Assistant Love

Assistant Love
Kejutan kecil untuk Dinda



Dinda tersungut-sungut masuk kedalam ruangannya, dengan kedua alis yang mengkerut dan bibir nya mengatup.


"Kenapa...?" Tanya Metta dari meja kerjanya.


"Tau ih nyebelin, masa aku si usir!"


Metta bangkit dari duduknya dan menghampiri sahabatnya yang tengah menangkup wajah dengan kedua tangan yang bertumpu pada meja.


"Apa maksudmu dengan di usir? Memangnya tadi kau pergi kemana...Bukankah kau pergi ke luar hanya untuk membeli minum?" tanya Metta dengan memicingkan matanya.


"Ehhh...tuh kan aku jadi lupa! padahal aku kan keluar untuk membeli minuman, tapi karena melihat My Sweety ice jadi lupa kan!"


"Jadi kamu kemana? Ngikutin dia ... begitu?"


Dinda mengangguk, dengan kedua tangan yang masih menangkup wajahnya."Cuma ngeliatin doang kok,"


"Astaga...Sardin! Gimana kalah ketahuan, terus dia marah, gak terima! terus kamu dipecat, mampus kau!!" ujar Metta yang terlihat kesal.


Bukan hanya ketahuan Sha, bahkan aku pernah melihat dia menembak seseorang didepan mataku sendiri, mengejar ku bahkan mengganti nomor password Apartemen ku. Tapi aku gak bisa cerita ini semua! gawat kalau ada yang tahu, dia pasti benar -benar akan membunuhku. Batin Dinda.


"Heh...malah ngelamun! Kamu dengar aku kan?"


"Iya... iya aku mendengarnya! Bahkan sangat mendengar mu, cerewet sekali sih!" ucap Dinda merengut.


Metta memukul lengan Dinda, "Heh...kalau dikasih tahu , suka gitu deh!!"


Dinda terlihat menelengkupkan kepalanya diatas meja, "Tahu ah...aku pusing! mana meet and great gak jadi ikut lagi!"


"Kenapa memangnya, bukankah kamu sudah punya tiket masuk?"


"Hem...Aaagghhkk!!! mengacak rambutnya.


"Dih...gila dia!" ujar Metta kembali berjalan ke meja kerjanya.


Suasana hati Dinda kali ini lebih buruk dari kemarin, akibat pengusiran oleh waiters cafe yang menyebabkan dia tak bisa lama-lama melihat Alan. Dinda menekuk wajahnya sampai-sampai pekerjaan yang menumpuk di atas meja terbengkalai.


"Kerja woi... ngelamun aja!" cibir salah satu rekan nya.


Namun dia tak peduli, "Terserah, yang penting pekerjaan ku akan beres pada waktunya."


Sedangkan Alan kembali ke Apartemen nya sore itu juga, dia masuk kedalam kamar mandi dan menghabiskan waktu lebih dari 1 jam disana. Menenggelamkan dirinya dalam bathtube berisi air yang penuh.


Dengan kepala yang menyandar pada sisi bathtube dan memejamkan matanya, entah kenapa Alan suka sekali melakukan hal itu. Menenangkan sekaligus meregangkan otot-otot yang tegang karena seharian penuh berkutat dengan berkas dan juga segudang kesibukannya di kantor.


Dreet


Dreet


Ponselnya bergetar, Alan meraih ponsel yang dia letakkan di meja wastafel, dia mengernyit melihat nomor yang tertera di layar ponselnya itu.


"Katakan?"


"Hati- hati... Leon sudah mulai mencari identitas gadis itu."


"Hmm, suruh orangmu mengecohkan!"


"Kau gila, bisa perang dalam kubu kita!"


"Itu tanggung jawabku, tugas mu hanya memastikan orangmu melakukannya dengan baik tanpa celah.:


"Kau tidak ingin Leon menemukannya?"


"Hmm...."


"Kau sudah tau gadis itu dimana bukan?"


"Hmm...."


Dan kau ingin menyembunyikan nya?"


"Hmm...."


"Astaga kenapa kau hanya menjawab dengan Hmm-Hmm saja."


Alan menghembuskan nafasnya panjang, " Mac tugasmu hanya memastikan orang mu menutup akses identitasnya, sisanya aku yang urus sendiri!"


Tut


Alan menutup sambungan telepon nya, lalu beranjak dari dalam air dengan handuk yang dia lilitkan pada pinggangnya, lalu keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaian nya dari lemari.


Rahang nya mengeras menahan giginya yang bergemelatuk, namun dia juga tidak bisa gegabah pada sahabatnya Leon.


.


.


"Dengan menenteng paper bag dia masuk kedalam lift di apartemen milik Dinda. Dengan wajah tanpa ekspresi yang menjadi miliknya selama ini.


Ting


Pintu lift terbuka, dia lantas keluar dan melangkah sepanjang lorong menuju apartemen Dinda dengan langkah tegap. Lalu dia mengetuk pintu plat milik Dinda namun tidak ada jawaban.


Dasar bodoh, kemana dia malam-malam begini.


Akhirnya dia menekan password dipintu nya dan masuk kedalam begitu saja. Namun langkahnya terhenti akibat teriakan melengking dari Dinda yang hanya mengenakan bathrobe dengan gulungan handuk dikepalanya.


