Assistant Love

Assistant Love
Melupakan sesuatu



"Astaga... apa yang kalian lakukan?" pekik Ayu yang melihat kedua anaknya tengah berkelahi.


"Tenang Bun, sebelum orang lain yang melakukannya, aku yang akan melakukannya terlebih dahulu." ujar Farrel yang masih terus merangsek tubuh Alan.


Hingga pintu kamar terbuka, Farrel menendang perut Alan, namun Alan berhasil menangkap kaki yang terjulur itu dengan cepat, mereka berdua terjerembab.


Brukk


Mereka jatuh, Ayu kembali berteriak, sedangkan posisi mereka saat ini Farrel berada diatas tubuh Alan, dia siap mendaratkan pukulan dengan tangan merangsek kerah baju Alan.


"Sudah aku bilang, hentikan bisnismu sebelum ayah dan bunda tahu! Dan kau masih sok jagoan, dengan melawanku?" ujar Farrel dengan rahang yang mengeras menahan marah.


Bugh


"Aku sudah akan bertanggung jawab!" ujarnya dengan meringis.


Farrel menggeplak kepala Alan. "Bodoh! Dengan begitu kau masuk penjara, kau memang bodoh Alan Alfiansyah, seharusnya dulu aku lahir duluan dari pada kau! Harusnya aku yang menjadi kakak dasar bodoh!"


"Heh ... mana bisa begitu, proses pembuatanku lebih cepat dari pada proses pembuatanmu."


Alan tergelak,


Brug


Farrel kembali memukul kepalanya, "Kau masih bisa tertawa, dasar bodoh!


"Sudah apa yang kalian lakukan? El hentikan!" teriak Bunda dari ambang pintu.


"Dia memang harus diberi pelajaran bun, agar otaknya berfikir dengan baik, bisa berfikir sebelum bertindak."Ujar Farrel yang memukul kembali. Kali ini tepat di rahangnya, meskipun Alan tidak lagi melawan.


Dia menyilangkan kedua tangannya untuk melindungi kepalanya dari pukulan membabi buta dari sang adik.


"Farrel Adhinata!? Hentikan!" seru Bunda dengan suara yang lantang.


Kedua tangan mengepalnya kini melemah, dia membalikkan tubuhnya lalu turun dari tubuh Alan.


"Kami tidak pernah mengajari kalian kekerasan, apa lagi menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Apa pernah?"


Alan bangkit dan terduduk disamping Farrel. Mereka menggelengkan kepalanya. "Tidak pernah."


"Kalian benar-benar tidak dewasa!"


Ayu keluar dan menuju kamar nya sendiri. Sedangkan Alan dan Farrel saling pandang.


"Gara-gara mu!"


"Kau yang mencari masalah El!"


Farrel kembali menggeplak kepala Alan, "Kau yang bermasalah, aku juga yang terkena imbas. Dasar bodoh!"


Farrel bangkit dari duduknya lalu keluar dari kamar Alan, dia turun menuju kamar utama.


Tok


Tok


"Bunda? El boleh masuk?" ujarnya dengan membuka pintu dan masu begitu saja.


"Bunda...,"


Farrel terus mencari Ayu, sedangkan pintu yang menuju balkon sudah terbuka. Dia melihat sang ibu tengah bersandar, dengan memandangi hamparan langit dengan guratan-guratan orange.


"Bunda...." lirihnya, dengan berjalan mendekat.


"Diam disitu, jangan mendekat! Bunda masih marah padamu!"


Farrel mengernyit, "Kenapa bunda marah padaku?"


"Kau tidak tahu alasannya?"


Farrel menggelengkan kepalanya,


"Kamu sudah tahu apa yang dilakukan oleh kakakmu? Tapi kamu tidak mengatakannya pada kami?" Ayu berbalik menghadapnya.


"Kenapa?"


"Itu karena...." jawab Farrel dengan ragu.


"Tidak ingin membuat kami khawatir? Tidak ingin membuat kami sedih? Begitu kan?!"


Farrel mengangguk.


"Lalu bedanya apa dengan sekarang? Apa kami tidak khawatir? Apa kami tidak sedih?" ujar Ayu dengan terisak.


"Kamu seharusnya bisa mengingatkan kakakmu itu! Kamu juga harus melindunginya, dia selalu berusaha melindungimu, kau tahu itu El."


Farrel menundukkan kepalanya. "Maafkan El bun."


"Kita ini keluarga, harus saling menjaga, saling membantu, kau mengerti kan?"


Farrel menganggukkan kepalanya kembali.


Tangan Ayu tiba-tiba merentang, "Kemarilah anak nakal, peluk bunda!"


