
Tasya merengut, dia masih kesal pada Leon yang membawa baby Zi seenaknya, apapun alasannya. Dia menyimpan ponselnya di atas nakas begitu saja, dan kembali melihat baby Zi yang tertidur di box bayi.
"Sayang, tidur terus, mandi dulu yuk!" ujarnya dengan membuka tirai yang menutupi box bayi yang dikirim oleh ibunya dari paris.
Baby Zi menggeliat setelah Tasya mengganggunya, namun anak bayi itu bukan tipe yang rewel, sangat jarang sekali menangis kecuali lapar maupun pempers nya sudah penuh.
Maid mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar dengan mendorong stroller,
"Non, ini mau di simpan dimana?" tanyanya pada Tasya.
"Simpan saja di sana bi," ujarnya tanpa melihat sumber suara.
Maid mengangguk, dia membawa stoller dan juga beberapa bungkusan dan menyimpannya di lemari perlengkapan baby Zi.
"Lho bi? Kok beli pempers lagi? Memangnya stok sudah habis?"
"Tidak Non, stok aman kok, ini ada dari sejak Non pulang!"
Aku tidak merasa membeli semua barang itu, apa Leon yang membelinya, apa saat aku ke toilet, baby Zi menangis karena pempersnya penuh, dan Leon pergi untuk menggantinya. Astaga....
Tasya langsung menyingkapkan pakaian yang dikenakan baby Zi, dan melihat pampers yang dikenakannya, dan benar saja, bukan pampers yang biasa di pakai baby Zi.
Benar, berarti Leon yang menggantinya, dan aku salah faham padanya. Aku harus memastikan nya sekali lagi.
Dia pun membuka lemari perlengkapan baby Zi, dan melihat stok pampers yang biasa baby Zi gunakan, dan ternyata merk nya berbeda.
"Kenapa Non?"
"Bi ... jaga Baby Zi sebentar ya, aku harus pergi dulu!"
"Baik Non."
Tasya pun keluar dari kamar bayi dan menuju kamarnya sendiri, dia menyambar tas selempangnya dan juga kunci mobil. Tak lama dia keluar dari kamar dan turun menuruni tangga. Dia berniat menemui Leon dan meminta maaf.
Tasya masuk ke dalam mobil dan menyuruh security membuka gerbang rumahnya, dengan cepat.
'Percaya padaku, dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu tanpa alasan.'
"Kak Alan benar, Leon membawa baby Zi bukan karena tanpa alasan, tapi aku malah tidak mendengarkan penjelasan apapun darinya terlebih dahulu." gumamnya dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tasya menuju kantor ARR. corps, namun saat bertanya pada resepsionis, Leon ternyata tidak ke kantor hari ini. Kemana harus mencari Leon, akhirnya dia bertanya alamat apartemennya pada resepsionis, namun lagi-lagi dia tidak mendapatkan jawaban, karena resepsionis wanita itu tidak memberikan jawaban.
Tasya kembali masuk ke dalam mobil, dan melaju keluar dari basement perusahaan, dia akan bertanya pada Alan dengan mendatangi apartemennya.
Dreet
Dreet
Ponselnya berdering, Tasya menepikan mobilnya untuk menerima telepon,
'Kenapa bi? Baby Zi rewel?'
'Tidak Non....'
'Lalu apa bi? Aku sedang menyetir! Bisakah nanti saja teleponnya?'
'Tapi Non ....'
'Kenapa bi?'
'Itu ... di depan ada orang yang sedang menunggu non Tasya, kata yang berjaga, orang yang tadi pagi mengantarkan stroller baby Zi, non.'
'Leon....' gumamnya.
'Oke bi, suruh dia tunggu, eeh suruh dia masuk saja! Bilang aku sedang di jalan, sebentar lagi pulang!'
'Baik Non!'
Tidak lama kemudian Tasya sampai dirumahnya, dia melihat mobil Leon masih berada di sana, seketika senyuman terbit dari bibirnya, dia pun menghentikan mobil dan memberikan kuncinya pada security untuk dia masukkan ke dalam garasi, sementara Tasya berlari ke dalam rumah.
Eh ... Enggak berlari juga kali.
Tasya memperlambat langkahnya, tiba-tiba saja dadanya berdetak lebih kencang, bak akan bertemu kekasih hati. Namun Tasya segera menepisnya, dengan mengurut dadanya pelan dan menarik nafas perlahan
Ceklek
Tasya membuka pintu rumah, dan melihat Leon yang duduk tengah mengajak baby Zi bermain. Walau tidak terlihat wajah baby Zi namun dia bisa tahu baby senang dengan tangan yang meronta-ronta, dan kaki yang menendang-nendang.
Wajah Leon juga berbinar, dengan senyuman lebar dan kedua tangan yang sibuk bergerak. Membuat hati Tasya kembali menghangat melihatnya. Dia berjalan mendekati mereka, Leon menoleh ke arahnya.
"Sya ... sudah pulang?" ujarnya dengan tersenyum.
