Assistant Love

Assistant Love
Kebodohan Alan (Davis)



Dia menahan tangan Dinda, "Kendalikan dirimu bodoh! Atau kau akan menyesal memancingku!"


Dinda memundurkan dirinya sendiri, dia menghela nafas lalu tertawa terpingkal, setelah sadar apa yang di lakukan nya.


"Maaf, aku terbawa suasana!"


Alan mencubit pipinya pelan,


"Makanya bersihkan fikiranmu, otakmu terlalu kotor!"


Dinda terkekeh, dia menggaruk telinganya, "Beruntung nya aku," gumamnya.


Tapi dia aneh, kalau di novel yang aku baca kan, sudah pasti habis dilahapnya, lagi pula kenapa aku bisa bersikap seperti seorang ja lang begitu, astaga.


"Lebih baik aku pulang, beristirahat lah!" Alan bangkit dari duduknya kemudian memakai jas nya kembali.


"Besok tidak usah bawa mobil, kita pergi bersama," ujarnya sambil berdiri.


Dinda mengangguk, Alan kemudian keluar dan berlalu dari sana.


Sementara itu Leon yang mendapat tugas dari Alan kini tengah memeriksa perusahaan Danuarta grup. Dia menghubungi nomor seseorang dan menyuruhnya untuk melakukan sesuatu.


"Aku tak tahu apa yang terjadi Al, tapi aku percaya, kau akan bertindak saat memang sudah seharusnya bertindak, kecuali masalah seorang wanita, yang aku tidak yakin." monolognya.


Keesokan pagi.


Dinda melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya, jam sudah hampir terlambat, namun Alan tak juga. menghubunginya.


"Jangan - Jangan dia tidak jadi menjemputku, apa lebih baik aku pergi aja, ah nanti dia kesini dan malah marah." gumamnya lagi.


Dreet


Dreet


Dinda merogoh ponsel dari dalam tasnya, nama kontak orang gila sudah berganti kembali menjadi My Sweety ice. Dengan bibir yang melengkung sempurna, Dinda menganggkat panggilan telepon itu dengan cepat,


"Halo...?"


"Maaf, aku tidak jadi menjemputmu! Aku harus mengurus sesuatu terlebih dahulu," ujar Alan.


"Oh...oke!" jawaban singkat yang belum selesai diucapkan, karena sambungan telepon telah diputus terlebih dahulu dari ujung sana.


" Ih... menyebalkan, sangat menyebalkan


.


.


Perusahaan ARR. corps


Alan berjalan tergesa- gesa masuk kedalam ruangan, Leon yang tengah duduk di sofa pun melonjak kaget.


"Al ... Kau sudah datang?" tanya Leon.


"Kau tahu, hari ini keluarga Danuarta mengajak kita untuk melakukan perundingan pertama."


"Kau melakukan apa sampai mereka ingin bekerja sama dengan kita secepat ini?" ujar Alan.


Leon terkekeh, "Aku retas sistem keamanan mereka dan mengirimkan seseorang untuk mengecoh keamanan mereka,"


Alan terlihat mangut-mangut, dia mengambil berkas yang dikirimkan oleh perwakilan dari perusahaan Danuarta.


"Ketakutan mereka ternyata besar juga!"


"Kau siap Le?" imbuhnya lagi


"Hm...sebentar lagi mereka akan masuk!"


Benar saja, sekretaris Leon mengetuk pintu dan masuk ke dalam,


"Pak, pihak perusahaan Danuarta sudah menunggu! Sudah bisa masuk sekarang?"


"Suruh masuk saja sekarang," ujar Leon.


Sekretaris itu mengangguk, dia lantas berlalu dari sana, tak lama kemudian tampak seseorang masuk kedalam ruangan,


"Permisi pak Leon, apa kabar?" ucapnya berbasa-basi.


Lalu beralih pada Alan yang kini berdiri menatapnya,


"Kau...?"


Alan mengangguk, "Silahkan duduk!"


"Maaf, tapi saya kesini untuk menemui tuan Leon, sebagai orang yang bertanggung jawab dan akan bekerja sama dengan perusahaaan kami. Tuan sendiri?" ujar Davis yang mempertanyakan peranan Alan dalam pertemuan itu.


Alan menarik tipis bibirnya, "Silahkan dilanjutkan, jangan hiraukan kehadiranku."


