
"Kau yakin akan mengantarkanku? Lalu mobil ku bagaimana kak,"
"Biar itu jadi urusan ku." ujar Alan yang terus keluar dari Apartemen menuju mobilnya.
Mereka masuk kedalam mobil yang dikemudikan oleh Alan, lalu dengan cepat Alan melajukan mobilnya keluar dari pelataran parkir.
Dinda keluar dari gedung, lalu berlari hendak mengambil mobilnya, "Sial aku akan terlambat jika harus berlari 1 blok hanya untuk membawa mobil."
Akhirnya dia menghampiri motor yang terparkir dan di pastikan itu seorang ojek,
"Maaf Mbak tapi aku lagi menunggu orang!" ucap supir ojek online itu.
Dinda naik di belakang, "Batalkan saja, aku akan mengganti rugi dua kali lipat,"
Lalu akhirnya motor melaju dengan cepat, mengikuti mobil Alan dari belakang."Jangan terlalu dekat, nanti ketahuan!" ucapnya kemudian.
"Lah kita itu lagi ngikutin orang toh Mbak?" Seru nih ... kejar-kejaran!" Ujar supir tersebut dengan menarik gas motornya.
Mobil Alan terlihat masuk kedalam gerbang kawasan elite, Dinda yang diantar oleh supir ojek online itu pun ikut masuk, mobil belok kearah kiri, dia pun mengikuti dengan jarak yang tidak terlalu jauh agar tidak kehilangan jejak.
Hingga mobil Alan terlihat menepi di sebuah gerbang tinggi menjulang berwarna hitam, Dinda menepuk bahu supir berulang kali, menyuruhnya untuk ikut menepi, sang supir mengangguk dan berhenti di bawah pohon rindang hingga membuatnya tertutup dengan jarak yang lumayan.
Tasya turun dari mobil, diikuti oleh Alan yang juga ikut turun. Penjaga rumah Tasya membukakan gerbang untuknya,
"Kak, mau mampir dulu atau bagaimana?" tanya Tasya saat gerbang terbuka.
Alan melirik jam tangannya, "Seperti nya aku harus langung pulang, lain kali saja."
"Sebenarnya mereka ada hubungan apa sih?" gumam Dinda yang bersembunyi dibalik tumbuhan anak nakal sebatas dada.
"Kenapa tidak bertanya langsung saja Mbak?" ujar supir itu dari arah belakang.
"Hei, Kenapa Kau ikut-ikutan? Sudah diam saja di motor, nanti jika kita kepepet, kita sudah siap kabur."
Supir itu mengangguk, dengan jari telunjuk dan ibu jaeu hang digosok-gosok pelan."Siap Mbak, yang penting fulus nya sesuai,"
Dinda mendesis, "Kerja aja belum ... kau tenang saja, aku pasti akan membayarmu setimpal."
Supir online itu mengangguk lalu dengan cepat melompat ke arah motor dan menunggu dengan siaaga. Sementara Dinda masih terus mengamati dan juga mencuri dengar dari apa yang mereka katakan.
"Baiklah, lain waktu kakak harus mampir," ujar Tasya.
Alan hanya mengangguk, lalu kembali berputar untuk kembali masuk kedalam mobil, namun baru beberapa langkah Tasya memanggilnya.
"Kak, terima kasih! Lain kali aku akan dstang lagi mengagih janji mu yang tadi,"
"Janji? Janji apa yang dia ucapkan? Padahal saat denganku, tidak pernah berjanji-janji ria, yang ada mulutnya selalu terkunci, menyebalkan!"
Alan terlihat mengangguk, "Kabarin saja jika kau ingin datang, jangan seperti tadi. Bagaimana jika aku sedang tidak bisa?"
"Nah kan, dia bisa juga berbasa-basi dengan nya, sementara dengan ku tidak."
Meski Wajah Alan tetap sama tanpa ekspresi saat mengucapkannya pun, namun cukup membuat darah Dinda mendidih. Ada yang panas, tapi bukan api.
" Iya kak terima kasih ya, untuk yang tadi. Aku tidak menyangka kakak bisa melakukannya! Luar biasa." tukas Tasya dengan mengacungkan dua ibu jarinya kearah Alan, dia pun tergelak.
Namun sudut matanya memicing kearah kepala Dinda yang menyembul lalu sedetik kemudian menghilang.
Bodoh sekali! Apa yang dia lakukan. Batin Alan.
"Nah kan, Kenapa diam? Gak jadi pulang?" Ujar Tasya yang hanya melihat Alan diam saja.
"Hmm...tentu saja aku akan pulang,"
Alan mendekat dan memeluk Tasya, "Jangan menoleh, cukup diam saja sebentar!"
