Assistant Love

Assistant Love
Apa Bunda bilang!



"Usaha yang bagus! Tidak sekalian saja ikut program nikah massal dari pemerintah, tidak ribet juga tidak ada biaya besar!" ungkap Alan dengan kesal.


"Ide bagus! " Leon tertawa hingga terpingkal.


Alan mendecih, "Kau saja yang lakukan! Aku tidak minat!"


Alan keluar dari toilet, meninggalkan Leon begitu saja, dia pun menyusulnya keluar.


"Al tunggu, kau yakin tidak ingin kita menikah massal?"


"Memalukan...." gumam Alan.


Mereka kembali mendaratkan bokongnya di kursi. Sementara Leon masih mengulum bibirnya ke arah Alan, Alan tetap mendengus, mengacuhkan Leon.


"Al ... ide ku sangat bagus! Kita akan mengirit saja, bagaimana!" bisiknya dengan alis yang naik turun.


Sementara Alan pura- pura tidak mendengar apa yang di katakan Leon.


"Pasti seru Al ... belum pernah ada di sejarah kita!" bisiknya lagi.


"Diamlah Le, kau membuatku muak!" sentak Alan yang membuat ke tiga perempuan di sampingnya menoleh padanya.


"Kenapa Al? Le...." tanya Ayu.


Alan melirik ke arah Leon, sementara Leon sendiri mengulum senyum,


"Leon, jangan cari gara-gara!"Ucap Dinda dengan kedua mata menyalang.


Leon terkekeh, dsn menangkup kedua tangannya ke arah Dinda.


"Maaf ... aku hanya sedang bahagia! Itu saja, kalau sedang bahagia kan terlihat dari wajah dan tingkahnya." ujarnya dengan nada menyindir.


"Sialan kau Le!"


.


.


Mereka pun akhirnya berpisah, Leon dan Tasya pergi ke arah berlawanan, sedangkan Ayu, Dinda dan juga Alan menuju jewelry queen.


Toko perhiasan langganan Ayu, begitu pun dengan pemiliknya yang merupakan temannya.


Alan sudah memperlihatkan wajah kesalnya, dia terbiasa mengurus pekerjaan dan akan menyuruh orang jika berkaitan dengan hal-hal seperti itu.


Namun lagi-lagi dia tidak bisa menolak, karena bunda tentu saja.


"Kalian tahu? Saat Farrel akan menikah, bunda menyuruh mereka pergi berdua saat memilih wedding ring, tapi untuk kali ini, pernikahan kalian, bunda harus turun tangan, karena bunda tidak percaya dengan anak bunda yang satu ini!" terang Ayu.


Dinda mengulum bibir, dan dia setuju dengan apa yang dikatakan calon ibu mertuanya, dia juga tidak bisa membayang kan jika hanya pergi berdua saja. Mungkin dirinya akan frustasi.


Alan mendengus kesal, "Lebih baik Bunda pergi berdua, aku harus membantu Farrel, dia pasti membutuhkanku!"


Ayu menggelengkan kepalanya, "Tidak perlu, Farrel sudah memberitahu bunda, mereka sudah selesai."


"Dan jangan banyak alasan, kau tinggal pilih, suka, lalu ambil."


Alan tak dapat lagi membantah ibu nya, dia hanya mengangguk tanpa suara.


Mobil pun berhenti, Ayu dan Dinda keluar dan disusul oleh Alanndari belakang. Seorang pelayan sudah menunggu didepan pintu, karena sebelumnya, Ayu sudah menghubungi sahabatnya.


Mereka masuk dan langsung di sambut oleh pemilik outlet perhiasan terbesar di kota itu,


"Syara....?"


"Hm ... betul juga, dan kali ini anakku yang paling besar yang akan menikah."


"Wah ... anakmu ini?"


Ayu mengangguk, "Bagaimana? Cantik kan calon menantuku?"


Kedua anakmu memang jago dalam memilih pasangan, tidak mengecewakan!" ujarnya terkekeh.


"Ayo kalian ikut denganku! Kita ke atas," ujar Syara yang menggandeng tangan Ayu dan menaiki tangga.


Sesampainya di atas, mereka melewati rentetan kaca-kaca berbentuk kotak, dimana berbagai macam perhiasan ada disana, dan juga dalam berbagai bahan.


"Kalian mau yang terbuat dari emas murni, palladium, atau platinum?"


Dinda melirik Alan, sedangkan sosok yang dilirik hanya mematung,


"Berikan yang terbaik saja!" ujarnya.


Syara mengangguk, dia mengambil kotak dan membawa berbagai pilihan di dalamnya.


"Dulu adikmu memilih wedding ring yamg terbuat dari platinum, karena dipercaya sebagai bahan dasar yang kuat, tangguh dalam kondisi apapun, dengan harapan pernikahan mereka pun akan sama. Akan kuat walaupun badai menghampiri, dan dan hati suami istri akan tangguh." jelas Syara.


"Berlian heart of eternity, paling dicari di dunia. Sangat langka sekali!" ujarnya dengan memperlihatkan sepasang cincin.


"Sayang ini bagus sekali!" ujar Dinda.


"Kalau kau suka ambil saja, walaupun menurutku itu hanya mitos saja, yang membuat kuat dan tangguh bukan dari cincinnya, platinum tetap akan hancur jika bersentuhan dengan api, bisa dibentuk apa saja sesuai apa yang kita inginkan, tapi dalam pernikahan, yang membuat kuat dan tangguh justru adalah pasangan kita, serapuh apapun kita, pasangan kita yang akan menguatkan, begitu pun sebaliknya."


Dinda menoleh pada Alan, "Kau serius sekali sayang!"


"Aku memang tidak pernah main-main dalam hal apapun, apalagi pernikahan, wedding ring hanya simbol, yang penting dalam pernikahan adalah ikatan suci yang menyatukan dua orang, yang saling menguatkan saat rapuh, dan berjuang bersama dengan tangguh."


Syara mengulum senyum, "Kau persis seperti ayahmu!"


"Ayahku?" tanya Alan.


Ayu mengangguk, "Ayah kandungmu, dia berfikiran sama dengan mu! Hingga membawa ibumu kemanapun dia pergi, bahkan untuk makan sekalipun, dia tidak pernah memakan masakan selain masakan ibumu!"


Dinda menelan saliva, Gawat, aku bahkan tidak bisa memasak.


Alan pun mengangguk, "Itulah sebabnya, mereka pergi bersama-sama sampai akhir hayatnya."


Ayu mengelus bahunya, "Mereka sudah bahagia di sana Al ... dan kau juga punya ayah dan bunda disini!"


"Ditambah seorang istri bukan?" tambah Syara.


Membuat Dinda semakin kikuk, aku harus ikut kelas memasak, setelah ini.


"Bunda apa sih! Aku tidak sedang bersedih!" ujar Alan dengan gelengan kepala.


"Jadi kalian memilih yang mana untuk wedding ring kalian?"


Alan menoleh pada gadis yang tengah berfikir akan ikut kelas memasak disela kesibukannya,


"Terserah dia! Berikan saja apa yang dia mau!"


"Eeehh... mana bisa begitu, memangnya hanya aku yang akan memakainya?" tukas Dinda yang mengerjapkan kedua manik coklatnya.


"Bisa saja ... tidak usah khawatir hanya karena cincin!"


"Apa bunda bilang! Mana bisa bunda membiarkan kalian pergi berdua!"