
"Aku mengawasimu?" ucap Mac dengan tatapan menyala ke arah Kemal.
"Mac...? Hentikan." sentak Dinda.
Lihat saja kalau aku bertemu dengan mu Al, menyuruh Mac untuk kesini dan merampas kebebasanku.
Kemal mendengus lalu pergi keruangannya, Dinda dan juga ayahnya duduk menunggu profesor Belatric keluar, sementara Mac berdiri membatu bak tiang. Mereka sama-sama menunggu kabar Sisilia dengan cemas.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan berseragan dokter lengkap keluar. Pramudya dan juga Dinda bangkit dari duduk dan langsung memburu dokter yang menangani operasi itu.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" ujar Pramudya.
Dokter Belatric menghela nafas, dia melepaskan masker miliknya, "Operasinya berhasil, tapi kita harus menunggu lagi, proses penyesuaian memakan beberapa waktu, hingga tubuh pasien benar-benar menerima benda asing dalam tubuhnya." katanya dengan jelas.
"Namun seperti yang sudah aku katakan di awal, ada kemungkinan terburuknya yaitu tubih menolak trans lantasi itu dan membuat pasien drop," sambungnya lagi.
"Kita berdoa yang terbaik untuknya, kalian bisa menunggu sampai pasien dipindahkan ke ruang pemulihan."
"Terima kasih atas penjelasannya dok."
Dokter Belatric mengangguk, "Kalau begitu saya permisi."
Dinda dan juga Pramudya saling merengkuh, berharap semua berjalan sesuai dengan apa yang mereka sekeluarga inginkan, walau Sisilia selalu fesimis dengan kesembuhannya.
Tak lama kemudian beberapa perawat terlihat panik, pasalnya kondisi Sisilia menurun, mesin mendeteksi jan tungnya terus berbunyi dengan nyaring. Mereka pun memanggil kembali doter Belatric dan juga Dokter Kemal.
Dinda dan Pramudya yang menunggu menjadi ikut panik, "Yah, bagaimana sekarang?"
"Kamu tenang ya, biarkan dokter yang menanganinya."
"Aku takut Yah!"
Pramudya tidak menjawab, dia memilih menyeka matanya yang mulai mengabur. Dokter Belatric dan juga Kemal bergegas masuk, dan melakukan tindakan pasca operasi
dengan kondisi Sisilia yang sudah dalam kondisi drop.
"Prof?" gumam Kemal,
"Tubuhnya bereaksi!" ujar Profesor Belatric.
"Dokter Kemal, lakukan anestesi,"
"Apa tidak terlalu berbahaya prof, pasien mengalami penggumpalan da rah,"
"Lakukan!"
"Baik prof,"
Setelah beberapa menit menegangkan berlangsung, mesin mendeteksi itu kembali normal. Profesor Belatric dan juga Kemal bisa menghela nafas dengan lega.
Hampir setengah jam meraka berada di dalam, Dinda dan ayahnya menunggu dengan cemas, bahkan lebih cemas dari sebelumnya. Hingga perawat keluar dari sana.
"Bagaimana Sus?"
"Sukurlah, profesor dan juga dokter Kemal 3fberhasil, kondisi pasien sudah stabil, tinggal menunggu dipindahkan ke ruang pemulihan."
Dinda memeluk ayahnya dengan menangis, tak lama perawatpun mendorong blankar dimana Sisilia terbaring tak sadarkan diri. Melihat hal itu Mac juga ikut bernafas lega.
Sisilia tersenyum lemah, tidak ada yang lebih membahagiakan dari hari ini dimana dia membuka mata, anak dan suaminyalah yang pertama kali dia lihat.
Mac menghubungi Farrel dan menceritakan semuanya, termasuk yaang baru saja terjadi, dia juga berjalan mengikuti langkah Dinda dan ayahnya menuju ruang pemulihan dimana Sisilia ditempatkan.
Dinda menoleh ke belakang, dan mendengus kasar karena Mac terus mengikuti,
"Sayang, biarkan saja. Dia hanya mengikutimu untuk memastikan keamananmu."
Aku ingin Alan yang melakukannya, mengikutiku sampai dia lelah, dan menungguku sampai bosan. Biar dia tahu rasa, dan bukan si Botak itu.
Kemal keluar dari ruangan dokter untuk memeriksa kondisi setelah Sisilia melewati masa kritis, dan dia melihat ke arah Mac yang selalu berada di jauh dari Dinda.
Siapa dia sebenarnya?
"Dokter, kami mau mengucapkan banyak terima kasih, terutama pada profesor Belatric." ucap Pramudya yang tengah duduk di bangku panjang didepan ruangan.
"Itu sudah tugas kami Mister, berterima kasihlah kepada Tuhan, karena dia yang menyembuhkan." ujarnya dengan pandangan ke arah Dinda, sementara dia sendiri mengalihkan pandangan ke bawah.
Pramudya mengangguk, lalu dokter Kemal kedalam ruangan, tanpa menghiraukan kehadiran Mac.
"Mac, kondisi istri ku sudah stabil, pergilah mencari makanan, aku lihat kau belum makan sejak kesini."
"Ayah, dia itu tidak pernah makan, dia hanya berdiri seperti pilar gedung!"
Pramudya menepuk lengannya, "Hust ... kamu itu!"