Farrel berjalan mendekati Ayu dan memeluknya, dan Ayu semakin terisak, bukan lagi air yang menganak, namun air bening itu runtuh sejadinya.


"Jangan bilang dia bodoh El, dia kakakmu!" ucap ayu dalam isakannya.


Farrel mengangguk, "Kakakku yang bodoh."


.


.


Alan kembali masuk kedalam kamarnya, dia membuka pakaian yang dikenakannya lalu melemparkannya begitu saja, lalu masuk kedalam kamar mandi. Mengisi bathtube sampai penuh dan masuk kedalamnya.


Menghela nafas panjang berkali-kali, lalu dihembuskan nya dengan perlahan.


Beberapa saat kemudian kedua manik hitamnya itu membola, sepertinya dia melupakan sesuatu. Alan beranjak dari bathtube, membungkus tubuhnya dengan handuk yang hanya melilit sampai batas pinggang.


Dia keluar dan mencari ponselnya, sejak kemarin dia sama sekali tidak mengecek ponsel. Apalagi sejak pulang ke rumah utama.


Setelah beberapa lamanya, Alan menemukannya.


Namun ponsel itu mati karena kehabisan daya baterai.


"Sh iitt....!" ujarnya dengan melemparkan ponsel itu ke atas ranjang.


Dia membuka lemari, dan mengambil pakaiannya begitu saja, lalu mengenakannya.


Tak lama kemudian dia keluar dari kamar dengan tergesa.


"Mau kemana?" tanya Ayu yang sedang berjalan di tangga, menuju ke arahnya.


"Bunda aku harus pergi! Ada sesuatu yang harus aku urus dulu!" ujarnya dengan melewati Ayu begitu saja.


"Al....!"


"Sebentar saja bun! Aku nanti akan pulang." ujarnya dengan menyambar kunci mobil dan keluar dari rumah.


Mang ujang yang tengah menyiram tanaman itu sontak kaget melihat Alan yang keluar dari rumah dengan tergesa-gesa.


"Buka gerbang!" ujarnya tanpa melihat ke arah mang ujang.


Dia tersentak dan langsung berlari membuka gerbang, tanpa kata sedikitpun.


Alan masuk kedalam mobil, memasang selt beltnya lalu melajukan mobilnya keluar dari rumah utama.


Secepat kilat dia melajukan mobilnya, membelah jalanan yang sudah mulai padat itu, Senja sudah mulai menghilang, dan awan mulai menggelap.


Tak lama kemudian, dia telah sampai digedung apartemen miliknya, dengan cepat dia membuka selt belt lalu keluar dari mobil.


Dia berjalan begitu saja melewati Lobby apartemen.


Ting


Lift terbuka, dia masuk kedalam kotak besi itu lalu menekan tombol nomor dimana platnya berada. Alan bersandar pada dinding lift, demgan satu tangan yang dia masukkan ke dalam saku.


Ting


Pintu lift belim terbuka sempurna, namun Alan sidah keluar dengan cepat, berjalan menuju platnya sendiri. Dia semakin khawatir justru saat berada didepan plat miliknya.


Dengan cepat menekan tombol password dan merangsek masuk begitu saja.


Hening


Tidak ada siapa-siapa.


Dia menuju kamarnya, juga tidak menemukan siapa-siapa. Lalu kembali turun dan menuju ke dapur. Juga tidak melakukan siapa-siapa.


Dia lantas mendudukkan tubuhnya disofa.


"Kemana gadis bodoh itu pergi! Apa dia sudah kembali ke Apartement nya?" gumamnya pelan.


Alan kembali beranjak dari duduknya dan,


Bugh


Pukulan mendarat tepat dipunggungnya, Alan berbalik dan refleks menangkis tangan yang sudah melayang di udara.


Trakk


Brukk


Tubuh Dinda terjengkang ke atas sofa,


"Aaww....Kau keterlaluan!" ujarnya dengan kedua mata yang menyalang.


"Maaf aku tidak sengaja, kau mengagetkanku!"


"Kenapa memangnya?! Sudah pergi tanpa mengabariku, ponselmu tidak bisa dihubungi. Dan sekarang mau pergi lagi!!"


Alan mengulurkan tangannya untuk mmabantu Dinda bangun. Namun ditepisnya.


"Aku bisa sendiri! Pergilah sesukamu, jangan hiraukan aku." ujarnya dengan bangkit dan berjalan menuju pintu.


Dengan sekali gerakan Alan menarik tubuh Dinda dan memeluknya dari belakang, kedua tangannya melingkar disepanjang pinggangnya.


"Maafkan aku, banyak hal yang harus aku urus, sampai aku melupakanmu."