Tasya terkesiap, namun juga tidak bergerak, karena dia tengah mencerna ucapan Alan yang menurutnya terlalu aneh.
"Kau aneh sekali kak!" gumam Tasya yang tersadar Alan masih memeluknya.
Deg
Deg
Jantungnya ikut berirama, seiring hangatnya pelukan dari orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu.
Aku ingin lihat, apa kau masih berani mengikutiku seperti ini? Dasar bodoh.
"Kalau gitu aku pergi!" ujar Alan mengurai pelukannya pada Tasya.
Tasya mengangguk, mencoba menenangkan irama jantung yang masih bertalu, "Hati-hati kak!"
Alan kembali berjalan memutar dan masuk kedalam mobil, setelah sebelumnya melambaikan tangan dengan kaku.
"Dasar manusia kaku, memeluk saja kaku begitu, ditambah melambaikan tangan juga kaku!" Tasya terkekeh lalu berjalan masuk kedalam rumah.
Dengan menatap spion dalam mobilnya Alan melihat arah belakang, dimana Dinda bersembunyi. Lalau dia menancap pedal gas mobil dan melaju dengan cepat.
Sementara Dinda lagi-lagi kecewa dengan sikap yang ditunjukan Alan, dia naik keatas motor namun tak mengatakan apapun, hanya diam dan diam saja. Gak lama kemudian,
"Kita pergi Pak!" ujarnya dengan menepuk bahu supir online itu.
Mereka akhirnya kembali melaju, membelah jalanan yang sudah gelap, Dinda menghela nafas perlahan, menarik udara sebanyak mungkin, lalu berulang kali dihembuskannya.
"Ayolah Dinda, cukup sudah! Cukup...." Gumamnya pelan.
"Mbak, kita kan kembali mengikuti mobil itu atau kita menyusulnya duluan, mobil itu melaju sangat lambat."
"Tidak usah, kita tunggu dia sampai jauh, jangan sampai dua tahu kita membuntuti nya seperti ini!" ujar Dinda.
Terlihat supir itu mengangguk tanpa kata yang terucap. Sedangkan Alan memang sengaja melambatkan mobilnya, dia menarik tipis ujung bibirnya, dengan terus melirik kearah belakang melalui spion.
Lalu tiba-tiba dia menghentikan mobilnya tepat dipersimpangan jalan. Membuat supir online kaget melihatnya, begitu pun dengan Dinda.
"Jalan terus saja pak, Jangan mencurigakan, kita lewati saja mobil nya!" ujar Dinda.
"Baik Mbak...."
Alan keluar dari mobil dan menghadang laju motor yang dikemudikan oleh supir online itu, dia berdiri begitu saja membuat supir itu kaget dan mendadak menginjak pedal rem cakram nya dan membuat kepala Dinda membentur helm supir.
"Kau gila?"
"Ada yang lebih gila dari ku Mbak, pria itu tahu kita membuntuti nya." gumam sang supir.
"Turun...." Ujar Alan yang tiba-tiba saja sudah berada disamping Dinda.
Dinda mendekap tangan seolah tidak melihat dan mendengar suaranya.
"Kita jalan lagi pak!" sungut Dinda.
Alan mencabut kunci motor itu dari lubang kunci, dan menyimpannya dalam kantong jaketnya.
"Turun ... atau aku hancurkan motor ini!" Ucaonya geram.
Dinda berdecak dengan kesal, lalu turun perlahan, sementara supir sudah terlihat gelagapan hanya karena suara dingin dari mulut Alan.
"Masuk ke mobil!" titahnya kemudian.
Dengan mencebikkan bibirnya Dinda berjalan menuju mobil Alan. Namun langkahnya terhenti saat sang supir memanggilnya dengan keras.
"Mbak....? Belum bayar ongkosnya!!" seru supir ojek online itu dengan takut-takut.
Sementara Alan masih tetap ditempatnya, Dinda menoleh, dengan cepat dia berjalan kembali kearah supir itu.
"Karena kita gagal, dia yang akan membayar uang ongkosnya," ungkap Dinda yang setengah berbisik..
Lalu dia kembali melewati Alan yang masih menunggu,
"Hei, kau bayar uang ongkos pada supir itu!" ucapnya dengan cepat lalu masuk kedalam mobil dan membanting pintu nya.
Alan menggelengkan kepala, dia menyerahkan kunci dan sepuluh lembar uang yang dia ambil dari dompetnya.
Alan lalu mengembalikan kunci dan sejumlah uang itu pada supir ojek online, "Lain kali jangan sembarangan membawa seorang perempuan!"
.
.
Jangan lupa like dan komen, Maaf juga kalau author suka telat balas komen, wkkwkw...