
Lalu dengan satu tarikan Dinda membuka lembar itu.
"Aku dipindahkan?"
"Tapi kenapa pak?"
"Kinerja kamu selama bekerja di bagian divisi sangat buruk, sering terlambat, mangkir tanpa alasan yang jelas, dan ... ini parah," Dia membaca file berisi riwayat
kerja milik Dinda,
Ketua HRD itu menggelengkan kepalanya, "Kau sering meninggalkan ruangan saat jam kerja?"
"Apa itu benar? Kalau iya, kau dalam masalah besar!"
"It--tu karena aku...."
"Dan mereka memilihmu, aku tidak tahu kenapa mereka memberi kesempatan, menginginkan kamu naik ke gedung utama,"
"Aku pun sudah memeriksa Curriculum vitae milikmu, dan jika dilihat dari situ, sama sekali tidak masuk kriteria yang dicari," Kepala HRD terlihat menghela nafas,
"Semoga kamu tidak mengecewakan." imbuhnya lagi.
"Apa seseorang itu Pak Alan?"
"Bukan, Pak Alan itu orang yang perfeksionis, dia tidak mungkin sembarangan dalam menempatkan seseorang."
"Dan sekali saja berbuat sesuatu hal yang buruk, maka dia akan langsung menghubungi ku untuk menendangnya, persis dengan yang terjadi pada Cintya. Padahal dia sangat kompeten dalam bidang nya dan sudah menjadi sekretaris Pak Arya sekian lama." jelasnya lagi.
Dinda berkali-kali menelan ludah dengan penjelasan panjang lebar dari Kepala HRD yang memang terkenal super ketat dalam penyeleksian untuk orang-orang dibagian gedung utama. Jajaran terbaik dari seluruh karyawan yang ada.
Jika bukan dia, lantas siapa? Apa maksud semua ini? Kenapa aku harus dipindahkan kesana, yang tidak berkompeten dalam posisi dimanapun disana. Batin Dinda.
"Apa bapak yakin bukan pak Alan yang ingin aku pindah kesana?" tanyanya lagi.
Kepala HRD itu malah tergelak, "Memangnya kau punya apa? Kenapa Ketua asisten ingin kau kesana? Terlalu percaya diri."
.
.
Dinda keluar dari ruangan bertuliskan kepala HRD itu dengan memegang surat keputusan pemindahan kerja. Entah harus senang atau pun tidak. Yang jelas dia benar-benar tidak paham, kenapa dia harus pindah?
Dia kembali keruangannya, mengarah pada kubikel nya dan menghempaskan tubuhnya begitu saja. Metta menoleh kearahnya, lalu dia menghampiri nya,
"Kenapa tuh muka?"
Dinda tidak menjawab, dia hanya mengerdikkan bahu lalu menyerahkan amplop putih itu pada sahabatnya.
Metta mengambilnya, lalu dia mengeluarkan isi amplop itu dan membacanya.
"Wow... luar biasa! Kau pindah tugas ke atas? Selamat Dinda, akhirnya ... langkah mu semakin terdepan, ayo semangat." ujar Metta dengan tangan mengepal yang ditarik keatas.
"Semangat apanya? Aku malah merasa aneh jika aku bisa ke atas!" ujarnya dengan merengut.
"Lucky girl...." ucap Metta dengan tangan menepuk bahunya.
"Apanya aaahhhkkk...." teriaknya frustasi.
"Sudah sana packing barang mu, aku bantu yaa!"
Metta berlalu sebentar dan kembali dengan kotak boks yang akan di pakai untuk membawa barang Dinda yang akan dibawa.
"Sha, kamu yakin aku bisa bersaing diatas sana?"
Metta mengangguk, "Harus bisa, kalau tidak aku bisa meminta bantuan your Sweety ice mu itu. Iyakan?" cibirnya.
"Inget, jangan membawa kebiasaan buruk kalau udah disana, jangan keluyuran tidak jelas, dan jangan terus membaca novel online sampe lupa kalau kamu lagi kerja. Inget itu!" ucap Metta dengan kedua bola mata nyaris membulat sempurna.
