Assistant Love

Assistant Love
Boomerang Cintya 2



Cintya terbangun dengan rasa sakit yang menjalar disekujur tubuhnya, remuk redam bagai tak bertulang, apalagi dibagian pangkal paha. Cintya merintih kesakitan, saat dia turun dari ranjang,


"Sialan, siapa yang membuatku seperti ini?"


Apa Miranda yang menjerumuskanku? pria-pria semalam membuatku menderita begini, awas saja kalian!


Cintya mengepal tangannya, dia menggapai apa saja untuk dijadikan pegangan, dengan tertatih dia berjalan kearah kamar mandi.


Cintya mengguyur tubuhnya dibawah shower, dengan kemarahan yang semakin memuncak. Merutuki semua orang, membuat dirinya semakin dikuasai emosi. Cintya lalu membersihkan dirinya, bahkan menenggelamkan diri didalam bathtube, berharap kemarahannya dapat mereda.


Dia keluar dari kamar mandi setelah hampir 1jam didalam sana, namun amarahnya tidak sedikitpun mereda, Cintya mengambil bathrobe dari lemari dengan kasar, lalu diapun memakainya, dengan sesekali menggerutu.


Umpatan dan cacian dia layangkan pada semua orang, pada hidupnya yang kelam. Pada takdir yang mempermainkannya, pada alam yang bahkan berbuat tidak adil padanya.


Tidak ada satu pakaianpun disana. Pakaiannya sendiri telah koyak tak berbentuk, dengan terpaksa dia memakai bathrobe nya untuk keluar dari hotel sialan itu.


Cintya menghentikan taxi yang lewat, dengan tergesa-gesa dia masuk dan menghempaskan tubuhnya.


"Jalan saja! aku punya uang, dan pasti akan membayarmu!" sarkas cintya, yang melihat supir taxi itu menatapnya dengan heran, seolah dia tahu tatapan dari supir itu menyepelekan penampilannya.


"Hentikan mobil." ucap Cintya saat melewwti sebuah butik.


"Kau tunggu aku kembali, tidak akan lama! Atau jika perlu kau ikut masuk denganku!" Cintya keluar dengan membanting pintu mobil, lalu masuk kedalam butik itu.


Supir Taxi terperangah, melihat Cintya bak seorang penderita gangguan jiwa.


"Kasian sekali, cantik-cantik tapi gila! aku harus ikut kedalam, dia pasti tidak akan membayarku, setidaknya didalam ada sanak keluarga ataupun teman yang bisa aku mintai pertanggung jawaban."


Monolog sang supir lalu bergegas turun menyusul Cintya.


Cintya menyambar dress sekenanya, tidak ada waktu untuk memilih dan mencari yang cocok. Dia menghilang dibalik fitting room. Cintya melemparkan begitu saja bathrobe hotel dan menggantinya dengan dress yang baru saja dia bawa. Tak lama dia keluar dengan penampilan lebih baik, lalu menghampiri kasir.


"Aku ambil yang ini!" Cintya menyerahkan kartu kredit pada kasir.


Dengan ramah kasir itu menerima kartu itu lalu menggeseknya dimesin.


"Maaf kartu kredit ini sudah limit ... tidak bisa lagi membuat transaksi!" ucap kasir tersebut pada Cintya.


Dia mendengus, lalu menyerahkan ID card nya pada kasir itu. "Simpan dulu kartu ini nanti aku akan kembali kemari!"


Wanita dibalik meja kasir itu menggelengkan kepalanya, "Maaf Nona tidak bisa!"


"Sialan...."


"Kau tidak percaya padaku?" kasir itu menggelengkan kepalanya.


"Aku akan segera kembali untuk menebusnya," ucap Cintya namun masih saja angkuh.


"Sudahlah, lebih baik Nona segera melepaskan dress itu dan segera pergi dari sini! Jangan sampai kami memanggil security untuk menyeret anda Nona!" ucap rekan dari kasir itu.


Hingga terjadi keributan antara Cintya dan juga kedua karyawan butik itu, terjadi saling tarik menarik dress yang dikenakan oleh Cintya yang terlihat mempertahankannya.


Seseorang perempuan nampak menghampiri mereka, dengan berjalan elegan, penampilan yang sangat anggun dan berkelas.


"Bu Dewi...." ucap salah seorang karyawan yang melihatnya.


"Ada apa ini?kenapa kalian begitu kasar terhadap pelanggan?" ucap Dewi pada kedua karyawannya.