"Beliau adalah---"


Namun Alan sudah lebih cepat menyuruh Leon untuk tidak mengatakan apapun tentang dirinya.


"Baik Pak Davis, bagaimana jika kita mulai saja.


"Silahkan duduk Pak," imbuhnya lagi.


Benar saja, Davis Danuarta yang datang, dia menginginkan mereka melakukan kerja sama karena merasa terancam, dalam hitungan jam saja, perusahaan mereka di terror orang tidak dikenal, lalu data perusahaan di sabotase.


Davis menceritakan semuanya, Alan yang mendengarnya kini berseringai,


Kau dan keluargamu sudah melakukan hal rendahan pada wanitaku, sekarang rasakanlah itu.


Setelah mentanda-tangani surat kerja sama, Davis keluar dari ruangan, Leon mengantarkannya sampai di ambang pintu. Sementara Alan yang tidak mengubah posisi duduknya tergelak.


"Kau lihat wajahnya Le, banyak ketakutan disana!"


"Al, sejak kapan kau mau mengurusi hal-hal remeh begini, bahkan kau hanya duduk terdiam disini, hanya untuk memperhatikan wajahnya? Bodoh kau Al." Leon menggelengkan kepalanya, lantas dia kembali memeriksa berkas-berkas yang menumpuk.


"Aku hanya ingin melihat wajah nya dengan jelas."


"Itu baru kebodohan, apa yang terjadi sebenarnya sampai kau melakukan hal remeh seperti ini? Jelas sekali kau tidak tertarik akan kerjasamanya, kau malah tertarik pada orang dan sepak terjangnya."


"Kau benar Le, aku tidak peduli dengan kerja sama, kau yang mengurus nya," timpal Alan dengan cepat.


"Satu kebodohan parah yang pernah kau lakukan Al, yaitu menunggu, sejak kapan kau melakukan hal yang paling kau benci itu. Selama kita kenal, kau tidak pernah mau menunggu, selalu kita yang menunggumu!" pungkas Leon.


"Kau ini kenapa sentimentil sekali?"


Leon malah tergelak, "Aku baru saja menyadari, perubahan mu itu karena kau...."


"Bicara sembarangan, aku tidak akan segan-segan menghajarmu Le!!"


Kau benar Le, aku semakin bodoh setelah jatuh cinta pada gadis bodoh, sampai aku merasakan bodohnya cinta itu sendiri.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini Al?" ujar Leon kembali menatap sahabatnya,


"Aku belum tahu Le, yag jelas buat perusahaan nya tidak terkendali, kalau perlu hancurkan mereka."


"Wow, kau menyeramkan!"


Alan bangkit dari duduk nya, "Le aku pergi dulu!"


Alan berjalan keluar dan menghilang di balik pintu, dia lantas masuk kedalam lift yang terbuka.


Alan kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan.


"Aku jadi kesiangan kan jadinya! Dasar manusia kaku, manekin hidup, astaga!" gumamnya dengan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Dinda terus melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya,


"Mati aku, hampir satu jam aku terlambat,"


Jalanan pagi itu sangat ramai, tepat di jam -jam sibuk kantor, ditambah aktifitas lainnya yang bermacam-macam.


Mobil Dinda terhenti di lampu merah, dia melirik jam tangannya terus menerus.


"Astaga, mau sampai jam berapa coba ini?"


Lampu merah akhirnya berubah warna, perlahan rentetan kendaraan mengurai dengan sendirinya, begitu pun dengan Dinda yang menghela nafasnya panjang. Akhirnya.


Dia kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, bunyi klakson yang dia tekan berkali-kali dengan mulut yang komat-kamit menggerutu.


Namun jalanan kembali macet, "Sial banget sih hari ini." ujarnya dengan melirik jam tangan kembali.


"Dahlah makin males aku pergi ke kantor!"


Dreet


Dreet


Ponsel Dinda berdering, dia mengambil ponselnya, dan tiba-tiba mencebikkan bibirnya,


'Apa?'


'Kau dimana sekarang! kenapa belum juga sampai kantor?'


'Aku masih dijalan,'


'Oh.'


Tut


Dinda menatap layar putih itu, "Iihh... oh doang abis itu langsung di matiin!"


"Benar-benar ini manusia kaku! Apa aku harus memperkosanya, supaya dia tidak kaku lagi!"


"Nyebelin ... nyebelin....!!" gumam Dinda memukul stir kemudi.


.


