
Keesokan pagi.
Alan dikejutkan dengan kedatangan Leon yang tiba-tiba, dengan wajah penuh kepanikan dan juga terlihat khawatir.
Alan yang baru saja bangun pun merasa heran, apalagi melihat Leon yang langsung membuka lemari es dan menuangkan wine, menenggaknya begitu saja padahal hari masih pagi.
"Kau gila Le? Ini masih terlalu pagi untuk minum." ujar Alan yang menuangkan air putih ke dalam gelas dan menenggaknya hingga tandas.
"Aku membutuhkannya Al, hanya sedikit kan tidak apa-apa!" kilah Leon.
"Terserah kau saja, jangan merepotkanku jika terjadi sesuatu denganmu, karena kebiasaan burukmu itu!"
Alan kembali naik ke kamarnya yang berada di lantai 2, dia memilih masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual pagi nya. Sementara Leon masih setia dengan duduk di meja mini bar dan menikmati wine nya, meski berkali-kali Alan mengingatkannya, namun siapa yang peduli.
Setelah beberapa waktu lamanya Alan kembali keluar dan menghampiri Leon, dia sudah terlihat segar dengan balutan kaos T-shirt dan celana denim berwarna hitam.
"Ayah melarangku ke kantor ARR. apa ada perkembangan tentang Jerry?"
Leon menggelengkan kepalanya, "Jerry masih di periksa penyidik, untung saja kasusnya hanya karena kepemilikan senjata api, bukan sebagai pemain lama Al. Dan pengacara yang aku kirimkan juga berusaha agar Jerry hanya dikenakan denda saja, tapi belum tahu kelanjutannya." terang Leon.
Alan mengangguk, "Aku harus memeriksa markas Le!"
"Jangan lakukan itu Al, jangan konyol, polisi pasti sedang mengawasi pergerakan kita, kau tahu, aku baru saja merasa di ikuti seseorang! Tapi aku tidak tahu siapa yang mengikutiku."
"Satu lagi, kita sudah tidak berkaitan dengan bisnis yang satu itu, dan sekarang markas dijaga oleh anak buah Omar."
Alan menarik kursi di samping Leon, dan menghempaskan tubuhnya di sana, "Benarkah? Omar mengirimkan orangnya ke sini?"
"Huum... dia merasa harus melakukannya, karena gara-gara dia, Jerry ditangkap! Dia juga terlalu ceroboh, menggunakan maskapai penerbangan tapi dia dan anak buahnya membawa senjata api." ujar Leon.
Alan menghela nafas, "Jadi bukan karena keterlibatannya dalam bisnis jual-beli? Tapi karena kepemilikan senjata, mereka menangkapnya."
"Itu baru pemeriksaan awal, kau tahu kan mereka memang mengawasi kita dari dulu, namun tidak pernah menemukan bukti apapun! Semoga saja kasus nya tidak berkembang menjadi seperti yang kita takutkan Al."
Alan memgangguk, "Aku akan menikah!" ujarnya dengan mengolesi selembar roti dengan selai kacang.
Pruuppptt
Leon yang tengah menenggak wine mun tersedak, dia langsung menoleh pada Alan yang mengatakan hal tersebut tanpa ekspresi.
"Apa kau bilang? Menikah? Apa aku tidak salah dengar?"
Alan menggelengkan kepalanya, "Kau tidak tuli kan?"
"Kau bercanda kan? Mana mungkin kau akan menikah tapi wajahmu datar sekali, kau menikah apa hanya menghadiri undangan?" ujar Leon tergelak.
"Biasanya orang menikah itu wajahnya berseri seketika, saat membicarakannya pun dengan mata yang berbinar. Tidak seperti kau, wajah macam apa yang kau perlihatkan?"
"Lebih baik kau tutup mulutmu Le," ujar Alan menyumpal mulut Leon dengan roti yang baru saja dia olesi.
Alan bangkit dari duduk dan pindah ke sofa dengan menenteng ipadnya, lalu menyalakan ipadnya dan mulai memeriksa pekerjaannya.
"Al ... kau serius? Kau mau menikah?" ucap Leon dengan mengunyah roti dalam mulutnya yang penuh.
Alan tidak menjawabnya, dia hanya mengangguk dengan kedua bola mata yang sibuk ke layar ipad.
Leon menghampirinya dengan duduk disampingnya, "Kau benar-benar mau meninggalkan aku sendirian? Dasar tidak punya perasaan."
