
"Bocah ini malah mengirimkan kontak nya My Sweety ice," senyum pun terbit di bibirnya.
"Memang selalu beruntung kamu Din!" ucapnya dengan terkekeh.
Dinda lalu keluar dari toilet itu dan kembali menunggu hujan yang semakin deras.
"Tapi kasihan kamu Sha, tapi ini satu-satu nya cara meyakinkan keluarga Farrel, kalau mereka memang tidak salah memilihmu, huh...sudah seperti pemilihan putri sejagad saja!" monolog Dinda.
"Apa itu juga akan berlaku pada Alan, mereka akan mengetes ini dan itu pada perempuan yang dekatnya? Ah... pasti mereka akan melakukan nya juga! Aku harus siap-siap dari sekarang." Dinda mengedarkan pandangan nya ke segala arah.
"Aku harus waspada, bagaimana jika ada kamera tersembunyi yang sedang memperhatikanku dari sana, atau bahkan dari sana, ah tidak, bisa juga dari sana!" monolog Dinda dengan melihat arah depan, samping dan juga belakangnya, lalu mengedarkan nya keatas mencari- cari mungkin saja ada kamera tersembunyi.
"Kalau pun ada, aku siap!" Dinda menganggukkan kepalanya dengan tangan yang mengepal di udara.
Tak lama kemudian dia masuk kedalam mobilnya, melajukan mobilnya ke cafe yang telah dia pesan sendiri untuk mempertemukan ayah dan bunda Farrel dengan Metta.
Tak lama dia sampai, Dinda melirik jam tangannya, lalu kembali menatap pintu masuk cafe itu,
Dinda mendengus,"Kenapa aku selalu pintar dalam mengurus percintaan orang lain, tapi tidak pernah bisa mengurus kisah cinta sendiri. Rumit sekali!"
Beberapa saat Dinda menunggu hingga akhirnya melihat Metta yang keluar dari sana, wajahnya tidak bisa ditebak, Metta terlihat mengendarai motornya kembali, dia tidak peduli dengan hujan yang semakin membesar.
Dinda mengikuti laju kendaraan Metta, lalu dia mendial nomor teleponnya walau terbesit ragu dalam dirinya, hingga dering terakhir tak juga diangkatnya.
"Kemana dia?"
Dinda mencoba menghubunginya sekali lagi. Dan kali ini dia berhasil, Alan mengangkat teleponnya.
"Halo..., siapa ini? tanya Alan diujung sana.
Dinda gelagapan namun juga berjingkrak, tangan nya menutup mulutnya yang menahan suaranya agak tidak terdengar, kedua kakinya menghentak- hentak.
"Halo, bisakah kau menghubungi Farrel, katakan padanya kedua orang tuanya kembali menemui sahabatku, dan kembali membuatnya menangis! Lakukanlah sesuatu atau aku akan menyuruh sahabatku itu untuk menjauhi Farrel." Ancam nya.
"Siapa ini....?"
Tut
Dinda menutup sambungan teleponnya sebelum dia menjawab pertanyaan Alan, dengan nafas yang tersengal,
"Hanya mendengar suara nya saja, membuat dadaku berdetak kencang begini, dan aku sok mengancam begitu!" ucap nya dengan terkekeh.
"Sorry lagi Sha, aku tidak tahu ini akan berhasil apa tidak, semoga tidak memperburuk keadaan!" ucap nya lagi dengan pandangan sejurus pada laju motor yang dikemudikan Metta di depannya.
Tak lama dia menghentikan mobilnya, saat melihat Metta turun dari motor dan menangis sejadinya, dengan seluruh tubuh basah kuyup, lalu Metta terlihat berjongkok memeluk lututnya sendiri.
"Kasihan kamu Sha!" Dinda menatap sahabatnya dari dalam mobil.
Tak lama dia turun dan memayungi Metta, membawa sahabatnya itu kedalam mobil dan membawanya pulang ke Apartemen miliknya.
.
.
Alan yang mendapat telepon dari nomor tidak dikenal tampak mengernyit, dia mendial nomor Mac dan menyuruhnya datang.
"Ada Mac?"
"Mas Farrel pergi dari rumah...." Ucap Mac yang baru saja tiba di kantor Alan.
