Assistant Love

Assistant Love
Rumah Utama



Senyum mengembang dibibir kedua manusia unik itu, mereka tidak hentinya saling menatap, menelisik dengan malu- malu lalu tersipu. Membuat perjalanan kali ini terasa cepat, pertemuan kali pertama setelah perpisahan mereka.


Alan mengemudikan mobilnya dengan pelan, membuat Leon dan Jerry pun berdecak. "Pelan sekali dia membawa mobil, apa dia tidak tahu kita dibelakang kesal melihatnya!" gerutu Leon.


"Kau harus maklum, mereka baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah! Kau kan juga akan melakukan hal yang sama dengannya." Jerry menimpali Leon dengan kesal, beban hanya dia yang tidak mempunyai kekasih, seperti kedua sahabatnya itu.


Memilih untuk tidak berkomitmen memang tidak rugi baginya, karena dia bisa leluasa berkencan dengan siapapun yang dia mau.


Leon berdecih, "Tapi aku tidak sepertinya! Sahabatmu itu pandai dalam bidang apapun kecuali dalam urusan cinta.


Mereka tiba di rumah utama keluarga Adhinata, Dinda yang masih berada di dalam mobil mengedarkan pandangannya,


"Ayo ...!"


Gadis itu mencekal lengan Alan, "Tunggu ... tiba-tiba saja aku malu dan tidak berani menghadap bunda dan juga ayahmu."


"Kenapa? Karena kau pergi tiba-tiba?"


Dinda mengangguk, "Apa bunda marah?"


"Kau tidak usah khawatir, tidak ada yang akan marah padamu! Aku jamin itu."


Akhirnya merekapun segera masuk, disusul oleh Leon dan juga Jerry. Akibat kejadian sebelumnya, Ayu dan Arya tidak membiarkan mereka keluar dari rumah utama, sekalinya keluar maka Arya akan memberikan pengawalan pada mereka.


Alan menggenggam erat tangan Dinda, dan masuk ke dalam rumah yang pintunya tengah terbuka lebar itu. Ayu menoleh ke arah nya dan sontak berteriak. "Astaga ... siapa yang datang hari ini! Heeh...."


"Sardin...? Akhirnya kamu pulang juga," Ujar Metta yang berhambur ke arahnya dan memeluknya "Kemana saja sih! Pergi gitu aja, setelah aku melahirkan."


"Maaf Sha ... semua ini karena pria ini!" ujarnya dengan mendelik ke arah Alan yang berdiri di sampingnya.


"Kamu itu, bunda sudah pernah bilang kamu akan menyesal mencintai pria dingin ini!" ucap Ayu dengan mencubit lembut pipi Alan.


"Tapi dia anak bunda yang terbaik, iya kan sayang?" ujarnya lagi dengan memeluk Dinda.


"Maafkan anak bunda ya, dia memang berbeda, bunda harap kamu bisa mengerti. Dan memaklumi sifatnya itu." bisiknya ditelinga Dinda.


"Aku yang harusnya minta maaf bunda, aku pergi begitu saja, dan kalian tidak marah padaku."


Ayu mengurai pelukannya, "Siapa bilang tidak marah, bunda marah, bahkan sangat marah!"


"Bunda....?"


"Bunda marah padanya, bisa-bisa nya dia melakukan hal itu padamu, pasti kamu kecewa dan pergi begitu saja." ucapnya dengan mengelus lengan Dinda, "Kau harus menghukumnya!"


Dinda terkekeh, begitu juga semua orang yang berada di sana.


Syukurlah, sikap mereka padaku tidak berubah, dan aku beruntung mengenal keluarga yang begitu hangat ini.


Ayu mengajak Dinda untuk duduk, sementara Alan kembali keluar dan duduk di kursi luar, ditemani oleh Leon juga Jerry.


"Apa rencana mu sekarang Al?"


Leon menendang tulang kering Jerry, " Apa kau bodoh? Bertanya hal yang seperti itu, sudah jelas rencananya tidak perlu dikatakan juga kita sudah tahu! Dia akan me___"


Ucapan Leon terhenti karena kehadiran Farrel yang membawa serta Baby Shena, bayi itu menangis tiada henti, hingga Farrel merasa tidak bisa membuatnya berhenti menangis,


"Kau ini bagaimana, begitu saja tidak bisa!" ujar Leon yang segera mengambil Baby Shena dari tangan Farrel, namun masih terus menangis bahkan lebih kencang dari sebelumnya.


"Maaf aku tidak bisa membantu, naluriku sebagai Ayah belum keluar!" timpal Jerry, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Farrel.


