
Leon mengernyit, dia tidak merasa mengenal pria yang duduk dihadapannya itu. Pria seumur dengan Arya itu menatapnya dengan datar.
"Apa aku mengenalmu?"
"Duduklah!" ujarnya mempersilahkan Leon untuk duduk.
Leon pun menganggukan kepala lalu duduk.
"Perkenalkan aku, Fierro Feremundo."
"Papa kandung Tafasya Kirani Feremundo! Kakek dari baby Zi." ujarnya datar.
Deg
Ayahnya Tasya? Apa maksud beliau datang kemari, siapa yang memberitahukannya jika aku ada disini. Aku saja belum sempat memberitahukan Tasya, dan tidak ada yang tahu, kecuali keluarga Adhinata.
"Leonard?"
Leon mengangguk pelan, dengan sejuta tanya memenuhi kepalanya.
"Saya kesini karena ingin menyampaikan beberapa hal. Pertama saya ucapkan terima kasih karena kamu menyelamatkan anak saya dari si brengsekk Erik, jujur inilah kesalahan kami, terlalu sibuk dengan dunia kami hingga lupa jika kami sering mengabaikan anak. Dan dari awal saya memang tidak pernah suka dengan Erik, tapi karena dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, mau tidak mau kami setuju, namun nyatanya, dia mengecewakan kami, bahkan dia tidak mengakui anaknya sendiri."Fierro menghela nafas.
"Dan dengan tiba-tiba Tasya kembali menghubungi saya, dan mengatakan rencana mu yang mengajaknya untuk menikah, saya sangat shock mendengarnya, kamu juga memperlakukan baby Zi sebagai anakmu, bahkan mengakuinya."
Leon mengangguk pelan, "Aku jatuh cinta saat pertama kali melihat Baby Zi, maafkan aku Om, kalau aku terlalu lancang."
Fierro tampak tidak bergeming, "Tapi saya putuskan untuk membawa anak dan cucu saya ke luar negeri, jadi saya harap kamu tidak usah muncul lagi dihadapan putri saya."
Duarr
Lantai yang dia pijak seolah terbelah seketika, dan langit runtuh menimpanya, Leon terhenyak, ucapan Fierro sudah seperti sembilu yang menyayat hati, lalu menaburinya dengan garam.
Leon menatap Fierro, "Tapi kenapa Om? Saya akan berusaha membahagiakan mereka berdua,"
"Kkau sendiri tahu alasannya apa Leonard! Belum apa-apa kau sudah tidak berkata jujur padanya, kau bulang ingin membahagiakan meraka berdua? Kau juga sama dengan si Erik, sama-sama brengsekk."
"Aku memang salah, aku belum mengatakan apa pun padanya, tapi aku benar-benar serius dan ingin menikahi putri anda." sahut Leon dengan tegas.
"Tasya juga sudah mau dan menerima saya sebagai calon suami dan ayah buat baby Zi."
Fierro tetap tidak bergeming, dua hanya menatap ke arah lain, "Saya tidak bisa mempercayakan putri dan cucu saya pada penjahat sepertimu Leonard, saya ingin yang terbaik untuknya."
Fierro bangkit dari kursi kayu yang diperuntukkan untuk orang yang mengunjungu sanak keluarga yang datang.
"Saya harap kamu mengerti! Permisi...."
Leon pun ikut berdiri, dia tidak menyerah begitu saja, dia bahkan memegang tangan Fierro agar dia memaafkan dan mau menerimanya.
"Ijinkan aku membuktikan diri dengan pantas dan bertemu dengan Tasya, Om!" sambungnya lagi.
"Bagaimana kau bisa membuktikan diri, kau saja berada disini untuk waktu yang tidak sebentar bukan!" ujar Fierro melepaskan tangan Leon dengan kasar.
"Permisi!"
Leon menatap punggung ayah nya Tasya yang baru saja dia temui, ayah yang bersikap berlebihan padanya, pada pria brengsek yang sedang mencoba memperbaiki diri.
Petugas kembali masuk dan menyuruh Leon kembali ke sel yang dia tinggali.
.
Leon tertunduk dengan lesu, tak berbeda jauh dengan Alan, yang tengah duduk bersandar.
