Assistant Love

Assistant Love
Here She is 4



Alan berjalan masuk dan mendorong pintu yang ditunjuk petugas tadi.


"Astaga...."


Ingin rasanya dia yang mengamuk dan menghancurkan gedung itu sampai rata dengan tanah, menembaki orang-orang yang melintas dan menghajar petugas managemen dan tentu saja tidak akan lupa MENGHAJAR GADIS BODOH SIALAN.


Seorang perempuan berpakain lusuh dengan rambut acak-acakan berjalan mendekat,


"Kau temanku yaa..."


"Kau temanku...?"


"Apa aku punya teman?"


"Aku punya teman-aku punya teman-aku punya teman. hore-hore aku punya teman." Ucapnya dengan berjingkrak-jingkrak,


Menarik-narik kemeja yang dikenakan Alan dengan tawa yang terdengar dari mulut keringnya,


"Ayo bawa aku pergi dari sini, mereka akan membunuhku!" bisiknya.


"Aku mau lompat...hap." orang itu melompat-lompat. Lalu kembali menghampiri Alan, berlari lagi.


Benar-benar gila.


Alan menahan marah, amarah, emosi dan apapun itu namanya, tangan nya mengepal dengan gigi bergemelatuk. Ingin rasanya dia mencabut senjata api dan langsung menembaknya mati.


"Silahkan pak, bawa temanmu!"


Seketika Alan menatap nyalang pada petugas yang berbicara, "Dia bukan teman yang aku cari!"


Wajahnya merah padam menahan marah dengan urat-urat berwarna merah yang menegang. Sialan.


Alan berjalan keluar dengan cepat, menuju lift dan menekan tombol turun dengan keras. Dan masuk dengan kekesalan yang membuncah.


Sialan, dia membuat ku marah dan malu pada waktu bersamaan. Sementara dia kemana saat ini. Gadis brengsekk.


Alan keluar langung menuju plat milik Dinda. Menekan password lalu masuk kedalamnya.


Hening


Sama sekali tidak ada kehidupan, hanya jarum jam yang berbunyi. Tik Tok Tik Tok seolah mencibir padanya, dan jam dinding yang menempel disudut itu seolah tertawa padanya juga.


Sial kemana dia.


Alan kembali keluar dengan membanting pintu. Rasanya tenggorokan nya sudah mengering, ingin sekali dia meminum darah saking marahnya. Lelah


Dia masuk kembali kedalam lift, dan kali ini dia tidak peduli. Dia akan pulang, masuk Ke kamar mandi, berendam disana untuk menenangkan diri, dan tentu saja wine kesayangan yang hanya bisa menenangkannya.


Tidak akan dan tidak mau peduli kemana dan dimana Dinda berada saat ini. Never ever. (Tidak akan pernah).


Dia berjalan melewati basement, hingga bunyi klakson membuatnya kaget, dengan amarah yang membuncah Alan menendang mobil yang tengah melaju pelan itu.


"Brengsek kau cari mati!!" umpatnya kesal.


Sang pengemudi mobil berdecak heran, "Dasar gila, dia yang mencari mati!" ucapnya tak peduli dan memilih keluar dari basement.


Sialan


Brengsekk


Alan terus mengumpat sepanjang perjalanan menuju mobilnya, lalu masuk dengan membanting pintu mobil dengan keras. Brengsekk


Dia melajukan mobilnya dengan cepat, menukik tajam pada belokan basement dan keluar hanya dalam waktu hitungan detik saja. Mencengkram stir mobilnya dengan seiring giginya bergemelatuk.


Tak butuh waktu lama, dia sampai di pelataran parkir gedung apartement miliknya. Dan segera membuka pintu mobil dengan cepat lalu membanting kembali pintu mobilnya.


Alan masuk kedalam lobby, tak peduli dengan gadis yang tersenyum menyambutnya dibalik resepsionis, Alan terus melangkahkan kakinya sementara hatinya terasa dongkol sekali.


Dia


Gadis itu, gadis bodoh, ceroboh dan gila ada disana. Duduk berselonjor di depan pintu apartemen milik Alan dengan kepala tertunduk. Astaga apa yang dia lakukan disini.


Alan tertegun saat jarak mereka semakin dekat, namun sedetik kemudian amarahnya kembali memuncak, dengan satu tarikan dia menarik lengan Dinda hingga dia ikut bangkit dari duduknya.


"Kau ingin aku benar-benar membunuhmu hah?" Sentak Alan.


Membuat Dinda yang mengantuk itu membulatkan matanya seketika saat tahu Alan yang berada di hadapannya kini.