"Aku menikah Le, bukan pergi jauh!"
Leon mendengus, "Aku jomblo Al, aku juga ingin menikah!"
"Ya menikah saja, siapa yang melarangmu?" ucap Alan datar.
Ting
Tong
Bel berbunyi, seseorang baru saja menekan nya. Membuat Alan meninggalkan pekerjaannya dan membuka pintu.
"Halo calon suami? Kau sudah bangun?" ucap Dinda saat pintu terbuka.
"Ish...memangnya perlu alasan tertentu untuk menemui calon suami?" jawab Dinda yang melangkah masuk.
Leon yang tengah duduk menggulir ipad pun menoleh ke arahnya, begitu pun Dinda yang melihat ke arahnya.
"Hai Leon, kau sehat?"
Alan menarik tangan Dinda, "Tidak usah ditanya, kau tidak lihat dia ada dan masih hidup, berarti dia sehat-sehat saja," ujarnya dengan menarik kursi meja makan dan menyuruhnya duduk.
"Dasar kau, dia hanya bertanya seperti itu padaku, kau sudah kebakaran jenggot! Aku ssja belum menjawab apa-apa."
"Lebih baik kau pergi saja, kemana kek... jangan mengganggu ku!"
"Kau sudah akan menikah, biarkan aku menghabiskan waktu denganmu!"
Alan melempar satu buah jeruk yang dibawa Dinda ke arahnya. "Enyah kau dari sini!"
Dinds menggelengkan kepalanya, melihat tingkah laku kedua pria yang bersahabat itu meributkan sesuatu yang tidak penting.
Dreet
Dreet
Ponsel Alan berdering dan menampilkan nama Farrel dilayar putihnya. Dia lantas mengangkatnya.
'Ada apa?'
'Kau benar akan menikah? Kapan, aku harus menyiapkan kado istimewa untukmu! Karena kau telah berani melakukan langkah yang langka sekali!'
'Sialan kau!'
Farrel terdengar tertawa, namun dengan cepat Alan menutup sambungan teleponnya.
"Kenapa dengan orang-orang, apa tidak percaya jika aku akan menikah!" gumamnya dengan kembali mendaratkan bokongnya di kursi meja makan.
Dinda mengulum senyum, "Tentu saja aneh, kau ini mengatakan akan menikah, tapi wajahmu seperti seorang pria yang jomblo, tidak terlihat bahagia,"
"Hei ... wanita, jangan menyindirku!" seru Leon dari sofa di ruang tamu.
"Berani sekali kau menyindir pria jomblo!"
"Tidak usah kau hiraukan dia! Dia tidak laku makanya begitu!" ujar Alan dengan tangan yang bersidekap di dada.
Leon berdecih, "Sombong sekali kau ini! Sudshlah lebih baik aku pergi saja dari sini, daei pada melihat kalian berdua yang sama-sama aneh!"
Dinda mengulum senyum, dia menoleh ke aeah pintu dimana Leon menghilang setelahnya, namun dengan cepat Alan membalikkan kembali kepalanya hingga melihat ke arahnya saja.
"Kenapa kau terus melihat ke arah Leon, kau masih penasaran dengannya? Sedangkan calon suami mu ada di hadapanmu!"
"Sayang, bukan begitu! Aku hanya ingin memastikan dia keluar saja, jadi hanya kita tinggal kita berdua yang ada di sini." ujarnya dengan tangan yang melingkar di lengan Alan.
Namun Alan dengan lembut melepaskan tangannya, dia kembali mengambil ipad yamg ditinggalkan di ruang tamu, dan membawanya kembali ke meja makan.
"Ada yang harus aku kerjakan, kau tidak keberatan menungguku kan?"
Dinda menggelengkan kepalanya, "Tentu saja, aku akan menunggu sampai kau selesai."
Alan mengusap pipinya lembut, "Terima kasih!"
Dinda mengangguk, dia memilih bermain ponsel dan berkirim pesan dengan Metta sahabatnya, menceritakan kejadian semalam yang membuat dia senyum-senyum sendiri, namun seketika kedua alisnya mengkerut, Memang tidak ada romantis-romantisnya kalau di ingat-ingat, menyebalkan!
.
.
Penampakan novel terbaru, jangan lupa mampir ya dan tap favorite, like dan komen juga. Terima kasih❤