Assistant Love

Assistant Love
Aku mengawasimu



Malam harinya Alan tidak dapat menutup mata, janganlah tidur dengan nyenyak, rasa kantuk pun tidak ada, fikirannya terus mengingat apa yang dilihat dan di bacanya tadi.


Seluruh aset keluarga Adhinata, akan diserahkan kepada negara jika diantara mereka ada yang kembali melakukan bisnis ilegal itu.


Alan mengambil ponsel yang sudah lama tidak di nyalakan itu, lalu kembali menghidupkannya, wajah Dinda yang tengah tertidur dengan mulut menganga menjadi wallpaper ponselnya. Sekilas Alan menatap foto itu dengan ibu jari yang mengelusnya.


Aku merindukanmu.


Setelah puas memandangi wajah Dinda, Alan pun kembali dengan tujuannya menyalakan ponsel, yaitu menghubungi Omar.


Kontak rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu, walaupun polisi memeriksa ponselnya namun tidak akan pernah menemukan kode akses dari ponsel yang hanya terhubung dengan Omar.


Karena tentu saja, Omar adalah hacker terbaik, dan dirinya juga sering menjadi incaran. Maka untuk berjaga-jaga, Omar mem-protect semua akses dirinya. Dan memberikan nya hanya pada orang-orang tertentu saja.


Mereka memiliki kartu rahasia yang terselip di memory card itu dan kini telah Alan pasang, dan langsung terhubung otomatis dengan Omar.


'Halo Al ... gimana kabarmu? Kau sudah menghubungi, berarti kau sudah bebas?'


'Begitulah Omar!'


'Bagus, dan maaf aku tidak dapat membantumu kemarin Al!'


'Tidak apa, itu memang harus aku jalani, sebagai konsekwensinya yang harus aku terima.'


'Bagus, dan maaf aku tidak dapat membantumu kemarin Al!'


'Hm ... jadi apa yang kau butuh sekarang?'


'Jerry akan mengirimkan sesuatu untukmu, dan aku sudah putuskan Jerry akan ikut denganku!'


'Baiklah, tapi aku hanya akan menyimpannya Ok! Kalau kau membutuhkannya suatu hari nanti, maka ambil lah....'


'Terserah! Tapi aku tidak akan pernah kembali Omar!'


'Baiklah kalau begitu, kau tetap akan menjadi orang yang special buat keluarga kami, dan kapan pun kau butuh bantuanku! Bicaralah.'


'Thanks Omar!'


Setelah selesai berbicara pada Omar, Alan kembali mengeluarkan sim card yang hanya dia dan Omar yang memilikinya, lalu dia letakkan sim card itu di lantai, dan dengan sendirinya benda kecil itu meletup menjadi asap, bak petasan kecil.


Alan kemudian kembali membaringkan tubuhnya dan mulai terpejam.


.


Keesokan pagi


Semua orang sudah beraktifitas seperti biasanya, namun tidak dengan ketiga pria yang kini tengah berenang dihalaman belakang.


Arya melarang Alan masuk ke kantor, dan menyuruhnya untuk tetap di rumah.


"Tapi ayah aku bosan! Lebih baik aku ke kantor saja!"


"Tidak perlu, kau istirahat saja. Kau bisa mengistirahatkan kepala dan tubuhmu, lagi pula kantor hari ini tidak cukup sibuk, dan Farrel sudah menghandle semuanya dengan baik. Ayah juga akan disana untuk menbantunya."


"Maafkan aku Ayah! Aku selalu mengecewakan kalian!"


Arya mengelus bahunya, "Bicara yang benar! jangan bicarakan hal yang ngawur Al! Jelas kami kecewa, tapi bukan berarti kami tidak bisa menerima mu lagi kan?"


"Terima kasih Yah!!"


"Sudah sana, susul teman-temanmu berenang."


Baru kali ini Alan menatap ayahnya yang keluar dari rumah untuk bekerja, sementara dirinya harus bermalas-malasan, membuatnya semakin merasa bersalah.


Dia pun akhirnya menyusul dua sahabatnya yang tengah berenang, dihalaman belakang.


Dia hanya duduk di kursi, dan membaca Novel online yang sudah lama tidak dia baca, dan hal itu juga membuatnya mengingat Dinda.


Aku benar-benar merindukannya.


Tangannya menggulir aplikasi novel itu, dan mulai mencari novel favorit Dinda, mulai dari gendre romantis yang membuatnya mual, ataupun komedi yang sama sekali tidak membuatnya tertawa.


Seleranya bisa dibilang jelek, tapi aku benar-benar merindukannya.


Dia pun teringat dengan penulis favorit Dinda, satu buku yang pernah dia berikan sebagai hadiah untuknya, dan mulai mencarinya. Dab ternyata dia menemukannya.


