Assistant Love

Assistant Love
Keberuntungan



Suara deheman mengagetkan Dinda.


Dinda menolehkan kepalanya kearah suara, Alan berdiri dengan satu tangan yang dia masukkan kedalam saku.


"Sial, kakiku seperti menempel dilantai!"


"Hei, minggirlah, kau menghalangi jalan kami!" Seru cintya yang berada dibelakang Alan.


Namun Dinda seolah tersihir, dia hanya mematung menatap Alan, tanpa berkedip bahkan mulutnya sedikit menganga.


Sedangkan Alan hanya berdiri tanpa ekspresi, tanpa menoleh sedikitpun pada Dinda. Alan kemudian berjalan kembali masuk kedalam ruangan Farrel.


"Astaga, jantungku terasa mau copot!" Ucapnya dengan satu tangan yang mengelus-ngelus dadanya.


Kehadiran Alan membuat suasana di ruangan nya menjadi riuh, Dinda mendelik kepada setiap orang yang dengan sengaja melihat kearah ruangan Farrel.


"Hey ... Hey... biasakan saja matanya, gak usah melotot gitu!" ucapnya saat rekannya melihat Alan masuk kedalam ruangan Farrel.


Dinda mendengus, "Hanya aku yang boleh ngelihat dia." Dinda lalu terkekeh.


Dinda mendekati Metta, lalu berbisik. " Sha, ada yang harus dianterin ke ruangan manager gak?"


"Astaga Udin! kebiasan deh." Metta menoyor kepala sahabatnya.


"Sialan sakit!"


"Syukurin," Metta berlalu menuju ruang fotocopy, meninggalkan Dinda yang masih mengelus rambutnya.


.


.


Dinda benar-benar pindah dari Apartemennya, dia menemukan Apartemen yang lebih baik dari pada Apartement sebelumnya. Saat dia tengah mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobilnya, dari kejauhan dia melihat Alan yang tengah turun dari mobil.


"My Sweety ice! benarkah itu dia?"


Dinda terperangah saat melihatnya, namun Alan tidak sendiri, dia menggandeng seorang perempuan dewasa.


"Sama siapa dia? Aku harus memastikannya." Dinda kemudian mengikuti Alan dari kejauhan,


"Ini kan tempat aku dan Metta melihat Farrel dan seorang perempuan? benar apartemen ..." ucap Dinda mengangguk-nganggukkan kepalanya.


Saat itu dia terus mengikuti Alan dan perempuan dewasa itu yang masuk kedalam kamar.


"Astaga, mereka ....?"


Dinda masuk melewati lorong Apartemen, hingga tepat didepan kamar Alan.


"Aku harus tahu mereka sedang apa disini." ucapnya sambil mengendap-ngendap,


Dinda menempelkan telinganya dipintu kamar Alan, berharap mendengar sesuatu, namun Apartement itu termasuk apartemen mewah, jadi tidak mungkin tidak memakai peredam suara.


Saat tengah menempel itulah pintu kamarnya terbuka, perempuan yang dia lihat tadi kini berdiri di hadapannya dan tengah melihatnya dengan tajam.


"Siapa kamu?" ucapnya kearah Dinda.


Dinda seketika gelagapan, " A-aku ...."


"Ada siapa Bun?" seru Alan yang langung memburu Ke ambang pintu.


"Bun?" sesaat Dinda memejamkan matanya, dia menunduk ketika Alan melihatnya dengan heran.


"Siapa kamu?" pertanyaan wanita yang dipanggil Bun itu dia ulangi.


"Sial ...! aku harus jawab apa."


"Dinda berpikirlah ayo"


"Mmphh, maaf saya sales kartu kredit. Mau menawarkan pembuatan kartu kredit dengan anjungan rendah pada kalian. Barangkali kalian berminat?" ucapnya asal.


Bruk


Seketika pintu kamar tersebut tertutup dengan keras. Meskipun Dinda kaget namun dia lega karena dia tidak ketahuan.


Dinda pun membuka topi yang dia gunakan kemudian berbalik dengan cepat.


"Astaga, hampir saja ketahuan, untung otakku berfikir dengan cepat." gumam Dinda pergi menjauh dari sana.


Dinda kembali ke Apartement barunya yang ternyata hanya berjarak beberapa kilo saja, dan masih bisa dilakukannya dengan berjalan kaki.


"keberuntungan memang berpihak padaku!" Dinda terkekeh dengan menggeret koper menuju kamarnya.


Tiba-tiba Dinda menghentikan langkahnya, "Tunggu sebentar, rasanya aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana?"


Dinda mencoba mengingat- ngingat dimana dia pernah melihat wanita yang tengah bersama Alan. Dan rasanya dia merasa belum lama ini melihatnya.


"Ayo berpikirlah, dimana." Dinda menjentik-jentikkan jarinya. Namun dia sama sekali mengingatnya.


Dinda pun melanjutkan langkahnya yang terhenti, hingga dia masuk dan menutup kembali pintu Apartemennya.


Dinda merebahkan dirinya diatas kasur, menatap langit-langit kamarnya.


"Astaga, aku ingat!" serunya dengan beranjak.


"Dia wanita yang aku lihat di basement mall waktu itu, ya benar dia wanita yang memarahi Metta dan pacarnya." Dinda terlihat mondar- mandir.