Namun Dinda menepis cekalan Alan, "Kau apakan pintu apartemen ku, sampai aku tidak bisa masuk! Hah...."


Tatapan mereka saling menajam, meskipun Dinda akhirnya merengus dengan kesal. "Gara-gara kau aku jadi tidak bisa ikut meet and great dengan salah satu penulis favorite ku, kau menggagalkan rencana ku meminta tanda tangannya. Hal yang aku rencanakan sejak lama, kau menyebalkan."


What the hell...(Apa-apaan)


Kau memikirkan hal seperti ini, sementara aku berlari-lari mencarimu. Damn it (Brengsekk)


Alan membuka password platnya dan mendorong pintu dengan kasar. Lalu mencekal tangannya dan menariknya dengan kasar menuju kedalam, lalu dia hempaskan begitu saja.


"Kau tahu kebodohanmu?" Ucapnya dengan berjalan maju.


"Apa kau pernah mengukur tingkatan isi kepalamu?"


Dinda melangkah mundur.


"Kau membuatku marah Akira. Sangat marah sampai aku ingin membunuhmu, saat ini juga." Ucap nya dengan rahang yang mengeras.


"Dan kau hanya memikirkan penulis kesayanganmu? Meet and great, hah?"


"Dimana fikiranmu? Ucap Alan dengan terus maju hingga Dinda tidak lagi dapat memundurkan dirinya. Dia menempel pada Dinding disamping pintu.


"Ke--kenapa ka--kau marah?" lirih Dinda.


"Bu--kankah seharusnya aku yang marah, lagi pula atas dasar apa kau marah saat ini?"


Deg


Bodoh kau AL.


"Tentu saja aku marah karena kebodohanmu!"


"Aku tidak pernah bertemu gadis sebodoh dirimu!!" Alan terus mendekat meskipun Dinda tak lagi bisa memundurkan dirinya.


Kau membuatku marah Akira, dan kau membuatku malu setengah mati karena mencari mu, bahkan berlari-lari sampai melakukan hal bodoh dengan mengatakan orang gila itu sebagai temanku. Batin Alan, dengan tatapan tajam kearah Dinda.


Kenapa kau semarah ini, harusnya aku yang marah. Kau yang membuat aku tidak bisa masuk rumahku sendiri. Kau yang gila, kau yang bodoh...Sangat bodoh. Dasar manekin, ternyata kau sangat menyebalkan. Batin Dinda.


Sesaat mereka tenggelam dalam fikiran nya masing-masing. Tanpa ada yang mengungkapnya, haanya batin yang berbicara an tercekat di kerongkongan.


"Aku sudah menuliskan nomor password yang baru, apa kau sebodoh itu hingga tidak bisa tahu itu?" Seru Alan membuyarkan keheningan diantara mereka.


"Kau yang bodoh, mana ada orang yang faham hanya dengan tulisan nomor saja, tanpa keterangan yang lain. Kau fikir aku detektif, " Sela Dinda tidak mau kalah.


"Yang benar saja, memang nya aku mengerti dengan note yang kau berikan. Minimal kasih keterangan, bahkan aku mengira itu nomor kode barang atau pemasangan lotere, jadi aku membuangnya." ucapnya mencebikkan bibirnya.


"Kau berani mengatai ku bodoh, lalu kau apa? Kau benar-benar ingin aku membunuhmu." Ucap Alan dengan menyentil kening Dinda.


"Otak dangkalmu itu yang tidak sampai, tidak berfungsi dengan baik." imbuhnya lagi dengan menekan kening Dinda dengan ujung telunjuknya.


Dinda mencebik, "K--kau...." matanya mulai memanas, dan pandangannya sedikit mengabur karena linangan air bening berkumpul diujung mata.


"Kau...terus saja memarahiku! Marah saja aku tidak peduli, aku sudah biasa diperlakukan buruk, bahkan mereka pun memperlakukanku buruk, dan kau. Siapa kau? Kau ingin membunuhku? Bunuh saja. Aku tidak peduli...." Dinda mendorong tubuh Alan.


Hingga tangisannya pun luruh sudah, membanjiri kedua pipinya, "Semua orang berteriak padaku, kau juga, semua marah padaku, kau juga,"


Dinda terus terisak, "Aku benci mereka, dan aku membencimu juga!!" tunjuknya tepat pada dada Alan.


Alan terdiam tak bergeming, entah apa kesedihan apa yang tengah disembunyikan Dinda, yang pasti hatinya ikut merasa sakit.


Perlahan Alan merengkuh kepala Dinda kedalam dadanya, tanpa kata...dan tanpa bicara. Hanya diam dan terdiam, menikmati isak yang kian berseru sedan.