


"Aku hanya sedang jalan-jalan saja! Mencari angin." Ujar Tasya yang kini mendaratkan diriya di kursi.


Leon mengikuti dengan duduk disampingnya, dengan jari telunjuk yang kini di genggam anak bayi itu dengan erat.


"Hei ... kuat sekali kau memegangi jariku!" selorohnya dengan terkekeh.


"Anak bayi memang begitu uncle," jawab Tasya dengan terkekeh juga.


"Uncle?" Leon mengulang perkataan Tasya, dan menoleh padanya.


Tasya mengangguk, "Kau tidak mau di panggil uncle? Uncle Leon?"


Leon tergelak, dengan kembali menunduk, dsn menggoyang-goyangkan tangannya ke kiri dan ke kanan, "Iya ... iya panggil aku uncle Le yaa."


.


.


Seperti sebuah keluarga kecil saja.


Tak lama mereka duduk di tempat yang osling dekat dengan kaca, membuat mereka dapat melihat ke arah luar, dan terlihat taman bermain dari sana.


Setelah memesan kopi dan camilan, mereka membicarakan tentang bayi yang masih saja terlelap itu, Leon yang serba ingin tahu, menanyakan banyak hal tentang dunia bayi.


"Jadi berapa usianya sekarang bayi bapau ini?"


"Enak saja kau panggil bayi bapau?"


Eleon tergelak, "Aku hanya melihat wajahnya, kedua pipi gembil berwarna merah itu kan sudah seperti bapau." ujarnya dengan terus menatapnya.


"Makanya kau harus segera menikah, agar kau punya anak seperti ini."


Leon tergelak, "Aku harus mencari calon ibunya dulu, sebelum punya anak kan?"


Tasya menyeruput kopi miliknya, "Tentu saja, bagaimana kau bisa punya anak? Ya tentu harus punya istri dulu."


Mereka terus membicarakan banyak hal, tertawa dan terus tertawa, Leon dapat melupakan sejenak tentang penangkapan Jerry maupun pernikahan Alan. Fikirannya ter distrack oleh kehadiaran bayi yang tidak sedikitpun terbangun walaupun disekelilingnya ramai dengan orang.


"Bagaimana kabar Erik?" tanya Leon tanpa sadar.


Tiba-tiba saja air muka Tasya berubah menjadi murung, namun sedetik kemudian dia kembali tersenyum.


"Kami sudah resmi bercerai, sejak Baby Zi lahir, aku langsung mendaftarkan gugatan cerai dipengadilan. Dan baru selesai sekitar seminggu yang lalu." jelas Tasya.


"Maaf, aku tidak tahu!" ujar Leon yang menyesal telah bertanya seperti itu pada Tasya.


"Tidak apa-apa, aku sudah berlapang dada menerima semua ini." jawabnya dengan kembali menyeruput kopi.


"Aku memang terlalu banyak berharap padanya, aku terlalu buru-buru mengambil keputusanku dulu. Sampai aku tidak mengenal semua tentang Erik." ujar Tasya.


"Tapi sekarang aku lega, memang seharusnya aku mengurus baby Zi sendirian saja." ungkapnya lagi.


Leon hanya terdiam, dia tidak mengeluarkan aatu patah kata pun. Dia hanya menatap stroller bayi itu.


"Dan kau tidak perlu merasaa bersalah seperti ini, karena ini bukan salahmu."


Leon menatap Tasya yang terlihat biasa saja, saat menceritakan tentang kegagalannya, bahkan tampak sangat bersinar.


"Kau benar, lakukanlah apa yang membuat mu bahagia Sya."


Tasya mengangguk, "Terima kasih kasih Le."


"Bagaimana jika lain kali kita pergi bertamasya?"


"Pergi tamasya? Mana mungkin, baby Zi saja belum mengerti apa-apa." tukas Tasya, menatap ke arah anaknya.


Tanpa mereka sadari, seseorang tengah melihat ke arah mereka dengan marah.


"Baby Zi sangat kuat, dia akan menjadi anak yang kuat suatu hari nanti! Bukan begitu?"


Sementara Tasya hanya mengangguk, dia menatap Leon yang terus berbuat usil pada Baby Zi, dengan terus menggusel pipi bapau miliknya.


Leon begitu senang bermain dengan anakku, sementara Ayahnya sendiri melupakannya, tidak peduli padanya, bahkan menganggap anaknya tidak ada. Sangat berbeda sekali. Batin Tasya.


Sementara sosok yang terus melihat ke arahnya, kini berlalu meninggalkan kafe tersebut.


Tasya melihat pungungnya, "Benar-benar sulit dipercaya! Dia ... "


"Erik."