Tasya menempelkan telunjuk tepat di bibir Leon, "Suutthh ... aku sudah tahu semuanya! Aku yang salah karena terbawa emosi dan tidak memberikan kesempatan kamu untuk menjelaskan semuanya! Maafkan aku Leon,"
Leon menggenggam jari Tasya, "Jadi kamu sudah tidak marah lagi padaku?"
Tasya menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih Sya," ucapnya mengecup tangan Tasya.
"Oaa...Oooaa...."
"Ooaa ... Ooaaa...."
Kedua Netra yang tengah saling mendalami itu beralih pandangan pada baby Zi yang tengah menangis, lalu keduanya melepaskan tautan tangan dan menghampiri baby Zi.
Leon segera menggendongnya, dan baby Zi tiba-tiba berhenti menangis.
"Sepertinya baby Zi sudah mengenalmu uncle Le, buktinya dia langsung diam saat kau menggendongnya."
"Tentu saja, kita sudah saling mengenal, bahkan sejak baby Zi masih di dalam kandungan. Iya kan sayangnya uncle?" ucapnya.
Tasya tersenyum sumringah mendengarnya.
"Jadi benar bukan, anak itu anak Leon? Dan kalian menipu ku selama ini? Benar-benar luar biasa." ujar Erik yang tiba-tiba muncul dari luar.
"Kau salah besar Mas, sudah berapa kali aku bilang, dia---"
"Sudah Sya, biarkan saja! Kalau dia tidak ingin mengakuinya!"
"Tapi aku harus meluruskan masalah ini Le!"
Erik menatap keduanya dengan tatapan menyalang, melihat Baby Zi yang berada di gendongan Leon membuat darahnya mendidih,
"Kalian tidak perlu lagi menyangkal, aku sudah melihat semuanya, dan Tasya, lupakan Tes DBA itu, aku sudah tidak berminat lagi." ungkap Erik.
Tasya melangkahkan kakinya, namun Leon mencekal pergelangan tangannya.
"Biarkan dia bertindak sesuka hatinya!"
"Cih, kalian sama-sama menjijikan! Tidak Tiwi, tidak kau, dan kau Leon!"tunjuk Erik.
Tasya mulai berlinang air mata, apalagi menyebutkan nama sepupunya yang sudah meninggal.
Leon memberikan baby Zi pada Tasya, dia lantas mendekat pada Erik.
"Dengar Erik, kau sudah melakukan kesalahan besar, dan kau pasti akan menyesal seumur hidup!"
Erik mendecih,
"Dan kau tenang saja, saat kau tidak mengakui anakmu sendiri, aku yang akan mengakuinya."
Erik terbelalak, namun sejurus kemudian dia tertawa, "Dia memang anakmu, sejak awal dia memang darah daging mu, dan dengan bodohnya aku percaya apa yang dikatakan oleh Tiwi, dan kau Tasya! Kalian menipuku! Dan berhasil, tapi tidak untuk sekarang!"
Leon sudah mengepalkan tangan, dia maju untung menghajar Erik.
Namun Tasya sudah berlari menghampirinya, "Leon, sudahlah ... jangan membuang energimu untuk meladeni pria pengecut macam dia."
Erik berdecak, "Sandiwara yang bagus! Kalian memang cocok sebagai sepasang penipu!"
Bugh
Leon memukul rahang Erik, hingga dia tersungkur dan membentur pintu. Tasya mencekal lengannya, "Jangan Leon!" gumamnya.
"Pergilah Erik, sebelum aku memanggil polisi! Dan satu lagi, kau benar, anak ini adalah anak Leon, darah daging Leon, dia ayahnya ... bukan kamu! Kau puas bukan?"
"Sekarang pergilah jauh-jauh, dan jangan pernah kembali, aku tidak sudi melihatmu lagi, lupakan tes DNA tidak berguna itu, lupakan semuanya! Baby Zi bukan anakmu!"
Bukan hanya Erik yang terperanjat, bahkan Leon pun sama kaget dengan penuturan Tasya.
"Kau memang wanita Brengsekk Tasya!!" ujar Erik memukul pintu dan berlalu dari sana.
Seketika tubuh Tasya luruh ke lantai, dengan Baby Zi yang menangis dalam pangkuannya, begitu juga Tasya yang tidak bisa lagi membendung tangisannya.
"Kenapa dia terus muncul Leon, membuatku terus merasa sakit dan terhina, tapi lebih menyakitkan lagi dia selalu mengungkit tentang Tiwi, kasian dia!" ujarnya dengan memeluk Baby Zi.
Leon merengkuh pundaknya, "Menangislah untuk yang terakhir kalinya, setelah ini jangan pernah kamu tangisi dia lagi. Jangan lagi kamu fikirkan apa yang dia katakan, aku yang akan bertanggung jawab, aku yang akan menjadi ayah untuk baby Zi!"
Tasya mendongkakkan kepalanya pada pria jangkung disampingnya.
"Maafkan aku Leon!"