Assistant Love

Assistant Love
Pria baik hati



"Pria itu benar- benar ingin menguasai putriku sendirian! Padahal dia sendiri akan membuatnya nanti,"


Leon dan juga Jerry tampak terkekeh, "Bukannya bagus El ... kakakmu itu berubah lebih luwes saat bersama baby Shena, seperti aku saat sedang bersama baby Zi."


Farrel mendudukkan dirinya di sofa, "Itu jelas beda, kau akan jadi ayahnya cepat atau lambat, sedangkan baby Shen, dia putriku, mana bisa dia berfikir ingin mengasuhnya, dia kira bayi itu boneka."


Tak lama kemudian Dinda dan juga Metta kembali dari klinik kecantikan dan mendapati ke tiga pria itu tengah berkumpul di ruang tamu, Kedua mata Metta mengedar mencari Baby Shen, dan berakhir pada suaminya.


"Kakak kau sudah pulang?"


Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya, dia mendekat kearahnya, "Sayang mana baby Shen?"


Farrel menarik tangannya, "Sayang, sekerang kau tidak perduli padaku, yang kau tanya hanya anak kita,"


"El ... mana baby Shen?"


Dinda terkikik melihat pasangan itu, dia pun mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari pria yang sebentar lagi menjadi suaminya. "Alan juga tidak ada!"


"Dia bersama baby Shen dikamarnya!"


Kedua perempuan itu tampak lega setelah mengetahui keberadaan mereka.


"Heh ... kau harus cepat-cepat mengandung, agar dia tidak menguasai putriku!!" tunjuknya pada Dinda.


Glek


Dinda menelan saliva dengan riak wajah yang memerah, "Apaan sih!" gumamnya.


"El ... kenapa bicara seperti itu! Memalukan ih...!"


Dia menguasai putri kita sayang, dia ingin baby Shena tidur dengannya malam ini, sudah gila dia. Memangnya dia bisa menyusui sewaktu baby Shen membutuhkannya!"


"Farrel ... bicaramu Astaga!!!"


Sementara Leon dan Jerry terbahak saat mendengarnya, "Dia benar- benar sudah tidak sabar ingin menikah dan memiliki bayi!!"


.


.


Dinda terkekeh saat Alan merengut ketika Farrel dan Metta kembali pulang ke apartemen mereka dengan membawa Baby Shena yang sudah terbangun.


"Kenapa kau tertawa begitu hem?"


Dinda menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tertawa!!"


"Kalau bukan tertawa, lantas apa namanya?"


"Kamu itu lucu, kenapa tiba-tiba dekat dengan baby Shena, dan wajahmu juga bahagia saat menggendongnya! Kamu pasti sudah tidak sabar untuk memiliki anak yaa!!"


Alan membelalakkan matanya, ke arah Dinda, lalu melirik ke arah Leon dan Jerry yang tengah mengulum senyuman.


"Mana ada begitu!! Kau saja mungkin yang tidak sabar!" ujarnya datar lalu mendaratkan dirinya di sofa


"Heeem ... menyeramkan, padahal tadi saat dikamar dia sweet banget sama baby Shena."


Kedua pria itu terus mengoceh dan mengomentari Alan, seakan mereka puas melihat Alan memperlihatkan dirinya yang lain.


"Ayo mengaku saja lah! Kamu malu karena ada Leon dan juga Jerry kan?"


"Berhenti bicara! Aku tidak melakukan hal yang memalukan, jadi untuk apa aku malu?"


Dinda menggusel kedua pipi Alan, "Kamu lucuu banget!!"


Alan menatapnya tajam, membuat Dinda melepaskannya lalu terkekeh, "Sudah aku bilang jangan tertawa, apa salahnya jika baby Shena menginap dan aku yang akan mengurusnya."


Ketiganya serempak menjawab, "Jangan gila Al."


Dreet


Dreet


Ponsel Dinda berbunyi, nomor tidak dikenal muncul dari layar putih itu.


"Siapa?"


"Entahlah ... aku tidak tahu nomor ini!"


Alan bangkit dari duduknya, "Angkat saja, mungkin telfon itu dari pria baik hati yang kau tinggalkan begitu saja," ujarnya dengan melengos.


"Apa yang kau katakan?" gumam Dinda lalu melangkah mengikuti Alan.


"Aku mengatakan angkat saja, mungkin itu telepon dari pria baik hati yang kau tinggalkan." ucapnya dengan datar.


"Kau cemburu ... aku mengatakan hal itu karena panik! Jerry mengatakan hal yang membuatku takut."


Alan menoleh ke arahnya, "Jadi kalau kau tidak panik, kau tidak akan mengatakan hal itu dan aku tidak tahu apa-apa? Apa kau akan menemuinya di belakangku? Hem ... "


"Aku tidak bicara begitu!! Kau ini kenapa sih?"


"Aku tidak suka membicarakannya,"


Dinda mengernyit, dia memasukkan kembali ponsel nya yang masih berdering itu, "Kau yang mulai membicarakannya Al ... kau memang cemburu! Mana aku tahu nomor yang menghubungiku ini adalah dia!!"


Alan mendengus, "Mana ada aku cemburu! Kenapa aku harus cemburu?"


Dinda melingkarkan kedua tangannya di lengan Alan yang tampak kekar. "Al ... kita akan segera menikah, jadi aku mohon...."


.


..


.


Hai readers, Maafkan yaa, aku belum sempat balas komentar, terima kasih sebelumnya untuk like dan komen dan terus dukung karya receh ini.