"Bocah itu sedang mencari masalah...." Alan masih berkutat dengan file-file diatas mejanya.
"Kau tahu dimana dia?" Mac mengangguk,
"Mas Farrel baru saja membeli sebuah Apartemen dikawasan x!"
" Awasi terus, jangan sampai dia berbuat yang lebih aneh lagi! Dan katakan padanya hubungi Bunda, ini berkaitan dengan wanita itu," Mac mendengus, seolah berkata kenapa tidak kau saja yang mengatakannya.
"Bagaimana dengan gudang Mas?"
"Kau fokus saja dengan Farrel, urusan itu biar Leon yang mengaturnya."
"Ijinkan aku ke markas hari ini!" ucap Mac kemudian.
Membuat Alan yang tengah menatap file kini beralih pada Mac, "Tidak usah, kau hanya akan membuat semua nya semakin kacau, mereka sudsh mengurusnya, tenanglah!"
Alan tahu Mac akan berbuat sesuatu dengan anak buah pria licik yang masih disekap di markas, itu sebabnya Alan tidak mau Mac datang ke markas. Karena sudah pasti Mac akan menghabisi mereka dengan tangannya.
"Mereka hanya dijadikan alat, sedangkan otaknya saat ini sudah tidak bersama mereka! Kita akan menjadi otak mereka nanti," Mac akhirnya mengangguk, meskipun dirinya masih menahan marah yang amat membuncah, namun perintah Alan adalah kewajiban yang harus dia kerjakan.
"Aku mengerti, kalau begitu aku pergi," Ucap Mac menundukkan kepalanya.
Mac kemudian berlalu dan kembali ke tempat dimana Farrel menenangkan dirinya.
Mac memberihukan pada Farrel semua yang Alan katakan, kecuali dari siapa dia mengetahuinya. Farrel semakin berang, dia merasa ayah dan bunda nya semakin menekannya dengan menyudutkan Metta.
Sementara Alan yang masih berada dikantor segera menghubungi seseorang,
"Cari nomor ini sampai ketemu!"
Alan mengirimkan nomor yang tadi menghubunginya, kepada salah seorang anak buahnya. Tak lama kemudian dia mendapat balasan yang berisi sebuah lokasi.
Alan mengernyit, pasalnya lokasi yang dikirimkan itu ternyata sangat dekat dengan apartemennya.
"Siapa dia? apa dia temannya..." gumam Alan.
Alan pun mengirimkan anak buahnya untuk mengawasi ke sana, 2 orang telah dia kirim untuk mengintai.
"Pastikan dia baik-baik saja!" ucapnya di sambungan telepon.
Tut
Alan meletakkan ponselnya diatas meja, perlahan dia menghembuskan nafasnya. Dengan memijit pelan keningnya,
"Urusan ku semakin banyak saja!" gumamnya kemudian.
Tak lama ponselnya kembali berdering, dia mengangkatnya tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"Katakan!"
"Pemilik nomor itu seorang wanita, dia masuk ke plat nomor 225, bersama kekasihnya mas Farrel. Berambut panjang cokelat, sepertinya di--...."
Tut
Alan menutup sepihak teleponnya, dengan mendengus dia merutuki anak buah buahnya yang memberi informasi yang tidak lah penting,
"Aku tahu dia seorang wanita, bahkan aku mendengar suaranya meneleponku tadi, masalah ciri rambut itu aku tidak peduli, dasar bodoh!"
Anak buah yang tengah berada di lobby apartemen milik Dinda pun mendengus kasar, "Bos kebiasaan, aku belum selesai dengan laporan ku! Dia sudsh menutup teleponnya, padahal aku ingin mengatakan wanita itu wanita yang sama yang tempo hari berebut topi denganku, dan sepertinya bos pernah memberiku tugas untuk menyelidikinya juga!"
"Kau seperti tidak tahu bos saja! sudah biarkan saja, katakan saja apa yang dia tanya, selebihnya jangan katakan apapun." ujar temannya yang duduk disampingnya.
"Kau benar, diam adalah emas, hanya menjawab apa yang bos tanyakan, selebihnya...."
Pria jangkung itu merekatkan ibu jari dan telunjuk yang digerakkan dari ujung sampai ujung bibirnya.
Bersambung
.
Jangan lupa like dan komen nya juga, terima kasih❤