"Kenapa muka mu?"
"Kita berdua gagal menikah hanya karena seorang penjahat Al...."
Alan menghela nafas, begitupun Jerry yang menggelengkan kepala. "Pacarmu datang?"
Leon menggelengkan kepala, "Ayahnya langsung, tanpa peringatan sebelumnya melarang ku untuk menemui anaknya, bahkan menyuruhku untuk tidak lagi muncul di hidupnya."
"Terima nasib saja Le!" ucap Jerry dengan berdecak.
"Al ... bagaimana menurutmu? Apa kita akan berdiam diri saja?" lirih Leon.
"Kau ini bicara apa Al...?"
"Ini bukan salahmu, ini pilihan hidup yang kita pilih, dengan resiko yang kita juga sudah tahu, jadi tidak perlu merasa bersalah begitu Al."
"Sahabatmu benar Alan bodoh!! Kau ini terlihat menyedihkan sekali. Payah!!"
Ketiga pria itu menoleh ke balik jeruji, menatap sosok yang berani bicara seperti itu pada Alan, hanya ada satu orang yang berani seperti itu.
"Farrel ... kau sedang apa disini."
"Bodoh!! Tentu saja aku datang melihatmu." ujar Farrel kesal.
Seorang petugas membuka kunci dan mengangguk pada Farrel. Lalu menyusul dibelakangnya pengacara dan kuasa hukum mereka, dan juga Arya. Membuat ketiganya menatap mereka satu persatu dengan heran.
"Ada apa?" Tanya Alan.
Farrel berdecak, "Keluar kau bodoh! Mau sampai kapan kau di dalam, pintu jeruji sudah tidak dikunci!"
Petugas yang membuka pintu itu pun masuk, "Saudara Alan, anda dinyatakan bebas setelah mendapat jaminan penuh dari keluargamu, jadi anda boleh keluar hari ini juga."
"Hah...."
Alan melonjak kaget, begitupun dengan Leon dan juga Jerry. Mereka saling memandang. Alan beranjak dari duduk dan mendekati petugas lapas itu.
"Anda bercanda? Bagaimana bisa?"
"Bodoh!!" gumam Farrel.
Petugas itu hanya mengangguk, dan mundur beberapa langkah untuk memberi jalaj pada Alan, agar bisa keluar.
"Lalu kami bagaimana?" gumam Leon, menatap Alan yang berjalan keluar.
Arya berhambur memeluk Alan, sementara Farrel berdiri menepuk-nepuk bahu Alan.
"Heh ... kalian juga mau disini selama 2 tahun atau keluar hari ini?" serunya pada Leon dan juga Jerry.
Mereka berdua saling memandang lagi, "Benarkah? Bukan hanya Alan yang bebas? Kami juga?" tanyanya pada petugas lapas.
"Betul kalian juga!" jawabnya.
Mereka pun berhambur keluar dan bergantian saling memeluk, membuat suasana mendadak mengharu biru.
.
"Ayah ... bagaimana bisa?" tanya Alan.
Arya hanya tersenyum, "Kita bicarakan nanti saja, lebih baik kita pulang sekarang."
Setelah saling menjabat tangan dengan kuasa hukum dan pengacaranya, mereka akhirnya keluar dan menghirup udara kebebasan kembali.
"Heh ... kalian berdua juga ikut kami! Aku sendiri yang akan mengawasi kalian semua!" seru Farrel pada Leon dan Jerry.
"Ada yang lebih seram dari pada Alan ternyata!" gumam Leon pada Jerry.
"Betul sekali, bocah itu lebih menyeramkan!"
Mereka berdua segera menyusul Farrel yang sudah berada di luar, sementara Alan berjalan bersama Arya terlebih dahulu.
"Aku masih heran, bagaimana bisa Ayah dan Farrel membuat jaminan untuk kita bertiga?"
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu Al ... iyu biar jadi urusan ku dan juga Ayah," Ujar Farrel mengangkat kedua alisnya berulang kali.
"Apa yang kau lakukan El? Pasti hal konyol kan?" tanya Alan.
"Bukan hal besar, hanya hal kecil saja! Benarkan yah?" jawabnya lagi.
Arya hanya mengangguk dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Hiduplah lebih baik Al...."