"Hei...Kau gila, masuk begitu saja!" ucapnya terkaget.


Lalu berhambur masuk kedalam kamar. Sedetik kemudian dia terkikik karena melihat Alan yang tiba-tiba berada di dalam Apartementnya.


Tanpa ekspresi apa-apa Alan mendorong paper bag itu, "Ambil ini ...."


"Apa ini?" tanya Dinda


"Lihat saja, kau punya mata kan!"


Dinda mendesis, lalu membuka paper bag itu dan seketika kedua manik coklatnya itu terbelalak, "Ini kan novel yang aku suka, dan hanya di acara Meet and great saja novel ini dikeluarkan! edisi khusus, yang tidak akan keluar lagi."


"Dari mana kau mendapatkannya!"


"Novel jelek yang membuatmu menangis!" gumam Alan.


Dinda mengeluarkan novel itu dari dalam paper bag, lalu membuka halaman pertama dan kembali berteriak, "Wah...ada tanda tangannya pula,"


Ini sih kejutan untukku, aaahhhkkk...My Sweety ice


Tulisan tangan penulis novel sebuah aplikasi membaca yang jadi favorit nya.


Semangat Akira


With Love


Kaa_Zee


Tulisan yang dibubuhi tanda tangan itu membuatnya mengharu biru, dia memeluk novel bergenre romance comedy itu dengan gembira.


"Pantas saja kau gila, bacaan mu seperti itu!" tukas Alan yang melihat Dinda melompat kegirangan.


"Hei...dia penulis novel favorite ku!"


"Masih banyak penulis hebat dengan tulisan yang lebih bagus dibandingkan dia," ujarnya mencibir.


"Memang banyak yang lebih bagus, tapi aku suka dia."


"Terserah kau saja,"


"Setelah aku selesai membaca ini, aku akan memberikannya padamu, tapi pinjam saja yaa, dan kembalikan setelah selesai,"


"Tidak usah!"


Lantas Alan berlalu begitu saja, dia keluar dari plat milik Dinda, sementara Dinda yang masih memeluk novel itu melihatnya dengan heran. Lalu mengerdikkan bahunya. Lebih baik aku membaca novel ini.


Flash back on


Dia turun lalu menyambar kunci mobil nya lalu keluar dari Apartemennya. Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dan mengarah pada suatu tempat.


Dia masuk kedalam sebuah cafe di pinggir kota, cafe kecil dan nyaris sepi dari pengunjung.


"Kau sudah mendapatkannya?" ujar Alan dengan menarik kursi lalu mendudukkannya.


Orang yang berada di hadapannya itu mendorong sebuah paper bag ke hadapan Alan. "Kau jauh-jauh datang kemari hanya untuk mendapatkan barang jelek begini!


Alan tersenyum kecut, lalu mengambil paper bag itu, "Kau yakin sudah semua?"


"Cih... barang seperti itu siapa yang akan membutuhkannya. Dan kau rela membayar mahal, luar biasa AL...jiwa manusia mu sudah mulai tumbuh!" cibirnya.


Farrel tergelak, "Sialan...jaga ucapanmu!!"


Pria yang berada di hadapannya itu berseringai, "Untuk apa kau melakukan hal tidak penting ini?"


Alan menyerahkan amplop berwarna kuning diatas meja, "Sialan Ambil itu dan enyah lah dari sini!!"


Pria itu tergelak kembali lalu mengambil amplop yang disodorkan Alan, dan langsung memasukkannya kedalam kantong jaketnya.


"Aku pergi dulu...."


Pria itu lantas bangkit dan berlalu meninggalkan Alan. Namun saat berada diambang pintu pria itu kembali menoleh, "Sampai jumpa jumpa AL, kedepannya berikan aku tugas yang biasa dilakukan saja, jangan meminta tanda tangan siapa itu, penulis gak jelas! buku nya saja jelek begitu."


Alan tak berniat menyahuti nya, dia hanya mengibaskan tangan kearah nya.


Lalu tak lama kemudian dia pun ikut bangkit dan berjalan keluar dari cafe setelah meletakkan beberapa lembar uang diatas meja.


Dia masuk kembali kedalam mobil dengan paper bag yang dia bawa.


Sudah gila...benar-benar gila


Alan melajukan mobilnya kembali, mengarah pada apartemen milik Dinda. Waktu yang dibutuhkannya pun lumayan lama dengan jarak yang cukup jauh, Bodoh


Setelah itu dia melewati jalanan sepi hingga akhirnya sampai di pertengahan kota. Lalu dengan menambah kecepatan dia akhirnya sampai di apartemen milik Dinda.


Flash back off


Alan keluar dari plat Dinda saat itu juga, masuk kedalam lift yang terbuka pada saat itu, lalu dia masuk kedalamnya.


Tak lama lift terbuka, Alan keluar dari sana menuju pelataran parkir dan masuk ke dalam mobil.


Seseorang tengah memicingkan matanya, melihat mobil Alan yang melaju keluar dari tempat parkir.


"Itu kan Alan!!"


.


.


#Awas yah babang AL...yang bilang author jelek..wkwk


aku pites nih...