Assistant Love

Assistant Love
Tamu yang menyebalkan



"Hai....Akira Dinda."


"Kau ...ada perlu apa lagi?"


Leon tidak menyerah, setelah pagi hari tidak berhasil mengajaknya untuk makan bersama, dia mencoba untuk mengajaknya makan malam. Meskipun jam sudah melebihi jam makan malam yang sering dihindari perempuan. Haisss


"Kenapa matamu?" tanya nya saat melihat kedua mata Dinda sembab.


Dinda menggelengkan kepalanya, " Tidak apa-apa, kau mau apa Leon?"


Leon gelagapan, dan menggaruk tengkuknya sebagai bentuk rasa panik yang tiba-tiba menyerangnya.


"A--aku ingin mengambil kemejaku, kau pasti melupakannya,"


Dinda menepuk jidatnya, " Astaga, aku melupakan kemejamu. Masuklah aku akan mengambilnya dulu,"


Tentu saja Leon mengangguk dengan cepat saat dia menyuruhnya masuk, "Hmm...." gumamnya menutupi perasaan senang.


"Duduklah dulu, aku segera kembali."


Dinda kemudian berlalu masuk kedalam kamarnya dan mengambil kemeja milik Leon. Sedangkan Leon masih menunggunya dengan pandangan mengedar dari sudut ruangan ke sudut ruangan yang lain,


Ruangan di apartemen ini memiliki ruangan yang sama dengan fungsi yang sama dengan plat milikku, tapi kenapa rasanya ini lebih luas dan menenangkan. batin Leon.


Tak lama Dinda keluar dari kamarnya dan berjalan menghampirinya dengan kemeja yang sudah rapi terbungkus paper bag.


"Nih kemeja mu," ujarnya dengan menyodorkan paper bag itu.


"Maaf ya Leon, aku terlambat mengantarkan nya, padahal aku sudah bilang akan mengantarkannya ke plat mu,"


Leon terkekeh, "Tidak apa-apa, lagi pula aku masih punya banyak stok kemeja kok, hanya saja ... aku tidak punya kemeja dengan warna yang serupa kemeja ini,"


"Gitu yah ... aku minta maaf ya."


Leon bangkit dari sofa, "Baiklah, sebagai permintaan maaf bagaimana kalau kau ajak aku malam malam,"


"Hah ...." sambil melirik jam yang menggantung di dinding ruangan.


Leon terkekeh, "Tenang, kita akan memilih menu makanan yang tidak mengandung karbohidrat, jadi kau aman, tidak usah khawatir berat badan yang naik karena jam makan malam sudah lewat."


"Bu--bukan itu, aku bahkan baru ingat ... aku belum makan sejak sore,"


My Sweety ice bahkan tidak sekedar basa-basi menawari ku makan. Huft


"Bagaimana?" Leon mencondongkan tubuhnya menghadap Dinda yang tengah melamun.


"Tapi aku malas keluar!"


"Hm...gitu yaa, bagaimana kalau aku yang memasak, kau punya bahan apa di lemari es mu?"


Leon melangkahkan kakinya kearah dapur, namun Dinda mencegahnya, dan mendorong tubuhnya menjauh dari sana.


"Aku tidak punya bahan masakan! Bagaimana kalau kita ke bawah, kita belanja dulu bahannya. Kau bisa masak apa? Spageti, pasta, potato wedges, atau sandwich, atau pancake." seru Dinda.


"Hm ... biar ku tebak, makanan yang kau sebut itu makanan favorite mu yaa!"


Dinda mengatup bibir dengan telapak tangan, "Haha ... iya, gampang di tebak ya,"


"Baiklah kalau begitu, serahkan pada sang ahli." Leon menepuk dadanya sendiri.


"Tapi aku tidak punya bahan-bahan untuk memasak,"


"Aku akan mengambil bahannya dari platku dan kita akan memasak disini, bagaimana? Atau sekalian memasak di plat ku saja."


"Tidak mau!"


Akhirnya setelah perundingan yang cukup alot, mereka akan memasak di plat milik Dinda dengan bahan yang di ambil dari plat Milik Leon.


Tak lama Leon kembali dengan membawa bahan-bahan yang dibutuhkan untuk memasak, dia langsung berkutat dengan peralatan seadanya milik Dinda.


"Kau punya alumunium foil kan?" Dinda menggeleng,


Aku hanya punya bungkus mie instant.