"Maaf bu, tapi dia tidak bisa melakukan pembayaran, kami sudah bicara dengan sopan, tapi Dia ...."


Dewi mengarahkan pandangan pada Cintya, " Apa yang dia ambil?"


"Dress dan juga sepatu yang sekarang dipakainya Bu," ucap mereka.


Dewi terlihat mengangguk-ngangguk, "Biarkan dia pergi,"


"Tapi bu ....?"


Lalu Dewi menghampiri Cintya, "Siapa namamu Nak?"


Cintya enggan menjawab, dia hanya melihat sekilas, lalu melihat kearah lain.


"Aku pasti akan kembali untuk membayarnya, kalian tenang saja!"


"Sudah pergilah, anggap itu semua adalah permohonan maaf dari kami, karena ketidak sopanan kami padamu!" ucap Dewi dengan lembut.


Sementara supir Taxi yang melihatnya sedari tadi kembali masuk kedalam mobilnya, Dewi melangkah kembali masuk kedalam ruangan staff, meninggalkan Cintya begitu saja.


"Maaf Nona, jika anda tidak punya uang, lebih baik anda keluar dari mobil saya." sentak supir Taxi tersebut,


Cintya menohok, dia lagi-lagi mendapat serangan dari orang lain, bahkan orang yang tidak dia kenal sekalipun.


"Saya ini sedang mencari nafkah, silahkan turun!"


Lagi-lagi Cintya mendengus kasar, menyorot supir Taxi itu dengan nyalang, lalu dia keluar dari mobil dengan membanting pintu mobil.


"Sial sekali hari ini ...."


"Brengsek!!" umpatnya.


Tak jauh dari sana, Alan berjalan beriringan dengan Mac, lalu menatap Cintya yang tengah kebingungan.


"Cintya?"


Cintya menoleh, "Celaka ... ah tidak tidak bukan! ini anugerah."


"Pa--pak Alan?" Ucapnya gelagapan.


"Kebetulan pak Alan ada disini, bisakah Pak Alan menolongku? Aku kesulitan pulang, karena dompetku ketinggalan, bisakah Pak Alan mengantarku?"


"Masuklah!!"


Alan kemudian masuk kedalam mobil, Mac berlari kecil masuk ke belakang kemudi, lalu Cintya membuka pintu disamping Alan.


"Duduklah didepan Nona ...." ucap Mac tanpa basa-basi.


"Sialan, dasar supir kurang ajar! berani sekali dia menyuruhku."


Cintya masuk kedalam mobil, memasang seat beltnya, lalu Mac menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Pak, aku hanya akan mengambil tas kerjaku! bisakah Pak Alan menungguku sebentar, aku ikut Pak Alan ke kantor!" ucap Cintya menolehkan kepalanya kebelakang.


Namun Alan tidak menggubrisnya, netranya fokus pada ipad yang berada diatas pahanya.


"Sialan, selalu saja tidak menjawab jika ditanya! benar-benar susah mencair nih gunung Es."


"Mac, antarkan aku ke Apartemenku, Jalan Sudirman blok A." Ucap Cintya pada Mac yang tengah menyetir.


Namun Mac hanya diam, dia sama seperti Alan, tidak menanggapi maupun merespon apa yang di katakan wanita yang tengah mendengus kasar disampingnya itu.


"Mereka sama saja ternyata, tapi supir sialan ini tidaklah penting untukku!" Cintya terkikik


Tak lama kemudian, Mac menghentikan mobilnya tepat di Apartemen milik Cintya sesuai apa yang dikatakan Cintya.


"Aku hanya sebentar, tolong tunggu aku ya!" ucapnya seraya membuka pintu. Namun tidak ada jawaban dari kedua pria tersebut.


Setelah Cintya Masuk Apartemen, Mac masih terdiam, dia menunggu perintah.


"Jalankan mobilnya Mac...."


Mac pun melajukan kembali mobilnya sesuai titah Bosnya, membelah ruas jalan yang cukup ramai siang itu.


Tak lama kemudian Cintya kembali turun, dia memasang wajah yang ceria dan menggemaskan, senyum tercetak begitu saja di wajahnya yang cantik.


"Beruntung sekali bisa bertemu dengannya disana, dan sekarang menungguku, aku yang akan membalas kebaikannya." Cintya terkekeh.


"Ternyata kesempatan itu masih terbuka lebar untukku."


Dengan riang Cintya terus melangkah, dia mengedarkan kepalanya saat mobil Alan sudah tidak berada disana.


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini.


Terima kasih