Assistant Love

Assistant Love
Malam macam apa ini?



Setelah pesta pernikahan selesai digelar, semua keluarga besar Adhinata kembali ke rumah masing- masing, begitu juga dengan sepasang pengantin itu, alih-alih menghabiskan malam pertama dihotel, Alan malah membawa wanita yang baru beberapa jam menjadi istrinya itu pulang ke apartemen.


"Kenapa tidak menginap disini saja?"


"Tidak usah, lebih baik kita pulang saja!" Jawab Alan dengan menggeret koper milik mereka berdua keluar dari kamar hotel.


"Kau memang aneh, orang lain yang baru menikah saja sengaja memesan kamar hotel untuk malam pertama mereka, atau bahkan langsung pergi bulan madu, ini malah langsung pulang! Tidak seru." Rungut Dinda.


"Sayang, sudah berapa kali aku katakan, aku tidak sama dengan orang lain, dan tidak ingin sama, kamu mengerti kan?" Ujar Alan dengan senyuman datar.


Dinda mengangguk pelan, dengan bibir yang dikulumnya. "Aku lupa sayang, kalau kamu itu memang tidak sama dengan orang lain!"


"Dan kamu masih ingin diperlakukan sama dengan pria lain yang memperlakukan istrinya? Iya kan...!" Ujarnya dengan meraih tangan Dinda, lalu menautkan jemarinya, "Aku harus bekerja keras untuk itu, maaf!" Ujarnya lagi dengan mengecup punggung tangan sang istri.


Dinda mengumbar senyuman, "Sayang ... tidak apa-apa, tidak perlu terus minta maaf juga kan!Masih saja kaku, padahal kita sudah menikah sekarang."


"Kau benar, hari ini kamu resmi jadi istriku, jadi ....!"


Dinda menghentikan langkahnya, dengan kepala yang menoleh ke arahnya, "Jadi ...?"


Ting


Lift terbuka, Dinda maupun Alan masuk kedalam kotak besi itu, dengan tangan yang saling menggenggam.


Alan menghimpit tubuh istrinya itu pada dinding lift, dengan tangan menyusup di pinggangnya lalu melingkar disana, membuat Dinda tersentak kaget, dengan gerakan tiba-tiba Alan.


Cup


Alan mengecup kening Dinda. "Terima kasih, kamu masih memberikan kesempatan padaku, setelah semua kesalahan yang telah aku perbuat."


Dinda melingkarkan kedua tangan dipinggangnya, "Itu bukan salah mu sayang! Kita hanya salah faham, itu juga karena aku yang cepat berasumsi tanpa kejelasan."


Kedua manik saling menatap menelisik satu sama lain, menyelami dalamnya cinta yang kini sudah bersatu dalam satu ikatan suci. Dinda berjinjit, menarik tengkuk Alan dan meluumatt benda basah itu dengan rakus, karena dirasa tidak ada pergerakan yang seharusnya Alan yang memulai nya.


Sedangkan pria yang tetap kaku itu tersentak dengan apa yang dilakukan istrinya, namun juga senang dengan Dinda yang inisiatif terlebih dahulu.


"Apa tidak salah? Seharusnya kan kau yang memulainya sayang!" bisik Dinda dengan menyapu ujung bibir Alan yang memerah.


Alan menyunggingkan senyuman, "Aku tahu kau juga tidak mungkin bisa menahannya kan."


"Iih ... dasar!"


Alan kembali melumatt benda kenyal yang merona itu, hingga pertukaran Saliva itu berlangsung lebih dalam.


Ting


Pintu terbuka, keduanya tersentak kaget dan mengubah posisinya masing-masing, Air muka Alan kembali datar, saat beberapa orang telah menunggunya didepan pintu lift.


Keduanya keluar dan Dinda tergelak, "Sayang wajahmu memerah!"


Alan hanya mendengus, lalu berjalan keluar hotel dengan menggandeng wanita yang baru saja dia nikahi. "Bisakah kamu tidak memanggilku dengan sebutan sayang? Terdengar aneh ditelinga ku."


Dinda menepiskan tangannya, "Lalu kau mau ku panggil apa?"


"Heh ... kenapa marah?"


"Tahu deh ah!"


.


.


Sesampainya di apartemen, Dinda yang masih tersungut itu langsung membuka pintu kamar, lalu terkikik sendiri, Nanti malam kita akan benar-benar tidur bersama, awas saja kalau aku yang harus memulainya duluan, tidak inisiatif, seperti tadi, kan menyebalkan.