.


Dinda masuk lift dengan tersungut-sungut, menekan tombol lantai bernomor paling atas dengan keras,


"Awas saja, sudah resmi berpacaran tapi masih kaku begitu, sudah berciuman pula," gumamnya, yang tiba-tiba tersenyum mengingat kejadian semalam yang justru dirinya lah yang tidak bisa mengontrol diri sendiri.


Astaga, memalukan


Ting


Lift terbuka, dengan menghentak high hills nya Dinda berjalan ke arah ruangan Alan, melewati koridor panjang.


"Awas saja, kali ini aku akan membalasmu!"


Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Tiwi yang tengah bercengkrama dengan seseorang.


"Itukan Doni?" gumamnya pelan.


Lalu dia berjalan mendekat ke arah ruangan staff, merapatkan tubuhnya dan mencuri dengar pembicaraan nya.


Ah tidak kedengaran lagi, mereka membicarakan apa? sepertinya serius sekali, ada urusan apa Tiwi dengan Doni. Aku harus lebih mendekat agar tahu apa yang mereka bicarakan.


Dinda berjalan perlahan-lahan ke arah mereka, namun seseorang mencekal lengannya dari belakang.


"Kau mau kemana?"


Dinda menoleh, lalu menghembuskan nafasnya panjang.


"Astaga Shaun, ngagetin aja sih! Aku kira siapa?" ujarnya dengan memukul lengan Metta.


"Heh, jangan membuat ulah, inget ini gedung utama, kesalahan sekecil apapun tidak bisa di tolerir lagi kalau disini." tukas Metta mengingatkan.


Dinda mendengus, "Iya aku tahu itu, baru saja aku melakukannya!"


Metta mengernyit, "Cari masalah terus hidup mu,"


"Aku terlambat juga karena menunggunya, jadi kalau aku mendapat surat peringatan dari HRD, akan aku pastikan dia yang akan menanggungnya!" ujarnya dengan mengepal tangan yang dipukul kan pada telapak tangannya sendiri.


Metta menggelengkan kepalanya, "Sudah tahu terlambat, kenapa masih ada disini, bukannya hari ini ada rapat?"


Kedua manik coklat Dinda membulat, "Celaka, kau benar! Aku lupa."


Kemudian dia berlalu begitu saja meninggalkan Metta sendiri, sementara Metta hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Sardin ... Sardin!" gumamnya lalu ikut berlalu dari sana.


Dinda berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Alan, dia masuk kedalam ruangannya namun tidak menemukan Alan di dalam.


Dengan menyimpan tasnya di sofa, Dinda melihat berkas-berkas di atas meja, namun juga tidak melihat berkas yang telah di siap kan nya untuk rapat hari ini.


"Celaka...."


Dia bergegas keluar dari ruangan.


Brukk


Dinda bertabrakan dengan Alan yang baru saja akan masuk. Tubuhnya limbung ke belakang, namun Alan memegang pergelangan tangannya hingga dia tidak jadi tersungkur.


"Kau ini hobi sekali terjatuh." ujar Alan yang berjalan masuk."


"Aku tidak tahu kau akan masuk, memangnya mataku bisa menembus pintu," sahut Dinda yang tidak jadi keluar.


"Dasar ceroboh." gumam Alan dengan berjalan ke meja kerjanya.


Ayah untuk apa kau menempatkan dia jadi sekretaris ku, aku bahkan harus menyiapkan semuanya sendiri. batin Alan saat mendudukan dirinya di kursi kebesarannya.


"Apa rapat sudah selesai?" tanya Dinda ragu-ragu.


Tunggu, aku kan berniat membalas ke-kaku-annya, kenapa malah takut saat melihat raut wajahnya. Astaga bodoh sekali aku ini.


"Sudah selesai setengah jam yang lalu." ujarnya datar.


"Aku minta maaf aku tidak ikut rapat,"


"Kau terlambat sekali, dan itu salah ku! Jadi kenapa kau minta maaf!" ujar Alan dengan membuka ipadnya.


"Jadi harusnya kau yang minta maaf!"


"Ya aku minta maaf!" ujarnya dengan datar.


Dinda berdecak, "Bahkan meminta maaf saja kaku begitu!"


Alan mendongkakkan kepalanya, "Lalu aku harus apa? menciummu....?"


.


.


Yuk jangan lupa like dan komen yang banyak, biar author senang dan semangat❤