"Apa hubungannya dengan dia?"


Dinda terus berfikir, mencoba mengurai benang yang kusut dan mulai menerka-nerka.


"Bun ... Bunda."


"Alan..."


"Wanita yang dipanggil Bunda oleh kekasihnya Neta saat di basement."


"Pacarnya Metta"


Dinda terus mondar-mandir dengan menyebutkan ke 4 kata yang dia ulang- ulang.


"Tunggu, Foto di lobby kantor pusat! Astaga aku pusing!" Dinda merebahkan dirinya di atas kasur.


"Bunda, bunda." Dinda terus menyebutkan kata bunda berulang-ulang.


"Sepertinya aku harus mencari tahu sendiri.


"Tunggu, jika dia benar-benar bunda dari pacarnya Metta?"


"Berarti ...."


Dinda menyambar kunci mobil beserta tas selempang beserta topi nya lalu keluar dari kamarnya.


Dinda kemudian bergegas masuk kedalam mobilnya dan melajukan kembali memutar ke blok Apartemen tempat Alan tinggal.


Tak berapa lama dia sampai didepan gedung Apartement, Dinda tidak langsung turun. Namun dia memakai topi dan juga kaca matanya terlebih dahulu.


"Begini saja, toh dia juga tidak mengenaliku!"


"Kasian sekali kamu Din, tidak terlihat."


"Tapi tak apa, yang penting aku masih bisa melihatnya walau dari jauh."


Dinda bermonolog sendiri dengan merapikan rambut yang diselipkan kedalam topi nya.


"Yang penting aku harus pastikan dugaanku ini!"


Dinda kemudian turun, lalu melangkah masuk lift menuju unit kamar Alan, saat itulah dia melihat sosok wanita yang baru saja keluar dari Apartemen Alan seorang diri.


Dinda bergegas menghampirinya, hingga wanita yang dia duga ibunya Alan dan juga Farrel itu menatap heran padanya.


"Kau kan yang menawarkan kartu kredit bukan?"


Dinda mengangguk, " Maaf apa kita bisa bicara sebentar? ada yang harus aku tanyakan pada tante."


"Siapa kamu? saya tidak kenal kamu!" Ayu kembali melangkah meninggalkan Dinda begitu saja.


Dinda bergegas menyusulnya, "Sebentar saja, aku ingin membicarakan sesuatu.


Akhirnya mereka duduk di lobby Apartement, Dinda duduk berhadapan dengan Ayu, dan berdehem sebelum membuka suara,


"Maaf jika aku lancang bertanya seperti ini, apa anda ibu dari Farrel?"


Ayu mengernyit, dengan tatapan penuh curiga dia menatap Dinda dari ujung kepala sampai kaki.


"Kau kenal anak ku?"


Dinda terhenyak, memang benar dugaannya, "Kalau begitu, Anda Nyonya Adhinata?"


Ayu mengangguk, "Tentu saja betul?Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan padaku?"


"Begini


Dinda menceritakan semuanya tanpa kecuali, tentang Metta yang dia memang ketahui dengan pasti, karena dia memang benar-benar mengenalnya dengan baik.


"Kau orang suruhannya?" tanya Ayu curiga.


Dinda menggeleng, " Aku mengenalnya dengan baik!"


"Tapi maaf saya tidak percaya sebelum melihatnya sendiri." Ayu beranjak dari duduknya.


Namun Dinda juga ikut beranjak, " Apa yang akan tante lakukan agar bisa melihatnya sendiri?"


Ayu berbalik kembali, "Apa kau mau membantuku?"


"Dengan senang hati!"


"Baik kau tunggu saja, nanti aku hubungi!" Ayu kembali berbalik.


"Apa artinya tante juga ibunya Alan?"


Ayu pun mengangguk lalu pergi.


"Jadi semua dugaanku benar, my Sweety ice dan juga Farrel itu kakak beradik." Gumam Dinda.


Dia kembali masuk, menuju kamar Alan, berharap Alan keluar ataupun lewat di hadapannya.


Namun tanda-tanda kehadiran Alan tidak juga ada, padahal dia sudah menunggunya hampir 1jam.


"Hari ini sudah cukup, besok lagi aja! Aku lelah," Dinda menguap lalu pergi dari sana.


Sementara Mac yang sedari tadi memperhatikannya kini beranjak kearah unit Alan. Mac mengetuk pintunya.


Tok


Tok


Alan membuka pintu, " Kenapa Mac? Masuklah,"


"Aku menemukan seseorang yang mencurigakan," ucapnya dengan menyodorkan ponsel nya pada Alan.


Alan menagmbil ponsel dari tangan Mac, " Siapa dia?"


"Mengikuti Anda dari kemarin!"


"Siapa? Kau bahkan tidak mengenalnya!" Alan mengembalikan ponsel itu pada Mac.


"Perlu ku singkirkan?" ucap Mac datar.


Alan melangkah kedalam, "Tidak usah, biarkan saja! Aku ingin lihat siapa dia."


.


.


Jangan lupa like dan komen nya yaa, Author sangat berharap melihat jejak-jejak bertebaran lagi karena itu membuat Author receh ini tambah semangat.


Rate 5, Fav dan jangan lupa gift nya juga yaa..


Semoga kita saling bersinergi dalam kehaluan ini.


Terima kasih