Assistant Love

Assistant Love
Restu untuk Leon



Disela kebahagiaan mereka, dan juga kedua keluarga. Pramudya yang senantiasa memberi tahu istrinya jika Dinda tampak bahagia, disisi lain juga dia merasa sedih, baru saja dokter Kemal menghubunginya jika kondisi Sisilia kembali drop.


Dan mau tidak mau harus segera kembali ke negara S untuk melihat kondisi sang istri.


Dinda tampak murung, namun setelah Pramudya meyakinkan bahwa ibunya baik-baik saja, akhirnya dia pun membiarkan ayahnya pergi duluan dari pesta yang belum selesai itu.


Arya dan juga Ayu mengantarkan Pramudya,


"Pak Arya, sekali lagi saya titip putri saya satu-satunya. Saya tidak tahu kapan akan kembali kemari."


Arya memegang bahu pria yang sekarang menjadi besannya itu, "Tidak usah khawatir, kami akan menjaganya dengan baik, dia sekarang juga putri kami."


Pramudya mengangguk, "Kalau begitu saya pergi dulu."


Pramudya pun akhirnya masuk kedalam mobil yang disediakan oleh keluarga Adhinata.


Mac berdiri dibelakang Arya, "Mac kenapa hanya diam disini, bergabunglah dengan yang lain, kau bisa santai sejenak."


Mac mengangguk, "Baik tuan besar!"


Tak hanya itu, didalam juga keharuan kembali terjadi antara Tasya dan juga Leon, pasalnya setelah mengobrol panjang lebar dengan Arya, Fierro terlihat menghampiri Leon, membuat Tasya khawatir dan menyusulnya.


"Dad ... apa yang Daddy lakukan! Ayo lebih baik kita pulang saja," ajak Tasya, berjaga-jaga agar tidak menimbulkan kegaduhan di acara pernikahan Alan.


"Daddy hanya ingin menyapa calon mantu daddy."


"Lebih baik kita pulang dan jangan car----" Tasya membelalakkan kedua matanya, "Apa Daddy bilang?"


Begitu juga dengan Leon yang terperanjat kaget. "Hah ...?"


"Kenapa kalian kaget? Apa kalian tidak ingin segera menikah dan menyusul saudara kalian disana?" ujarnya menunjuk ke arah Alan dan juga Dinda.


Leon bangkit dari duduknya, " Serius Om, Om sudah memberi restu pada ku untuk menikahi dan menjaga Tasya?"


"Tentu saja, tapi sekali kau sakiti, aku tidak akan segan membun nuhmu!"


"Daddy ... "ujar Tasya yang ikut shock mendengarnya.


"Jerry ... akhirnya aku akan segera menikah , menikah Jerr!!"


"Selamat ya Le ... semoga kau selalu bahagia!"


ujar Jerry dengan menepuk- nepuk punggung Leon.


"Thanks Jerr! Aku harus memberitahu Alan."


"Pasti, tapi sepertinya nanti saja, kau ingin mengganggu dia dan istrinya?"


"Bukan begitu Jerr ... aku hanya ingin memberitahu kabar paling membahagiakan dalam hidupku."


"Aku tahu ... kau beritahu nanti saja! Sudah sana lepas, kau membuatku sesak nafas!"


Leon terkekeh, dan mengurai pelukannya, lalu beralih pada Tasya yang tengah menggendong baby Zi.


"Biar aku gendong dia!" ujarnya mengambil baby Zi.


"Halo jagoan, apa kau senang? Sebentar lagi kita kan berkumpul, kau harus cepat besar, dan uncle akan mengajarimu bermain bola!" ujarnya dengan mengecup pipi gembil Baby Zi.


Jerry terkekeh, "Kau saja selalu kalah saat bermain bola, so- so an ingin mengajarinya!"


Tasya dan juga Fierro tergelak, "Jaga dia Leon! Sekali saja kau mengecewakan! Aku tidak akan pernah memaafkanmu."


Leon mengangguk, dia merengkuh bahu Tasya dan menggendong baby Zi dengan satu tangan,


"Tenang saja Om, aku akan menjadi suami dan ayah sambung yang baik untuk baby Zi."


"Terima kasih sayang," Ujar Tasya yang melingkarkan tangannya di pinggang Leon.


Leon pun tersenyum sumringah.


Fierro menatap keduanya yang saling memandang, melihat putrinya yang tersenyum bahagia membuat hatinya lega.


Arya benar, aku bisa melihat banyak cinta dari mata pria itu untuk putri dan cucuku.