Sementara Alan masih duduk dengan tenang, dia bahkan tidak terganggu dengan tangisan bayi itu.


"Aku harus memberikannya pada kakak!" ujar Farrel mengambil putrinya dari tangan Leon.


"Berikan padaku!" ujar Alan bangkit dari duduknya lalu mengenadahkan kedua tangannya.


Leon dan Jerry mengulum bibirnya, melihat kedua tangan Alan yang terlihat kaku juga mimik wajahnya terlihat datar.


"Dia akan semakin menangis jika kau yang menggendongnya bodoh!" seru Farrel, "Lebih baik kuberikan pada ibunya saja."


"Berikan padaku! Mana tahu dia langsung berhenti menangis! Lagi pula jika dia takut padaku, dia pasti langsung berhenti menangis."


Farrel tampak ragu memberikan Baby Shena pada Alan, "Ayo berikan, kau ini! Aku tidak sekejam itu pada bayi tidak berdaya!"


Akhirnya Farrel memberikan putrinya itu pada Alan, dia menerimanya dengan sangat kaku seperti robot, "Aku ragu, kau bisa saja menjatuhkannya."


Leon dan Jerry tergelak bersama, "Kau ini ... perhatikan tanganmu, dia itu bukan bayi robot!"


"Diam kalian, aku tidak menyuruh kalian bicara! Sudah sana ...!!"


Perlahan baby Shena yang berada di gendongannya pun berhenti menangis, bahkan sekarang terlihat mengeluarkan suara senang dengan tangan yang bergerak- gerak di wajah Alan.


"Lihat ... dia berhenti menangis!! Serunya dengan mengangkat baby Shena ke atas dan tertawa.


"Wow ... dia bisa begitu ternyata! Naluri ayahnya muncul sejak dini." gumam Leon yang kemudian tergelak.


"Bahkan mengalahkan ayah kandungnya sendiri!"


"Kau benar!!!"


Keduanya kembali tertawa, sementara Alan bermain- main dengan menggelitik perut baby Shena dengan menempelkan dagunya.


Farrel menarik senyuman dari bibirnya, Maaf sayang, papa harus membuatmu menangis dulu, agar uncle Al mu itu tidak terlalu kaku jadi manusia.


.


.


Sementara didalam, 3 wanita yang tengah mengobrol di ruang tamu itu silih berebut, berebut ingin bertanya pada Dinda tentang keadaannya saat ini, membuat Dinda menangis haru karena ternyata banyak orang yang peduli padanya.


"Hey ... kenapa menangis? Kau harusnya bahagia kan ... sebentar lagi rencana kalian akan diselenggarakan, bunda tidak mau ini ditunda lagi."


Metta mengangguk, "Benar apa yang dikatakan bunda, lebih cepat lebih baik! Apalagi ini impianmu sejak dulu kan...."


"Shaun ... udah deh! jangan bahas masa- masa aku masih polos dan bodoh!"


"Memangnya sekarang kau sudah pintar?" ujar sahabatnya itu.


Dinda mendengus kasar, "Awas saja ... sebentar lagi aku akan menjadi kakakmu, kau tidak akan berani kurang ajar padaku!" Ketiganya lantas tertawa,


"Kalau gitu, bunda tinggal dulu ya, mau melihat orang dapur apa sudah selesai memasak!"


Dinda dan Metta mengangguk dengan bersamaan, lalu kembali mengobrol.


"Mana anakmu? Dari tadi aku tidak melihatnya."


"Keluar sama Papanya! Dia itu paling anteng saat sama Papanya, ingat aku cuma saat haus dan juga Pampers nya penuh!"


"Benarkah?"


"Huum ... udah wajahnya mirip lagi!!"


"Semoga ketika besar nanti tidak ikut konyol seperti papanya," ujar Dinda.


Mereka kembali tergelak, "Rasanya kita sudah lama tidak tertawa begini Sha?"


"Huum ...! Lama sekali, makanya jangan kabur lagi ya,"


"Itu sudah pasti, my Sweety ice ku pun sudah mulai mencair dan mengalir."


"Apaan?" tanya Metta heran.


"Rahasia ...!" ujarnya kembali tergelak.


Metta berdecak, "Kau ini ... pengalamanku lebih banyak dari mu kalau soal itu!"


Dinda menggaruk cupingnya, "Iya juga sih!!"


"Tapi kamu lebih beruntung, tidak pernah mengalami yang aku alami dulu Din!"


"Heem Sha ... kau benar! Kalau enggak mana mungkin aku berada disini."