"Baiklah tidak apa, kita bisa menggunakan mangkuk ini." ucapnya


Lalu Leon memakai apron memasak, dengan cekatan dia mencuci segala macam bahan yang dibutuhkan. Asparagus, peterseli, lemon, juga oregano.


Sementara Dinda hanya menatapnya dari kursi, "Itu sih bahan yang jarang banget aku pakai, bahkan hampir tidak pernah,"


"Benarkah? ujar Leon sambil memotong-motong bahan.


"Berarti kamu tidak hobi memasak,"


Dinda tergelak, "Hm... begitulah,"


"Lalu apa hobimu?" tanya Leon dengan mulai menyalakan kompor.


"Membaca.... "


"Wow... berarti wawasan mu luas yaa?"


"Buku jenis apa yang sering kau baca? Berat nih ... pasti kamu pintar."


Dinda mengibas-ngibas tangan nya, "Tidak, aku bukan membaca buku, tapi aku baca novel,"


"Novel...?"


"Hmm... novel romance, action, pokonya semua aku baca."


"Aku punya teman yang hobinya sama denganmu, membaca novel,"


"Benarkah?"


"Hmm... kadang aku lihat dia membaca saat pekerjaannya tidak banyak, tapi sepertinya aku sudah lama tidak melihatnya membaca akhir-akhir ini," tukas Leon sambil menaburi garam pada daging salmon.


"Kau memasak apa?" selanya.


"Nanti kau akan tahu juga setelah matang, sampai dimana aku bercerita,"


"Sampai temanmu tidak lagi jarang membaca, Apa mungkin dia sibuk, aku juga kalau tidak sempat ya gak bisa, paling menunggu sampai waktuku senggang."


Dan tiap hari waktu ku senggang. Batin Dinda, lalu terkekeh.


"Hm... iya sih akhir-akhir ini dia sibuk. Bahkan kita jadi jarang bertemu," ujar Leon yang mulai menutup sajiannya dengan irisan lemon.


Dinda mengernyit, "Apa kau sedang merindukannya?"


Membuat Leon yang hendak membuka microwave itu tergelak. "Mana mungkin, teman ku itu seorang pria,"


"Benarkah? Aku kira yang membaca novel hanya wanita saja, pria juga ada?"


Tik tik tik


Leon menyetel waktu dalam microwave itu. Lalu membereskan meja dapur dan membuang sampah bekas-bekas bungkusan kedalam tempat sampah.


"Iya, ada juga. Meskipun tidak banyak juga mungkin."


Dinda mengangguk, "Huumm, wangi nya sudah tercium."


Leon menatap wajah polos Dinda, "Kamu cantik." gumamnya pelan.


"Hah...."


Leon langsung berpura-pura mengecek waktu yang tersisa dari microwave.


Tak lama kemudian Leon mengeluarkan hasil karya nya dari dalam microwave,


"Huum... wangi nya, "


"Makanlah," ucapnya mengacak pucuk rambut Dinda.


Membuat Dinda tersentak dengan gerakan cepat yang tidak diduganya, "Makasih ya Leon."


Leon mengangguk, lalu memotong daging salmon itu dan menyerahkan potongannya diatas piring milik Dinda. Dan dia terus melahap potongan makanannya.


Leon menarik bibirnya melengkung penuh,


"Kau lahap sekali, lapar apa enak?" Tanya nya dengan terkekeh


"Iya ini sangat enak." ujar Dinda sambil terus memakannya.


"Kau suka salmon?"


"Hmm aku suka," ucap Dinda tanpa melihat kearah laen bicaranya, dia terus menyuapkan isi sendok kedalam mulutnya.


"Kalau asparagus?"


"Aku juga suka," jawabnya cepat, "Hm enak sekali...."


"Padahal tadi aku kebanyakan menaburkan garam lho,"


Ujar Leon yang sama-sama menyuap.


"Tidak, ini sudah pas... aku suka,"


Leon terkekeh, "Bagaimana denganku, apa kau suka?"


"Huum...aku juga suk-- " Dinda baru mendongkak kan kepala nya, "Iiihh ... Leon!!" serunya kesal.


Leon tergelak, "Apa...." lalu menutup mulutnya sendiri menahan tawa.


"Iiihh..." Dinda mengatup mulutnya yang masih penuh dengan makanan.


Leon masih tergelak, "Kamu lucu sekali...."


"Diam, aku tidak mau bicara denganmu!!"


Leon semakin tergelak, Aku memang berharap kau menyukaiku, karena aku menyukaimu.


"Kau tamu yang menyebalkan."