Assistant Love

Assistant Love
Sekarang kau tahu



Alan menghempaskan kotak makanan itu diatas meja makan. Lalu menarik kursi dan menghempaskan dirinya. Perlahan Alan membuka kotak bekal itu dan mengernyit.


"Astaga...."


Kotak pink berisi nasi goreng yang dibentuk hati dengan taburan origano dan juga nori yang dijadikan mata, alis dan bibir yang mengungkapkan perasaan cinta.


"Sudah seperti bekal anak TK." gumam Alan.


Lalu dia menarik kursi dan menghempaskan bokongnya disana, memandangi kotak makan berwarna pink itu.


"Dasar gadis bodoh!" ucapnya menyingkirkan origano dan nori lalu menyendok nasi dan menyuapkan nya kedalam mulut.


Suapan pertama tidak berasa apa-apa, Alan menyendok lagi dan mengunyahnya, masih belum berasa.


Bodoh


"Apa dia tidak pernah menyicipnya masakannya terlebih dahulu? Dia memang hanya bisa masak mie instan saja."


Dia bergeleng kepalanya lalu bangkit dari kursi dan berlalu naik ke kamarnya. Masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah seharian beraktifitas.


Setelah selesai dia turun kembali dengan mengenakan jaket dan menyambar kunci mobil yang diletakkan diatas meja. Keluar dari plat nya lalu turun dengan cepat.


Sedetik kemudian dia telah sampai di mobil nya, lalu merogoh ponsel dan mendial nomor seseorang.


"Turunlah, waktumu 15 menit dari sekarang." ucapnya dengan cepat lalu memutuskan sambungan telepon begitu saja.


Sementara Disudut belahan lain, Dinda terlihat gelagapan, saat Alan menutup telepon nya


"Hah... lima belas menit? Dia pasti mengajak makan malam. Gawat nih aku harus pake baju apa?" ujar Dinda dengan membuka lemari pakaiannya.


Lalu dengan cepat dia mengganti pakaiannya dengan dress Floral berwarna biru langit yang sangat cocok dikenakannya. Lalu mengoles bibirnya hanya dengan lipbalm saja. dan sedikit bedak tabur di wajahnya yang sudah cantik.


Dia melirik jam tangannya lalu segera keluar dari platnya, membiarkan pakaian-pakaian berserakan begitu saja dikamarnya.


"Biar aku bereskan nanti saja." gumamnya sambil berlalu keluar dari gedung Apartemen nya.


Kedua iris coklat itu kini mengedar, mencari sosok tegap yang baru saja meneleponnya. Terlihat mobil mewah berwarna hitam, mendekat kearah nya dan berhenti tepat di depannya.


"Masuklah...."


Dinda masuk kedalam mobil yang tengah dibuka otomatis itu, lalu dia tersenyum kearah Alan dengan sangat manis.


"Kau meneleponku un--untuk apa?"


"Kau pasti mengajak ku dinner yaa, punya rekomendasi kafe baru yang melejit?"


"Tidak yaa....baiklah tidak apa, kita bisa mencarinya bersama." imbuhnya lagi.


Namun Alan tetap membisu, dia hanya melirik kearah nya dengan ujung matanya, lalu kembali ke jalanan di depan nya.


"Bener-bener manusia dingin." ucap nya dengan membuang muka.


Alan melajukan mobil dengan kecepatan sedang, tidak ada yang membuka suara, mereka hanyut dalam keheningan.


Namun Dinda yang tidak terbiasa dalam keheningan itu pun akhirnya membuka suaranya,


"Kau tahu tidak, aku sudah selesai membaca novel itu. Kau tahu, ada adegan dimana protagonis pria yang tadinya dingin menjadi hangat."


"Apa kau bisa menebak nya? Apa yang menyebabkan dia merubah menjadi hangat?" imbuhnya lagi.


"Terserah," jawabnya dengan mendengus kasar.


Tak lama Alan menghentikan mobil nya dan berhenti tepat didepan kafe kecil tadi sore baru ditinggalkannya.


"Wah seleramu bagus, kafe nya keren bertema vintage gitu yaa." ujarnya dengan melepaskan seat belt.


Alan tahu itu namun dia tidak sedikit pun peduli ocehan Dinda.


Dia turun, lalu masuk kedalam kafe yang masih terlihat sepi, hanya dua sampai tiga orang saja yang ada disana.


Dinda mengekor dibelakang, ikut duduk disamping Alan yang sudah terlebih dahulu mendudukkan dirinya.


"Siapa yang menyuruhmu duduk disini?" sorot alan padanya yang kini tertunduk lemah.


"Hah....."


"Kau memang bodoh Akira!!"


Kata-kata yang menyentak hati nya, dan membuyarkan lamunannya,lalu sedetik kemudian Dinda yang bicara sepanjang jalan kini hanya tertunduk.


"Memasang wajah menyedihkan, saat aku marah! Tapi tidak juga jera!" gumam Alan.


Tak lama dari sana seseorang menghampiri meja mereka dan mengajak Dinda untuk ikut dengannya, membuat dia heran,


"Ayo Mbak Akira, ikut saya!" ujar nya dengan berlalu pergi.


Dinda yang melirik kearah Alan, namun dia mengabaikannya, membuat Dinda mendengus panjang lalu bangkit dari kursi, dan mengikuti pelayan itu.aku di bawa-bawa begiini?


Tak lama dari situ, dia telah sampai diruangan dengan kepulan asap dari kompor dan wajan. Dia berada di dapur kotor sebuah kafe? Apa maksudnya?


"Ayo kita mulai!"


"Tunggu sebentar, aku ini mau disuruh apa? Kata siapa aku akan kesini."


"Kau tahu Nona kalau Pak Alan itu alergi nori?" ujar Pelayan wanita itu.


"Alergi nori? Ada juga yang begitu, dimana-mana yang ada juga alergi seafood, udang. Ada juga yang alergi tanggal tua, setiap tanggal tua itu pasti badannya gatal-gatal..." dia tertawa dengan terus melirik pintu.


Namun rupanya candaan nya itu tidak membuat pelayan itu tertawa, hingga dia akhirnya mengatup bibirnya.


"Garing yah!!"


Pelayan itu pun melanjutkan pekerjaannya, "Nona lihat ini.... Habis itu dimasukkan ini, lalu tinggal menghiasnya.


"Eiitt ...jangan lupa penyedap rasa."Ucap nya dengan memasukkan penyedap itu perlahan.


"Kau harus coba dulu, apa rasanya sudah pas atau ada yang kurang!" ujarnya nya lagi.


"Tunggu sebentar apa maksud nya aku disuruh belajar memasak?"


Atau dia ingin aku belajar memasak agar bisa memberinya makanan lebih enak lagi dari pada yang aku bikin tadi.


Dan Nori? Astaga, aku kan tidak mengetahuinya


Tak lama kemudian dia keluar dengan nampan berisi makanan selain mie dan nasi goreng buatannya. perlahan dia berjalan menghampiri meja, dan meletakkan satu buah piring,


Lalu dia mendudukkan perlahan tubuhnya,


Maaf tentang nori, aku tidak tahu kalau kau alergi, aku benar-benar tidak tahu.


"Jadi sekarang kau tahu?"