
Bis akhirnya datang, Dinda pun naik dengan beberapa orang, termasuk dengan seseorang yang terus memperhatikannya tersebut. Dengan sengaja, tanpa dicurigai sama sekali, dia duduk disampingnya.
Pria berjaket hitam itu terlihat mengetikkan sesuatu di ponselnya, lalu kembali melirik Dinda yang menyandarkan kepala.
Tok
Tok
Seseorang dari luar mendekat dengan setengah berlari, dengan menggunakan topi dia mengetuk kaca tepat disamping Dinda, membuat Dinda yang tengah menyandar terlonjak karena kaget lalu melihat kearah jendela.
Namun nihil, dia tidak menemukan siapapun disana, Dinda melihat kearah belakang, tidak ada satu orang pun yang mencurigakan, lalu mendongkakkan kepalanya kedepan, tetap tidak juga menemukan siapapun dengan ciri-ciri yang tadi dia lihat.
Saat dia menoleh ke arah samping, pria bertopi hitam itu baru saja masuk kedalam.
"Minggir...." ucapnya pada penumpang wanita yang duduk tepat dibelakang Dinda.
Wanita itu beringsut dari kursi penumpang dengan takut, lalu kembali duduk di kursi yang paling belakang.
Pria bertopi itu terus memandangi Dinda dan juga pria yang mengikutinya dari tadi yang terus melirik kearah Dinda. Sementara Dinda sama sekali tidak menyadari sedikitpun, jika dia tengah di ikuti oleh dua pria berbeda.
Penumpang pun semakin banyak, hampir semua kursi terisi, bahkan ada beberapa penumpang yang tidak kebagian kursi dan memilih untuk berdiri.
Bis pun akhirnya melaju, Dinda sudah tidak lagi memikirkan siapa-siapa. Dia hanya ingin pulang dan istirahat.
Pria yang tengah duduk disampingnya itupun tidak menyadari jika seseorang tengah memperhatikannya dari belakang. Diam-diam pria yang berada disampingnya itu mengambil fotonya. Lalu mengirimkannya pada seseorang.
"Hei ... apa yang kau lakukan?" ujar Dinda yang terkaget karena kilatan dari kamera ponsel.
Pria yang duduk disampingnya itu gelagapan, "Aku hanya tidak sengaja menekan tombol kamera, yang kebetulan mengarah padamu, aku tidak sengaja."
Dinda menatap tajam, namun dia juga sedikit takut. "Lupakan." ujarnya dengan membuang wajah dan kedua tangan memeluk tasnya.
Sialan gara-gara manekin hidup itu, aku jadi harus mengalami kejadian seperti ini. Lihat saja, aku akan membuat perhitungan dengannya.
"Kau berani macam-macam dengannya? Aku tidak segan melakukan sesuatu padamu saat ini juga!" Bisik pria dari kursi belakang.
Pria berjaket hitam itu menoleh kearah belakang, "Siapa kau?"
"Tidak penting kau tahu! Yang jelas jangan pernah main-main denganku!"
Tanpa menoleh pria berjaket hitam itu berbicara engan sedikit berbisik, "Kau fikir aku takut?"
Pria di belakang mendengus kasar. " Siapa yang menyuruhmu?"
"Jadi kau juga suruhan seseorang, oh ayolah!"
"Biar ku tebak? Kau dari ARR?" Ucap Pria di bertopi dengan menoleh kan kepalanya sempurna.
Dan benar saja, pria yang berada disamping Dinda itu mengenakan jaket berlogo ARR. Corps, dan dia tergelak.
Sementara Dinda yang terkantuk-kantuk hingga kerap membentur kaca, tidak sedikit pun menyadari percakapan dari mereka berdua.
Hingga Bis berhenti, supir bis berseru pada seluruh penumpang, karena bis telah berhenti di halte tujuan.
Dinda mengerjapkan mata, kau bangkit dari duduknya dan keluar dari sana, sementara dua pria mengamati nya dari jauh.
Dinda masuk kedalam apartemen sementara kedua pria itu masih menatapnya dari belakang.
"Kau tahu, kita ini sama-sama orang suruhan seseorang, jadi kau paham kan? Kita mencari makan dari pekerjaan ini." ujar pria berjaket.
"Kau dari ARR Corps yang terkenal dengan perusahaan jasa pengawalan dan keamanan bukan?"
"Kau tahu juga?"
Pria bertopi itu mengangguk,
Bodoh!!
"Percuma kau tidak akan tahu juga, pokonya seseorang yang tidak mau aku sebut namanya,"
Ngomong-ngomong tugas ku sudah selesai."
"kalau begitu aku harus pergi!"
Pria bertopi itu menganggukkan kepalanya, pergilah sebelum aku berubah fikiran dan menghabisimu.
Pria bertopi menghembuskan nafas panjang, lalu membuka topinya yang di kipaskan di depan wajahnya.
"Siapa yang sedang bermain-main denganku?" gumamnya dengan melihat kamar Dinda yang baru saja menyala.
Lalu merogoh ponsel disaku dan mendial seseorang.
"Aku butuh bantuanmu!!"
.
.
Dinda masuk kedalam apartemennya dengan kesal, melemparkan tas selempangnya sembarang tempat dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Astaga aku bahkan mengacak-ngacak isi kemari ku hanya untuk pergi dengan nya, memilih dress yang akan membuat nya makin terpesona dengan ku, tapi ternyata aku salah. Benar- benar, bodoh sekali.
Apa yang harus aku lakukan?
Dia lantas hanya berdiam diri saja, tanpa memasukkan kembali pakaiannya. Dia hanya diam memeluk bantal.
Tok
Tok
Samar-samar dia mendengar suara pintu ketukan dipintu. Lalu dia keluar dari kamar dan membuka pintu.
"Leon ... Astaga kamu kenapa?" ujar Dinda memapah Leon.
Bau alkohol menyeruak dari mulutnya, Leon memandang wajah Dinda lalu terkekeh. "Ternyata aku masih kalah cepat!"
"Kau ini bicara apa? Ayo aku antar kau sampai ke platmu." ujar Dinda dengan menopang satu tangan Leon yang dia lingkarkan di bahunya.
Leon menggelengkan kepalanya, "Tidak aku ingin disini saja, sebentar saja."
Leon menghempaskan bokongnya begitu saja di sofa. Lalu. "Kau pernah menyukai seseorang?"
"Seseorang yang tidak pernah melihatmu?
Aku bahkan berada di posisi itu sekarang Leon.
"Apa yang akan kau lakukan? Jika kau berada di posisi itu?" ujar Leon meracau.
"Leon sudahlah, kau mabuk parah!? Istirahatlah...."
Leon bangkit dan mencekal lengan Dinda, "Tunggu..."
Dinda berbalik, dan menepiskan tangan Leon, "Kau sedang kacau Leon, lebih baik kau pulang. Lagi pula aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Kau juga akan melupakan jawaban ku keesokan harinya!"
Leon terkekeh, "Dinda... Dinda, kenapa kau bisa sepolos ini?"
Leon mengelus pipi Dinda dengan lembut, "Aku menyukaimu...."
Lalu Leon berjalan sempoyongan kearah pintu, kau kembali menoleh pada Dinda yang mematung ditempatnya.
"Hei ... jangan difikirkan, tapi jangan juga dilupakan!" ujar Leon dengan mengedipkan matanya sebelah.
"Dinda menutup pintu dan menyandarkan tubuh dibelakangnya, "Apa yang dia fikirkan!! Bodoh sekali."