"Aku sudah malas membaca novel, semenjak aku melupakan dia yang harus aku lupakan!" ujarnya dengan tangan yang sibuk memilah barang.
"Dih ... gaya mu! So melupakan, padahal menderita, pake ngaku-ngaku segala pacaran sma Leon, ketahuan tahu rasa nanti."
Dinda bangkit dari duduknya, "Tahu ahk, aku sudah tidak berharap apa-apa lagi."
"Aku pergi yaa." tukasnya kemudian.
Metta mengangguk, "Semoga beruntung."
.
.
Irama jantung tetap tidak terkontrol meskipun berkali-kali Dinda menghela nafas, menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan.
"Ayo Dinda, kamu pasti bisa!" gumamnya sendiri.
Dia menanti kotak besi terbuka, pasokan udara yang banyak telah disiapkannya, namun tangan nya mendingin, dengan dahi yang kini sedikit basah.
Panik, khawatir kini dia rasakan. Apa yang akan terjadi nanti jika dia menempati posisi yang sama sekali tidak pernah diketahuinya. Cara kerja, apa saja yang harus dia lakukan, sama sekali tidak mengetahuinya.
Ting
Pintu lift terbuka, Dinda masuk dengan langkah yang ragu. Kepala HRD sudah mengatakannya juga, dia boleh menolak, dan artinya itu surat pengunduran diri harus di berikan secepatnya. Hingga dia tidak punya pilihan lain, selain menerimanya.
Suhu lift pun terasa berbeda, lebih dingin dan mencekam, membuat dirinya semakin menciut saja, berbeda saat dia dulu sering kali bulak-balik hanya untuk mengantarkan berkas dengan tujuan melihat Alan. Kali ini benar-benar mencekam.
Ting
Pintu lift terbuka, Dinda melangkah keluar dengan mata yang sibuk menyisir seluruh ruangan dengan para karyawan yang hilir mudik. Bahkan tidak ada satu orang pun yang menyapa dirinya. Berbeda sekali dengan gedung divisi umum yang hampir 4 tahun menjadi tempatnya bekerja, sampai petugas cleaning service dan security pun berlomba menyapa dirinya.
Dinda berjalan menuju meja informasi, menanyakan prosedur yang telah diberitahu oleh kepala HRD.
Wanita dibalik meja informasi mengarahkannya untuk langsung naik kembali ke lantai paling atas.
Setelah melalui serangkaian proses panjang akhirnya Dinda diantar salah satu staf kepegawaian ke satu ruangan. Melewati lorong sepi dan panjang.
"Ini meja kerja sekretaris Pak Dirut." ucap staf kepegawaian itu datar, kemudian berlalu begitu saja.
Dinda membelalakan matanya, "Apa barusan? Sekretaris Dirut? Maksudnya Direktur utama?"
"Aku...?"Tunjuknya pada diri sendiri.
Merasa tidak percaya apa yang barusan dia dengar dari staf kepegawaian yang mengantarkan nya, menjadi sekretaris direktur utama?
Belum habis dengan rasa tidak percayanya, dia kembali dikejutkan oleh kemunculan sosok yang dia ingin hindari tapi begitu dia rindukan.
Alan yang baru saja keluar dari lift berjalan ke arahnya, eemmhh maksudnya pasti berjalan menuju ruangannya? Sosok Ketua Asisten yang selama ini menjadi tangan kanan Direktur utama. Sosok yang selama ini dia sukai.
Dinda membalikkan tubuhnya, lalu berpura-pura sibuk melakukan sesuatu ketika Alan melewatinya dan masuk kedalam ruangannya begitu saja.
Dinda menghela nafas, lalu mendudukan perlahan tubuhnya, semoga dia tidak menyadari ku.
Tiba-tiba intercom yang berada di mejanya berdering, membuatnya melonjak karena kaget.
Dengan ragu Dinda mengangkatnya, "Ha--halo...."
"Masuk keruanganku sekarang!"