"Apa yang kau pikirkan Hem?" Bisik Alan dengan menempelkan dagunya di bahu istrinya yang tengah melamun dengan tatapan ke arah ranjang.


"Ti__tidak! Aku tidak memikirkan apa-apa, mana kopernya? Aku akan membereskan pakaianmu."


Alan menyerahkan koper padanya, namun dia tetap memegangnya hingga terjadi tarik-menarik, Dinda melepasnya begitu saja.


"Apaan sih! Bercandamu gak lucu sa___"


Duh keceplosan lagi, dia kan tidak suka ku panggil sayang.


"Kamu masih marah?"


"Tidak, kan kamu tidak mau aku panggil seperti itu."


Grep


Alan menggendong tubuh Dinda dengan sekali hentakkan lalu memasuki kamar.


"Al ... turunkan aku!"


Alan membawanya ke ranjang dan menghempaskan tubuh istrinya itu, lalu dia ikut naik disampingnya.


"Hey ... kau mau apa?"


"Memelukmu ... memangnya tidak boleh!" ucap Alan dengan tangan melingkari pinggang Dinda, lalu menciumi lengan hingga bahu istrinya itu dengan gemas.


Gadis bermanik coklat itu mengulum senyum, Alan tampak menggemaskan saat tingkahnya bak seorang anak yang bergelayut manja.


"Hanya dirimu yang tahu!" ujarnya dengan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Dinda.


Tak lama kemudian, suasana menjadi hening, Alan maupun Dinda seolah mematung ditempatnya, sesekali hanya saling melirik satu sama lain.


"Eeuuh ... apa yang kamu pikirkan?" tanya Dinda.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu!"


Dinda mengernyit, "Bagaimana bisa kau sampai tidak tahu!"


Alan mengerdik, "Aku memang tidak tahu!"


"Maksudmu?"


Alan menghela nafas, "Lupakan!"


"Jangan-jangan kau belum pernah melakukannya!?"


Kedua mata Alan melebar, "Tentu saja, kau fikir aku seperti itu?"


"Lalu bagaimana?"


"Menurutmu bagaimana?"


Dinda memukul lengannya menggunakan bantal, "Kenapa bertanya padaku?"


"Kau memang benar, aku tidak tahu bagaimana cara memulainya?"lirih Alan pelan.


"Kau pikir aku tahu?"


Hening


Keduanya tampak terdiam kembali, lalu Dinda menyentak tiba- tiba, "Bagaimana kalau kita menonton saja dulu."


Alan menggaruk kepalanya, "Kurasa itu ide bagus!"


Dinda meraih ponsel miliknya dari atas nakas, lalu mencari situs situs khusus film dewasa,


"Tanganmu lihai sekali!"


Gadis itu berdecak, "kalau begitu kau yang cari!"


.


.


Untuk beberapa saat mereka hanya menonton, Dinda memeluk bantal dengan satu tangan memegang ponsel, sementara Alan berada disampingnya dengan memeluk lutut.


Mereka saling melirik, dan seketika Dinda melemparkan ponsel itu begitu saja.


"Menjijikan!"


Alan mengangguk, lalu mengambil ponsel dan menyimpannya kembali di atas nakas, "Aku mau mengambil air minum."


Alan yang gugup pun keluar dari kamar, dan menuruni tangga lalu menuju ke dapur.


"Apa yang harus aku lakukan?" ujarnya lalu menenggak segelas air putih.


Alan kembali mengisi air putih di gelas yang baru lalu membawanya ke atas.


"Minumlah!"


Dinda mengambil gelas itu dari tangan Alan, lalu meminumnya hingga habis, Alan mengambil gelas kosong dari tangan istrinya lalu menyimpannya diatas nakas.


"Lebih baik kita tidur saja,"


Dinda memperlihatkan deretan gigi gingsulnya lalu ikut merebahkan dirinya.


Mereka berdua menatap langit-langit kamar, rasa kantukpun seakan hilang entah kemana.


"Aku tidak bisa tidur!"


"Sama aku juga! Apa sebaiknya kita makan?"


"Tidak mau, kalau aku gendut nanti gimana?"


Tidak ada jawaban dari Alan, dia hanya mengangguk kecil.


"Bagaimana kalau kita minum Wine?" ujar Dinda bicara asal


Alan menoleh kearahnya, "Apa dengan minum Wine kita jadi tidak sadar dan melakukannya?'


"Mungkin saja! Secara orang-orang mabuk sering melakukan hal itu tanpa sadar."


Alan menghela nafas, "Kalau begitu aku tidak mau! Aku ingin melakukannya dengan sadar."


Malam pertama macam apa ini?