Alan mengabaikan seruan kedua sahabatnya, dia hanya ingin melepas rindu dan dimulai dengan membaca apa yang Dinda baca, tak lama kemudian dia menemukannya.


Penulis receh yang tidak terlalu terkenal dengan karya yang cukup dibilang lumayan.


Satu novel yang menarik perhatiannya, yaitu novel romantis komedi, dimana alurnya menceritakan sosok pria yang mengejar satu perempuan.


Alan semakin tertarik saat membaca bab per bab novel online itu, Apa aku harus mengikuti tokoh pria di novel ini? Untuk membuat Dinda yakin kembali padaku? Tapi aku tidak mau ... ini menggelikan sekali, bagaimana penulis itu membuatnya, sungguh konyol.


"Al ... Aku pergi menemui Tasya dan ayahnya!" seru Leon dengan beranjak dari kolam renang dan memakai handuk lalu masuk ke dalam rumah.


"Al ... kau yakin dengan keputusanmu?"


Alan tidak menjawab, dia tetap menunduk menatap ponsel.


Jerry berdecak, lalu meninggikan suaranya. "Al ... kau dengar aku?"


"Hm ... telingaku belum tuli, apa? Kau mau keluar juga?"


"Katanya belum tuli, tapi kau tidak tahu apa yang aku katakan tadi!"


"Tinggal kau ulangi saja perkataanmu! Kau ini repot sekali."


Jerry mendengus, "Aku bertanya, apa kau yakin dengan keputusanmu Al?"


"Hm ... proses sekarang saja, aku tidak mau kau kembali menekuni bisnis itu, kau bekerja denganku seperti Leon nanti."


"Huh ... tidak punya pilihan, padahal Omar sudah memastikan penjemputan untukku!"


"Turuti perintahku Jerr!"


Jerry mengangguk tanpa bisa lagi membantah, lalu segera membawa laptop miliknya yang juga sudah dilindungi oleh Omar, lalu memindahkan semuanya ke tangan Omar.


"Jangan pernah berfikir untuk kembali lagi, apapun alasannya, karena keluarga ku yang jadi taruhannya." kata Alan.


"Sudah aku duga!" gumam Jerry.


.


.


1 minggu kemudian


Negara S


Dinda berjalan mondar-mandir didepan ruangan operasi, dimana sang ibu tengah menjalankan operasi transplantasi ginjal, profesor Belatric selaku dokter senior spesialis gin jal yang dibantu oleh dokter Kemal Harsa Baldaric.


Pramudya datang dengan tergopoh-gopoh, dia harus mengurus administrasi terlebih dahulu, kedua saling menangkup tangan, berdoa agar semua berjalan lancar.


"Ayah ... kenapa operasinya sangat lama!" Tanya Dinda.


"Kita berdoa saja! Operasi nya memang seharusnya 3 jam."


"Tapi ini sudah lebih 2 jam Ayah!"


Dinda semakin cemas, keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh ayahnya.


Tak lama setelahnya lampu berwarna merah kini berubah warna menjadi hijau, membuat keduanya yang tengah duduk bersandar itu bangkit dengan cepat.


Sosok tinggi dengan pakaian berwarna hijau dan mengenakan masker keluar dari pintu itu.


"Dokter Kemal? Bagaimana operasinya?"


Kemal membuka penutup kepala dan sarung tangan, serta masker di wajahnya.


"Sejauh ini lancar, tapi lebih baik kita tunggu penjelasan profesor Belatric." ucapnya dengan senyum yang hanya segaris di bibirnya.


"Profesor Belatricnya mana? Kenapa dia tidak keluar juga?"


Pramudya mengusap punggungnya, "Sabar ... mungkin sebentar lagi."


Kemal mengangguk, "Sedang memantau! Nanti juga keluar, kamu tenang ya." ujarnya dengan menggenggam tangan Dinda yang dingin.


Mac yang baru saja datang pun melihat kedua tangan itu saling menggenggam, dan dia mempercepat langkahnya.


"Lepaskan tanganmu tuan!"


Kemal mengernyit, menatap pria tinggi tegap dengan kepala plontos itu.


"Siapa kau?"


"Mac ... kenapa kau kemari? Apa Alan juga memerintahkan mu untuk selalu mengikutiku?"


Mec tidak menjawab, dia hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap sengit dokter Kemal.


"Apa kau tuli? Dia bertanya padamu! Huh ... melelahkan!"


"Lebih baik kamu dan paman duduk dan menunggu profesor keluar, aku harus ke ruanganku terlebih dahulu." sambungnya lagi.


"Terima kasih Dok!" sahut Pramudya.


Mac masih menatap tajam padanya, begitupun dokter Kemal.


"Aku mengawasimu!"