
"Apa kau lupa?" Alan melangkah baju, kearah Dinda.
Dinda melangkah mundur, "A--aku ti-tidak mengerti ...Apa, hutang apa?"
Sudah kuduga, dia memang tidak mengingat apapun. Dia berteriak dan mengumpat pada seorang pria waktu itu, bisa jadi dia pun lupa, dan mungkin dianggap angin lalu, dasar gadis bodoh. Dengan sok beraninya, ingin menyelamatkanku tempo hari, dengan trik menjijikannya itu. batin Alan.
"Baik akan aku ingatkan, mungkin kau akan ingat. Apa kau pernah datang ke club dijalan x belum lama ini?"
Dinda menggelengkan kepalanya, "Ingatanku sangat buruk,"
"Payah...Apa kau sering mengumpat pada seorang pria?"
Alan terus melangkah dengan pelan, Dinda pun mundur dengan perlahan.
"Aku tidak pernah mengumpat pada seorang pria, aku ini baik hati juga sangat menyenangkan, mana mungkin aku mengumpat orang lain," Dinda mengerdikkan bahunya.
"Kau tidak ingat dengan 2 pria yang memaksamu ikut ketika keluar dari club?"
"Aku ini tidak punya musuh, mana mungkin ada yang memaksaku begitu?"
Sebenarnya apa yang dia katakan? aku sungguh tidak mengerti, apa dia diam-diam mengikutiku! mana mungkin, apa dia mengenaliku? aku rasa dia tidak menyadari kalau ini aku, kalau pun iya dia pasti akan marah. Batin Dinda.
"Kau ternyata benar-benar payah, dan juga ceroboh!"
Entah kenapa Alan menjadi kesal, dia mengeratkan giginya hingga bergemelatuk, dengan rahang keras yang ditahannya.
Astaga, untuk apa aku mengingatkannya, dia bahkan tidak ingat apapun. Dasar bodoh!
Dinda terus mundur, hingga tidak ada lagi ruang untuknya, tubuhnya kini menempel ke dinding.
"Se-sebenarnya apa yang ingin kau katakan padaku, aku sungguh tidak mengerti!"
Alan menyentil kening Dinda, " Dasar gadis bodoh!"
"Kau tidak ingat siapa yang mengantarkan mu pulang dalam keadaan mabuk?" Sorot mata Alan semakin menajam.
Dinda berusaha mengingat, namun tidak ada yng bisa di ingatnya, dia malah semakin bingung.
"Memangnya aku pernah mabuk separah apa?"
Apa jangan-jangan My Sweety ice pernah melihatku? Kapan... otak bodoh, kenapa tidak bisa bekerja sama dengan baik saat ini.
"Kau benar-benar tidak mengingatnya?" ulang Alan ingin memastikan.
Dinda menggelengkan kembali kepalanya, dengan 2 tangan yang melambai didepan dadanya.
"Tidak ...."
"Buka tudung kepalamu!" ujar Alan dengan tangan yang sudah mengudara, siap untuk membuka tudung hoddie yang dikenakan Dinda. Sementara Dinda hanya menggelengkan kepalanya serta memegangi tudung hoddie.
Celaka, jangan sampe dia melihatku! Tapi aku sungguh ingin tahu apa dia mengenali aku sebagai karyawannya?
Alan menarik nafas, lalu dia berbalik dan meninggalkan Dinda yang masih mengatur nafasnya.
"Apa maksudnya?" Dinda menggosok keningnya.
"Hei...kalau aku sudah bisa mengingatnya aku akan memberitahukan padamu segera yaa!" teriaknya pada Alan yang terus menjauh.
Sementara Alan terus melangkah tanpa peduli teriakan Dinda.
Benarkan, dia benar-benar unik, apa dia gadis yang sama? Kenapa aku berharap dia itu gadis yang sama. Benar-benar gadis bodoh!
Alan merogoh ponselnya dari dalam saku celananya dan mendial nomor seseorang,
" Cari tahu tentang seseorang."
"Hem."
Alan kembali memasukan ponselnya kedalam saku, lalu masuk kedalam mobilnya, melajukan kembali kendaraan yang dia kemudikan kearah club malam.
"Berikan aku yang seperti biasa."
Lalu dia masuk ke Vip Room, mendaratkan tubuhnya disofa.
Seseorang terdengar mengetuk pintu dari luar, Alan hanya menatap sekilas lalu kembali menatap pada ponselnya.
"Tuan, apa mau aku temani?" ucap seorang waiters dengan mengerdipkan sebelah matanya.
Alan menatap dengan malas, "Pergilah, aku tidak sudi melihatmu disini!"
Sombong sekali
Seseorang berpakaian hitam-hitam menyuruh waiters itu untuk segera pergi sebelum dia mendapat masalah dari Alan yang terlihat kesal.
"Pergilah, layani tamu yang lain." ucap nya. Perempuan itu mengangguk, lalu menghilang secepat kilat.
"Maaf tuan, dia orang baru."
"Aku tak peduli." jawab Alan datar.
"Pergilah..."
Sepertinya tuan sedang kesal, lebih baik memang aku pergi. Dia menyuruh orang agar tidak ada yang masuk kedalam ruangan itu.
Sementara itu.
Dinda kemudian membuka paper bag yang diberikan oleh Alan, seketika matanya membulat tak percaya, bagaimana mungkin secara kebetulan dia memberinya topi yang memang tengah dicarinya.
"Ini sih namanya ikatan batin." Gumamnya sambil memeluk topi itu.
Lalu Dinda kembali menuju Apartemennya, dengan riang dia masuk kedalam unitnya, dia terus memeluk topi pemberian Alan.
Bahkan beberapa kali mengambil foto topi itu, lalu cekikikan memandangi foto dirinya sendiri yang memakai topi.
"Lucu kali ya kalau aku upload ke sosial mediaku." Dinda kembali terkikik.
Tangannya dengan lincah mengotak ngatik ponselnya lalu dia memposting hasil bidikan kameranya.
"Selesai...."
Topi keberuntungan sudah dalam genggamanku, semoga besok Dia yang menggenggam tanganku.
Caution yang dia tulis didalam foto yang dia posting.
Kemudian Dinda meletakkan ponselnya begitu saja diranjangnya, dia masuk kedalam kamar mandi masih dengan tawanya yang menggambarkan hati yang tengah berbunga-bunga.
"Ah, aku tidak sabar menunggu besok." ucap nya dengan memutar shower air.
Malam ini Dinda tidur dengan begitu lelapnya, memeluk topi yang baru saja dia terima dari Alan.
"Bagaimana mungkin, bahkan parfum seakan menempel di hidung ku. dan aku bisa merasakan kehadirannya disini." Ucapnya dengan menendang- nendang selimut hingga selimut itu terjatuh.
Dinda menautkan kedua tanganya, hingga berbentuk hati lalu diangkatnya, menjadikannya bak sebuah teropong, dan dia dapat melihat langit-langit kamarnya.
"Aku bahkan bisa melihat wajahnya dari sini!" ucap nya masih tetap terkikik.
Tiba- tiba dia teringat sesuatu, tentang halunasi dan kesadarannya yang terkadang sulit untuk dibedakannya.
"Apa...jangan-jangan!" ucapnya. " Ah, mana mungkin..."
Bersambung
.
.
Jangan lupa like dan komen, dukung terus karya receh ini Terimakasih