"Memang benar, sejak di indonesia, aku tidak pernah melihatnya makan, dia selalu berdiri seperti itu, entah lututnya terbuat dari apa."
Mac hanya menarik bibirnya tipis, meskipun Dinda terlihat tidak nyaman dengan keberadaannya, Mac tidak peduli sama sekali. Yang penting dia menjalankan tugas sesempurna mungkin.
Sementara di dalam, dokter Kemal tampak sumringah, melihat Sisilia yang sudah sadarkan diri itu, dia kembali memeriksa kondisinya, "Selamat datang kembali, bagaimana keadaanmu Miss?"
"Bagus! Kondisinya bagus." ucapnya saat memeriksa mesin yang silih berbunyi.
Dinda dan Pramudya kemudian masuk untuk melihat Sisilia, sementara Mac masih setia di luar.
Pramudya mendekati istri tercintanya, dia mencondongkan tubuhnya dan mencium kening nya. Sementara Dinda menghampiri Kemal.
"Bagaimana kondisi Mami?" tanya Dinda.
"Good ... Everything is good, kamu sekarang tenang, ibumu sudah melewati masa kritis dan tinggal pemulihan saja, harus beristirahat dari segala macam aktifitas selama 4 sampai 8 minggu,"
"4 sampai 8 minggu?"
"Heem ... kenapa? Kalian berencana pulang ke indonesia? Berarti harus minta persetujuan profesor."
Dinda mengibaskan tangannya berulang kali, "Tidak ... tidak bukan begitu!"
"Jangan memaksakan diri, kondisi ibumu masih harus kami pantau!" ujarnya kemudian.
4 sampai 8 minggu, berarti masih lama aku bertemu dengannya, aku tidak mungkin meninggalkan Mami, tapi....
"Kamu sudah makan?"
Dinda kembali menatapnya, "Sudah!"
Kemal tersenyum, dengan mengacak pucuk rambutnya, "Bagus, kalau begitu kamu bisa temani aku makan!"
Dinda menepiskan tangan Kemal dari kepalanya, "Heh ... mana bisa begitu!"
"Pergilah sayang, sekalian belikan minuman atau makanan untuk Mac!" seru Pramudya, yang membuat Kemal tersenyum.
"Baiklah, tapi ingat ... aku melakukannya karena ayahku yang menyuruhku, bukan kamu." ujarnya dengan telunjuk yang mengacung.
Kemal menangkap telunjuk itu dan menariknya keluar, "Ayo pergi!"
Mac melihat kearahnya dan langsung menatap jari yang terpaut dengan sedikit tarikan Kemal.
Namun Dinda terkekeh melihat sorot mata Mac yang semakin menatam ke arah Kemal.
"Kita jadi makan?" ujarnya sengaja.
Entahlah aku mendadak ingin mengerjainya, dia pasti akan melaporkan semua pada bosnya.
Dokter Kemal yang mendengarnya heran, namun dia mengangguk senang, dan dengan sengaja menggenggam tangan Dinda.
Mac maju dan memegangi tangan Kemal, "Sudah aku peringatkan! Jauh-jauh darinya!"
"Mac?" Dinda menarik lengannya, "Ini rumah sakit Mac, jangan membuat keributan!"
Mac mendorong tubuh Kemal dengan sdikit keras, "Kau faham ucapan ku dokter!" ucapnya ketus.
Pilar ini mirip sekali dengan bosnya! Menyebalkan.
"Ayo kita pergi!"
Dinda menarik tangan Kemal dan berjalan, membuat Mac semakin kesal, sementara Kemal tersenyum tipis dengan mengedipkan mata ke arahnya.
"Dia pacarmu yang pandai menembak itu?"
"Bukan, sudah ayo pergi!"
"Terus siapa dia?"
"Utusannya!"
"Wow ... keren sekali pacarmu itu, apa dia akan menembakku jika tahu aku denganmu?"
Dinda menoleh, dan melepaskan tangannya, "Dia tidak sembarangan menembak."
"Iya ... aku tahu, aku bercanda Nona! Galak sekali."
Setelah mereka keluar gedung rumah sakit, Dinda menoleh ke belakang, tidak ada Mac yang mengikutinya. Kemal membawanya ke sebuah kafe tak jauh dari sana, "Kau tidak takut kalau pacarmu menyusulmu kemari dan memergoki kita berdua?"
"Heh ... kita tidak sedang berselingkuh, aku hanya menemani mu makan, dan Mac ak--"
Ucapan Dinda terhenti saat melihat Mac sudah duduk di satu tempat di pojok ruangan, "Kapan dia masuk kemari?" gumamnya.
Kemal menoleh ke arah belakang, lau terkekeh saat beradu pandang dengan Mac, "Dia pasti sudah menghajarku, jika tidak kamu cegah! Kau lihat tatapannya itu? Seperti mau memakanku hidup-hidup."
Dinda pun terkekeh, Kau benar, dan aku jadi ada ide untuk mengerjainya.
Mac tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun, seakan merekam pergerakan dan apapun ucapan mereka untuk dia laporkan kepada bosnya nanti, walaupun Alan pada dasarnya tidak menyetujuinya, tapi ada Farrel yang mendukungnya.
"Mal ... mal kau suapi aku cepat!"
Kemal yang tengah menyantap makan siangnya itu mendongkak, "Mal? Astaga ..."